ARTICLE AD BOX
Dalam perjalanan hidup seorang mukmin, tidak ada prinsip nan lebih agung, lebih menenangkan, dan lebih menyelamatkan selain sikap tunduk sepenuhnya kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Ia bukan sekadar patokan agama, tetapi fondasi keagamaan bahwasanya hati mengakui Allah sebagai satu-satunya sesembahan, dan raga membuktikannya dengan ketaatan.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمْ عَنْهُ فَٱنتَهُوا
“Apa nan diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa nan dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr: 7)
Ayat ini menjadi norma krusial nan membantu seorang mukmin untuk menundukkan hatinya kepada Allah sang pemilik alam semesta dan mendidik amalannya agar sesuai dengan teladan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Siapa nan menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, berfaedah dia telah menaati Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya,
مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ
“Barang siapa alim kepada Rasul, sungguh dia telah alim kepada Allah.” (QS. An-Nisa: 80)
Ayat di atas juga menggambarkan bahwa kepatuhan seorang hamba kepada Rabbnya, berbeda dengan kepatuhannya kepada manusia. Karena kepatuhan seseorang kepada Allah sifatnya adalah absolut (tanpa syarat), sedangkan kepatuhan seseorang kepada manusia adalah relatif. Jika manusia memerintahkan kepada kebaikan, maka kita patuhi; namun jika buruk, kita tinggalkan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Tidak ada ketaatan di dalam maksiat, alim itu hanya dalam perkara nan ma’ruf.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Baca juga: Taat dan Maksiat Akan Mengajak Saudaranya
Alasan alim tanpa syarat
Pertama, kebaikan dan rahmat Allah “tanpa batas”
Bagaimana kita tidak tunduk kepada Allah Ta’ala, sementara setiap detik hidup kita adalah bukti kasih sayang-Nya?
Mulai dari nikmat bumi nan kita rasakan tanpa diminta, seperti udara nan mengisi paru-paru, jantung nan berdebar tanpa kita perintah, rezeki nan datang dari arah tak terduga, keselamatan nan Allah Ta’ala jaga dari ancaman nan tak terlihat, hingga nikmat ibadah nan mengangkat derajat kita di sisi-Nya.
Betapa agung karunia Allah Ta’ala nan menghadiahkan kita hidayah Islam, keahlian untuk berdiri dalam salat, kekuatan untuk berpuasa, kelembutan dalam bersedekah, dan ketenangan nan turun ketika kita mengingat-Nya. Setiap nikmat itu adalah rahmat dan karunia dari Allah Ta’ala agar kita tunduk tanpa syarat, lantaran semua nan kita miliki hanyalah titipan-Nya, dan semua kebaikan berasal dari tangan-Nya.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ ٱللَّهِ
“Apa pun nikmat nan ada pada kalian, maka itu dari Allah.” (QS. An-Nahl: 53)
Jika semua nikmat berasal dari-Nya, maka pantaslah ketaatan kita diberikan sepenuhnya kepada-Nya.
Kedua, patokan Allah “pasti benar”
Allah Ta’ala adalah Zat nan Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, tidak pernah salah dan tidak mungkin khilaf. Sementara patokan manusia bisa benar, bisa salah. Undang-undang saja direvisi, peraturan diganti, kebijakan berubah. Apa nan hari ini dianggap benar, besok bisa dianggap keliru. Begitulah keterbatasan manusia.
Namun, patokan Allah Ta’ala tidak pernah berubah dan tidak memerlukan perbaikan. Ia turun dari Zat nan Maha Benar dan Maha Bijaksana, nan mengetahui masa lalu, masa kini, dan masa depan dengan sempurna. Allah mengetahui apa nan mendatangkan faedah bagi hamba-Nya dan apa nan membinasakan mereka.
Allah Ta’ala berfirman,
أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ ٱللَّطِيفُ ٱلْخَبِيرُ
“Bukankah Allah nan menciptakan (manusia) lebih mengetahui?” (QS. Al-Mulk: 14)
Ketiga, patokan Allah “pasti baik”
Allah Ta’ala tidak pernah membikin patokan untuk menyulitkan hamba-Nya, sebagaimana firman-Nya,
يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ
“Allah menginginkan kemudahan bagi kalian dan tidak menginginkan kesulitan.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Jika ada suatu patokan nan dianggap susah oleh sebagian manusia, maka susah tersebut pasti berbuah kebaikan (ada hikmah nan besar di baliknya). Sebagai contoh, bayi nan belajar berjalan. Ia jatuh berkali-kali, menangis, bangun lagi, dan jatuh lagi. Proses itu berat, tetapi itu satu-satunya langkah agar dia dapat melangkah dengan sempurna.
Demikian pula syariat; puasa terasa berat, tetapi menyehatkan tubuh dan membersihkan jiwa. Salat memerlukan waktu, tetapi menenteramkan hati dan menahan dari keburukan. Menahan diri dari maksiat memang terasa sulit, tetapi itu nan menjaga kehormatan dan keberkahan hidup.
Aturan Allah itu terukur dan penuh manfaat
Perhatikan gimana Allah Ta’ala mengatur hidup kita dengan memandang bahwasanya sesuatu nan dihalalkan sangatlah banyak dan nan diharamkan relatif sedikit. Kita boleh makan ribuan jenis makanan, sementara nan diharamkan hanya beberapa. Bahkan makanan manusia itu jauh lebih beragam daripada makanan hewan: mulai dari buah, sayur, daging, susu, biji-bijian, ikan, dan banyak lainnya.
Maksiat nan Allah Ta’ala haramkan, seperti zina, riba, minuman keras, pasti membawa kerusakan fisik, moral, maupun sosial. Sehingga dia bakal merugi; tidak hanya di dunia, tetapi juga di alambaka kelak. Allah Ta’ala tidak melarang manusia dari sesuatu selain lantaran mudaratnya nan besar.
Islam adalah penyerahan diri sepenuhnya
Makna Islam sendiri berasal dari kata:
اَلْإِسْلَامُ هُوَ الِاسْتِسْلَامُ لِلّٰهِ
“Islam adalah pasrah, tunduk, dan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah.” (Lihat Ta’limush Shibyan At-Tauhid, hal. 16-18)
Seorang muslim adalah nan menundukkan ego ketika wahyu berbicara, mengalahkan hawa nafsu demi mendapatkan rida-Nya, serta menerima seluruh hukum dengan penuh kepasrahan meski belum mengetahui seluruh hikmah-Nya.
Ketika hati tunduk, logika merendah, dan tubuh alim mengikuti perintah Allah Ta’ala, di situlah letak prinsip keislaman. Inilah corak kepatuhan tanpa syarat, ialah ketaatan nan lahir dari kepercayaan bahwa Allah tidak pernah salah, tidak pernah menzalimi hamba-Nya, dan tidak pernah memberi patokan selain untuk mengangkat derajat mereka.
Ketaatan bukan beban, tapi kemuliaan
Ketaatan kepada Allah Ta’ala bukanlah beban, dia adalah kemuliaan. Bukan pula paksaan, dia adalah jalan kebahagiaan. Siapa pun nan menyerahkan dirinya kepada Allah Ta’ala, dia telah memilih tempat paling kondusif di bumi dan akhirat.
Semoga Allah melembutkan hati kita untuk menerima setiap perintah-Nya dengan ringan, mengamalkannya dengan ikhlas, dan menjauhi larangan-Nya dengan penuh kesadaran.
Baca juga: Taat Beragama = Fanatik Beragama?
***
Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya
Artikel Muslim.or.id
Referensi:
Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·