Sejenak di Dunia, Selamanya di Akhirat

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Pernahkah kita merenung sejenak, sungguh cepatnya waktu berlalu? Usia nan dulu terasa panjang, sekarang seakan berlari meninggalkan kita. Rambut nan dulu hitam, sekarang mulai memutih. Badan nan dulu kuat, sekarang mudah letih. Semua ini sejatinya adalah peringatan lembut dari Allah, bahwa hidup di bumi hanyalah sebentar, persinggahan singkat menuju kampung alambaka nan kekal.

Di antara kisah para Nabi nan begitu menyentuh hati adalah kisah Nabi Nuh ‘alaihissalam. Beliau adalah Nabi nan paling panjang usianya. Allah Ta’ala menyebutkan,

فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَامًا

“Maka dia (Nuh) tinggal di tengah kaumnya selama seribu tahun kurang lima puluh tahun.” (QS. Al-‘Ankabut: 14)

Bayangkan, 950 tahun Nabi Nuh ‘alaihissalam berceramah dengan penuh kesabaran, menghadapi caci maki, penolakan, apalagi hanya segelintir nan beragama kepadanya. Umur nan begitu panjang seakan memberikan pelajaran mendalam kepada kita, bahwa meski usia manusia panjang sekalipun, bumi tetaplah terasa singkat.

Subhanallah, nyaris seribu tahun hidupnya pun seakan berlalu bagai sekejap. Jika Nabi Nuh nan diberi umur panjang merasakan bumi begitu singkat, gimana dengan kita nan rata-rata hanya hidup 60–70 tahun?

Rasulullah ﷺ bersabda,

أَعْمَارُ أُمَّتِي مَا بَيْنَ السِّتِّينَ إِلَى السَّبْعِينَ، وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

“Umur umatku itu antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun, dan sedikit sekali nan melampaui itu.” (HR. Tirmidzi, no. 2331, hasan shahih)

Inilah dunia. Secepat kedipan mata. Maka janganlah tertipu olehnya.

Dunia adalah ladang sementara

Allah Ta’ala sering mengingatkan dalam Al-Qur’an, sungguh bumi hanyalah kesenangan nan sebentar. Allah berfirman,

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

“Dan kehidupan bumi itu tidak lain hanyalah kesenangan nan memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran: 185)

Perhiasan bumi memang indah: rumah megah, kendaraan mewah, kedudukan tinggi, dan kekayaan berlimpah. Tetapi semuanya hanyalah fatamorgana. Ia tampak manis di awal, namun lenyap begitu cepat.

Ibarat kembang nan mekar sebentar, lampau layu diterpa panas. Allah menggambarkannya,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا

“Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan bumi itu hanyalah permainan, sesuatu nan melalaikan, perhiasan, dan bermegah-megahan di antara kamu, serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak keturunan. Seperti hujan nan tanaman-tanamannya mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering, lampau Anda lihat warnanya kuning, kemudian menjadi hancur.” (QS. Al-Hadid: 20)

Bukankah kita sering menyaksikan sendiri? Betapa banyak orang mengejar bumi mati-matian, namun belum sempat menikmatinya, ajal sudah menjemput.

Hakikat bumi di mata Rasulullah ﷺ

Rasulullah ﷺ sering memberikan perumpamaan agar para sahabat tidak silau dengan dunia. Beliau pernah melewati seekor buntang kambing nan abnormal telinganya. Lalu beliau bersabda,

أَتُرَوْنَ أَنَّ هَذَا كَانَ يَهُونُ عَلَى أَهْلِهِ لَوْ كَانَ حَيًّا؟ قَالُوا: لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ أَهْلُهُ يَسْتَحِقُّونَ أَنْ لَا يَكُونَ فِيهِ شَيْءٌ. فَقَالَ: فَوَاللَّهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ

“Apakah kalian mengira buntang kambing ini berbobot di mata pemiliknya? Para sahabat menjawab, ‘Seandainya kambing ini hidup pun, abnormal telinga seperti itu tidak berbobot apa-apa.’ Rasulullah bersabda, ‘Demi Allah, bumi ini lebih buruk di sisi Allah daripada buntang ini di mata pemiliknya.’” (HR. Muslim no. 2957)

Betapa rendahnya bumi di sisi Allah Ta’ala. Karena itu, orang nan menjadikan bumi sebagai tujuan utama sungguh telah tertipu.

Dunia bukan tujuan, melainkan jalan

Saudaraku, bumi bukanlah tempat tinggal selamanya. Dunia hanyalah tempat persinggahan, tempat menanam, tempat bekerja. Akhiratlah tempat menuai.

Rasulullah ﷺ bersabda,

كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ، أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ

“Hiduplah di bumi ini seakan-akan engkau seorang asing alias seorang musafir.” (HR. Bukhari no. 6416)

Seorang musafir tidak pernah terlalu terpikat dengan rumah persinggahan. Ia tahu, tempat itu hanya sebentar. Ia bakal segera berangkat melanjutkan perjalanan. Begitulah semestinya kita di dunia. Tidak lalai dengan gemerlapnya, tidak silau dengan kilauannya, tetapi menjadikan bumi sebagai sarana menuju akhirat.

Sayangnya, banyak orang terjerat tipu daya dunia. Mereka mengira bumi adalah segalanya. Allah sudah mengingatkan,

يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ

“Mereka hanya mengetahui nan lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan terhadap kehidupan alambaka mereka lalai.” (QS. Ar-Rum: 7)

Lihatlah gimana manusia saling berbangga: siapa nan rumahnya lebih besar, siapa nan mobilnya lebih mewah, siapa nan anaknya lebih banyak prestasinya. Padahal, semua itu tidak bakal ditanya di hadapan Allah, selain apakah dia digunakan untuk ketaatan alias tidak.

Mengingat kematian

Rasulullah ﷺ menasihati kita untuk sering mengingat mati, lantaran itulah nan dapat melembutkan hati dan menjauhkan dari kelalaian. Beliau bersabda,

أَكْثِرُوا مِنْ ذِكْرِ هَادِمِ اللَّذَّاتِ

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (yaitu kematian).” (HR. Tirmidzi no. 2307, sahih)

Kematian bakal memutus semua nan kita cintai: keluarga, harta, jabatan, dan kedudukan. Tak ada nan kita bawa selain ketaatan dan kebaikan saleh.

Saudaraku, bumi ini hanyalah ladang. Jangan sampai kita menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran hanya untuk sesuatu nan bakal lenyap. Gunakan bumi untuk menanam amal, agar kelak di alambaka kita menuai hasilnya. Rasulullah ﷺ bersabda,

الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ، وَجَنَّةُ الْكَافِرِ

“Dunia ini penjara bagi orang beriman, dan surga bagi orang kafir.” (HR. Muslim no. 2956)

Maka, bersabarlah dengan keterbatasan dunia. Janganlah hati kita guncang oleh cobaan, jangan pula silau oleh gemerlap dunia. Tenangkan hatimu: ini hanya dunia.

Baca juga: Jangan Teperdaya dengan Ilusi Dunia

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info