ARTICLE AD BOX
Setelah memahami tanggungjawab menetapkan nama dan sifat Allah tanpa tahrif (mengubah makna), ta’thil (meniadakan makna), tamtsil (menyerupakan sifat), takyif (mem-bagaimana-kan sifat), dan turunannya, serta mengetahui bahwa tafwidh dapat menjadi salah satu corak penyimpangan dalam kondisi tertentu, maka perlu dijelaskan secara rinci tentang hakikat, pembagian, dan letak kesalahan tafwidh dalam bab ini.
Pengertian tafwidh
Tafwidh pada makna nama dan sifat Allah Ta’ala termasuk bagian dari ilhad (penyelewengan) dari kepercayaan terhadap nama dan sifat Allah Ta’ala. Tafwidh secara bahasa berasal dari فَوَّضَ – يُفَوّضُ – تَفْوِيضًا nan dapat diartikan menjadi beberapa makna, seperti الرد إلى الشيء والتحكيم فيه (mengembalikan sesuatu kepada selainnya dan menyerahkan norma padanya) [1]. Dalam sebagian penggunaan bahasa, tafwidh juga dikaitkan dengan makna الإهمال ‘al-ihmal’ (melepastangankan) [2], alias التوكيل ‘at-taukil’ (penyerahan) [3]. Seluruh makna tafwidh berporos pada makna penghilangan kegunaan asal dari sesuatu, lampau menyerahkan kepada nan lain.
Kata tafwidh sendiri sering kali dipakai dalam pemberian istilah dalam bagian disiplin pengetahuan di kepercayaan Islam. Dalam istilah fikih, tafwidh berarti penyerahan pengelolaan alias penentuan suatu urusan kepada pihak lain nan berhak, sebagaimana dikenal dalam bab nikah, wakālah (menyerahkan urusan), dan wilāyah. Sebagai contoh dalam persoalan fikih adalah,
التفويض: التزويج بغير تسمية المهر
“Tafwidh adalah pernikahan tanpa penentuan mahar.” [4]
Pada penerapannya, tafwidh digunakan untuk mengistilahkan sebuah pelepasan sesuatu dengan illah tertentu.
Adapun dalam istilah iktikad dan pembahasan nama dan sifat Allah, tafwidh sendiri mempunyai makna seperti nan dijelaskan oleh Syekh Utsaimin rahimahullah,
رد العلم بنصوص الصفات إلى الله تعالى
“Mengembalikan dan menyerahkan pengetahuan terhadap nash-nash nan berangkaian dengan sifat-sifat Allah kepada Allah.” [5]
Maksudnya, pembahasan-pembahasan mengenai nama dan sifat Allah tidak dapat dipahami oleh manusia lantaran perihal ini merupakan perihal nan berkarakter ketuhanan. Pengetahuan-pengetahuan manusiawi terhadap nama dan sifat Allah dikembalikan kepada Allah. Maka, konsep tafwidh ini memerlukan peninjauan dan pembahasan lebih jauh.
Pembagian tafwidh
Setelah mengetahui arti dari tafwidh, maka perlu juga kita mengetahui pembagian dan rincian tafwidh semacam ini. Jika ditinjau dari objek tafwidh, para ustadz di antaranya Syekh Muhammad bin Abdul Aziz as-Syayi’ membagi tafwidh menjadi 2 bagian,
الأول: تفويض الكيفية، والمراد به الإيمان بألفاظ نصوص الصفات، واعتقاد ما دلت عليه من المعاني اللائقة بالله، وتفويض كيفية اتصاف الله بها إليه سبحانه، وهو مذهب السلف -رحمهم الله-
الثاني: تفويض المعنى، والمراد به الإيمان بألفاظ نصوص الصفات ورد ما دلت عليه من المعاني إلى الله تعالى، وهو مذهب الخلف
Pertama, tafwidh kaifiyat. Maksudnya adalah mengimani lafaz-lafaz dalil nan menjelaskan tentang sifat Allah serta meyakini kandungan nan ditunjukkan oleh dalil tersebut, berupa makna (sifat) nan layak bagi Allah dan menyerahkan pengetahuan ‘bagaimana’ (hakikat) Allah berkarakter kepada Allah. Ini merupakan ajaran salaf (para pendahulu islam).
Kedua, tafwidh makna. Maksudnya adalah mengimani lafaz-lafaz dalil nan menjelaskan tentang sifat Allah, namun menolak kandungan makna-makna tersebut dari Allah. Ini merupakan ajaran nan muncul dari kalangan khalaf (orang-orang nan ada di masa belakang). [6]
Tafwidh jenis pertama adalah tafwidh yang diyakini para salaf (pendahulu Islam) seperti sahabat, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Mereka meyakini adanya makna nan serupa dengan apa nan Allah sebutkan ketika Ia mensifati Diri-Nya. Di antara mereka adalah Imam asy-Syafi`i rahimahullah, beliau rahimahullah berkata,
آمنت بالله وبما جاء عن الله، على مراد الله، وآمنت برسول الله، وبما جاء عن رسول الله، على مراد رسول الله
“Aku beragama kepada Allah dan apa nan datang dari Allah (al-Qur’an) atas apa nan Allah maksudkan (sampaikan). Aku juga beragama dengan Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam dan apa nan datang darinya dengan apa nan dia maksudkan (sampaikan).” [7]
Maksud Imam Syafi’i bahwa beliau beragama dengan apa nan dimaksudkan oleh Allah dan Rasul-Nya adalah dia beragama dengan apa nan jelas datangnya dari Allah dan Rasul-Nya. Jika Allah dan Rasul-Nya mau menghadirkan makna lain dengan apa nan dimaksudkan dari nan nampak, pastilah Allah dan Rasul-Nya menyebut dengan jelas. Maka dari itu, Imam Syafi’i rahimahullah menjelaskan bahwa dia beragama dengan apa nan dimaksudkan dan diterangkan lantaran perihal tersebut jelas secara makna.
Imam Malik rahimahullah juga menegaskan ketika membahas istiwa` Allah Ta’ala,
استواؤه معقول، وكيفيته مجهولة
“Makna istiwa (bersemayam) itu jelas diketahui, namun gimana (hakikat) istiwa itu tidak diketahui.” [8]
Imam Fudhail bin Iyadh rahimahullah menyebutkan,
ليس لنا أن نتوهم في الله كيف هو؛ لأن الله تعالى وصف نفسه فأبلغ، فقال: {قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ • اللَّهُ الصَّمَدُ • لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ • وَلَمْ يَكُن لَّهُ كُفُوًا أَحَدٌ} فلا صفة أبلغ مما وصف به نفسه
“Kita tidak mungkin bisa membesitkan dalam akal kita ‘bagaimana’ Allah (bersifat), lantaran Allah mensifati diri-Nya kemudian menyampaikannya (dengan jelas). Maka, Ia berfirman, ‘Katakanlah (Muhammad), ‘Dialah Allah, nan Maha Esa’. Allah-lah tempat meminta segala sesuatu. Tidak beranak dan tidak diperanakkan. Tidak ada nan menyerupai-Nya suatu apapun.’ (QS. al-Ikhlash : 1-4) Tidak ada sifat nan lebih baik dan jelas maknanya melampaui apa nan dengannya Allah mensifati Diri-Nya.” [9]
Perkataan Imam Malik dan perkataan Imam Fudhail bin ‘Iyadh rahimahumallah menunjukan bahwa mereka mempunyai ajaran tafwidh hanya pada ‘bagaimana’ Allah bersifat. Namun, mereka tidak melakukan tafwidh pada makna sifat Allah, lantaran perihal tersebut jelas untuk diketahui. Maka, para salaf umat ini hanya ber-tafwidh pada kaifiyat (permasalahan gimana alias prinsip sesungguhnya sifat tersebut).
Tafwidh jenis kedua adalah tafwidh yang muncul belakangan disebabkan adanya intervensi pengetahuan kalam dan makulat dalam memahami agama, terutama pada bab iktikad nama dan sifat Allah. Sehingga, muncullah tafwidh makna, nan argumen utama dari melakukan ini adalah logika manusia nan bertanya tentang “bagaimana”. [10]
Pada dasarnya, pemikiran tafwidh jenis kedua didasari dua pandangan nan berbeda. Namun, keduanya sama-sama berasal dari pertanyaan makulat “Bagaimana Allah bersifat”. Sebagaimana nan dijelaskan Syekh Muḥammad bin Ibrāhīm al-Ḥamd dalam Muṣṭalaḥāt fī Kutub al-‘Aqā’id,
القائلون بالتفويض صنفان
الأول: أن ظواهر النصوص تقتضي التمثيل، فيحكمون بأن المراد خلاف ظاهرها، وأنه غير مراد
الثاني: تُجرى على ظاهرها، ولها تأويلٌ يخالف الظاهر لا يعلمه إلا الله، وهؤلاء متناقضون
“Orang-orang nan berpendirian adanya tafwidh (makna) terbagi dua:
Pertama, klaim bahwa makna lahiriah nash-nash (Al-Qur’an dan Sunnah) menuntut adanya penyerupaan (tasybih). Karena itu, mereka memutuskan bahwa makna nan dimaksud bukanlah makna lahiriahnya, dan makna lahiriah tersebut tidak dikehendaki.
Kedua, klaim bahwa nash-nash tersebut dijalankan sesuai dengan zahirnya, namun mempunyai takwil nan menyelisihi makna zahir, nan hakikatnya tidak diketahui selain oleh Allah. Kedua golongan-golongan ini sebenarnya saling berkarakter kontradiktif.” [11]
Kedua jenis pemahaman tafwidh ini merupakan pemahaman nan berbeda. Jenis pertama hanya ber-tafwidh bagaimana Allah berkarakter dan tetap mempertahankan makna nan ada dari nama dan sifat Allah. Adapun jenis kedua, mereka men-tafwidh makna nama dan sifat Allah. Mereka berkilah bahwa memaknai sifat Allah sama dengan menjadikan sifat Allah sebagai makhluk, walaupun pada dasarnya berbeda.
Pemahaman nan pertama banyak diyakini oleh para pendahulu Islam. Berdasarkan kalimat-kalimat nan berasal dari mereka. Hal ini ditunjukkan dengan adanya perkataan-perkataan mereka nan meyakini makna itu ada, namun bagaimananya diserahkan kepada Allah. Adapun pemahaman nan kedua mulai bermunculan setelah selesainya peradaban salaf (para pendahulu) dan setelah pengetahuan makulat mulai marak digunakan untuk mempelajari agama.
Baca juga: Penyimpangan dalam Tauhid Asma’ wa Shifat
Letak permasalahan
Tafwidh makna adalah metode nan bermasalah dalam memahami nama dan sifat Allah. Hal tersebut bertentangan dengan apa nan disampaikan ayat dan hadis, serta tidak sesuai dengan apa nan dipahami oleh para generasi pendahulu. Ketika menemui persoalan nan cukup kompleks pada kepercayaan ini, maka langkah nan betul untuk memahaminya adalah menyerahkan langkah memahami perihal tersebut sebagaimana para pendahulu memahami. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
عليكم بسُنَّتي وسُنَّةِ الخلفاءِ الراشدِين المهدِيِّينَ مِن بعدي
“Wajib bagi kalian mengikuti sunahku (ajaranku) dan sunah para khulafa ar-rasyidin nan Allah berikan petunjuk setelahku.” (HR. Abu Daud no. 4067, Tirmizi no. 2676, Ibnu Majah no. 42, Ahmad no. 17145) [12]
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan kita berpegang teguh dengan aliran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan juga para khulafa’ ar-rasyidin. Maka, gimana para khulafaur-rasyidin memahami kepercayaan kudu menjadi sumber langkah memahami agama. Mereka lah nan hidup berbareng Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam; sehingga mereka lah nan lebih memahami kepercayaan ini. Selain itu, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan,
خَيْرُكُمْ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik kalian adalah generasiku, kemudian nan datang setelahnya, lampau nan datang setelah mereka.” (HR. Bukhari no. 6659) [13]
Para pendahulu hanya menekankan untuk tidak bertanya gimana Allah bersifat, namun mereka tidak men-tafwidh makna dari nama dan sifat Allah. Mereka tetap menghadirkan dan meyakini makna Allah berkarakter sebagaimana nan Allah jelaskan dalam al-Qur’an alias Rasulullah terangkan pada sunahnya. Adapun tafwidh makna ini barulah muncul ketika makulat mulai menguasai langkah memahami agama. Maka, kebuntuan pemahaman dari makna ini nan menyebabkan adanya metode tafwidh makna nama dan sifat Allah. Padahal sudah jelas bahwa Allah hanya meminta kita untuk mengimaninya tanpa ada penyelewengan apapun. Allah Ta’ala berfirman,
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ
“Allah mempunyai nama-nama nan Indah, maka berdoalah kepadanya menggunakan nama-nama tersebut. Biarkanlah mereka nan menyelewengkan pada nama-nama-Nya.” (QS. al-A‘rāf: 180)
Maksudnya dari الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ “Mereka nan menyelewengkan nama-nama-Nya”, sebagaimana dijelaskan oleh al-Qahthani dalam kitab Syarh Aqidah Wasathiyyah,
هو العدول بها وبحقائقها، ومعانيها عن الحق الثابت لها. والإلحاد إما أن يكون بجحدها أو إنكارها بالكلية، وإما بجحد معانيها وتعطيلها، وإما بتحريفها عن الصواب وإخراجها عن الحق بالتأويل الفاسد، وإما بجعلها أسماء لبعض المبتدعات كإلحاد أهل الاتحاد، فيدخل في الإلحاد: التحريف، والتعطيل، والتكييف، والتمثيل، والتشبيه
“Ilhād terhadap nama dan sifat Allah maksudnya adalah memalingkan lafaz, hakikat, serta makna dari kebenaran nan telah Allah tetapkan. Bentuk ilhād ini beragam. Ada nan mengingkarinya secara keseluruhan, ada nan meniadakan makna-maknanya, ada pula nan memalingkannya dari makna nan betul melalui takwil nan keliru. Termasuk pula dalam ilhād adalah menjadikan nama-nama dan sifat Allah sebagai sandaran bagi ajaran-ajaran bid‘ah, seperti nan dilakukan oleh penganut mengerti ittihād. Dengan demikian, tahrif, ta‘thil, takyif, tamtsil, dan tasybih seluruhnya termasuk corak penyimpangan dalam bab nama dan sifat Allah.” [14]
Tafwidh makna adalah sebuah penyimpangan dalam memahami nama dan sifat Allah. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Khamis rahimahullah,
الإلحاد في صفات الله ويكون بأشياء منها: تحريف المعنى الظاهر، تفويض المعنى وإبطال دلالته، تكييف الصفات، إثبات صفات مماثلة في حقائقها للمخلوقين
“Di antara bentuk-bentuk ilhad (menyelewengkan) nama dan sifat Allah sebagai berikut: mengubah makna nan jelas, tafwidh (menyerahkan) makna dan kebatilan alasannya, membagaimanakan sifat, menetapkan sifat makhluk serupa dengan sifat-Nya.” [15]
Bagaimana mungkin seseorang mengubah alias men-tafwidh makna nan Allah Ta‘ala maksudkan kepada-Nya, padahal Ia Ta‘ala telah menjelaskannya dengan tujuan agar dipahami? Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّا أَنزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya Kami menurunkannya sebagai Al-Qur’an berkata Arab agar kalian memahaminya.” (QS. Yūsuf: 2)
Ayat ini menerangkan bahwa al-Quran diturunkan dengan bahasa Arab nan jelas agar kita berfikir. Maksudnya, lafaz al-Quran dapat dipahami maknanya dengan logika setelah mengimani perihal tersebut.
Makna-makna al-Quran sangatlah jelas dan tidak ambigu. Allah Ta’ala berfirman,
كِتَابٌ أُحْكِمَتْ آيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَكِيمٍ خَبِيرٍ
“(Ini adalah) kitab nan ayat-ayatnya disusun dengan rapi kemudian dijelaskan, nan diturunkan dari sisi (Allah) nan Maha Bijaksana lagi Maha Tahu.” (QS. Hud: 1)
Ayat-ayat nan Allah Ta’ala turunkan kepada Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam sudahlah jelas dan terperinci maknanya. Sehingga menjadi sebuah kebatilan ketika kita menganggap bahwa hanya Allah-lah nan tahu maknanya. Maka, tafwidh makna (beranggapan bahwa hanya Allah nan tahu makna nama dan sifat Allah) berfaedah mengingkari apa nan Allah Ta’ala jelaskan, bahwa al-Qur’an ini telah jelas. Kejelasan itu datang dari nan Maha Memberitahu.
Tafwidh makna juga merupakan corak pengkhianatan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah memerintahkan Rasul-Nya untuk menyampaikan dengan jelas aliran Islam,
وَأَنزَلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ
“Kami turunkan kepadamu adz-Dzikr (Al-Qur’an) agar engkau menjelaskan kepada manusia apa nan diturunkan kepada mereka.” (QS. An-Naḥl: 44)
Ayat ini menerangkan bahwa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam diperintahkan untuk menjelaskan secara rinci apa nan diwahyukan kepadanya. Keambiguan makna merupakan sebuah kemustahilan jika ayat Allah telah diperintahkan untuk disampaikan secara jelas.
Adapun gimana Allah berkarakter merupakan perihal nan berbeda dengan makna nan serupa dengan apa nan Allah sifati. Kita hanya tidak perlu mempertanyakan gimana Allah bersifat, bukan menafikan makna-makna nama dan sifat nan sudah jelas disampaikan. Allah berfirman,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun nan serupa dengan-Nya. Dia-lah nan Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. asy-Syūrā: 11)
Ayat ini mengandung dua kalimat dengan dua pendapat utama. Penggalan pertama, لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ nan berfaedah “Tidak ada sesuatu pun nan serupa dengan-Nya”, menjadi dalil bahwa mustahil bagi makhluk membagaimanakan Allah. Sebab, tidak ada satupun nan menyerupai-Nya, termasuk segala corak gambaran nan terlintas dalam pikiran manusia.
Adapun penggalan kedua, وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ yang berarti, “Dialah nan Maha Mendengar lagi Maha Melihat”, menjadi dalil bahwa Allah secara tegas menetapkan sifat bagi diri-Nya setelah menafikan adanya sesuatu nan menyerupai-Nya. Hal ini menegaskan bahwa Allah mempunyai sifat-sifat nan nyata dan jelas, bukan sekadar tersirat alias hasil penakwilan. [16]
Oleh lantaran itu, tafwidh makna adalah hasil manifestasi dari masuknya pengetahuan kalam dan makulat dalam memahami agama. Hal ini tidak pernah didasarkan kepada para salaf nan mereka mempunyai konsep سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا “Kami mendengar dan kami taat” dalam memahami agama. Hal ini adalah konsep nan muncul dari mahir kalam muncul setelah para pendahulu Islam, sebagaimana nan disebutkan oleh Syekh Muḥammad bin Khalīfah at-Tamīmī rahimahullah,
إذ لم يعرف القول بالتفويض بهذا المعنى في القرون الثلاثة الأولى، بل ظهر في القرن الرابع
“Tidaklah muncul istilah dan konsep tafwidh makna selain pada tiga generasi pertama, namun perihal ini muncul setelah abad keempat.” [17]
Hal ini disebabkan pada abad keempat Islam telah dimasuki pemikiran filsafat.
Dengan demikian, jelas bahwa tafwidh nan dibenarkan oleh salaf adalah tafwidh kaifiyat, bukan tafwidh makna, lantaran makna telah dijelaskan oleh wahyu, sedangkan hakikatnya berada di luar jangkauan makhluk.
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 1
***
Penulis: Muhammad Insan Fathin
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] Syekh ‘Umar bin Sulaimān al-Asyqar, al-‘Aqīdah fī Allāh, hal. 187.
[2] Syekh Yūsuf bin Muḥammad al-Ghufaiṣ, Syarḥ al-Ṭaḥāwiyyah, 2: 8.
[3] Syekh ‘Abd al-‘Azīz bin ‘Adnān al-‘Aydān dan Syekh Anas bin ‘Ādil al-Yatāmā, ad-Dalā’il wa al-Isyārāt ‘alā Akhṣar al-Mukhtaṣarāt, 3: 92.
[4] Muḥammad Ṣidqī Āl Burnū, Mawsū‘ah al-Qawā‘id al-Fiqhiyyah, 2: 432.
[5] Syekh Muḥammad bin Ṣāliḥ al-‘Utsaimīn, al-Qawā‘id al-Muthlā fī Ṣifātillāh wa Asmā’ihil Ḥusnā, hal. 77.
[6] Muhammad bin ‘Abdul ‘Azīz asy-Syāyi‘, Ārā’ Ibn Ḥajar al-Haytamī al-I‘tiqādiyyah (‘Arḍ wa Taqwīm fī Ḍaw’ ‘Aqīdah as-Salaf), hal. 300.
[7] Syekh Yusuf bin Muhammad ‘Ali al-Ghufays, Syarḥ Lum‘at al-I‘tiqād, 3: 6.
[8] Dr. Muhammad bin ‘Abdullāh al-Muqshī, al-Ma‘nā fī Ṣifātillāh Ta‘ālā Ma‘lūm wa al-Kaif Majhūl, hal. 3.
[9] Syekh Sulaimān bin Saḥmān, aḍ-Ḍiyā’ asy-Syāriq fī Radd Syubuhāt al-Māriq al-Māriq, hal. 196.
[10] Syekh Muḥammad bin Ibrāhīm al-Ḥamd, Muṣṭalaḥāt fī Kutub al-‘Aqā’id, hal. 11.
[11] Syekh Muḥammad bin Ibrāhīm al-Ḥamd, Muṣṭalaḥāt fī Kutub al-‘Aqā’id, hal. 11.
[12] Imam Aḥmad bin Ḥanbal, al-Fatḥ ar-Rabbānī, 5: 2177; sabda ini juga diriwayatkan oleh Abū Dāwūd no. 4607, at-Tirmiżī no. 2676, Ibnu Mājah no. 42, dan Aḥmad no. 17145.
[13] Imam al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, no. 6695.
[14] Syekh Sa‘īd bin ‘Alī bin Wahf al-Qaḥṭānī, Syarḥ al-‘Aqīdah al-Wāsiṭiyyah, hal. 63.
[15] Syekh Muḥammad bin ‘Abd ar-Raḥmān al-Khamīs, Syarḥ ar-Risālah at-Tadmuriyyah, hal. 105.
[16] Syekh ‘Abd ar-Raḥmān bin Nāṣir al-Barrāk, Syarḥ al-‘Aqīdah at-Tadmuriyyah, hal. 90.
[17] Syekh Muḥammad bin Khalīfah at-Tamīmī, al-Minhah al-Ilāhiyyah fī Syarḥ al-Fatwā al-Ḥamawiyyah, 1: 385.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·