ARTICLE AD BOX
Bagaimana jika ada satu malam dalam hidup kita nan nilainya lebih berbobot daripada delapan puluh tiga tahun nan kita habiskan untuk ibadah? Jika ada satu malam nan bisa menghapus dosa-dosa masa lampau hanya dengan beberapa rekaat salat dan angan nan tulus, apakah kita bakal melewatkannya begitu saja?
Layaknya seorang pedagang nan diberi tahu bahwa malam ini adalah malam keberuntungan terbesar sepanjang hidupnya—modal kecil, untung tak terhingga. Tentu dia tidak bakal tidur lebih awal, tidak bakal menyia-nyiakan kesempatan itu, dan tidak bakal sibuk dengan hal-hal remeh. Ia bakal fokus, bersungguh-sungguh, dan mengerahkan seluruh kemampuannya untuk meraih untung besar. Demikianlah Lailatul Qadar. Ia adalah “malam emas” dalam almanak seorang mukmin, kesempatan langka nan mungkin tidak bakal terulang lagi bagi sebagian manusia.
Ramadan adalah bulan penuh rahmat, namun sepuluh malam terakhirnya adalah puncak dari seluruh kemuliaan itu. Di sanalah terdapat satu malam nan Allah Ta’ala sebutkan secara unik dalam Al-Qur’an, malam nan lebih baik daripada seribu bulan. Seorang muslim nan pandai tentu tidak bakal bersikap biasa-biasa saja menghadapi kesempatan sebesar ini. Justru di sinilah garis akhir perjuangan Ramadan—saat stamina mungkin melemah, namun semangat semestinya semakin menguat. Inilah saatnya berburu ampunan, mengejar rahmat, dan mengumpulkan pahala dalam jumlah nan tak terbayangkan.
Makna dan prinsip Lailatul Qadar
Secara bahasa, Lailatul Qadar berarti malam kemuliaan alias malam penentuan. Dinamakan demikian lantaran malam ini mempunyai kedudukan nan sangat agung di sisi Allah dan pada malam inilah Allah menetapkan beragam urusan makhluk-Nya untuk satu tahun ke depan. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam Lailatul Qadar.” (QS. Al-Qadr: 1)
Para ustadz tafsir menjelaskan bahwa Al-Qur’an pertama kali diturunkan secara keseluruhan dari Lauhul Mahfuzh ke langit bumi pada malam ini, lampau diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan Lailatul Qadar berangkaian langsung dengan kemuliaan Al-Qur’an.
Lailatul Qadar, malam nan lebih baik dari seumur hidup
Allah Ta’ala menegaskan keistimewaan Lailatul Qadar dengan firman-Nya,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
“Malam Lailatul Qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)
Seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Artinya, pahala ibadah nan dilakukan pada malam ini nilainya melampaui ibadah sepanjang umur manusia pada umumnya. Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa Allah memberikan karunia besar ini kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam lantaran umur mereka relatif lebih pendek dibandingkan umat-umat terdahulu.
Turunnya malaikat sebagai tanda limpahan rahmat
Keagungan Lailatul Qadar juga ditandai dengan peristiwa besar di alam gaib, ialah turunnya para malaikat. Allah Ta’ala berfirman,
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
“Pada malam itu, turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Rabb mereka untuk mengatur segala urusan.” (QS. Al-Qadr: 4)
Turunnya malaikat menunjukkan banyaknya rahmat dan keberkahan. Para ustadz menyebut bahwa para malaikat turun untuk mengucapkan salam kepada orang-orang nan beribadah, memohonkan maaf bagi mereka, dan menyaksikan kebaikan saleh nan dilakukan pada malam tersebut.
Malam nan penuh kedamaian hingga terbit fajar
Di ayat selanjutnya Allah Ta’ala berfirman,
سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
“Sejahteralah malam itu sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)
Makna “salam” dalam ayat ini mencakup keselamatan dari beragam keburukan, ketenangan hati, serta limpahan rahmat dan ampunan. Oleh lantaran itu, orang-orang nan menghidupkan Lailatul Qadar dengan ibadah bakal merasakan ketenangan jiwa nan mendalam, berbeda dengan malam-malam lainnya. Belum lagi disebutkan bahwa di hari Lailatul Qadar terjadi, hawa dan cuaca di hari itu seringkali bakal menjadi sejuk, mentari bercahaya hangat dan tidak membikin badan terasa panas.
Ampunan dosa: Tujuan utama berburu Lailatul Qadar
Keutamaan terbesar dari Lailatul Qadar adalah penghapusan dosa-dosa nan telah lalu. Rasulullah ﷺ bersabda,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan ketaatan dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya nan telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760)
An-Nawawi rahimahullah menjelaskan bahwa ketaatan berfaedah membenarkan janji Allah, sedangkan ihtisab berarti tulus mengharap pahala dan balasan, bukan sekadar menggugurkan tanggungjawab alias semata-mata menjalankan ketaatan.
Oleh karenanya, angan terbaik pada malam tersebut adalah sebagaimana nan diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka ampunilah aku.”
Waktu Lailatul Qadar dan hikmah dirahasiakannya
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ
“Carilah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir Ramadan.” (HR. Al-Bukhari no. 2020 dan Muslim no. 1169)
Dalam sabda lain,
تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنَ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ
“Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir.” (HR. Al-Bukhari no. 2017)
Awal mulanya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendapatkan pengetahuan dari Allah mengenai malam pasti terjadinya Lailatul Qadar, namun kemudian beliau lupa. Para ustadz menjelaskan bahwa hikmah dirahasiakannya waktu Lailatul Qadar adalah corak rahmat dan kasih sayang agar kaum muslimin bersungguh-sungguh menghidupkan seluruh sepuluh malam terakhir, bukan hanya satu malam saja.
I’tikaf di sepuluh malam terakhir: Kunci sukses mendapatkan Lailatul Qadar
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah teladan terbaik dalam menjalankan i’tikaf. Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, dia berkata,
أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّىٰ تَوَفَّاهُ اللَّهُ
“Sesungguhnya Nabi ﷺ selalu beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir Ramadan hingga Allah mewafatkan beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 2026 dan Muslim no. 1172)
Hadis ini menunjukkan bahwa i’tikaf bukan ibadah musiman nan dilakukan sesekali, melainkan sunnah muakkadah nan terus dijaga oleh Rasulullah ﷺ sampai akhir hayatnya. Bahkan, sunah ini dilanjutkan oleh para istri beliau radhiyallahu ‘anhunna sepeninggal beliau.
Dalam i’tikaf, untuk meraih keistimewaan dan pahala nan besar dari Lailatul Qadar, seorang hamba memanfaatkan waktunya untuk ibadah-ibadah utama, di antaranya:
Qiyamullail dan salat sunah
Menghidupkan malam dengan salat merupakan inti dari ibadah Ramadan, terlebih pada malam Lailatul Qadar. Sebagaimana telah kita sebutkan tentang sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barang siapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan ketaatan dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya nan telah lalu.” (HR. Al-Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760)
Membaca dan mentadabburi Al-Qur’an
Karena Lailatul Qadar adalah malam turunnya Al-Qur’an, maka memperbanyak membaca dan mentadabburi maknanya adalah ibadah nan sangat dianjurkan saat i’tikaf.
Zikir, istigfar, dan doa
I’tikaf memberikan ruang nan luas untuk berzikir dan bermohon dengan penuh kekhusyukan, jauh dari gangguan dunia.
Penutup
Lailatul Qadar bukan sekadar malam nan mulia dalam teori, tetapi dia adalah kesempatan nyata nan bisa mengubah nasib alambaka seseorang. Ia mungkin datang hanya sekali dalam hidup kita. Berapa banyak orang nan Ramadan tahun lampau tetap berbareng kita, namun sekarang telah berada di alam kubur? Siapa nan dapat menjamin bahwa kita bakal berjumpa Ramadan berikutnya?
Oleh lantaran itu, jangan biarkan sepuluh malam terakhir berlalu tanpa kesungguhan. Jangan jadikan kelelahan sebagai argumen untuk berhenti, karena justru di ujung perjuangan itulah kemenangan besar menanti. Hidupkanlah malam-malam itu dengan salat malam, doa, istigfar, dan tadabbur Al-Qur’an. Perbanyak permohonan maaf dengan angan nan diajarkan oleh Nabi ﷺ,
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba nan betul-betul beruntung di malam Lailatul Qadar, mengampuni dosa-dosa kita, menerima amal-amal kita, dan menutup Ramadan kita dengan keberkahan dan rida-Nya. Aamiin.
***
Penulis: Muhammad Idris, Lc.
Artikel Muslim.or.id
English (US) ·
Indonesian (ID) ·