Solusi Teknologi Masih Tersendat, Pakar Dorong Integrasi Biologi dan Termal Atasi Tumpukan Sampah

Sedang Trending 5 hari yang lalu
ARTICLE AD BOX

Jakarta, NU Online

Pakar Ilmu Rekayasa Termal dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Pandji Prawisudha menilai tumpukan sampah nan terus meningkat di beragam kota besar di Indonesia menunjukkan kegagalan sistem pengelolaan nan selama ini berjalan.


Di tengah kondisi tersebut, dia mendorong agar pendekatan teknologi berbasis biologi dan termal menjadi solusi strategis, meski implementasinya tetap menghadapi beragam hambatan.


Pandji menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa lagi mengandalkan metode konvensional seperti penimbunan di tempat pembuangan akhir (TPA).


“Selama ini kita terlalu berjuntai pada sistem kumpul-angkut-buang, padahal itu hanya memindahkan masalah, bukan menyelesaikan. Teknologi biologi dan termal semestinya menjadi bagian utama dalam sistem pengolahan sampah,” ujarnya dalam Webinar Cengkrama Iklim berjudul Bijak Kelola Sampah, Jaga Iklim Kita: Inovasi Teknologi Menuju Indonesia Asri, nan digelar pada Senin (30/3/2026).


Menurutnya, teknologi biologi seperti pengomposan dan biodigester efektif untuk mengolah sampah organik, sementara teknologi termal seperti insinerasi alias waste to energy bisa menangani residu sampah nan tidak dapat didaur ulang.


“Pendekatan biologi bekerja dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk mengurai sampah organik menjadi kompos alias biogas. Sementara teknologi termal berfaedah mengurangi volume sampah secara signifikan sekaligus menghasilkan energi,” jelas Pandji.


Ia menyoroti lambannya mengambil teknologi tersebut di Indonesia. Menurutnya, persoalan bukan terletak pada kesiapan teknologi, melainkan pada tata kelola dan komitmen kebijakan pemerintah.


“Teknologinya sudah ada dan terbukti di banyak negara. Persoalannya ada pada implementasi, mulai dari perencanaan oleh pemerintah nan tidak matang dan pendanaannya,” tegas Pandji


Ia juga menekankan pentingnya integrasi antara kedua pendekatan tersebut agar sistem pengelolaan sampah menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.


“Kita tidak bisa memilih salah satu. Harus ada integrasi antara teknologi biologi dan termal. Sampah organik diolah secara biologis, sementara residunya ditangani dengan teknologi termal. Dengan begitu, beban TPA bisa ditekan secara signifikan,” katanya.


Di sisi lain, Pandji mengingatkan bahwa tanpa perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah, teknologi secanggih apa pun tidak bakal optimal.


“Kalau dari hulu tidak dipilah, maka di hilir bakal sulit. Teknologi itu hanya alat, kunci utamanya tetap pada kesadaran dan sistem nan terintegrasi,” ujarnya.


Ia menyampaikan dengan kondisi TPA nan semakin penuh dan krisis sampah nan kian nyata, dorongan untuk mengangkat teknologi biologi dan termal menjadi semakin mendesak.


“Tanpa langkah konkret, tumpukan sampah berpotensi terus membesar dan menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat,” pungkasnya.

Selengkapnya
Sumber NU ONLINE
NU ONLINE