Kisah Ashhabul Ukhdud: Keteguhan Iman di Zaman Edan

Sedang Trending 10 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Zaman edan. Begitulah sebagian orang menyebut masa nan penuh dengan tipu daya dan ujian keimanan. Kita sering menyaksikan orang nan sebelumnya beriman, namun kemudian menanggalkan keimanannya lantaran beragam faktor. Ada nan melepas keyakinannya lantaran mencintai seseorang nan berbeda agama, ada pula nan meninggalkan agamanya lantaran dorongan ekonomi.


Salah satu kisah nan patut direnungkan dalam menghadapi ujian keagamaan adalah kisah Ashhab al-Ukhdud, nan disebutkan secara singkat dalam Al-Qur’an, Surah Al-Buruj ayat 4–9:


قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ (٤) النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ (٥) إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ (٦) وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ (٧) وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَنْ يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (٨) الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ (٩)

Artinya: “Binasalah orang-orang nan membikin parit (yaitu para pembesar Najran di Yaman). nan berapi (yang mempunyai) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa nan mereka perbuat terhadap orang-orang mukmin. Dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu hanya lantaran (orang-orang mukmin itu) beragama kepada Allah nan Maha Perkasa, Maha Terpuji, nan mempunyai kerajaan langit dan bumi. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Q.S. Al-Buruj [85]: 4–9)


Secara umum, ayat ini mengisahkan kaum nan dilaknat lantaran menyiksa orang-orang beragama demi memaksa mereka meninggalkan iman. Mereka dibakar dalam kobaran api nan dibuat dalam parit. Alur kisah ini tidak dijabarkan secara komplit dalam Al-Qur’an. Oleh lantaran itu, para ustadz tafsir menyampaikan beberapa jenis lengkapnya, seperti nan dijelaskan Fakhruddin Ar-Razi dalam Mafatihul Ghaib (Beirut: Dar Ihyaut Turats ‘Arabi, 1420 H, jilid XXXI, hal. 109].jilid XXXI, hlm. 109).


Kisah Ashhabul Ukhdud

Menurut Imam al-Qurthubi, ukhdud berfaedah lubang panjang seperti parit. Secara historis, kisah ini terjadi di Najran (Yaman), pada masa transisi antara Nabi Isa AS dan Nabi Muhammad SAW. (Al-Jami' li Ahkamil Qur'an, [Kairo: Darul Kutub Al-Mishriyah, 1384 H], jilid XIX, laman 287).


Dalam Shahih Muslim, disebutkan bahwa ada seorang raja kejam nan mengaku sebagai Tuhan dan mempunyai tukang sihir. Saat si penyihir menua, dia meminta sang raja mencari pemuda pandai untuk dijadikan murid. Pemuda ini setiap hari pergi belajar sihir, namun di tengah perjalanan dia kerap mampir ke rumah seorang pendeta untuk belajar kepercayaan dan mengadukan keresahan hatinya.


Suatu hari, di jalan, seekor hewan galak menghalangi jalan. Pemuda itu berdoa, “Ya Allah, jika Engkau lebih ridha kepada pendeta daripada tukang sihir, maka bunuhlah hewan ini.” Dengan izin Allah, hewan itu meninggal seketika setelah dilempar batu.


Setelah peristiwa itu, pemuda tersebut dikaruniai keahlian menyembuhkan penyakit. Popularitasnya menyebar hingga seorang menteri raja nan buta datang memintanya menyembuhkan penyakit, dengan hadiah bingkisan besar. Pemuda itu menegaskan bahwa kesembuhan datang dari Allah, dan menteri itu kudu beragama terlebih dahulu. Setelah beriman, atas angan pemuda itu, dia sembuh.


Raja nan mengetahui perihal ini menjadi murka. Menteri dan pendeta pun dihukum dengan digergaji hingga tubuh mereka terbelah dua. Sementara pemuda tadi dihukum dengan langkah berbeda: dilempar dari gunung dan ditenggelamkan di laut, namun Allah menyelamatkannya setiap kali.


Akhirnya pemuda itu menawarkan solusi untuk membunuhnya: dia hanya bakal meninggal jika seluruh rakyat menyaksikan dan melepaskan anak panah dengan mengucap, “Bismillah Rabbi al-Ghulam.” Sang raja mengikuti petunjuk itu, dan pemuda tersebut wafat.


Namun, keajaiban itu justru membikin semua rakyat beragama kepada Allah. Raja nan murka kemudian menggali parit besar, menyalakan api di dalamnya, dan menguji keagamaan rakyat. Mereka nan tetap beragama dilemparkan ke dalam kobaran api, termasuk seorang ibu nan nyaris goyah, hingga bayinya nan tetap mini berkata, “Wahai Ibu, bersabarlah, sesungguhnya engkau di jalan nan benar.”


Hikmah dari Kisah di Atas

Dari kisah ini, kita belajar makna kesabaran dan keteguhan iman. Syekh Wahbah az-Zuhaili menegaskan bahwa kisah ini mengajarkan kesabaran dalam menanggung derita demi memihak kepercayaan Allah. (Tafsirul Munir,  [Damaskus: Darul Fikr, 1419 H.], jilid XXX, laman 160)


Secara umum, Surah Al-Buruj diturunkan untuk menguatkan keagamaan Rasulullah SAW dan umat Islam nan saat itu mengalami siksaan dari kaum Quraisy. Kesabaran dan keteguhan hati mereka kelak bakal berbuah kemenangan di dunia, serta keselamatan dan kebahagiaan kekal di akhirat. Wallahu a’lam.


Ustadz Muhammad Zainul Mujahid, Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo

Selengkapnya
Sumber NU ONLINE
NU ONLINE