ARTICLE AD BOX
Pembahasan tafwidh telah lama menjadi perhatian para ustadz Ahlussunnah, baik dari kalangan salaf (generasi terdahulu) maupun khalaf (generasi belakangan). Bahkan, sebagian ustadz telah menjelaskannya sebelum munculnya pemikiran tafwidh, sebagai langkah preventif agar umat tidak keliru dalam memahami nash-nash syariat. Sementara itu, sebagian ustadz lainnya membahasnya sebagai corak bantahan, setelah pemikiran tersebut betul-betul muncul dan berkembang.
Istilah tafwidh sendiri belakangan mengalami pergeseran kegunaan nan sebelumnya hanya digunakan untuk men-tafwidh kaifiyat (bagaimana) Allah bersifat, sekarang digunakan juga untuk men-tafwidh makna dari nama dan sifat Allah. Konsekuensinya, perlu adanya tinjauan terhadap pengklasifikasian terhadap suatu istilah nan sama, namun dengan penggunaan nan berbeda. Karena kedua jenis dari tafwidh sendiri itu jelas berbeda. Oleh lantaran itu, perlu ada telaah lebih lanjut mengenai pola dari tafwidh dan gimana bisa muncul pergeseran makna tersebut. [1]
Pola-pola tafwidh makna nan digunakan mufawwidin
Sebagaimana nan telah banyak dikutip sebelumnya, bahwa pergeseran tafwidh dari nan hanya berfaedah pada kaifiyat menjadi makna dan kaifiyat bukanlah tanpa argumen dan sebab. Di antara karena utamanya adalah masuknya pengetahuan kalam dan makulat dalam beragama, lampau muncullah pertanyaan gimana sifat Allah bisa dipikirkan oleh makhluk. Syekh Utsaimin berkata,
أن طريقة التفويض طريق خاطئ، لأنه يتضمن ثلاث مفاسد: تكذيب القرآن، وتجهيل الرسول، واستطالة الفلاسفة
“Bahwasannya jalan pemikiran tafwidh merupakan jalan pemikiran nan salah, lantaran perihal itu mengandung tiga unsur nan merusak: mendustakan Al-Qur`an, membodohi Rasul, dan mendalami filsafat!” [2]
Setelah masuknya pengetahuan kalam dan makulat serta pertanyaan gimana langkah memaknai sifat Allah, muncullah beragam argumen dari melakukan tafwidh makna dengan beberapa pola nan berbeda seperti ketakutan mereka terjatuh pada musyabbihah (menyerupakan sifat Allah) dan ketakutan mereka masuk kepada mu’athilah (meniadakan sifat Allah). Sebagaimana nan dijelaskan oleh Syekh ‘Abd al-‘Azīz bin Marzūq aṭ-Ṭarīfī dalam kitabnya al-Maghribiyyah fī Syarḥ al-‘Aqīdah al-Qayrawāniyyah,
إنما اشتَهَرَ التفويضُ في قولِ الكُلَّابيَّةِ؛ يريدون التوسُّطَ بين المعطِّلةِ والمشبِّهة؛ فيَسلَمُون مِن الطائفتَيْنِ: بتفويضِ حقائقِ الصفاتِ ومَعانِيها، مع أنَّ المفوِّضةَ في الحقيقة معطِّلةٌ؛ فما سَلِموا بالتفويضِ من التعطيل، وظهَرَ التفويضُ في قولِ أبي منصورٍ الماتُرِيدِيِّ في خُراسَانَ، وأبي الحسَنِ الأَشْعَريِّ في العِرَاقِ في “رسالتِهِ إلى أهلِ الثَّغْر”، وقد كتَبَها قبلَ كتابِهِ: الإبانة
“Konsep tafwidh dikenal luas dalam pernyataan kalangan Kullabiyyah. Mereka bermaksud mengambil posisi tengah antara kaum mu‘atthilah dan musyabbihah, dengan angan selamat dari kedua golongan tersebut, ialah dengan menyerahkan prinsip dan (sekaligus) makna sifat-sifat Allah. Namun pada hakikatnya, golongan nan menempuh jalan tafwidh ini tetap termasuk mu‘aṭṭhilah. Dengan tafwidh tersebut, mereka tidak betul-betul terlepas dari praktik ta’thil. Pandangan tafwidh ini juga tampak dalam pernyataan Abū Manṣūr al-Maturidi di Khurasan dan Abū al-Ḥasan al-Asy’arī di Irak, sebagaimana tercantum dalam risalah beliau kepada Ahli ats-Tsaghr, nan ditulis sebelum karya beliau al-Ibanah.” [3]
Para ustadz juga menyebut bahwa konsep tafwidh adalah konsep nan mudah untuk dipahami, lantaran hanya perlu menyerahkan kembali kepada Allah apa nan dimaksud oleh dalil. Padahal, perihal ini tentu merupakan konsep nan lebih tepat diistilahkan sebagai ‘bermudah-mudahan’ dalam memahami nama dan sifat Allah. Sebagaimana nan disebutkan oleh Syekh ‘Abd ar-Raḥīm bin Ṣumayl al-‘Alyānī as-Sulamī pada Syarḥ al-Ḥamawiyyah,
خطورة التفويض تعود إلى عدة أسباب:منْها هو أن مذهب التفويض مذهب سهل؛ لأن فيه تخلياً عن البحث وعن الدراسة، والنفس تحب أن يتخلى الإنسان ويقول: هذه أمور غيبية لا نعلمها فنتركها كما هي
“Bahayanya konsep tafwidh disebabkan beberapa sebab. Di antaranya, bahwa bahwa ajaran tafwidh merupakan ajaran nan mudah, lantaran di dalamnya terdapat sikap meninggalkan penelitian dan kajian. Jiwa menyukai ketika seseorang melepaskan diri dan berkata, ‘Ini adalah perkara-perkara gaib nan tidak kita ketahui, maka kita biarkan sebagaimana adanya.’” [4]
Hal ini juga tidak terlepas dari kesalahpahaman mereka dalam memahami perkataan para salaf dalam menjelaskan tafwidh kaifiyat. Mereka memahami penjelasan para ustadz salaf bahwa isyarat untuk tafwidh adalah tafwidh secara utuh dalam kaifiyat dan maknanya sekaligus. Tentu ini adalah kesalahan berfikir. Padahal, para ustadz salaf memerintahkan untuk ber-tafwidh pada kaifiyat (saja) agar tidak terjerumus ke dalam tafwidh makna. Sebagaimana nan dijelaskan oleh Syekh ‘Abdul-‘Azīz bin Marzūq ath-Tharifi dalam kitab al-Maghribiyyah fī Syarḥ al-‘Aqīdah al-Qayrawāniyyah,
وينسُبُ جماعةٌ التفويضَ إلى السلفِ؛ وذلك لأنَّ في بعضِ كلامِ بعضِهم ما يُتوهَّمُ منه التفويضُ؛ كقولِ بعضِهم في آياتِ الصفاتِ وأحاديثِها؛ كالزُّهْريِّ، ومكحولٍ: أَمِرُّوا الأَحَادِيثَ كَمَا جَاءَتْ
“Sebagian kalangan menisbatkan tafwīḍh kepada para salaf. Hal itu lantaran pada sebagian ucapan mereka terdapat sesuatu nan disangka menunjukkan tafwīḍh, seperti ucapan sebagian dari mereka mengenai ayat-ayat sifat dan hadis-hadisnya, seperti Imam az-Zuhri dan Makḥūl, ‘Biarkan hadis-hadis itu berlalu sebagaimana datangnya.’” [5]
Kesalahpahaman ini jelaslah kesalahan berpikir alias kegoblokan nan mereka punya. Oleh lantaran itu, banyak dari ustadz seperti Syekh Utsaimin, Ibnu Taimiyah, dan Ibn al-Qayyim, menyebut mereka sebagai orang-orang nan bodoh. Selain lantaran mereka menyalahpahami apa nan dimaksud oleh para ulama, mereka juga merepresentasikan kegoblokan itu sendiri. Bagaimana bisa kita mengetahui sebuah kata, tapi tidak mengetahui konteks nan dibicarakan? Syekh ‘Abdur-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk berkata,
منهم مَنْ يُفوِّضُ، فيقول: اللهُ أعلمُ بمراده، وهم أهلُ التفويض، وسمَّاهم شيخُ الإسلام أهل التجهيل؛ لأنَّ مذهبَهم يتضمَّنُ تجهيلَ الرسولِ والصحابة بمعاني نصوصِ الصفات، وهذه التسميةُ أدلُّ على حقيقة مذهبهم من تسميتهم أهل التفويض
“Di antara mereka ada nan melakukan tafwīḍh, lampau berkata, ‘Allah lebih mengetahui maksud-Nya.’ Mereka itulah golongan tafwīḍh. Syekhul Islam menamai mereka sebagai Ahl al-Tajhīl, lantaran ajaran mereka mengandung penganggap-bodohan terhadap Rasul dan para sahabat dalam memahami makna nash-nash tentang sifat-sifat. Penamaan ini lebih menunjukkan prinsip ajaran mereka dibandingkan penamaan mereka sebagai Ahl al-Tafwidh.” (at-Tauḍīḥ li al-Masā’il al-‘Aqdiyyah fī Muqaddimah ar-Risālah al-Qairawāniyyah, hal. 87)
Oleh karenanya, mufawwidhun kemudian menggunakan label “keselamatan” (السلامة) untuk mempromosikan tafwīḍ makna. Dua daya tarik utama klaim ini adalah: (1) pengaitan alias penyandaran kepada para salaf (seolah-olah tafwidh makna adalah manhaj ustadz salaf); dan (2) janji rasa kondusif dari ancaman tasybīh alias kebinasaan pemahaman beragama. Karena kata “keselamatan” berseberangan makna dengan “kehancuran” alias “risiko”, dia mudah menarik hati; lahirlah pula ungkapan populer, “mazhab salaf lebih selamat, sedangkan ajaran khalaf lebih berilmu”. Namun perihal ini dibantah oleh para ustadz setelahnya seperti Badr al-Din bin Jamā‘ah, al-Taftazani, dan Ahmad ad-Dardir nan sering menyinggung perihal ini dalam konteks berbeda, sehingga narasi “selamat vs. berilmu”, mana nan lebih didahulukan? Tentu kita lebih memilih nan lebih selamat. [7]
Baca juga: Larangan Terhadap Nama dan Sifat Allah
Pendapat dan atsar ustadz dalam penetapan makna dan penolakan takyif dalam memahami nama dan sifat Allah
Di antara langkah ahlussunnah dalam memahami kepercayaan adalah menyandarkan gimana para salaf (pendahulu) memahami agama, lantaran mereka hidup lebih dekat dengan era nan Islam diturunkan. Syaikhah Āmāl bint ‘Abd al-‘Azīz al-‘Amrū menjelaskan dalam kitab al-Alfāẓ wa al-Muṣṭalaḥāt al-Muta‘alliqqah bi-Tawḥīd ar-Rubūbiyyah,
يعتمد أهل السنة على الآثار المنقولة عن السلف؛ من الصحابة والتابعين، في بيان كلام الله ورسوله – صلى الله عليه وسلم -، فهم الأعلم بها من غيرهم، وهكذا فألفاظهم في العقيدة مأخوذة من كلام الله ورسوله، أو مبينة لها بعبارات صحيحة، بناءً على لغتهم العربية الفصيحة
“Dalam memahami perkataan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam, Ahlussunnah juga melandaskan kepada atsar-astar (perkataan) para salaf (pendahulu umat Islam) seperti sahabat, tabi’in, dan tabiut tabi’in, lantaran merekalah nan paling mengetahui tentang kepercayaan ini dibanding selain mereka. Begitu juga perkataan mereka dalam memahami iktikad pastilah didasari perkataan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam serta terstruktur dengan seumpama nan betul nan dibangun atas bahasa nan fasih.” [8]
Berikut ini merupakan atsar-atsar dari para salaf:
Imam Hasan al-Bashri
Imam ad-Darimi rahimahullah meriwayatkan dalam kitabnya ar-Radd ‘alā al-Jahmiyyah yang berfokus membantah orang-orang Jahmiyah,
أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ رَوَاحَةَ، قَالَ لِلْحَسَنِ: هَلْ تَصِفُ رَبَّكَ؟ قَالَ: نَعَمْ، بِغَيْرِ مِثَالٍ
“Bahwa Abdullah bin Rawahah berbicara kepada Hasan, “Apakah Anda mensifati Tuhanmu?” Hasan menjawab, “Iya, namun tanpa memisalkan sifat-Nya.” [9]
Imam Hamad bin Abu Hanifah
Imam Hamad bin Abu Hanifah rahimahumallah merupakan seorang anak dari pemimpin ajaran fikih besar, ialah Imam Abu Hanifah rahimahullah. Hamad pernah diangkat menjadi seorang Qadhi setelah al-Qasim bin Mu`in rahimahullah, siswa Abu Hanifah. [10] Diriwayatkan bahwa Hamad rahimahullah pernah ditanya tentang gimana kehadiran Allah dan malaikat pada surah al-Fajr ayat 22,
(وَجَاءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّا)
“Tuhammu dan malaikat datang bersaf-saf”;
إنا لم نكلفكم أن تعلموا كيف مجيئه، ولكنا نكلفكم أن تؤمنوا بمجيئه
“Sesungguhnya kami tidak meminta kalian tahu gimana kedatangannya, kami hanya meminta kalian beragama dengan kedatangannya.” [11]
Imam Malik
Imam Malik merupakan salah satu pemimpin besar dalam ajaran fikih. Imam Malik pernah ditanya oleh seseorang tentang gimana Allah ber-istiwa (bersemayam di atas ‘Arsy). Beliau rahimahullah berkata,
الْكَيْفُ غَيْرُ مَعْقُولٍ، وَالِاسْتِوَاءُ مِنْهُ غَيْرُ مَجْهُولٍ، وَالْإِيمَانُ بِهِ وَاجِبٌ، وَالسُّؤَالُ عَنْهُ بِدْعَةٌ، وَإِنِّي لَأَخَافُ أَنْ تَكُونَ ضَالًّا
ثُمَّ أَمَرَ بِهِ فَأُخْرِجَ
“Bagaimana (kaifiyah)-nya tidak dapat dipahami, sementara (makna) istiwa’ itu sendiri telah diketahui. Beriman kepadanya adalah wajib, dan bertanya tentangnya adalah bid‘ah. Dan sungguh saya cemas engkau termasuk orang nan sesat.” Kemudian beliau memerintahkan agar orang itu dikeluarkan.” [12]
al-Hafizh Hamad bin Zaid
al-Hafizh Hamad bin Zaid rahimahullah adalah pemimpin besar bagian sabda di zamannya. Beliau juga pemimpin besar Ahlus Sunnah, hafizh (penghapal nan kuat), tsiqah (dapat dipercaya), tsabat (kokoh), faqih, dan termasuk empat pemimpin sabda pada zamannya, dikenal sebagai orang nan paling kuat riwayatnya dari Ayyub as-Sakhtiyani serta paling mendalam ilmunya tentang sunah di Bashrah. [13]
Diriwayatkan bahwa beliau pernah ditanya oleh Bisyr bin Sirri tentang tanggapannya dengan hadis,
يَنْزِلُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا
“Allah Azza wa Jalla turun ke langit dunia.” Maka beliau menjawab,
حق كل ذلك كيف شاء الله
“Itu adalah kewenangan (kebenaran), bagaimanapun caranya nan Allah kehendaki.” [14]
Imam Rabi’ah ar-Ra’y
Imam Rabi’ah bin Abi ‘Abd ar-Raḥman adalah faqih besar Madinah dari kalangan tabi‘in, tsiqah, dan salah satu mufti utama kota Madinah, serta pembimbing Imam Mālik. Ia dikenal kuat dalam fikih dan sangat berhati-hati dalam fatwa. Adapun dia mendapatkan laqab (julukan) dengan ar-Ra’y hanya lantaran banyak menggunakan ra’yu (ijtihad), bukan lantaran lemahnya sunah alias amanahnya. [15]
Diriwayatkan bahwa beliau pernah ditanya tentang maksud dari ayat 5 dari surah Taha,
(الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى)
“(Allah) nan Maha Pengasih berdomisili di atas ‘Arsy”; maka beliau menjawab,
استواؤه حق معلوم، وكيفيته مجهولة
“(Makna) istiwa-Nya sangat jelas diketahui, namun gimana caranya tidak diketahui.” [16]
Imam Fudhail bin ‘Iyadh
Imam Fudhail bin Iyadh rahimahullah adalah seorang ustadz tabi‘ut tabi‘in nan dikenal dengan keteguhan akidah, kedalaman ibadah, dan ketajaman nasihatnya. Ia meriwayatkan sabda dari banyak pemimpin besar dan menjadi rujukan dalam kezuhudan serta pembinaan akhlak, hingga diakui keutamaannya oleh para ustadz sabda dan fikih. [17]
Beliau rahimahullah berkata,
ليس لنا أن نتوهم في الله كيف هو، لأن الله تعالى وصف نفسه فأبلغ، فقال: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ • اللَّهُ الصَّمَدُ • لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ • وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ} فلا صفة أبلغ مما وصف به نفسه
“Kita tidak mungkin bisa membesitkan dalam akal kita ‘bagaimana’ Allah (bersifat), lantaran Allah mensifati diri-Nya kemudian menyampaikannya (dengan jelas). Maka, Ia berfirman, ‘Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah, nan Maha Esa’. Allah-lah tempat meminta segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tidak ada nan menyerupainya suatu apapun.’ (QS. al-Ikhlash: 1-4) Tidak ada sifat nan lebih baik dan jelas maknanya melampaui apa nan dengannya Allah mensifati Diri-Nya.” [18]
Imam Waki’
Waki’ bin al-Jarrah ar-Ru’asi (w. 197 H) adalah seorang pemimpin besar, hafizh hadis, dan ustadz Irak dari Kufah, dikenal luas lantaran kekuatan hafalan, kezuhudan, dan kedalaman ilmunya. Ia meriwayatkan sabda dari banyak pemimpin besar seperti Sufyan ats-Tsauri dan menjadi pembimbing bagi para tokoh besar semisal Imam Ahmad, Ibn al-Mubarak, dan Imam asy-Syafi‘i. Para ustadz menilainya sebagai salah satu pemimpin huffāzh terbesar pada masanya. [19]
Diriwayatkan bahwa beliau rahimahullah berkata,
نُسَلِّمُ هَذِهِ الْأَحَادِيثَ كَمَا جَاءَتْ، وَلَا نَقُولُ كَيْفَ هَذَا وَلِمَ جَاءَ هَذَا
“Kita hanya kudu menerima hadis-hadis ini sebagaimana datangnya. Kita tidak perlu berbicara gimana ini dan untuk apa ini bisa terjadi.” [20]
Dari perkataan-perkataan ustadz nan merupakan para pemimpin dan hafizh di masanya, dapat disimpulkan bahwa tidak ada satu pun dari perkataan mereka nan mengisyaratkan adanya aliran tafwidh makna. Oleh lantaran itu, aliran tafwidh makna merupakan perihal nan tidak ditemukan di aliran salaf. Padahal semestinya mereka nan lebih mengetahui tentang gimana kepercayaan ini dipahami. Mereka hanya mengisyaratkan untuk tidak memisalkan alias tidak bertanya gimana dan untuk apa sifat Allah itu berlaku.
Kesimpulan
Dengan penjelasan-penjelasan di atas penulis memberikan konklusi sebagai penutup penulisan bekerlapan dari “Tafwidh dalam Nama dan Sifat Allah” sebagai berikut:
Pertama, tulisan ini menegaskan adanya perbedaan nan sangat nyata dalam konsep tafwidh. Tafwidh pada kaifiyat merupakan manhaj nan ditempuh oleh para salaf dan termasuk jalan nan lurus. Adapun tafwidh pada makna bukanlah metode salaf, lantaran mengosongkan nash dari kegunaan bayan (penjelasan) nan Allah kehendaki. Al-Quran diturunkan untuk dipahami maknanya, bukan sekadar dilafazkan tanpa pemahaman. Allah Ta’ala berfirman,
وَأَنْزَلْنَا الْقُرْآنَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ
“Kami turunkan Al-Quran sebagai penjelas bagi segala sesuatu.”
Ayat ini menunjukkan bahwa ayat-ayat sifat pun termasuk dalam cakupan bayan/tibyan (penjelas) nan dapat dipahami maknanya sesuai dengan norma bahasa Arab dan pemahaman salaf, bukan perkara nan dikosongkan dari makna sama sekali.
Kedua, tafwidh makna melahirkan problem metodologis nan serius dalam akidah. Dengan mengosongkan makna nash, maka teks wahyu kehilangan kegunaan petunjuknya. Akibatnya, terbukalah pintu bagi beragam corak penyimpangan, seperti ta’thil terselubung, ketidakkonsistenan dalam berinteraksi dengan nash, dan kerancuan antara ketaatan dengan kebingungan. Para salaf justru menempuh jalan nan sangat jelas, ialah menetapkan makna nan ditunjukkan oleh nash dan menyerahkan kaifiyat-nya kepada Allah. Dari sini lahir norma nan kokoh dalam iktikad Ahlus Sunnah: “menetapkan sifat Allah tanpa penyerupaan (tasybih) dan mensucikan Allah tanpa peniadaan (ta’thil) sifat; serta tafwidh pada kaifiyat, bukan pada makna”.
Ketiga, implikasi praktis dari pembahasan ini adalah tanggungjawab menjaga manhaj salaf dalam memahami nama dan sifat Allah. Seorang penuntut pengetahuan tidak boleh mencukupkan diri dengan sikap menyerahkan makna, lantaran perihal itu bukan corak kehati-hatian, melainkan corak pelepasan dari tanggungjawab tadabbur. Jalan nan selamat adalah memahami makna sebagaimana dipahami oleh generasi salaf dan menahan diri dari membagaimanakan sifat-sifat Allah. Dengan manhaj ini, kemurnian tauhid dapat terjaga dan umat terlindungi dari syubhat tafwidh makna.
Wallahu A’lam bis-shawab.
[Selesai]
KEMBALI KE BAGIAN 1
***
Penulis: Muhammad Insan Fathin
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] Syekh ‘Abdur-Raḥmān bin Ṣāliḥ al-Maḥmūd, Mawqif Ibn Taymiyyah min al-Asyā‘irah, 3: 1179.
[2] Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ al-‘Utsaimīn, Syarḥ al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah, 1: 97.
[3] Syekh ‘Abd al-‘Azīz bin Marzūq aṭ-Ṭarīfī, al-Maghribiyyah fī Syarḥ al-‘Aqīdah al-Qayrawāniyyah, hal. 94.
[4] Syekh ‘Abd ar-Raḥīm bin Ṣumayl al-‘Alyānī as-Sulamī, Syarḥ al-Ḥamawiyyah, 4: 3.
[5] Syekh ‘Abd al-‘Azīz bin Marzūq aṭ-Ṭarīfī, al-Maghribiyyah fī Syarḥ al-‘Aqīdah al-Qayrawāniyyah, hal. 95.
[6] Syekh ‘Abd al-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, at-Tauḍīḥ li al-Masā’il al-‘Aqdiyyah fī Muqaddimah ar-Risālah al-Qairawāniyyah, hal. 87.
[7] Syekh ‘Alawi bin ‘Abd al-Qādir as-Saqqāf dkk., al-Mawsū‘ah al-‘Aqdiyah, 2: 470.
[8] Syaikhah Āmāl bint ‘Abd al-‘Azīz al-‘Amrū, al-Alfāẓ wa al-Muṣṭalaḥāt al-Muta’alliqah bi-Tawḥīd ar-Rubūbiyyah, hal. 71.
[9] Imam ad-Dārimī, ar-Radd ‘alā al-Jahmiyyah, hal. 29.
[10] Profil Hammād bin Abī Ḥanīfah an-Nu‘mān bin Thābit al-Kūfī, Tarajm.com, diakses dari https://tarajm.com/people/26015
[11] Syekh ‘Abd al-‘Azīz bin ‘Abdullāh ar-Rājihī, Syarḥ ‘Aqīdah as-Salaf wa Aṣḥāb al-Ḥadīṡ, 6: 14.
[12] Imam ad-Dārimī, ar-Radd ‘alā al-Jahmiyyah, hal. 66.
[13] Imām al-Mizzī, Tahdzīb al-Kamāl, 7: 239.
[14] Imām Ibn Baṭṭah al-‘Ukbarī, al-Ibānah ‘an Syarī‘ah al-Firqah an-Nājiyah wa Mujānabat al-Firaq al-Madhmūmah, 7: 203.
[15] Imām al-Mizzī, Tahdzīb al-Kamāl, 9: 123.
[16] Imām Ibn ‘Abd al-Barr, al-Istidhkār, 2: 528.
[17] Imām adz-Dzahabī, Siyar A‘lām an-Nubalā’, 8: 422.
[18] Syekh al-Islām Ibn Taimiyah, Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql, 2: 23.
[19] Imām adz-Dzahabī, Siyar A‘lām an-Nubalā’, 8: 422 dan 9: 141.
[20] Imam ad-Dāruquṭnī, as-Shifāt, hal. 41.
Daftar Pustaka
Āl Burnū, Muḥammad Ṣidqī bin Aḥmad bin Muḥammad. Mawsū‘ah al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah. Beirut: Mu’assasat ar-Risālah, 2003.
Aḥmad bin Ḥanbal. al-Fatḥ ar-Rabbānī li Tartīb Musnad al-Imām Aḥmad. Kairo: Dār Iḥyā’ at-Turāth al-‘Arabī.
al-‘Aydān, ‘Abd al-‘Azīz bin ‘Adnān dan Anas bin ‘Ādil al-Yatāmā. ad-Dalā’il wa al-Isyārāt ‘alā Akhṣar al-Mukhtaṣarāt. Cet. 1. Kuwait: Dār Rakā’iz; Riyadh: Dār Aṭlas al-Khaḍrā’, 1439 H / 2018 M. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
al-‘Amrū, Āmāl binti ‘Abd al-‘Azīz. al-Alfāẓ wa al-Muṣṭalaḥāt al-Muta‘alliqah bi Tawḥīd ar-Rubūbiyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
al-Asyqar, ‘Umar bin Sulaimān bin ‘Abdullāh al-‘Utaibī. al-‘Aqīdah fī Allāh. Cet. 12. Yordania: Dār an-Nafā’is li an-Nasyr wa at-Tawzī‘, 1999 M. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
al-Barrāk, ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir. Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah: Taḥqīq al-Iṡbāt li al-Asmā’ wa aṣ-Ṣifāt wa Bayān Ḥaqīqat al-Jam‘ bayna al-Qadar wa asy-Syar‘. Disiapkan oleh ‘Abd ar-Raḥmān bin Ṣāliḥ as-Sudais. Cet. 7. Riyadh: Mu’assasah Waqf asy-Syaikh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, 1442 H / 2021 M. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
al-Bukhārī, Muḥammad bin Ismā‘īl. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī. Beirut: Dār Ibn Kathīr. ad-Dārimī, Abū Sa‘īd ‘Utsmān bin Sa‘īd. ar-Radd ‘alā al-Jahmiyyah. Kuwait: Dār Ibn al-Atsīr, 1416 H / 1995 M.
adz-Dzahabī, Syamsuddīn Muḥammad bin Aḥmad bin ‘Utsmān. Siyar A‘lām an-Nubalā’. Diakses melalui Islamweb dan Maktabah Syamilah.
Ibn Baṭṭah al-‘Ukbarī, ‘Ubaydullāh bin Muḥammad. al-Ibānah ‘an Syarī‘ah al-Firqah an-Nājiyah wa Mujānabat al-Firaq al-Madhmūmah. Riyadh: Dār ar-Rāyah li an-Nasyr wa at-Tawzī‘.
Ibn Baṭṭah al-‘Ukbarī. al-Ibānah al-Kubrā. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Muḥammad bin Abī Bakr. Badā’i‘ al-Fawā’id. Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Muḥammad bin Abī Bakr bin Ayyūb. aṣ-Ṣawā‘iq al-Mursalah fī ar-Radd ‘alā al-Jahmiyyah wa al-Mu‘aṭṭilah. Tahkik ‘Alī bin Muḥammad ad-Dakhīl Allāh. Riyadh: Dār al-‘Āṣimah, 1408 H. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
Ibn Taymiyyah, Taqiyy ad-Dīn Aḥmad bin ‘Abd al-Ḥalīm al-Ḥarrānī ad-Dimasyqī. Dar’u Ta‘āruḍ al-‘Aql wa an-Naql. Ed. Muḥammad Rasyād Sālim. Riyadh: Universitas Imam Muḥammad bin Su‘ūd al-Islāmiyyah, 1411 H / 1991 M.
al-Khamīs, Muḥammad bin ‘Abd ar-Raḥmān. Syarḥ ar-Risālah at-Tadmuriyyah. Riyadh: Dār Aṭlas al-Khaḍrā’.
al-Maḥmūd, ‘Abd al-Raḥmān bin Ṣāliḥ bin Ṣāliḥ. Mawqif Ibn Taymiyyah min al-Asyā‘irah. Cet. 1. Riyadh: Maktabah ar-Rushd, 1415 H / 1995 M.
al-Mizzī, Jamāl ad-Dīn Yūsuf bin ‘Abd ar-Raḥmān. Tahdzīb al-Kamāl fī Asmā’ ar-Rijāl. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah.
al-Muqshī, Muḥammad bin ‘Abdullāh. al-Ma‘nā fī Ṣifātillāh Ta‘ālā Ma‘lūm wa al-Kaif Majhūl. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
as-Sa‘dī, ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir bin ‘Abdullāh. Taisīr al-Karīm ar-Raḥmān fī Tafsīr Kalām al-Mannān. Tahkik ‘Abd ar-Raḥmān bin Mu‘allā al-Luwaiḥiq. Cet. 1. Beirut: Mu’assasah ar-Risālah, 1420 H / 2000 M. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
as-Saqqāf, ‘Alawi bin ‘Abd al-Qādir dkk. al-Mawsū‘ah al-‘Aqdiyyah. Riyadh: Situs ad-Durar as-Saniyyah (dorar.net), 1433 H. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
as-Sulamī, ‘Abd ar-Raḥīm bin Ṣumayl al-‘Alyānī. Syarḥ al-Ḥamawiyyah. Transkrip pelajaran. Diakses melalui Islamweb dan Maktabah Syamilah.
asy-Syāyi‘, Muḥammad bin ‘Abdul ‘Azīz. Ārā’ Ibn Ḥajar al-Haytamī al-I‘tiqādiyyah ( ‘Arḍ wa Taqwīm fī Ḍaw’ ‘Aqīdah as-Salaf ). Cet. 1. Riyadh: Dār al-Manhāj, 1427 H.
at-Ṭarīfī, ‘Abd al-‘Azīz bin Marzūq. al-Maghribiyyah fī Syarḥ al-‘Aqīdah al-Qayrawāniyyah (Muqaddimah ar-Risālah li Ibn Abī Zayd al-Qayrawānī). Riyadh: Dār al-Manhāj, 1438 H.
al-‘Utsaimīn, Muḥammad bin Ṣāliḥ. al-Qawā‘id al-Muthlā fī Ṣifātillāh wa Asmā’ihil Ḥusnā. Riyadh: Dār Ibn al-Jawzī. Diakses melalui Maktabah Syamilah.
al-‘Utsaimīn, Muḥammad bin Ṣāliḥ bin Muḥammad. Syarḥ al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah. Cet. 6. Arab Saudi: Dār Ibn al-Jawzī li an-Nasyr wa at-Tawzī‘, 1421 H.
az-Zuhairī, Abū al-Asybāl Ḥasan. Uṣūl Ahl as-Sunnah wa al-Jamā‘ah. Transkrip pelajaran audio. Diakses melalui Islamweb dan Maktabah Syamilah.
Sumber Web
“Profil Hammād bin Abī Ḥanīfah an-Nu‘mān bin Thābit al-Kūfī.” Tarajm.com. https://tarajm.com/people/26015 (diakses 13 Januari 2026).
English (US) ·
Indonesian (ID) ·