Tips Ajarkan Anak Kelola Uang THR agar Tak Habis Pascalebaran

Sedang Trending 4 hari yang lalu
ARTICLE AD BOX

Jakarta, NU Online

Perayaan Hari Raya Lebaran menjadi momen nan menyenangkan bagi banyak orang, termasuk saat menerima Tunjangan Hari Raya (THR) dari keluarga. Namun, kejadian ini juga dapat menimbulkan persoalan andaikan tidak diikuti dengan pengelolaan finansial nan baik. Akibatnya, duit THR nan semestinya dapat disimpan alias dimanfaatkan untuk kebutuhan nan lebih berfaedah justru lenyap tanpa perencanaan.


Kebiasaan fear of missing out (FOMO) kerap menjadi salah satu penyebab seseorang terdorong mengikuti tren sosial alias pamer di media sosial. Hal ini sering kali menjadi akar persoalan dalam pengelolaan keuangan.


Aris Munandar, Pengurus Pusat Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM), menekankan pentingnya edukasi literasi finansial sebagai corak kemerdekaan diri dari pola hidup konsumtif.


“Anak kudu dibiasakan untuk membedakan antara kebutuhan nan berarti (meaningful) dan kemauan nan hanya sesaat (impulsive). Kita bisa mengelola finansial dengan pendekatan mindful agar masa depan tidak dikorbankan demi kesenangan beberapa hari,” ujar Aris kepada NU Online, Rabu (1/4/2026).


Secara umum, banyak anak muda mengalami kejadian “kanker” namalain kantong kering. Kondisi ini biasanya dipicu oleh pengeluaran nan tidak terkendali, seperti biaya mudik, memberi angpau, membeli pakaian, serta beragam pernak-pernik lainnya. Pola pikir ini kerap tertanam tanpa disadari dan seolah menjadi sebuah keharusan.


Lebih lanjut, Aris menyebut kesalahan utama lainnya adalah revenge spending, ialah perilaku shopping berlebihan tanpa menyisihkan biaya untuk kebutuhan hidup di bulan berikutnya sebelum gajian tiba.


“Anak muda sering merasa berkuasa menghabiskan seluruh THR dan tabungan lantaran merasa sudah bekerja keras setahun penuh. Padahal, dalam literasi finansial terdapat prinsip earning, spending, sharing, dan saving nan perlu diperhatikan,” tambahnya.


Oleh lantaran itu, penataan finansial menjadi langkah krusial untuk mencegah siklus utang konsumtif, terlebih di tengah kondisi ekonomi nan tidak pasti. Tanpa evaluasi, seseorang berpotensi menggunakan kartu angsuran alias pinjaman online untuk menutup kebutuhan sehari-hari hingga gajian berikutnya, nan justru memperberat beban finansial di masa depan.


“Pemahaman pengelolaan finansial ini sangat krusial bagi anak muda, apalagi perlu diajarkan sejak awal agar kejadian ini tidak terus berulang,” tegasnya.


Aris juga menekankan pentingnya pertimbangan kondisi finansial pascalebaran dengan mengaudit seluruh pemasukan dan pengeluaran.


“Periksa mutasi rekening dan catatan pengeluaran selama periode Lebaran. Hitung sisa saldo dan bandingkan dengan tanggungjawab tagihan nan kudu dibayar sebelum gajian berikutnya,” jelasnya.


Selain itu, dia menyarankan penerapan prinsip earning, spending, sharing, dan saving melalui metode 50/30/20, ialah mengalokasikan 50 persen untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk kemauan alias cicilan, dan 20 persen untuk tabungan alias berbagi.


“Setelah itu, ubah style hidup menjadi lebih minimalis, misalnya dengan mengurangi makan di luar dan biaya intermezo untuk sementara waktu guna menutup pengeluaran Lebaran,” ujarnya.


Aris juga menegaskan bahwa prinsip micro-saving dapat menjadi solusi efektif. Menabung dalam nominal mini secara rutin, seperti Rp10 ribu alias Rp20 ribu, lebih baik daripada tidak sama sekali.


“Fokus pada pembentukan kebiasaan, bukan pada besaran nominalnya, agar disiplin menabung dapat terbangun melalui penganggaran nan terencana,” kata dia.


Meski demikian, dia tidak melarang kemauan anak muda untuk tetap berinvestasi setelah periode pengeluaran besar.


“Boleh saja, asalkan biaya darurat sudah mulai terisi kembali. Mulailah dari instrumen berisiko rendah dan likuid seperti reksa biaya pasar duit nan memungkinkan investasi dengan nominal kecil,” pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber NU ONLINE
NU ONLINE