ARTICLE AD BOX
4. Misbach Yusa Biran (1933-2012)
Misbach merupakan salah satu tokoh di bumi perfilman dan sastra Indonesia nan hidup di era kolonial hingga digital ini, dalam kitab Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978 (Sinematek Indonesia, 1979), diterangkan mulai bersenggolan dalam bumi film, sebagai pencatat skrip untuk movie Puteri dari Medan (1954). Setahun kemudian mendapat kepercayaan untuk menjadi pembantu sutradara dalam Tamu Agung (1955) nan disutradarai Usmar Ismail.
Lahir di Rangkasbitung 22 September 1933, Misbach merupakan keturunan Minang dari seorang ayah berjulukan Ayun Sabiran nan kala itu aktif di dalam pergerakan kemerdekaan hingga ditangkap oleh pemerintah Hindia Belanda dan diasingkan ke Boven Digoel. Sementara ibunya, merupakan wanita original Banten.
A. Teeuw dalam kitab Sastra Indonesia Modern II (Pustaka Jaya, 1989) menyebut Misbach sebagai seorang penulis cerita pendek nan bisa memadukan pendekatan modern nan melimpah dengan kejenakaan. Dramanya nan berjudul Bung Besar memperoleh bingkisan kedua Sayembara Penulisan Naskah Drama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1958. Dramanya nan lain adalah Setengah Djam Mendjelang Maut pada 1968 dan pernah ditayangkan di TVRI.
Misbach nan pernah berguru di Taman Madya (SLA) Taman Siswa Jakarta, pada awalnya dikenal sebagai seorang sutradara dan penulis skenario. Ia terpilih sebagai Sutradara Terbaik dalam Pekan Apresiasi Film Nasional 1967 untuk karyanya Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1966-dua seri), dan Penulisan Cerita Terbaik Menjusuri Djedjak Berdarah (1967).
Suami dari Nani Widjaja ini, kemudian lebih banyak memusatkan pikiran dalam merintis pusat pengarsipan movie nan kemudian dikenal sebagai Sinematek Indonesia, Pusat Perfilman H. Usmar Ismail. Peneliti BRIN Ahmad Nuril Huda kepada NU Online menyebut Misbach mempunyai peran besar dalam pengarsipan dengan menyimpan film, foto, majalah, undangan, poster, surat-surat organisasi, hingga draf-draf wawancara serta catatan-catatan pribadi nan berangkaian dengan bumi perfilman Indonesia.
"Di Sinematek Indonesia, kita memandang pengabdian seorang Misbach. Bayangkan di tengah kesibukannya sebagai sineas, penulis, beliau tetap sempat menyimpan dengan rapi semua pengarsipan nan dialaminya," (Lihat tulisan berjudul Sinematek Indonesia Karya terbesar Pak Misbach, NU Online, 2012)
Keterkaitan Misbach dengan NU, seperti halnya dengan tiga tokoh sebelumnya, ialah aktif di Lesbumi. Dalam kitab Lesbumi (LKiS, 2008) karya Choirotun Chisaan, Misbach menulis awal mula perkenalannya dengan NU, ialah sekitar tahun 1957, melalui perantara Djamaludin Malik. Misbach nan juga seorang wartawan, ikut mengelola beberapa media milik NU maupun Lesbumi, ialah dengan menjadi Redaktur rubrik Muara Harian Duta Masjarakat dan Majalah Gelanggang.
Misbach juga menulis beberapa buku, di antaranya Kenang-kenangan Orang Bandel (Komunitas Bambu, 2008), Sejarah Film 1900-1950 (Komunitas Bambu, 2009), Keadjaiban di Pasar Senen (Pustaka Jaya, 1971), Oh Film (Pustaka Jaya, 1973), Perkenalan Selintas Mengenai Perkembangan Film Di Indonesia, (Asia University Tokyo, 1990), dan lain-lain.
H Misbach Yusa Biran meninggal pada tanggal Rabu, 11 April 2012 dan dimakamkan di Kompleks Pesantren Al-Ihya, Ciomas, Bogor.
5. M Abnar Romli (1943-)
Pemilik nama original M Abunawar Romli ini lahir di Desa Pakembaran, Kecamatan Slawi, Kabupaten Tegal, pada 13 Maret 1943. Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar pada tahun 1958, dia melanjutkan studi di sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) di kota asalnya.
Malik Ibnu Zaman dalam tulisan berjudul Abnar Romli: Santri Tebuireng, Aktivis Lesbumi, Sutradara Film Mak Lampir (NU Online, 2024), menuliskan semasa mini Abnar mempunyai kebiasaan mendengarkan dongeng sebelum tidur nan diceritakan oleh ibunya. Hal ini nan menumbuhkan cita-citanya untuk menjadi penulis kitab fiksi dan sutradara film.
Pada tahun 1960 ayahnya memutuskan untuk mengirimkan M. Abnar Romli ke Pesantren Tebuireng di Jombang, Jawa Timur. Selain tekun mempelajari pengetahuan kepercayaan seperti santri lainnya, dia juga aktif menulis cerpen dan karya-karya lainnya. Dari Pesantren Tebuireng, M. Abnar Romli kemudian pindah ke Pesantren Seblak, nan didirikan oleh menantu dari KH Hasyim Asy’ari, KH Ma’shum Ali.
Setelah kembali ke kampung halamannya di Slawi, dia aktif memimpin Lesbumi NU Kabupaten Tegal. Dalam kitab Apa Siapa Orang Film Indonesia 1926-1978 (Sinematek Indonesia, 1979), Sebelum memasuki bumi film, Abnar giat dalam bumi sandiwara amatir. Ia masuk movie pada tahun 1970, mula-mula sebagai pencatat merangkap tukang klep.
Film Hidup, Tjinta dan Air Mata (1970), merupakan movie pertamanya sebagai pencatat. Tahun 1971, dia mulai merangkap kedudukan pembantu sutradara dalam movie Tiada Maaf Bagimu. Kemudian menyusul beberapa produksi antara lain: Wajah Seorang Pembunuh (1972), dan Patgulipat (1973). Abnar menjadi sutradara penuh sejak tahun 1974. Film-filmnya Setitik Noda (1974), Batas Impian (1974), Dimadu (1974) dan lain-lainnya.
Abnar juga menyutradarai serta menulis cerita dan skenario beberapa serial TV. Pembaca dari generasi 90-an, tentu bakal mengingat sosok Mak Lampir dalam serial TV Misteri Gunung Merapi. Serial ini pertama kali tayang pada 1 November 1998. Tidak hanya itu, Abnar Romli juga melahirkan beragam movie lainnya, seperti Legenda Mahkota Majapahit, Prahara Prabu Siliwangi, Mayat Hidup, dan Pancasona, serta tetap banyak lagi.
Selain berkecimpung di bumi perfilman, Abnar juga dikenal sebagai seorang sastrawan. Cerpennya nan berjudul Penjual Kapas dimuat dalam kitab Cerita Pendek Indonesia ke 4 (1979). Cerpen ini mendapatkan penghargaan Hadiah Horison tahun 1966-1967 untuk kategori cerpen nan mendapat pujian dari redaksi. Oleh Ajip Rosidi, cerpen tersebut dimasukkan ke dalam antologi Langit Biru, Laut Biru (1977).
Karya lainnya dari Abnar Romli ialah naskah drama satu babak Perlawanan (1967). Lalu novel Orang-orang nan Terhormat (terbit tahun 1967, pada tahun 1974 dilarang terbit oleh Orde Baru), novel Willem Best (1969), novel Saat Badai Mengamuk (1973), novel Keramat Maulana Putih (2023). M Abnar Romli nan baru saja merayakan ulang tahun nan ke-83, sekarang tinggal di Jakarta.
6. Alex Komang (1961-2015)
Nama aslinya adalah Saifin Nuha bin KH Shohibul Munir. Asal-usul nama panggung “Alex Komang” ada nan menyebut berasal dari pemberian sutradara Teguh Karya. Ada pula nan mengatakan nama itu terinspirasi dari tokoh “Alex” nan dia perankan pada serial televisi Kiki dan Komplotannya.
Sementara Akhmad Sahal dalam tulisan berjudul Kisah Hidup Alex Komang, Putra Kiai NU nan Nekat Merantau ke Jakarta Untuk Menjadi Aktor (Suara NU Jepara, 2025) menjelaskan bahwa nama panggung tokoh kelahiran Pecangaan Jepara pada tanggal 17 September 1961 ini, berasal dari “Alaika Qomar” nan artinya “di atasmu ada rembulan."
Setelah pindah ke ibukota, dia aktif di bumi teater. Waktu main di TIM, terlihat oleh Teguh Karya dan memberikan Alex peran dalam movie Secangkir Kopi Pahit dan Doea Tanda Mata. Keduanya diproduksi pada tahun 1984. Di samping itu namanya juga masuk nominasi sebagai pengarang cerita dan penulis skenario (bersama Teguh) dalam movie tersebut.
Perjalanan Alex Komang hingga bisa menjadi tokoh papan atas Indonesia tidaklah mudah. Putra KH Shohibul Munir Pecangaan ini menginginkan anaknya menuntut pengetahuan di pesantren Sarang, Jawa Tengah. Tanpa sepengetahuan sang ayah, Alex nekat merantau ke Jakarta selepas SMA pada 1980. Alex tidak memberi tahu ayahnya tentang ketertarikannya pada seni peran.
Ketika Alex sukses meraih Piala Citra sebagai tokoh terbaik pada 1985, dia baru memberanikan diri mengakui pekerjaan barunya kepada Kiai Shohib. Sayangnya, perihal ini justru menambah kekecewaan dan kemarahan sang bapak.
Ketua PP Lesbumi NU 2004-2015, Ngatawi Al-Zastrouw dalam tulisan berjudul Alex Komang Berhasil Bawakan Nilai Kesantrian dalam Film (NU Online, 2015) mengungkapkan Alex Komang merupakan seorang seniman NU nan telah sukses membawa nilai-nilai kesantrian dalam karya-karyanya terutama di bagian perfilman.
“Sebagai artis senior nan sudah terkenal, dia bisa menjaga diri untuk tidak tergerus dalam gemerlap bumi artis nan kegemerlapan dan tidak terjebak dalam nama besar nan bisa membikin orang berjarak dengan organisasi asalnya,”
Beberapa movie dibintangi Alex Komang sebelum kepergiannya, antara lain Guru Bangsa: Tjokroaminoto (2015), Gunung Emas Almayer (2014), Sebelum Pagi Terulang Kembali (2014), 9 Summers 10 Autumns (2013), Surat Kecil untuk Tuhan (2011), Hati Merdeka (2011), True Love (2011), Anak Setan (2009), Romeo Juliet (2009), Laskar Pelangi (2008), dan Sumpah Pocong di Sekolah (2008). Alex kembali dinominasikan Piala Citra untuk kategori Aktor Terbaik melalui perannya sebagai ayah pada movie Surat Kecil untuk Tuhan (2011).
Ketika meninggal, Saifin Nuha alias Alex Komang tetap tercatat sebagai Wakil Ketua PP Lesbumi NU. Ia mengembuskan napas nan terakhir, pada pada 13 Februari 2015, setelah sempat dirawat di RSUP Kariadi, Semarang. Keesokan harinya, dia dimakamkan di Pemakaman Umum Sirandu, Desa Pecangaan Kulon, Pecangaan, Jepara. Makamnya berdampingan dengan makam ayahnya.
Ajie Najmuddin, Penulis Buku Menyambut Satu Abad NU
6 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·