Sebelas Renungan Ketika Dizalimi: Renungkan Hal Ini Sebelum Membalas Dendam (Bag. 3)

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Perjalanan nan berat tidak bakal dapat dijalani selain dengan petunjuk serta bekal nan memadai. Momen dizalimi adalah bagian perjalanan berat itu. Tidaklah mudah dijalani, selain dengan Al-Huda, ialah petunjuk Al-Quran dan keteladanan Nabi ﷺ. Di serial terakhir ini, kembali kita lanjutkan upaya berbekal dengan pengetahuan menyikapi kezaliman nan disajikan Ibnul Qayyim rahimahullah.

Nikmat Allah bagi nan dizalimi lebih besar daripada nikmat sesaat saat membalas dan pedihnya balasan Allah atas perbuatan zalimnya

Sekarang renungkan beragam nikmat Allah ﷻ bagi orang nan dizalimi dibandingkan dengan balasan nan diterima oleh orang nan menzalimi. Betapa timpangnya keadaan kedua belah pihak! Maka, sungguh mudah bagi orang nan berakal sehat untuk menentukan di pihak mana dia bakal menempatkan diri.

Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ pernah bersabda,

اِتَّقُوْا دَعْوَةَ الْمَظْلُوْمِ فَإِنَّهَا تُحْمَلُ عَلىَ الْغَمَامِ، يَقُوْلُ اللهُ وَعِزَّتِى وَجَلاَلِى لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِيْنٍ

“Takutlah kalian pada angan orang nan dizalimi, lantaran sesungguhnya dia bakal dibawa ke atas awan, kemudian Allah berkata, “Dengan kemuliaan-Ku dan kebesaran-Ku, Aku pasti bakal menolongmu, sekalipun nanti.” (HR at-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir no. 3718, dinukilkan dalam Silsilah Hadits Shahih Al-Albani)

Lihatlah keterangan bahwa orang nan dizalimi mendapatkan agunan bahwa Allah ﷻ bakal menolongnya. Jika sudah ada Allah ﷻ nan menolong, siapa lagi nan dapat menakutinya?! Sedangkan orang kejam mendapatkan ancaman nan begitu menakutkan,

لاَ يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ

“Sesungguhnya orang-orang nan kejam itu tidak beruntung.” (QS Al-An’am: 21)

Masih banyak ayat lainnya, tetapi cukuplah satu potongan ayat ini membikin kita takut bakal melakukan zalim. Orang kejam tidak bakal beruntung, selamanya demikian. Kita ketahui di era ini, bahwa keberuntungan adalah aspek penting, apalagi bagi golongan pebisnis dan motivator duniawi. Menurut studi Prof. Richard Wiseman, penulis kitab The Luck Factor, aspek keberuntungan pada banyak orang sukses di bumi memanglah ada. Faktor keberuntungan menjadi aspek kunci pada banyak kasus kehidupan orang-orang tersebut.

Keberuntungan adalah suatu tema nan tidak bisa didefinisikan secara spesifik dan mutlak, dia kembali kepada pengalaman masing-masing orang. Namun, makna umumnya kembali kepada perihal positif nan didapatkan tanpa bisa dijelaskan upaya penyebabnya. Maka, jelas ini adalah kewenangan kuasa Allah ﷻ, tidak ada nan bisa mengintervensinya. Jika Allah ﷻ sang penentu takdir manusia sudah mengatakan orang kejam tidak bakal beruntung, maka kesuksesan apa nan diharapkan?!

Selain itu, agar rasa dendam itu terobati, anggaplah bahwa orang nan menyakitimu adalah seorang master alias utusan master nan sayang kepadamu. Ibnul Qayyim rahimahullah menerangkan permisalan ini,

فَأَذَى الْخَلْقِ لَكَ كَالدَّوَاءِ الْكَرِيهِ مِنَ الطَّبِيبِ الْمُشْفِقِ عَلَيْكَ. فَلَا تَنْظُرْ إِلَى مَرَارَةِ الدَّوَاءِ وَكَرَاهَتِهِ وَمَنْ كَانَ عَلَى يَدَيْهِ. وَانْظُرْ إِلَى شَفَقَةِ الطَّبِيبِ الَّذِي رَكَّبَهُ لَكَ، وَبَعَثَهُ إِلَيْكَ عَلَى يَدَيْ مَنْ نَفْعَكَ بِمَضَرَّتِهِ

“Maka gangguan manusia terhadapmu itu seperti obat pahit dari seorang master nan menyayangimu. Janganlah engkau memandang kepada pahit dan tidak enaknya obat itu, alias kepada orang nan menjadi perantara sampainya kepadamu. Tetapi pandanglah kepada kasih sayang Sang Penyembuh (Allah) nan meraciknya untukmu, dan nan mengutusnya kepadamu melalui tangan orang nan pada hakikatnya memberi faedah kepadamu dengan mudarat nan dia timpakan kepadamu.” (Madarijus Salikin, 2: 306)

Teladani Rasulullah ﷺ dalam menyikapi kezaliman kepada dirinya

Renungilah keteladanan nan diberikan para Nabi dan Rasul, khususnya Baginda Nabi Muhammad ﷺ. Sudah berlalu bahwasanya para Nabi dan Rasul adalah nan paling berat ujiannya. Said Abu Mushab radhiyallahu ‘anhu pernah bertanya kepada Nabi ﷺ,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah nan paling berat ujiannya?” Beliau ﷺ menjawab,

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ

“Para Nabi, kemudian nan semisalnya, dan semisalnya lagi.”

Jika para Nabi adalah pengemban ujian nan paling berat, sementara derajat kenabian telah ditutup, maka tidak ada lagi orang nan mempunyai ujian nan lebih berat dari mereka. Sehingga tidak ada lagi kasus ujian kehidupan nan tidak ada jawaban dan penanganannya. Semuanya sudah ada contoh penanganannya. Bukan hanya contoh penanganan dari para Nabi dan juga orang saleh terdahulu, tetapi juga sikap ihsan nan mereka teladankan.

Nabi Nuh ‘alaihissalam telah disebutkan bersabar dizalimi dan disakiti dalam dakwah selama 950 tahun. Tidak hanya sekadar bersabar, tetapi juga berterima kasih bahwa dirinya dizalimi. Bukan hanya disakiti oleh orang lain, tetapi juga ditolak oleh anak dan istrinya. Bukankah Ibrahim ‘alaihissalam juga memberikan keteladanan kesabaran atas kezaliman Namrud? Begitupula Nabi Yusuf ‘alaihissalam juga memberikan keteladanan untuk tidak mendendam setelah dizalimi oleh saudara-saudaranya. Ia dibuang dan dibuatkan skenario kematian hanya lantaran hasad nan muncul di antara saudaranya. Namun, ketika kenikmatan bumi datang kepadanya serta dengan itu dia bisa mewujudkan dendam, dia tidak membalas kezaliman itu sebagaimana firman Allah ﷻ,

قَالَ لَا تَثۡرِيبَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡيَوۡمَۖ يَغۡفِرُ ٱللَّهُ لَكُمۡۖ وَهُوَ أَرۡحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

“Dia (Yusuf) berkata, “Pada hari ini tak ada cercaan terhadap kamu, mudah-mudahan Allah mengampuni (kamu), dan Dia adalah Maha Penyayang di antara Para Penyayang.” (QS. Yusuf: 92)

Nabi ﷺ juga pernah menggambarkan kisah seorang Nabi nan dizalimi kaumnya sampai berdarah wajahnya. Bukannya Nabi ini marah, membalas, alias meminta pertanggungjawaban, tetapi justru Nabi itu berdoa,

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِقَوْمِي فَإِنَّهُمْ لَايَعْلَمُونَ

“Ya Allah, ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” (HR. Bukhari no. 3477 dan Muslim no. 1792)

Syekh Alawi As-Saqqaf hafizhahullah menjelaskan bahwa sabda ini menunjukkan gambaran kasih sayang dan pemaafnya seorang Nabi terhadap kaumnya. Keadaan ini juga langsung dialami oleh Nabi ﷺ ketika di perang Uhud, di mana sekelompok sahabat menyelisihi perintah Nabi ﷺ hingga wajah Nabi berdarah. [1] Maka, sifat tidak mendendam adalah sifat nan melekat pada para Nabi.

Episode lain dari rangkaian keteladanan Nabi ﷺ tidak mendendam adalah ketika ada percobaan pembunuhan. Nabi Muhammad ﷺ mengisahkan,

إِنَّ رَجُلاً أَتَانِى وَأَنَا نَائِمٌ فَأَخَذَ السَّيْفَ فَاسْتَيْقَظْتُ وَهُوَ قَائِمٌ عَلَى رَأْسِى فَلَمْ أَشْعُرْ إِلاَّ وَالسَّيْفُ صَلْتًا فِى يَدِهِ .فَقَالَ لِى: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّىّ. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ. ثُمَّ قَالَ فِى الثَّانِيَةِ: مَنْ يَمْنَعُكَ مِنِّى. قَالَ قُلْتُ: اللَّهُ . قَالَ فَشَامَ السَّيْفَ فَهَا هُوَ ذَا جَالِسٌ. ثُمَّ لَمْ يَعْرِضْ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم

“Ada seseorang nan datang kepadaku dan ketika itu saya sedang tertidur, lampau dirinya menghunuskan pedang, saya pun terbangun, dan dia berdiri tepat di atas kepalaku, namun saya tidak merasakannya dengan pedang terhunus nan berada di tangannya. Kemudian dia berbicara kepadaku, “Siapakah sekarang nan bakal membelamu?” Aku menjawab, “Allah.” Kemudian dia mengulangi kembali, “Siapakah nan bakal menolongmu?” Aku menjawab kembali, “Allah.” Beliau mengatakan, “Seketika itu dia menyarungkan pedangnya, lampau dirinya duduk, dan Rasulullah ﷺ tidak membalasnya.” (HR. Bukhari no. 2910 dan Muslim no. 843)

Sudahkah orang nan menzalimi Anda sampai di level melakukan percobaan pembunuhan? Kebanyakan dari para pembaca tentu belum pernah mengalami level ini. Namun, seandainya qadarullah Anda sudah pernah dizalimi sampai hendak dibunuh, Nabi kita ﷺ pun memberikan keteladanan untuk tidak membalasnya.

Contoh lain adalah ketika pembukaan kota Makkah, ketika gembong-gembong nan menzalimi Nabi ﷺ dan dakwahnya berkumpul. Nabi ﷺ mempunyai argumen kuat untuk membalaskan kezaliman itu, beliau mempunyai kekuatan, dan terlebih ada kondisi perang nan memihak kepada pasukannya. Namun, beliau tidak melakukannya. Justru dalam khotbah pertama nan dilakukan pasca Fathu Makkah, Nabi ﷺ membebaskan mereka.

Setelah mukadimah, Rasulullah ﷺ berkata, “Wahai kaum Quraisy, menurut kalian, apa nan bakal saya lakukan terhadap kalian?” Quraisy menjawab, “Engkau adalah kerabat nan mulia, anak dari kerabat nan mulia.”

Rasulullah ﷺ berfirman kepada mereka, sebagaimana ucapan Nabi Yūsuf ‘alaihissalām kepada saudara-saudaranya,

لَا تَثْرِيبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ

“Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian.”

Lalu, beliau ﷺ bersabda,

اذْهَبُوا فَأَنْتُمُ الطُّلَقَاءُ

“Pergilah kalian, kalian semua bebas.”

Allahu Akbar! Inilah ucapan nan mengumpulkan adab dan bukti kelapangan dada Nabi ﷺ. Bertahun-tahun Rasulullah ﷺ dizalimi dakwahnya, sampai 13 tahun kurang lebih. Tidak hanya dirinya, tetapi kerabatnya dan juga umatnya. Bukan sekadar digibah dan difitnah, tetapi juga kekerasan bentuk sampai menyebabkan kematian. Nabi ﷺ dituduh penyihir sampai orang gila, padahal Quraisy tahu keistimewaan Nabi ﷺ dan mereka pun memanfaatkan sifat amanah Nabi ﷺ. Jalan ke rumah Nabi ﷺ ditaburi duri nan menyulitkannya. Nabi ﷺ ketika salat pernah ditumpahi isian perut hewan dan dilempari kotoran.

Sahabatnya sampai ada nan disiksa hingga terbunuh seluruh family intinya. Ada pula sahabatnya nan disiksa sampai luka-luka badannya. Bahkan Nabi ﷺ dan para sahabatnya terusir dari kota mereka tercinta tanpa membawa kekayaan sekalipun. Bukannya mengambil kesempatan di momen ini untuk meminta tukar rugi, justru Nabi ﷺ memberikan kebebasan kepada musuh dakwahnya itu semua. Para ustadz mengumpulkan beragam gembong kejahatan dan juga sosok-sosok nan menyakiti Nabi secara individual nan dimaafkan Nabi ﷺ di Fathu Makkah. Jumlahnya bisa sampai belasan dan ini bukanlah perkara nan mudah.

Banyak keteladanan lainnya nan dapat kita ambil menjadi contoh serta direnungkan. Ingatlah kisah Imam Ahli Sunnah, Ahmad bin Hanbal nan merasakan pahitnya kezaliman pemimpin serta ustadz Jahmiyah kala itu? Setelah kebenaran Allah ﷻ tegakkan, apakah Ahmad bin Hanbal menyerukan permusuhan individual kepada orang-orang tersebut? Apakah dia absolut mengkafirkan? Penulis tidak pernah mendengarkan riwayat semisal ini.

Ingatlah ketika Hasan Al-Bashri menghadapi kezaliman Al-Hajjaj bin Yusuf nan kegemaran membantai para ulama. Hasan Al-Bashri bisa menggerakkan umat untuk membalas kezaliman itu. Namun, sikap Al-Hasan adalah tidak membalas kezaliman dengan kezaliman. Melainkan beliau mendorong umat untuk mendoakan kebaikan kepada pemimpin sembari tetap memperingatinya.

Ingat pula keteladanan dari Syekhul Islam Ibnu Taimiyah dalam menghadapi tuduhan kezaliman dari dua tokoh, ialah ustadz sufi Ali bin Yakub Al-Bakri As-Sufi dan para menteri Sulthan Nashir Ibnu Qalawun. Keduanya melakukan tuduhan dan kezaliman nan teramat sangat kepada Ibnu Taimiyah. Namun, kemudian keadaan berbalik, Ibnu Taimiyah justru diberikan kesempatan untuk membalas kezaliman dan tuduhan itu. Akan tetapi, Ibnu Taimiyah tidak melakukan itu. Ia justru mengampuni dan menyerukan pembebasan serta perlindungan kepada ustadz tersebut.

Dan tetap banyak lagi keteladanan para salaf nan saleh dari kalangan Nabi maupun ustadz nan dapat meneguhkan hati untuk tidak sibuk mendendam kepada orang nan menzalimi. Tentu orang nan berakal bakal berbahagia dalam meneladani orang-orang nan mulia seperti ini. Tidak ada cela bagi orang nan mengikuti jalannya orang-orang nan terpuji akhlaknya. [2]

Tauhid bakal membikin kita tidak memikirkan lagi balas dendam lantaran jiwa sudah dipenuhi perihal nan mulia dan tidak menyukai perihal rendahan

Merenungkan tauhid adalah puncak perenungan dan maqam (kedudukan) tertinggi dalam meredam dendam serta rasa sakit dizalimi. Karena merenungi bahwa Allah ﷻ adalah Zat Esa dalam mengatur alam semesta dan penentu takdir adalah obat terampuh bagi mereka nan hatinya dipenuhi dengan cinta kepada Allah ﷻ. Jika seseorang sudah konsentrasi hanya kepada Allah ﷻ, dia tidak konsentrasi memikirkan gangguan manusia lagi, tetapi dia konsentrasi bahwa ini adalah bagian dari takdir Allah Al-Hakim.

Membalas dendam adalah perkara rendahan. Jika hati seseorang sudah terbiasa dengan makanan bernutrisi tinggi seperti beragama kepada Allah ﷻ dan beradab mulia, maka hati tidak bakal berselera dengan perkara rendahan tersebut. Sebagaimana ungkapan Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa hati itu selalu berkarakter lapar,

فَإِذَا رَأَى أَيَّ طَعَامٍ رَآهُ هَفَّتْ إِلَيْهِ نَوَازِعُهُ. وَانْبَعَثَتْ إِلَيْهِ دَوَاعِيهِ. وَأَمَّا مَنِ امْتَلَأَ قَلْبُهُ بِأَعْلَى الْأَغْذِيَةِ وَأَشْرَفِهَا: فَإِنَّهُ لَا يَلْتَفِتُ إِلَى مَا دُونَهَا. وَذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ. وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Apabila hati memandang makanan apa pun nan terlihat olehnya, maka keinginannya pun segera condong kepadanya, dan dorongan nafsunya pun bangkit menuju kepadanya. Adapun hati nan telah dipenuhi dengan makanan nan paling tinggi dan paling mulia, maka dia tidak lagi menoleh kepada sesuatu nan lebih rendah. Dan itu adalah karunia Allah, nan Dia berikan kepada siapa saja nan Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia nan agung.” (Madarijus Salikin, 2: 307)

Cukuplah sebelas perenungan ini membikin kita menyadari bahwa prinsip kezaliman adalah perkara rendahan. Adapun seorang mukmin mencintai perkara nan tinggi, sehingga tidak berselera untuk mengurusi perihal rendahan dan hina. Nabi ﷺ pernah berfirman bahwa Allah ﷻ mencintai perkara nan tinggi,

إنَّ اللهَ تعالى يُحِبُّ مَعاليَ الأُمورِ، و أَشرافَها، و يَكرَهُ سَفْسافَها

“Sesungguhnya Allah ﷻ mencintai perkara nan tinggi dan mulia, dan membenci perkara rendahan.” (HR. Thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir, 3: 131 no. 2894, dinilai sahih) [3]

Mempelajari beragam renungan agar tidak membalas dendam adalah kebutuhan nan krusial bagi seorang muslim. Karena bagian kezaliman pasti kita lalui. Akan tetapi, bukan berfaedah kita merasa selalu menjadi korban. Ingatlah bahwa kita pasti pernah melakukan kezaliman pula. Karena sifat kejam itu sudah terinstal dalam diri kita. Maka, menyadari bahwa diri kita pun penuh kezaliman adalah salah satu obat paling mujarab agar diri ini dapat bersikap dengan bijak menghadapi kezaliman pihak lain.

Semoga Allah ﷻ mengampuni dan menganugerahi kita dengan kesadaran untuk melakukan islah. Aamiin.

[Selesai]

Kembali ke bagian 2

***

Penulis: Glenshah Fauzi

Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] https://dorar.net/hadith/sharh/16706

[2] Untuk mendapatkan lebih banyak kisah semisal, silahkan menyimak 20 Sebab Kenapa Harus Memaafkan, karya Ustaz Dr. Firanda Andirja hafizhahullah.

[3] Penilaian Tim dorar.net ketua Syekh Alawi bin Abdul Qadir As-Saqqaf hafizhahullah, https://dorar.net/hadith/sharh/140239

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info