Tafsir Surah An-Naba (Bag. 1): Kabar Apa yang Diributkan oleh Suku Quraiys?

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Surah An-Naba adalah surat nomor 78 dalam Al-Qur’an nan menjadi pembuka dari juz nan paling terkenal bagi kaum muslimin di Indonesia alias apalagi mungkin di dunia, ialah juz 30. Juz 30 dalam Al-Qur’an juga mendapatkan nama Juz Amma dikarenakan dibuka dengan ayat pertama dari surat ini.

Surah An-Naba mempunyai makna “berita”. Adapun nama lain nan disebutkan oleh para ulama, di antaranya adalah surah ‘Amma, surah ‘Amma yatasa’alun, surah At-Tasaul, dan surah Al-Mu’shirot. (Tafsir Ruhul Ma’ani, 15: 201)

Surah ini juga dikategorikan sebagai surah Makkiyah, ialah surah nan turun kepada Rasulullah sebelum beliau berhijrah ke kota Madinah. (Tafsir Ruhul Ma’ani, 15: 201)

Asbabun nuzul alias karena dari turunnya surah ini adalah dikarenakan ketika Nabi Muhammad diutus sebagai seorang Nabi dan Rasul, orang-orang musyrik Quraisy saling bertanya-tanya satu dengan nan lainnya. Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir serta Abu Hatim dari Hasan Al-Bashri bahwa,

 لما بعث النبي ﷺ جعلوا يتساءلون بينهم، فنزلت: عَمَّ يَتَساءَلُونَ عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ

“Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diangkat menjadi seorang Nabi, mereka bertanya-tanya tentangnya. Maka turunlah ayat عَمَّ يَتَساءَلُونَ عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ” (Tafsir Munir, 30: 9)

Dalam tafsir Bahrul Muhits, Imam Abu Hayyan Al-Andalusi menjelaskan karena turunnya surat ini,

وَرُوِيَ أَنَّهُ ﷺ لَمَّا بُعِثَ، جَعَلَ الْمُشْرِكُونَ يَتَسَاءَلُونَ بَيْنَهُمْ فَيَقُولُونَ: مَا الَّذِي أَتَى بِهِ؟ وَيَتَجَادَلُونَ فِيمَا بُعِثَ بِهِ، فَنَزَلَتْ

“Ketika Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam diangkat menjadi seorang Nabi, mereka bertanya-tanya, “ajaran apa yan dia bawa?” Mereka juga berdebat tentang aliran nan dibawa tersebut. Maka Allah turunkan surah ini.” (Tafsir Bahrul Muhith, 10: 11)

Surah An-Naba mempunyai beberapa tema nan terkandung di dalamnya, setidaknya ada empat tema besar nan tercakup.

Pertama, tema tentang orang-orang musyrik nan mempertanyakan dan berdebat tentang hari kiamat. Hal ini ada dalam ayat 1-4.

Kedua, tema tentang dalil dan petunjuk nan jelas tentang bakal adanya hari kiamat, ialah Allah bisa menciptakan alam semesta ini dari ketiadaan, maka Allah juga bisa untuk membangkitkan setelah kematian. Hal ini ada dalam ayat 6-16.

Ketiga, menceritakan hari hariakhir serta salah satu namanya, ialah hari pemisah. Hal ini ada dalam ayat 17-20.

Keempat, menceritakan tentang balasan nan diancamkan kepada orang kafir serta janji kenikmatan surga nan tak terbatas bagi kaum muslimin. Hal ini ada dalam ayat 21 sampai selesai. (Tafsir Munir, 30: 6)

Tafsir ayat pertama

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

عَمَّ يَتَسَاۤءَلُوْنَۚ

“Tentang apakah mereka saling bertanya?”

Allah Ta’ala membuka surah ini dengan sebuah pertanyaan, “Hal apa nan mereka pertanyakan?” Akan tetapi, tentu saja bukan maksud Allah tidak mengetahui apa nan mereka pertanyakan, apalagi kita kudu percaya 100% bahwa Allah tahu apa nan mereka pertanyakan.

Lantas, kenapa Allah menggunakan kata tanya?

Di sinilah perlunya merenungi keelokan bahasa dan balaghah dari Al-Qur’an ketika kita merenunginya. Imam Baghawi dan Imam Nasafi menjelasakan, bahwa Allah membuka ayat ini dengan corak pertanyaan, namun bukan dalam artian Allah tidak mengetahui, namun dalam corak tafkhim, ialah menunjukkan corak pengagungan dan kehebatan atas perkara nan sedang dibahas dan diributkan oleh orang-orang musyrik. (Ma’alimut Tanzil, 5: 199 dan Madarikut Tanzil, 3: 589)

Pertanyaan orang-orang musyrikin muncul setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan kepada mereka tentang tauhid, berita kebangkitan setelah kematian, serta membacakan kepada mereka ayat Al-Qur’an. Karena perihal ini asing bagi mereka, sehingga mereka mempertanyakannya (Ma’alimut Tanzil, 5: 199). Karena dalam corak tafkhim, maka perihal ini menunjukkan bahwa semua aliran nan dibawa oleh Rasulullah adalah perihal nan sangat agung, meskipun kelihatannya kecil, seperti perkara etika keseharian alias doa-doa ringan sehari-hari.

Pertanyaan dalam ayat ini juga bisa berarti ta’jibus sami’in, ialah emosi heran dari orang nan mendengar suatu keributan. Hal ini, jika kita bahasakan, muncul dikarenakan keheranan, gimana bisa orang musyrik Quraisy mengingkari dan meledek atas aliran Nabi berupa datangnya hari pembalasan? (Shafwatut Tafasir, 3: 482)

Baca juga: Mengenal Surah Al-Lahab dan Bukti Al-Quran bukan Tulisan Nabi Muhammad

Tafsir ayat kedua

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

عَنِ النَّبَاِ الْعَظِيْمِۙ

“Tentang buletin nan besar (hari kebangkitan).”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat ini berangkaian tentang hari kiamat,

أَيْ: عَنْ أَيِّ شَيْءٍ يَتَسَاءَلُونَ؟ مِنْ أَمْرِ الْقِيَامَةِ، وَهُوَ النَّبَأُ الْعَظِيمُ، يَعْنِي: الْخَبَرَ الْهَائِلَ الْمُفْظِعَ الْبَاهِرَ

قَالَ قَتَادَةُ، وَابْنُ زَيْدٍ: النَّبَأُ الْعَظِيمُ: الْبَعْثُ بَعْدَ الْمَوْتِ

“Tentang perihal apa nan mereka pertanyakan? Yaitu tentang hari kiamat, itulah buletin besar nan dimaksud dalam ayat. Yaitu buletin tentang suatu hari nan sangat mengerikan dan menakutkan. Pendapat ini didukung oleh Qatadah dan Ibnu Zaid bahwa buletin besar nan dimaksudkan adalah kebangkitan setelah kematian.” (Tafsir Ibnu Katsir, 3: 459)

Tafsir ayat ketiga

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

الَّذِيْ هُمْ فِيْهِ مُخْتَلِفُوْنَۗ

“Yang dalam perihal itu mereka berselisih.”

Imam Mawardi dalam tafsir An-Nukat wa Al-‘Uyun menjelaskan bahwa orang musyrik tidak ragu dalam masalah kematian, mereka tahu dan percaya bahwa semua orang bakal mati. Akan tetapi, nan mereka perselisihkan di sini adalah tentang kebangkitan setelah kematian. Kaum muslimin meyakini bahwa setelah kematian bakal ada kehidupan setelahnya; adapun orang musyrik tidak percaya bakal dibangkitkan kembali.” (An-Nukat wal ‘Uyun, 6: 182)

Pemikiran orang musyrik adalah setelah mati, maka kehidupan selesai. Di antara perihal nan menyebabkan mereka mempunyai pemikiran ini adalah mereka telah terlalu lama bergelimang dalam kezaliman, sehingga merasa sangat takut kalau-kalau betul kelak bakal dibangkitkan lagi dan kudu bertanggung jawab atas perbuatan mereka.

Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah dalam Taisir Kalimir Rahman menjelaskan,

وهو النبأ الذي لا يقبل الشك ولا يدخله الريب، ولكن المكذبون بلقاء ربهم لا يؤمنون، ولو جاءتهم كل آية حتى يروا العذاب الأليم

“Hal nan diperselisihkan oleh orang musyrik adalah suatu buletin besar nan tidak ada keraguan bahwa itu bakal datang. Akan tetapi, orang-orang nan mendustakan hari berjumpa dengan Rabbnya, mereka tidaklah beriman, meskipun datang kepada mereka beragam ayat. Sampai akhirnya, datanglah balasan nan sangat mengenaskan kepada meraka (barulah mereka percaya, namun sudah terlambat).” (Taisir Karimir Rahman, hal. 906)

Tafsir ayat keempat dan kelima

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَۙ , ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُوْنَ

“Sekali-kali tidak! Kelak mereka bakal mengetahui. Sekali lagi, tidak! Kelak mereka bakal mengetahui.”

Namun yakinlah, bahwa kelak di hari hariakhir mereka bakal mengetahui bahwa apa nan dibawa oleh Rasulullah adalah kebenaran. Ketika mereka memandang balasan nan mengerikan, sudah tidak ada tempat kembali, tidak ada lagi waktu untuk bertobat dan mengakui kesalahan, tinggallah neraka nan menyala-nyala nan bakal melahap dan membakar mereka sampai hangus, dihuni oleh malaikat-malaikat nan tidak segan-segan menyiksa mereka dengan sadis. Baru saat itu, mereka betul-betul percaya.

Syekh Abdurrahman As-Sa’di rahimahullah menjelaskan,

أي: سيعلمون إذا نزل بهم العذاب ما كانوا به يكذبون، حين يدعون إلى نار جهنم دعا

“Orang-orang musyrik bakal mengetahui kebenaran hari hariakhir ketika datang kepada mereka siksaan azab. Suatu balasan perih nan dulu mereka dustakan. Ketika mereka diseret-seret menuju neraka Jahanam.” (Taisir Karimir Rahman, hal. 906)

Demikian tafsir ringkas nan dapat kami sampaikan kepada para pembaca. Nantikan seri tafsir berikutnya, jazakumullahu khairan.

Baca juga: Tafsir Surat Al-Fatihah

[Bersambung]

***

Penulis: Dany Indra Permana

Artikel Muslim.or.id

Daftar Pustaka

Abu Hayyan, Muhammad bin Yusuf. (2000). Al-Bahru Al-Muhith (Vols. 1-10). Beirut: Darul Fikr.

Alusi, Syihabuddin Mahmud. (1994). Tafsir Ruhul Ma’ani (Vols. 1-15). Beirut: Darul Kutub Ilmiyyah.

Baghawi, Abu Muhammad Al-Hasan bin Mas’ud. (1999). Ma’alim At-Tanzil fi Tafsir Al-Qur’an (Vols. 1-5). Beirut: Dar ihya At-Turats.

Ibnu Juzay, Abul Qasim Muhammad bin Ahmad. (1992). At-Tashil li ‘Ulumit Tanzil (Vols. 1-2). Beirut: Syarikah Darul Arqam.

Ibnu Katsir, Ismail bin Umar. (2009). Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim (Vols. 1-7). Arab Saudi: Dar Ibnul Jauzi.

Majma’ Malik Fahd. (2009). At-Tafsir Al-Muyassar.

Mawardi, Ali bin Muhammad. (1999). Al-Nukat wa Al-Uyun (Vols. 1-6). Beirut: Dar Al-Kutub AL-Ilmiyyah.

Nasafi, Abdullah bin Ahmad bin Mahmud. (1998). Madariku At-Tanzil wa Haqaiqu At-Ta’wil (Vols. 1-3). Beirut: Dar Al-Kalam At-Thayyib.

Sa’di, Abdurrahman. (2000). Taisir Al-Karimi Ar-Rahman fi Tafsir Kalami Al-Mannan. Beirut: Muassasah Ar-Risalah.

Shobuni, Muhammad Ali. (1997). Shofwatu At-Tafasir (Vols. 1-3). Kairo: Dar Ash-Shobuni.

Zuhaili, Wahbah. (1991). Tafsir Al-Munir fi Al-Aqidah wa Asy-Syariah wa Al-Manhaj (Vols. 1-30). Damaskus: Darul Fikr.

Catatan tambahan: semua referensi diambil dari web https://app.turath.io/

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info