Laki-Laki Bernama Karta

Sedang Trending 4 jam yang lalu
ARTICLE AD BOX

Kedatangan orang kate dari Negeri Matahari Terbit,tak begitu berpengaruh pada sendi kehidupan penduduk kampungku. Sesekali orang bermata sipit itu lewat, tak banyak, paling hanya lima orang saja. Katanya di ibukota kawedanan, mereka tak lebih dari lima regu. Tentu wajar, mengingat wilayah di kaki Gunung Slamet penduduknya sepercik. Tanahnya tetap banyak nan perawan dan berselimut pohon tua.


Lalu ketika meletus revolusi lokal, kampungku dan kampung sekitarnya tak bergejolak. Kondisi ini tak sama dengan kampung-kampung di dataran rendah, di mana api nan terpercik menyantap korban. Kelak, ketika saya ceritakan cerita itu kepada cucuku, seorang sarjana sejarah, dia mengatakan bahwa peristiwa tersebut dikenal dengan nama Peristiwa Tiga Daerah.

“Revolusi lokal itu tujuannya mengganti pangrah praja alias birokrat. Api itu muncul pertama di Kampung Cerih. Lurahnya nan berjulukan Haryowiyono dilucuti, dipakaikan busana dari karung goni. Begitu juga dengan istrinya. Kemudian mereka diarak keliling kampung. Aksi demikian disebut dengan nama dombreng. Layaknya api, tindakan itu merambat ke kampung-kampung Tegal nan lain, apalagi sampai ke Brebes dan Pemalang,” ucap cucuku Ade dengan ritme pelan tetapi menggebu-gebu dengan tangan nan tetap memegang cangkir berisi teh tubruk.

Lebih lanjut dia mengatakan bahwa Peristiwa Tiga Daerah tak lepas dari bersatunya tiga kekuatan ialah nasionalis, agamis, dan komunis. “Asumsiku kenapa kemudian tindakan tersebut tak terjadi di Kawedanan Bumijawa, pertama dikarenakan penduduknya sedikit. Kedua, tak terkena akibat langsung pendudukan Jepang. Ketiga, hanya ada satu golongan saja ialah Islam, tepatnya Islam tradisional. Tak ada nan namanya komunis maupun nasionalis.”


Aku hanya angguk-angguk kepala mendengarkan penjelasan cucuku. Bukan main bangganya diriku padanya. Memang cucuku nan satu ini gila membaca. Berbeda halnya dengan diriku, satu-satunya nan saya baca hingga usia senja adalah kalimat dari langit.


Kemudian ketika kembalinya orang berbulu seperti rambut jagung, hanya sekali saja mereka melakukan pembersihan. Tepatnya pada pertengahan tahun 1947. Meskipun terkesan kasar, orang-orang besar dan tinggi itu tak melontarkan pelurunya sekalipun. Sementara para pejuang hanya sekali melakukan penghadangan, ialah di akhir tahun 1948. Menurut desas-desus di pasar, penghadangan dilakukan oleh pejuang Jawa Barat. Kebetulan mereka lewat Kawedanan Bumijawa dalam perjalanan kembali dari Jogja ke tanah asalnya.


Pasca pengakuan kedaulatan oleh Belanda, banyak orang berbulu gondrong dengan busana beragam, ada nan kuning jejak tentara Nippon, ada nan hijau jejak PETA, datang sembari menenteng senjata. Mereka menjadikan hutan-hutan perawan sebagai tempat persembunyian. Kata bapak mereka adalah anak kandung nan dibuang oleh ibu pertiwi, “Mereka tidak diterima masuk angkatan bersenjata. Dari nan bapak dengar perihal ini dikarenakan laskar santri ini tak punya ijazah.”

Para masyarakat di kaki Gunung Slamet bersimpati terhadap aktivitas mereka. Alhasil, logistik pun mudah diperoleh. Setiap beberapa minggu sekali, pada malam hari, mereka turun gunung untuk menyerang markas pasukan pemerintah. Gerakan serupa rupanya juga terjadi di juga di daera-daerah lain. Awalnya, pemerintah menganggap perihal itu biasa saja, sekadar buntut kekecewaan pejuang terhadap negara. Namun, setelah aktivitas ini meluas ke segala penjuru tanah air dan semakin terorganisir, pemerintah menetapkan situasi darurat. Operasi militer digelar, kampung-kampung di kaki Gunung Slamet pun tak luput dari injakan sepatu loreng. Pemerintah kemudian memunculkan istilah baru untuk mereka, ialah gerombolan.

Mulanya, orang-orang berbaju loreng percaya diri dapat meringkus gerombolan dalam waktu singkat. Tetapi kepercayaan mereka memudar, seiring dengan hasil nan nihil. Mereka mendapatkan konklusi bahwa perihal ini disebabkan mereka bergerak di tengah penduduk. Operasi bersenjata saja tak cukup, kudu ada operasi intelijen. Penduduk di kaki Gunung Slamet tak luput dari ancaman. Todongan pistol sukses menghentikan suplai logistik untuk gerombolan. Mustahil para gerombolan memperkuat tanpa support logistik penduduk.


Gerombolan pun berubah menjadi galak terhadap penduduk. Beberapa kampung di kaki Gunung Slamet tak luput dari kobaran api kemarahan. Mereka nan diduga menjadi mata-mata pasukan loreng berhujung tanpa kepala. Gerombolan semakin terpojok setelah pasukan loreng membentuk pasukan mobilitas cepat. Bersamaan dengan itu, saya berkenalan dengan salah satu dari mereka.

*

Ia memperkenalkan diri sebagai Karta dengan pangkat letnan dua. Kedatangannya siang itu ke rumahku dengan maksud menanyakan kejadian semalam. Katanya, dia mendapatkan laporan bahwa gerombolan lewat depan rumahku. Saat itu, di rumah hanya ada aku; bapak, ibu, dan adikku tetap di sawah. Karta datang seorang diri dan meminta masuk, tetapi saya menolaknya. Ia pun berbalik pergi. Hari-hari berikutnya dia sering datang ke rumah dengan dalih membantu bapak di sawah.

Bapak mulanya tak nyaman dengan kehadiran Karta. Dirinya sering mendengar info tak sedap tentang kelakuan tak layak beberapa orang dari pasukan loreng. Mulai dari mabuk hingga main perempuan. Tetapi dalam waktu cepat, Karta sukses mengambil hati bapak. Maka tatkala Karta menyampaikan maksudnya menikahi diriku, tanpa basa-basi bapak langsung mengiyakan. Ketika saya menanyakan keputusan bapak tersebut, karena selama ini dia gembar-gembor mau mempunyai menantu seorang santri. Ia hanya menjawab, “Nggak kudu santri, nan krusial giat sholat. Aku lihat Karta orang baik, bapak percaya dia nggak bakal menyakitimu.”

Pernikahanku dengan Karta dilaksanakan secara sederhana lantaran situasi saat itu tidak memungkinkan untuk mengadakan pesta. Tak seorang pun dari family Karta di Cilacap nan datang. Ia berkilah hidup sebatang kara, keluarganya menjadi korban pembantaian pada tahun 1947.

Satu tahun kemudian, pada 1955, lahirlah anak kami. Bapak memberinya nama Patimah. Bersamaan dengan itu, Karta dipindahtugaskan ke Cilacap. Tiga bulan sekali dia bakal pulang ke Tegal menengok saya dan Patimah. Ia juga rutin berkirim surat. Satu tahun kemudian saya meminta untuk ikut ke Cilacap. Namun, dia menolaknya dengan argumen nan tak jelas. Setelah tiga tahun di Cilacap, dia dipindah tugaskan ke Bandung. Tiga bulan pertama di Bandung, Karta tetap berkirim surat. Tetapi setelah itu, dia tak lagi memberi kabar. Tak lama berselang, bapak mendapat info dari salah satu kawan Karta, bahwa ketika bekerja di Cilacap, Karta menikah lagi.

Aku nan sebelumnya tak pernah berjalan ke luar kota akhirnya memberanikan diri pergi ke Cilacap seorang diri, berbekal alamat nan diberikan oleh kawannya. Tujuannnya satu, memastikan kebenaran bakal cerita kawannya.

Istri kedua Karta sama kagetnya dengan diriku, dia tak menyangka bahwa Karta sebelumnya telah menikah. Berbeda denganku nan berupaya tegar, kesedihan terlihat dari mata Ijah istri kedua Karta, apalagi dia sampai pingsan. Setelah sadar dari tidur singkatnya, Ijah memberi tahu bahwa Karta sejak di Bandung tak memberi kabar, apalagi mengirimkan duit untuk kedua anaknya nan tetap kecil.

“Namanya mata keranjang, di Bandung pasti dia menikah lagi,” ucapnya.

*

“Mengizinkan Karta menikah dengan Anda adalah kesalahan bapak nan tak termaafkan,” ucapnya. “Tetapi bapak mohon, agar Anda kudu tetap melanjutkan hidup. Lupakan Karta. Kalau memang dia betul-betul mencintaimu, dia tak mungkin menduakan kamu.”


Mulanya saya tak mau menikah lagi, entah lantaran trauma alias tetap cinta dengan Karta. Kenangan dengannya susah untuk dihilangkan jejaknya dari hati. Tetapi hidup kudu tetap berjalan. Di umur Patimah nan menginjak sepuluh tahun, saya dilamar oleh Akram. Ia adalah pembimbing ngaji dengan status duda dua anak. Istrinya meninggal tiga tahun lampau sewaktu mengandung anak ketiga. Dengan Akram saya tak mempunyai anak. Tetapi itu bukan menjadi soal.

*

Surat bertulis tangan dari orang nan telah 20 tahun menghilang sungguh mengguncang perasaan. Surat itu berisi bahwa dia bakal menemui anaknya Patimah. Di satu sisi ada emosi senang, di sisi lain ada emosi kesal. Surat itu kemudian dia beritahu kepada Akram suaminya. Ia rupanya tak mempersoalkan kehadiran Karta.

“Bagaimanapun juga Karta adalah ayah Patimah. Aku sih nggak masalah dengan kedatangannya. Ditambah lagi sejenak lagi Patimah bakal menikah, tentu dia senang jika wali nikahnya adalah ayahnya,” ucapnya


Mendapatkan jawaban semacam itu, jadi muncul emosi bersalah terhadap Akram, lantaran dirinya tadi merasa senang bukan main dengan surat dari Karta. Aku sadar betul meskipun bertahun-tahun berlalu, tetapi hatinya belum sepenuhnya cinta terhadap Akram.

Ternyata dia datang tak seorang diri melainkan membawa empat buntut nan semuanya laki-laki. nan pertama berjulukan Jajang, berumur lima tahun; kedua dan ketiga adalah si kembar, Usman dan Isman, berumur dua tahun; dan nan terakhir, Badi, tetap bayi merah. Setelah dipersilahkan masuk. Di ruang tamu, di hadapan saya dan Akram, dia menceritakan bahwa keempat anaknya adalah anak dari pernikahannya nan keempat. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa dirinya sudah dipecat dari kesatuannya. Tak berakhir sampai di situ kemalangannya, istrinya meninggal ketika melahirkan Badi.


Karta menyampaikan bahwa maksud kedatangannya adalah agar diizinkan tinggal untuk sementara waktu di rumahku. Sebab, dia tak punya siapa-siapa lagi. Tanpa meminta persetujuan dari Akram, saya mengizinkannya. Sesekali, Akram membujuk Jajang, Usman, Isman, dan Badi bergantian ke rumah kerabatnya, kadang pula keempatnya diajak sekaligus.


*

Ternyata kembalinya Karta tak disukai oleh ipar-iparku. Mereka menganggap perihal tersebut adalah suatu nan tidak etis. Aku tak sengaja mendengarkan percakapan antara suamiku dengan saudara-saudaranya di dapur sewaktu nikahan Patimah.


“Goblok, tolol. Kamu nggak cemburu?” tanya Kang Dur.

“Masa Anda nggak berprasangka istrimu tinggal di genting nan sama dengan mantan suaminya,” sahut Kang Dul.


“Tetapi mereka kan nggak tinggal sekamar. Aku percaya sekali bahwa istriku nggak bakal melakukan neko-neko.”


“Nggak ada jaminan,” timpal Kang Ghofur. “Lagian Anda mau aja mongmong anak nan bukan darah daging kamu, siapa nan sering Anda aja ke rumahku?”


“Jajang, Usman, Isman, dan Badi. Kasihan kang mereka.”


“Kan tetap ada bapaknya,” kata Kang Ghofur.

“Aku tak punya kuasa apa-apa kang. Rumah ini kan milik Nuri, bukan milikku. Selama ini saya juga numpang hidup, sama seperti nan dilakukan oleh Karta. Bedanya saya suami, Karta mantan suami.”

“Dari dulu saya selalu mewanti-wanti Anda agar jangan hanya mengandalkan hidup hanya dari menjadi pembimbing ngaji. Tujuannya, agar Anda punya kuasa, nggak diinjak-injak,” kata Kang Asrah nan sedari tadi hanya diam.


“Iya, kelak saya coba ngomong ke Nuri.”

*

Malik Ibnu Zaman lahir di Tegal Jawa Tengah. Menulis cerpen, puisi, esai, dan resensi yang tersebar di beberapa media online. Buku pertamanya sebuah kumpulan cerpen berjudul Pengemis nan Kelima (2024).

Selengkapnya
Sumber NU ONLINE
NU ONLINE