ARTICLE AD BOX
Keadaan dizalimi adalah potongan kehidupan nan teramat pahit dirasakan oleh setiap orang. Kondisi terzalimi apalagi dapat membikin orang futur dan menjauh dari manisnya iman. Padahal, orang nan terzalimi dapat meraup banyak untung nan dapat melupakan kerugiannya di dunia. Namun, lantaran ketidaktahuan serta lemahnya jiwa, maka tak sedikit nan jatuh ke dalam lembah kekecewaan. Akhirnya dari korban kezaliman, justru berbalik menjadi pelaku kezaliman.
Oleh lantaran itu, krusial bagi kita untuk mengilmui hal-hal nan bisa menjadi penyembuh hati nan tersakiti lantaran dizalimi. Ibnul Qayyim rahimahullah mempunyai 11 perenungan nan dapat menjadi penyembuh bagi orang nan dizalimi. Dalam tulisan ini, bakal dibahas lanjutan poin kelima nan dapat direnungkan.
Berbuat ihsan kepada nan menzaliminya
Level nan lebih tinggi dari rida ketika ditakdirkan dizalimi adalah membalas orang kejam dengan perbuatan ihsan. Ini levelnya Nabi Muhammad ﷺ ketika dizalimi. Nabi kita alayhi shalatu wa salam adalah teladan sikap rahmat nan luar biasa. Beliau ﷺ mempunyai kecintaan dan kebijaksanaan nan luar biasa besar apalagi kepada para musuhnya.
Ketika di Thaif, saat berupaya mendakwahkan kebenaran, Nabi ﷺ justru diusir dan dilempari batu. Padahal, Thaif adalah kampung ibunya, sehingga tetap ada tutur family nan terhubung kepada baginda Nabi. Keadaan ini membikin hati Nabi ﷺ sedih sekali, apalagi lebih pahit dibandingkan tragedi Uhud. Sampai-sampai malaikat penjaga gunung menawarkan diri untuk membalaskan tindak kejam mereka. Namun, Nabi ﷺ tidak sekadar menahan diri untuk membalaskan dendam, tetapi juga mendoakan kebaikan nan luar biasa buat mereka.
بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا
“Tidak, namun saya berambisi agar Allah melahirkan dari anak keturunan mereka ada orang-orang nan beragama kepada Allah semata, tidak mempersekutukan-Nya dengan apapun jua.” (HR. Bukhari no. 3231 dan Muslim no. 1795)
Jika kita menelaah, Nabi ﷺ dapat membalaskan dendam dengan sangat sempurna. Beliau mempunyai argumen nan sangat jelas, logis, dan sah secara emosi bahwa perihal itu begitu menyakitkan. Tidak hanya itu, apalagi Nabi ﷺ tidak perlu berupaya keras untuk membalaskan dendamnya, cukup malaikat penjaga gunung membalikkan tanah alias gunung untuk masyarakat negeri Thaif. Namun, Nabi ﷺ tidak memilih jalan itu. Justru beliau mendoakan kebaikan bagi masyarakat Thaif.
Episode keteladanan Nabi ﷺ dalam melakukan ihsan kepada para penzalimnya tidak hanya sampai kisah Thaif. Ada banyak kisah, di antaranya adalah sikap Nabi ﷺ kepada Abu Sufyan ketika pembukaan kota Makkah, termasuk kepada Hindun nan telah menyantap hati syuhada Uhud, ialah Hamzah Asadullah. Dan tetap banyak lagi keteladanan Nabi ﷺ dalam melakukan ihsan tersebut, khususnya pada bagian Fathu Makkah dimana Nabi ﷺ mengampuni seluruh masyarakat Makkah khususnya nan pernah menzaliminya di kala mendakwahkan tauhid di sana.
Bila Nabi ﷺ mengedepankan dendamnya, tentu Makkah bakal banjir darah. Nabi ﷺ mempunyai pasukan lengkap, sementara masyarakat Makkah -khususnya para musuh dakwah- sudah tidak punya kuasa apa-apa. Namun, rahmat Nabi ﷺ kepada para musuhnya memustahilkan pertumpahan darah nan lebih banyak. Bahkan justru menjadi pintu hidayah bagi banyak sekali kaum muslimin.
Hal nan hendak mau penulis sampaikan adalah bahwasanya melakukan ihsan kepada orang nan menzalimi itu sangat memungkinkan. Ada banyak contohnya dan di antaranya dari Nabi ﷺ. Dan ibadah ini adalah ibadah berpahala besar dan berlevel tinggi. Jelas ibadah sayyidul mursalin memiliki berat nan luar biasa.
Ibnul Qayyim rahimahullah memberikan afinitas nan membikin ibadah membalas dengan ihsan kepada orang nan menzalimi kita menjadi logis. Orang nan melakukan kejam kepada kita ibaratkan orang miskin nan memberikan seluruh kekayaan nan dimilikinya kepada kita. Orang kejam adalah orang nan merugi, dia tidak hanya mendapatkan dosa, tetapi dia memberikan pahalanya kepada orang nan dizaliminya. Maka, tentu sangat layak bagi kita untuk memberikan ucapan terima kasih dan timbal kembali kepada orang nan memberikan pahalanya. Apalagi pahala adalah kekayaan nan sangat berbobot di hari di mana duit tidak lagi berlaku. Oleh lantaran itu, melakukan ihsan kepada mereka orang nan merugi dan mendonasikan kebaikannya kepada kita adalah perihal nan sangat wajar.
Terlebih lagi jika kita mengingat kaidah,
الْجَزَاء مِنْ جِنْسِ الْعَمَلِ
“Balasan sesuai dengan jenis perbuatan.”
Maka, kita bakal sadari bahwa kezaliman bakal dibalas kezaliman oleh Allah ﷻ langsung. Sedangkan kebaikan pun bakal dibalas kebaikan pula oleh Allah ﷻ langsung. Inilah pilihan bagi nan dizalimi; maukah Anda menjadi orang nan bakal dibalas pula dengan melakukan kejam lagi, alias justru mau mendapatkan jawaban kebaikan dari Allah ﷻ Al-Muhsin?
Ketika hatinya disakiti dia tidak sibuk memikirkannya sehingga menjadi lebih produktif
Renungan selanjutnya adalah argumen lain agar kita tidak perlu mendendam kepada orang nan menzalimi kita. Ketika sibuk memikirkan sakitnya hati dizalimi, maka itu bakal mendorong pikiran untuk merencanakan balas dendam. Langkah itu bakal menyantap waktu produktif serta melemahkan jiwa nan berakibat kepada badan nan tidak berdaya. Ini adalah kerugian nan teramat besar. Sudahlah hati terluka dan kewenangan kita terlalaikan, lebih lagi jika waktu dan potensi badan nan dikorbankan. Sungguh sungguh besar kerugian dari perihal ini.
Para ustadz salaf dulu mengingatkan [1],
وَالْوَقْتُ أَنْفَسُ مَا عَنَيْتَ بِحِفْظِهِ
“Waktu adalah perkara paling mahal nan perlu engkau perhatikan untuk dijaga.”
Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,
يا اِبْنَ آدَمَ إِنَّمَا أَنْتَ أَيَّامٌ كُلَّمَا ذَهَبَ يَوْمٌ ذَهَبَ بَعْضُكَ
“Wahai Bani Adam (manusia), Anda itu hanyalah (kumpulan) hari-hari, tiap-tiap satu hari berlalu, lenyap sebagian dirimu.”
Nabi ﷺ pun pernah mengingatkan bahwa waktu dan kesempatan dengan bentuk nan sehat adalah sebuah nikmat nan sering kita lupakan. Nabi ﷺ bersabda,
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
“Dua kenikmatan, kebanyakan manusia tertipu pada keduanya, (yaitu) kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 5933)
Ketika badan sehat dan waktu senggang justru dipakai untuk memikirkan rasa sakit hati dan dendam nan mengakar, maka ini adalah kerugian besar. Bagian diri kita bakal lenyap dan tak bisa kembali, sementara ini adalah kenikmatan nan teramat besar dan terbatas jumlahnya.
Kesedihan nan berlarut bakal membikin seseorang tidak antusias beramal dan membuka celah-celah keburukan. Inilah nan dikatakan Ibnul Qayyim rahimahullah bahwa kesedihan mukmin adalah perihal nan dicintai setan lantaran daya rusaknya nan banget besar. Beliau berkata,
الحُـزن يُضعف القَلب , ويُوهن العزم، ويَـضـر الإرادة ولا شَـيء أحَـب إلَـى الشيطَـان من حُـزن المُـؤمن
“Kesedihan itu melemahkan hati, melemahkan tekad, dan merusak kehendak. Tidak ada sesuatu nan lebih dicintai oleh setan daripada kesedihan seorang mukmin.” (Thariqatul Hijratain, hal. 279) [2]
Dalam keterangan di Madarij, Ibnul Qayyim mengumpulkan untung dari tidak memikirkan dendam sebagai berikut,
وَيَرَى أَنَّ سَلَامَتَهُ وَبَرْدَهُ وَخُلُوَّهُ مِنْهُ أَنْفَعُ لَهُ وَأَلَذُّ وَأَطْيَبُ وَأَعْوَنُ عَلَى مَصَالِحِهِ
“Dan seseorang nan memandang bahwa keselamatan, ketenangan, serta terbebas dari memikirkan dendam itu lebih berfaedah baginya, lebih lezat, lebih baik, dan lebih membantu dalam mewujudkan maslahat-maslahatnya.” (Madarijus Salikin, 2: 304)
Seseorang merasa kondusif ketika tidak mendendam dan beriktikad membalas orang nan menyakitinya
Wahai orang nan berakal! Renungilah bahwa jika hati penuh dendam kepada penzalim, maka Anda bakal membalas tabuhan genderang perang. Sedangkan peperangan hanya bakal menambah dan menguatkan posisi musuh, setidaknya dalam pikiran. Seorang nan berakal tidak bakal pernah menganggap sepele para musuhnya. Sehingga hatinya penuh dengan kewaspadaan apalagi was-was.
Sedangkan jika Anda memaafkannya, maka hati Anda lapang. Peperangan nan diserukan pun berakhir. Hati tidak tersibukkan untuk membalas serangan dan kembali kepada level produktif. Ingatlah firman Allah ﷻ berikut,
قال الله تعالى:خُذِ ٱلۡعَفۡوَ وَأۡمُرۡ بِٱلۡعُرۡفِ وَأَعۡرِضۡ عَنِ ٱلۡجَٰهِلِينَ
“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan nan ma’ruf, serta berpalinglah dari orang-orang nan bodoh.” (QS. al-A’raaf: 199)
Berpaling dari orang tolol dan nan melakukan tolol adalah perintah Allah ﷻ nan berbobot pahala dan mengandung hikmah nan besar. Al-Qurthubi menjelaskan dengan baik sekali tentang perihal ini agar kita tidak ikut bertindak bodoh. Karena menyikapi alias membalas orang bodoh–orang kejam adalah orang nan melakukan kebodohan–adalah sebuah perbuatan bodoh. Al-Qurthubi rahimahullah menjelaskan,
وَفِي قَوْلِهِ (وَأَعْرِضْ عَنِ الْجاهِلِينَ) الْحَضُّ عَلَى التَّعَلُّقِ بِالْعِلْمِ، وَالْإِعْرَاضُ عَنْ أَهْلِ الظُّلْمِ، وَالتَّنَزُّهُ عَنْ مُنَازَعَةِ السُّفَهَاءِ، وَمُسَاوَاةِ الْجَهَلَةِ الْأَغْبِيَاءِ، وَغَيْرُ ذَلِكَ مِنَ الْأَخْلَاقِ الْحَمِيدَةِ وَالْأَفْعَالِ الرَّشِيدَةِ
“Dan dalam firman-Nya, “Dan berpalinglah dari orang-orang nan jahil”; terdapat rekomendasi untuk berpegang teguh kepada ilmu, beralih dari orang-orang zalim, menjauhi diri dari berbeda dengan orang-orang tolol lagi dungu dan menyerupai mereka, dan beragam adab terpuji serta perbuatan nan bijak lainnya.”
Renungan ketujuh ini sangat berasosiasi erat dengan renungan kelima nan mendorong kita untuk melakukan ihsan. Tidaklah kita bisa membalas orang kejam dengan pemaafan ataupun dengan perihal nan lebih baik selain kita mengetahui prinsip dari bagian kezaliman itu. Dengan mengetahui bahwa bagian kezaliman itu adalah ranah pertarungan nan penuh kegoblokan dan kerugian, maka bakal dengan senang hati bagi kita untuk keluar dari ranah tersebut dengan langkah mengampuni alias melakukan ihsan. Dengan begitu, kita sadar bahwa keluar dari praktik saling balas dendam kezaliman adalah corak melahirkan keamanan dan kelapangan hati. Terlebih lagi, ganjarannya luar biasa besarnya sebagaimana firman Allah ﷻ,
فَمَنۡ عَفَا وَأَصۡلَحَ فَأَجۡرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِۚ
“Barang siapa mengampuni dan melakukan baik, maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)
Dalam berjihad pasti dizalimi, maka tidak perlu membalas dengan argumen jihad lantaran jiwa mujahid telah dibeli Allah ﷻ dengan nilai mahal
Apabila kezaliman manusia kepadanya itu lahir dari jihadnya di jalan Allah, karena amar ma‘ruf nahi munkar nan dia lakukan, serta lantaran upayanya menegakkan kepercayaan Allah, maka ini adalah berita gembira. Karena para Nabi, Rasul, dan para ustadz pasti bakal menghadapinya. Allah ﷻ berfirman,
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِىٍّ عَدُوًّا شَيَٰطِينَ ٱلْإِنسِ وَٱلْجِنِّ يُوحِى بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ ٱلْقَوْلِ غُرُورًا
“Dan demikianlah, Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, ialah setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian nan lain perkataan-perkataan nan indah-indah untuk menipu (manusia).” (QS. Al-An’am: 112)
Ketahuilah! Ini adalah bagian dari jihadnya seorang mujahid. Mereka nan dizalimi lantaran menegakkan kepercayaan Allah ﷻ sungguh telah menjual dirinya, hartanya, dan kehormatannya kepada Allah dengan nilai nan paling agung. Harga itu digapai dengan merasa tidak punya kewenangan menuntut orang nan menyakitinya, dan tidak punya tuntutan apa pun terhadap mereka. Karena sesungguhnya pahala baginya telah tetap di sisi Allah. Oleh lantaran inilah, Nabi ﷺ melarang kaum Muhajirin untuk berambisi agar kekayaan mereka nan telah dirampas oleh orang-orang kafir dapat kembali.
[Bersambung]
Kembali ke bagian 1
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] Nukilan ini banyak didapatkan dari Referensi: https://almanhaj.or.id/72081-renungan-tentang-waktu.html
[2] Thariqatul Hijratain, hal. 279 cet. Darus Salafiyah via maktabah syamilah: https://shamela.ws/book/12029/294
English (US) ·
Indonesian (ID) ·