Israel Rencanakan Perluasan Invasi Wilayah, Situasi Gaza Semakin Terancam 

Sedang Trending 10 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Jakarta, NU Online
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bakal memperluas serangan intensif nan memungkinkan perebutan Jalur Gaza jika Kabinet Keamanan Israel menyetujui rencana tersebut. Reuters melaporkan perihal ini dikemukakan Netanyahu pada Senin (5/5/2025) melalui sebuah keterangan video nan diunggah di akun X-nya.


Netanyahu mengatakan, operasi tersebut bakal lebih intensif dan bakal memindahkan lebih banyak penduduk Palestina di Gaza nan menurutnya itu demi keselamatan mereka sendiri. 


Namun sebaliknya, perihal itu berpotensi mengundang pertentangan sengit di bumi internasional atas pemindahan paksa dan semakin memperburuk krisis kemanusiaan nan sudah mengerikan.


Melansir AP News, rencana baru tersebut disetujui dalam pemungutan bunyi awal hari oleh para menteri Kabinet Israel. Persetujuan terjadi beberapa jam setelah Kepala Militer Israel mengatakan angkatan darat memanggil puluhan ribu tentara cadangan.


Waktu penyelenggaraan rencana ekspansi serangan tidak diumumkan secara rinci. Namun, seorang pejabat pertahanan Israel mengatakan rencana baru itu tidak bakal dimulai hingga Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyelesaikan kunjungannya ke Timur Tengah bulan ini. Kunjungan Trump juga berpotensi membikin Israel bakal menyetujui gencatan senjata untuk sementara saat Presiden AS itu berada di sana.


Seorang pejabat Israel lainnya mengatakan rencana serangan nan baru disetujui itu mencakup perebutan seluruh wilayah Jalur Gaza, memindahkan masyarakat sipil ke selatan, dan mencegah support kemanusiaan jatuh ke tangan Hamas.


Massa Berunjuk Rasa Kecam Rencana Tersebut di Parlemen Israel
Beberapa jam setelah Netanyahu menyampaikan rencana merebut seluruh Gaza, protes antipemerintah meletus di Gedung Parlemen Israel (Knesset). Ratusan orang berkumpul di luar Knesset, parlemen Israel.

Euro News memberitakan, massa menyerukan agar membikin kesepakatan dengan Hamas untuk menjamin pembebasan para sandera nan tetap ditawan di Gaza.


Perbedaan pendapat antara massa dan kalangan pemerintah Israel terjadi. Menurut pemerintah, rencana ini bermaksud membantu Israel mencapai tujuan perangnya untuk menekan Hamas dan membebaskan sandera. 


Namun, masyarakat di Israel sendiri beranggapan pemerintah hanya mau menguasai Gaza dan membangun pemukiman di sana. Dalam mewujudkan ambisi tersebut massa cemas bakal semakin banyak tentara dan para sandera terbunuh serta keadaan nan bakal semakin memburuk.


Sejak Maret 2025 lalu, Israel telah menghentikan semua support kemanusiaan ke wilayah Gaza, termasuk makanan, bahan bakar, dan air. Blokade support nan telah terjadi lebih dari dua bulan ini memicu krisis kemanusiaan terburuk dalam peperangan nan nyaris 19 bulan terjadi.
 

Selengkapnya
Sumber NU ONLINE
NU ONLINE