Teks Khotbah Jumat: Akal adalah Kendaraan Menuju Surga

Sedang Trending 4 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

بسم الله الرحمن الرحيم

السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته

إِنّ الْحَمْدَ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ

 أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاّ اللهُ  وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ له وَأَشْهَدُ أَنّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ بَعْدَهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ المُصْطَفَى وَ عَلَى آلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِيْنِ

قال الله تعالى فى كتابه الكريم

يا ايها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن الا وانتم مسلمون.

 يا أيها الناس اتقوا ربكم الذي خلقكم من نفس واحدة وخلق منها زوجها وبث منهما رجالا كثيرا ونساء واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحام إن الله كان عليكم رقيبا

 يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله وقولوا قولا سديدا يصلح لكم أعمالكم ويغفر لكم ذنوبكم ومن يطع الله ورسوله فقد فاز فوزا عظيما

أما بعد

Khotbah pertama

Para jemaah rahimakumullah!

Segala puji bagi Allah ﷻ nan telah menciptakan alam semesta dengan segala keteraturannya. Segala puji bagi Allah ﷻ nan telah menjadikan makhluk-Nya dengan segala manfaatnya. Marilah kita syukuri nikmat Allah nan begitu luas ini dengan ketakwaan. Karena bekal terbaik nan dapat menyelamatkan kita di bumi dan alambaka hanyalah ketakwaan. Allah ﷻ berfirman,

وَتَزَوَّدُوا۟ فَإِنَّ خَيْرَ ٱلزَّادِ ٱلتَّقْوَىٰ

“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Dan Allah ﷻ juga mewajibkan kepada kita semua untuk bertakwa dengan sebenar-benarnya. Sehingga tiada jalan nan dapat menutup usia kita dengan selamat, melainkan dengan beragama dengan keagamaan nan sesungguhnya.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

“Hai orang-orang nan beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali Anda meninggal melainkan dalam keadaan Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

Dan tidaklah semua ketaatan itu dapat kita lakukan, selain lantaran Allah telah mengutus Rasul-Nya nan agung, Nabi Muhammad ﷺ. Berselawatlah kepadanya, niscaya Allah bakal balas 10x lipat bagi kita semua.

Akal adalah kesempurnaan pembuatan manusia

Para jemaah rahimakumullah!

Segala puji bagi Allah ﷻ nan telah menjadikan manusia dalam sebaik-baik penciptaan, sebagaimana dalam firman-Nya,

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam corak nan sebaik-baiknya.” (QS. At-Tin: 4)

Yaitu, bahwasanya di antara makhluk Allah di atas permukaan bumi ini, manusialah nan diciptakan dengan sebaik-baik bentuk, baik corak lahir maupun corak batin. Bentuk tubuhnya melampaui keelokan corak tubuh hewan nan lain, tentang ukuran dirinya, tentang manis air-mukanya; sehingga dinamai basyar, artinya wajah nan mengandung kegembiraan, sangat berbeda dengan hewan nan lain.

Dalam Tafsir Al-Azhar, Hamka menerangkan bahwa keelokan manusia semakin tinggi lantaran kita diberi pula akal, bukan semata-mata hanya hidup bernafas. Dengan perseimbangan antara sebaik-baik tubuh dan pedoman pada akalnya itu, manusia dapat hidup di permukaan bumi ini sebagai khalifatul ardhi (pengatur di muka bumi).

Akal nan sehat bakal mencintai kebaikan

Allah ﷻ jadikan logika dalam fitrahnya adalah menyukai kebaikan dan kebenaran, Allah ﷻ berfirman,

فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada kepercayaan (Allâh); (tetaplah atas) fitrah Allâh nan telah menciptakan manusia di atas fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allâh. (Itulah) kepercayaan nan lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rûm: 30)

Syekh ‘Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata, “Allah ﷻ menjadikan pada logika manusia condong menganggap baik suatu kebenaran dan menilai jelek segala nan batil. Karena sesungguhnya semua norma dalam hukum Islam, baik nan lahir maupun nan batin, Allah ﷻ telah menjadikan pada hati semua makhluk-Nya kecenderungan (untuk) menerimanya, maka Allah ﷻ menjadikan di hati mereka rasa cinta kepada kebenaran dan selalu mengutamakannya. Inilah prinsip fitrah Allah nan dimaksudkan.” (Tafsir As-Sa’di, QS. Ar-Rum: 30)

Maka, keistimewaan logika telah dapat membedakan antara jalan senang dengan nan hina. Yakin bakal kebenaran peralatan nan betul dan berpegang kepadanya, tahu bakal kesalahan peralatan nan salah dan menjauhinya; semuanya didapat dengan otak nan cerdas, bukan lantaran turut-turutan, bukan lantaran taklid kepada pendapat orang lain saja.

Namun, sebagaimana apa nan difirmankan Allah ﷻ,

وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ

“Akan tetapi, kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Oleh lantaran itu, terjadilah peperangan nan sengit antara logika nan lurus di atas sinar pengetahuan dengan hawa nafsu nan ditunggangi setan. Sehingga tidak heran kita temui bahwa ada orang nan berakal hebat, cerdas, bergelar tinggi, tetapi jatuh dalam kesesatan nan apalagi oleh orang awam sekalipun dianggap kebodohan.

Akal adalah kendaraan menuju surga

Akal ini adalah kendaraan menuju surga, dia salah satu perangkat krusial agar kita sampai menuju surga Allah ﷻ. Bukankah hukum ini hanya dibebankan kepada orang nan berakal serta matang akalnya? Bukankah orang gila tidak dibebankan syariat? Betapa banyak keadaan terangkatnya hukum lantaran logika seorang telah hilang?

Namun, sebagaimana kendaraan kita, butuh diservis, butuh dipoles, apalagi terus ditingkatkan. Demikianlah akal, hendaknya terus dipoles agar senantiasa hidup di atas fitrah kebaikannya. Oleh lantaran itu, Rasulullah ﷺ bersabda,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut pengetahuan itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Mâjah)

Dan bertebarannya mutiara faidah ayat-ayat Al-Quran, tak bisa dipahami selain dengan logika nan lurus. Oleh lantaran itu, perlulah logika kita itu, dibekali dengan bensin dan bahan bakar nan berbobot dari Al-Quran dan As-Sunnah. Sebab logika menuntut bahan bakar dari sinar pengetahuan hakiki, sedangkan hawa nafsu menuntut siraman dari was-was setan. Allah ﷻ berfirman,

وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِۚ وَمَا يَعْقِلُهَآ اِلَّا الْعٰلِمُوْنَ

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buatkan untuk manusia; dan tiada nan memahaminya selain orang-orang nan berilmu.” (QS. Al-Ankabut: 43)

Maka, beragam pengetahuan berbobot itu nan ada di dalam firman Allah ﷻ dan sabda Nabi-Nya ﷺ, sangat sayang jika dilewatkan demikian saja, lantaran kita tidak bisa mengolahnya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khotbah kedua

الحمد لله على إحسانه، والشكر له على توفيقه وامتنانه، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له تعظيما لشأنه، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الداعي إلى رضوانه، اللهم صلى على محمد وعلى آله وأصحابه وأخوانه

Sehebat-hebat logika ada batasnya

Jemaah rahimakumullah!

Ketahuilah ikhwah sekalian, sehebat-hebat logika pasti ada batasnya. Sebagaimana mata tak bisa memandang tanpa cahaya, penciuman nan tak bisa membedakan jutaan rasa, maka logika pun demikian. Sebagaimana orang berbeda-beda dalam keahlian indranya, logika pun demikian pula. Ada banyak perihal nan sekiranya masuk logika di sebagian orang, tetapi tidak masuk logika di sebagian lainnya. Maka logika itu sangat terpengaruh dengan apa nan dikonsumsinya. Dan dia tidak bisa menjadi referensi absolut kebenaran.

Maka, latihlah logika itu dengan kebaikan! Sebagaimana dalam sebuah sabda disebutkan bahwa hati seumpama anyaman tikar. Jika ada satu keburukan dilakukan, maka dia menyisakan noda hitam nan lekat. Sedangkan satu keburukan ditolak dan ini adalah kebaikan, maka dia menyisakan warna putih nan berseri.

Inilah pertembungan logika dan hawa nafsu itu. Jika logika nan bersih dan tertuntun hukum dimenangkan, maka noktah putih nan mendominasi sehingga kuat dan bagus anyaman hati itu. Ia tak bakal terpengaruh dengan tuduhan apapun laksana batu cadas. Namun, jika hawa nafsu serta bala tentara setan nan menang, maka bakal hitamlah dia dan mudahlah tergempur dengan fitnah. Bahkan berkebalikan penilaiannya, nan baik disangka jahat, nan jahat disangka baik.

Ambillah kebenaran dari Al-Quran

Maka, ambillah kebenaran dan kebaikan dari Al-Quran dan As-Sunnah. Jika ada nan mengucapkan bahwa Al-Quran terlalu susah dicerna akal, alias sebagian mengatakan, “Jangan belajar kepercayaan dalam-dalam, kelak bisa jadi gila!”, maka ketahuilah ini adalah ucapan dusta.

Al-Quran dan As-Sunnah adalah bensin nan berbobot tinggi dan kompatibel untuk semua kendaraan logika manusia. Allah ﷻ berfirman,

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al-Quran untuk pelajaran, maka adakah orang nan mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17)

Bagi orang nan berkekuatan lengkap, bisa berkata Arab dan memahami ilmu-ilmu penunjangnya, jadilah dia mudah mengambil pelajaran dari Al-Quran. Adapun kita nan kurang dalam pengkajian ilmu, tak kenapa meminta support dari para ustadz dalam mempelajarinya. Dan inilah jalan nan dituntut dalam kepercayaan kita. Maka, manfaatkanlah logika sehat nan Allah ﷻ berikan kepada kita, jaga dan rawat dia. Semoga dengan hidayah nan Allah ﷻ berikan ini, kita bisa meraih surga, Jannah Firdausil Al-A’la.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات والمسلمين والمسلمات الأحياء منهم والأموات

ربنا لا تزغ قلوبنا بعد إذ هديتنا وهب لنا من لدنك رحمة إنك أنت الوهاب

اللهم ارنا الحق حقا وارزقنا اتباعه وارنا الباطل باطل وارزقنا اجتنابه

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ 

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَ الْمُسلِمِين

اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَاننَاَ الْمُسلِمِين وَ المُجَاهِدِينَ فِي فِلِسْطِين

اللَّهُمَّ ثَبِّتْ إِيمَانَهُمْ وَ أَنْزِلِ السَّكِينَةَ عَلَى قُلُوبِهِم وَ وَحِّدْ صُفُوفَهُمْ

اللَّهُمَّ أَهْلِكِ الكُفّار وَالمُشْرِكِينَ

اللَّهُمَّ دَمِّرِ الْيَهُود وَ شَتِّتْ شَمْلَهُم وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

و الحمد لله رب العالمين

Wa shallallahu ‘ala sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajmain.

Akhirud da’wa ‘anilhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Baca juga: Saat Akal Harus Tunduk kepada Wahyu

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info