ARTICLE AD BOX
Luasnya samudera hikmah nan Allah ﷻ bentangkan dalam perbincangan seorang mukmin kepada pemilik kebun kafir membikin kita dapat memetik beragam hikmah di dalamnya. Salah satu mutiara berbobot nan kita dapatkan dari kisah ini adalah kekuatan argumen dalam berdakwah. Islam membuka jalan bagi siapapun untuk berceramah dengan metode terbaik. Salah satu nan disebutkan dalam metode dakwah qurani adalah dengan berbincang dalam beragam konteks. Allah ﷻ berfirman,
ٱدْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِٱلْحِكْمَةِ وَٱلْمَوْعِظَةِ ٱلْحَسَنَةِ ۖ وَجَٰدِلْهُم بِٱلَّتِى هِىَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِۦ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِٱلْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran nan baik dan bantahlah mereka dengan langkah nan baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah nan lebih mengetahui tentang siapa nan tersesat dari jalan-Nya dan Dialah nan lebih mengetahui orang-orang nan mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl: 125)”
Dalam ayat ini, sebagian mahir tafsir menyebut ada tiga metode dakwah nan dikedepankan sesuai dengan keutamaannya:
- Menyeru dengan hikmah, ialah argumentasi dalil Al-Quran dan As-Sunnah
- Menyeru dengan mauizhah hasanah, ialah pelajaran dan nasihat nan baik serta lemah-lembut
- Berdebat dalam konteks beradu argumen
Maka, ketiganya mempunyai landasan nan sama, ialah membuka ruang dialog. Komunikasi dua arah menjadi pondasi dalam dakwah, termasuk dalam perkara esensial seperti aspek ketuhanan alias teologi.
Keindahan Al-Quran mengandung keteladanan nan lengkap. Selain perintah untuk menyerukan agama, caranya pun diurai dengan baik di dalamnya. Salah satu pelajaran itu dapat kita petik dari perbincangan dalam surat Al-Kahfi nan sedang kita pelajari.
قَالَ لَهُ صَاحِبُهُ وَهُوَ يُحَاوِرُهُ أَكَفَرْتَ بِالَّذِي خَلَقَكَ مِنْ تُرَابٍ ثُمَّ مِنْ نُطْفَةٍ ثُمَّ سَوَّاكَ رَجُلًا
“Kawannya (yang mukmin) berbicara kepadanya–sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah Anda kafir kepada (Tuhan) nan menciptakan Anda dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lampau Dia menjadikan Anda seorang laki-laki nan sempurna?” (QS. Al-Kahf: 37)
Dalam ayat ini, Allah ﷻ menampilkan keadaan temannya nan mukmin berbincang dengannya (pemilik kebun kafir). Momen itu diisi dengan perbincangan keagamaan dan ketegasan dari mukmin dalam mengkonfrontasi kekufuran temannya. Teman nan mukmin tersebut mengingatkan asal dari orang kafir tersebut. Bahwa seluruh manusia diciptakan dari tanah nan terinjak-injak, kemudian dari setetes air nan hina. Ia keluar dari tempat paling hina, berselarasan dengan aliran kotoran dan najis. Bahkan jika ada seorang nan terkena dengan cairan asal manusia ini, pasti dia merasa terhina. Maka, apa nan perlu dibanggakan dari asal pembuatan kita ini?
Tak terbayang oleh kita, apalagi orang di era dulu dengan segala keterbatasan ilmunya, gimana Allah ﷻ ciptakan manusia sempurna dari barang ataupun cairan nan tiada berdaya? Tentu ini bakal membikin orang kagum kepada Allah ﷻ Sang Pencipta. Namun, lantaran kesombongan telah membutakan akal, maka jatuhlah pemilik kebun tersebut ke dalam kekafiran.
لَكِنَّا هُوَ اللَّهُ رَبِّي وَلَا أُشْرِكُ بِرَبِّي أَحَدًا
“Tetapi saya (percaya bahwa): Dialah Allah, Tuhanku, dan saya tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.” (QS. Al-Kahf: 38)
Pada kalimat ini, kawan nan mukmin juga mempunyai ketegasan perbedaan prinsip nan dipegang. Fakta bahwa keduanya sama-sama diciptakan oleh Allah ﷻ adalah fundamen pertama nan ditekankan. Adapun nan kedua adalah kunci nan membedakan posisi pemilik kebun dengan temannya nan mukmin. Hal itu berupa keagamaan kepada Allah ﷻ sang pemilik kehidupan dan menunggalkan peribadatan hanya kepadaNya.
وَلَوْلَا إِذْ دَخَلْتَ جَنَّتَكَ قُلْتَ مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِنْ تَرَنِ أَنَا أَقَلَّ مِنْكَ مَالًا وَوَلَدًا
“Dan kenapa Anda tidak mengatakan waktu Anda memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan selain dengan pertolongan Allah). Sekiranya Anda anggap saya lebih sedikit darimu dalam perihal kekayaan dan keturunan.” (QS. Al-Kahf: 39)
Kekuatan argumentasi juga dimiliki oleh kawan nan mukmin tersebut. Argumentasi mempunyai formula logika nan kuat. Jika memang Allah ﷻ memberikan kelebihan kekayaan dan keturunan kepada pemilik kebun kafir melampaui temannya nan mukmin, kenapa pemilik kebun tidak memuji Allah ﷻ dan bertawakal kepadaNya? Bukankah dia lebih berkuasa dibandingkan temannya nan mukmin tersebut? Semua ungkapan ini, menurut Ibnu Katsir rahimahullah, mengandung protes keras terhadap kekufuran si pemilik kebun.
Dalam ayat ini dinukilkan pula hikmah bahwasanya menjadi perintah kesunnahan bagi orang nan mempunyai kekayaan nan membuatnya kagum untuk berkata,
مَا شَاءَ اللَّهُ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud, tiada kekuatan selain dengan pertolongan Allah”
Pelajaran lain nan dapat kita petik adalah mukmin kudu pede mendakwahkan kebenaran, sebagaimana orang kafir pede dengan kekufurannya. Lihatlah ketika orang mukmin tersebut menyerukan “kenapa engkau tidak bilang masyaAllah…?” Ungkapan ini tidak sekadar argumentasi logis, tetapi juga seruan tegas dari hukum Islam.
Realita di masa kini, tak sedikit anak muda mengerti agama, kemudian tetap nongkrong berbareng temannya. Ia bermaksud sembari menjaga kawan tongkrongannya, dia juga dapat mendakwahi mereka. Namun, sayangnya, justru pemuda ini nan terwarnai. Ia tak bisa membantah dengan tegas kebatilan nan terjadi, alias menyeru kepada kebaikan nan wajib.
Sebagian berkilah ini adalah fikih dakwah, ialah ada tahapan dalam penyampaian. Namun, ini adalah argumen nan keliru. Justru nyatanya nan berjenjang itu adalah langkah penyampaiannya, adapun substansi nan disampaikan serta batas hukum tidak pernah berubah. Melaksanakan shalat lima waktu tetap wajib, minum khamr tetap haram, apalagi pacaran pun juga demikian. Maka, kita dapat ambil pelajaran dari pertemanan mukmin dan kafir dalam surat Al-Kahfi ini bahwasanya boleh-boleh saja berteman, tetapi kebenaran tetap nan diutamakan. Justru fikih dakwah ala Al-Quran mengajarkan kita untuk tegas dalam perkara-perkara nan tidak ada toleransi dan fundamen semacam ini.
Terlebih lagi kepada perkara tauhid, ini adalah kewenangan terbesar dalam kehidupan kita, haknya Allah ﷻ. Maka, tidak layak bagi siapapun untuk menyepelekan perkara ini dengan menjadikan unsur-unsur kesyirikan sebagai bahan candaan. Semisal dalam tongkrongan anak muda era sekarang, mudah sekali bermain ramalan kartu tarot, alias mendiskusikan zodiak. Meskipun perihal ini adalah perkara keseharian bagi sebagian orang dan tidak dianggap serius, tetapi tetap ini dalam ranah tauhid dan syirik. Wajib bagi para pemuda untuk memperhatikannya. Termasuk bercandaan agama, dark joke, ataupun jenis komedi tepi lembah nan sangat rentan pada istihza (mencandai dalam rangka menghinakan–konteksnya agama). Allah ﷻ melarang perihal ini dengan jelas dan mengancamnya dengan kekafiran,
ﻭَﻟَﺌِﻦ ﺳَﺄَﻟْﺘَﻬُﻢْ ﻟَﻴَﻘُﻮﻟُﻦَّ ﺇِﻧَّﻤَﺎ ﻛُﻨَّﺎ ﻧَﺨُﻮﺽُ ﻭَﻧَﻠْﻌَﺐُ ۚ ﻗُﻞْ ﺃَﺑِﺎﻟﻠَّﻪِ ﻭَﺁﻳَﺎﺗِﻪِ ﻭَﺭَﺳُﻮﻟِﻪِ ﻛُﻨﺘُﻢْ ﺗَﺴْﺘَﻬْﺰِﺋُﻮﻥَ ﻟَﺎ ﺗَﻌْﺘَﺬِﺭُﻭﺍ ﻗَﺪْ ﻛَﻔَﺮْﺗُﻢ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﻳﻤَﺎﻧِﻜُﻢْ
“Dan jika Anda tanyakan kepada mereka (tentang apa nan mereka lakukan itu), tentu mereka bakal menjawab: “Sesungguhnya kami hanya BERSENDA GURAU dan BERMAIN-MAIN saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayatNya dan RasulNya Anda selalu BEROLOK-OLOK?” Tidak usah Anda minta maaf, lantaran Anda kafir sesudah beriman… (QS. At-Taubah: 65-66)
Termasuk pula segala becandaan nan berpotensi kepada dicelanya kepercayaan dan Allah ﷻ. Hal ini bisa berupa candaan nan datang dari seorang muslim kepada kafir. Allah ﷻ berfirman,
وَلَا تَسُبُّوا الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ مِنْ دُوْنِ اللهِ فَيَسُبُّوا اللهَ عَدْوًاۢ بِغَيْرِ عِلْمٍۗ كَذٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ اُمَّةٍ عَمَلَهُمْۖ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ
“Dan janganlah Anda memaki sesembahan nan mereka sembah selain Allah, lantaran mereka kelak bakal memaki Allah dengan melampaui pemisah tanpa dasar pengetahuan. Demikianlah, Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan tempat kembali mereka, lampau Dia bakal memberitahukan kepada mereka apa nan telah mereka kerjakan.” (QS. Al-An’am: 108)
Oleh lantaran itu, seorang muslim kudu selalu punya bekal ilmu. Bekal pengetahuan nan meliputi substansi materi dan metode menyampaikan. Seorang muslim mempunyai amanah menyampaikan kepercayaan ini sesuai dengan kadar kemampuannya. Para pemuda muslim mempunyai objek dakwah nan sangat besar, ialah kawan sesamanya. Pemuda ini tinggi rasa mau tahunya, sigap nalarnya, serta semangat membagikan apa nan dimilikinya. Jika teman-teman tongkrongan ini dapat didakwahi dengan betul dan pede melakukannya, maka sungguh banyak pintu kebaikan nan bakal terbuka.
Mendoakan Keburukan Bagi Mereka nan Terlampau Zalim
Setelah memandang kesombongan si pemilik kebun kafir ini, kawan nan mukmin ini pun bermohon dengan penuh izzah dalam rangka meruntuhkan keangkuhan si pemilik kebun.
فَعَسَى رَبِّي أَنْ يُؤْتِيَنِ خَيْرًا مِنْ جَنَّتِكَ وَيُرْسِلَ عَلَيْهَا حُسْبَانًا مِنَ السَّمَاءِ فَتُصْبِحَ صَعِيدًا زَلَقًا
“Maka mudah-mudahan Tuhanku, bakal memberi kepadaku (kebun) nan lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan mudah-mudahan Dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah nan licin;” (QS. Al-Kahf: 40)
أَوْ يُصْبِحَ مَاؤُهَا غَوْرًا فَلَنْ تَسْتَطِيعَ لَهُ طَلَبًا
“Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, maka sekali-kali Anda tidak dapat menemukannya lagi.” (QS. Al-Kahf: 41)
Ibnu Katsir rahimahullah menukilkan perkataan para mahir tafsir dari kalangan salaf bahwa nan dimaksud dengan angan itu adalah balasan dari langit. Azab berupa hujan sangat besar hingga mencabut pepohonan dan segala macamnya sampai seperti tanah nan licin. Doa tersebut juga mengharapkan opsi agar airnya kering sekering-keringnya, agar tak dapat tumbuh satu apapun. Al-Qurthubi juga menukilkan banyak pendapat tentang ragam balasan nan dimaksudkan, termasuk (benih)penyakit belalang nan banyak datang, alias kalkulasi ketat terhadapnya nan banget luar biasa menyiksa.
Sebelum mendoakan keburukan itu, temannya nan mukmin bermohon agar Allah ﷻ berikan kepadanya nikmat kekayaan berupa kebun tersebut. Maksudnya menurut Al-Qurthubi adalah jawaban di akhirat. Sebagian lain menyebut ialah jawaban di bumi pula. Dalam Tafsir Al-Quran Tadabbur wal Amal, dinukilkan keterangan As-Si’di rahimahullah,
أخبره أن نعمة الله عليه بالإيمان والإسلام -ولو مع قلة ماله وولده- أنها هي النعمة الحقيقية، وأن ما عداها مُعَرَّضٌ للزوال، والعقوبة عليه والنكال
“Beritahukanlah kepadanya bahwa nikmat Allah kepadanya berupa ketaatan dan Islam —meskipun kekayaan dan anaknya sedikit— itulah nikmat nan sebenarnya. Sedangkan selainnya itu terancam hilang, dan atasnya bakal ada balasan dan siksa.”
Dalam potongan ini juga tersirat metode berbincang antara mukmin dan kafir dalam urusan kenikmatan dunia. Ada sisi ketegasan dan izzah dari seorang mukmin bahwasanya Allah ﷻ Zat nan disembahnya adalah satu-satunya pemberi rizki. Maka, ada kepercayaan diri untuk mengatakan bahwa barangsiapa nan kufur dengan Allah ﷻ, dia bakal menghadapi musibah dalam kehidupannya baik di bumi maupun di akhirat.
Dan sikap ini pun betul serta dibuktikan langsung oleh Allah ﷻ, dalam firmanNya selanjutnya,
وَأُحِيطَ بِثَمَرِهِ فَأَصْبَحَ يُقَلِّبُ كَفَّيْهِ عَلَى مَا أَنْفَقَ فِيهَا وَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَيَقُولُ يَالَيْتَنِي لَمْ أُشْرِكْ بِرَبِّي أَحَدًا
“Dan kekayaan kekayaannya dibinasakan; lampau dia membulak-balikkan kedua tangannya (tanda menyesal) terhadap apa nan dia telah belanjakan untuk itu, sedang pohon anggur itu roboh berbareng para-paranya dan dia berkata: ‘Aduhai kiranya dulu saya tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku.'” (QS. Al-Kahf: 42)
Maha betul Allah ﷻ atas segala firmanNya. Allah ﷻ betul-betul kabulkan angan mukmin tersebut, serta menjadikan si pemilik kebun begitu menyesal. Namun, tiada makna penyesalan lantaran dia selalu datang terlambat. Semua kekayaan barang kepemilikannya nan selalu dia banggakan sekarang lenyap diazab.
Ada beberapa hikmah nan dapat kita petik dari momen-momen pasca perbincangan tersebut. Semoga Allah ﷻ memberikan kita keluangan waktu dan panjangnya umur nan penuh berkah untuk mempelajari hikmah tersebut. InsyaAllah pada bagian ketiga kita bakal menyimak hikmah-hikmah lainnya.
[BERSAMBUNG]
KEMBALI KE BAGIAN 1
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Muslim.or.id
English (US) ·
Indonesian (ID) ·