ARTICLE AD BOX
Allah ﷻ menggulirkan lembaran kehidupan manusia dengan segala manis pahitnya. Umumnya manusia mendapatkan banyak kenikmatan Allah ﷻ, apalagi sampai mustahil untuk menghitung nikmat-Nya di kehidupan kita. Akan tetapi, Allah ﷻ memang menakdirkan kehidupan manusia dengan kesusahan. Allah ﷻ berfirman,
لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. Al-Balad: 4)
Allah ﷻ menakdirkan manusia pasti menempuh jalan kesulitan. Bolehlah kita mengibaratkan sedang berenang di kolam susu nan luas. Betapa nikmatnya berenang sembari meminum air susu nan melegakan. Namun, tentu berenang adalah sebuah upaya nan tak mudah untuk dijalankan.
Termasuk kesulitan di bumi itu adalah bergulirnya bagian kehidupan dimana diri kita dizalimi oleh orang lain. Ini adalah takdir Allah ﷻ nan mungkin pahit dan wajib kita mengimaninya serta bersabar dengannya. Tentu dizalimi adalah keadaan nan sangat berat. Sangat mau rasanya membalaskan kezaliman itu dengan dalih meraih kewenangan nan dirampas. Namun, terkadang, justru pahitnya kezaliman itu membutakan akal. Akibatnya, justru balasannya lebih jelek dari sekadar kezaliman sebelumnya. Padahal ini adalah kesempatan kebaikan nan besar, meski memang berat dihadapi. Sehingga para ustadz banyak membahas bab adab ketika dizalimi.
Salah satu ustadz nan mempunyai risalah sangat bagus dalam membekali orang-orang terzalimi adalah Ibnul Qayyim rahimahullah. Beliau memberikan 11 perenungan nan menjadi obat penyembuh seorang hamba atas luka hati akibat gangguan hamba lainnya kepada dirinya. Ibnul Qayyim rahimahullah mengumpulkan poin-poin ini di dalam Madarijus Salikin ketika membahas bab akhlak. [1] Nikmatilah obat hati berikut ini:
Meyakini segala sesuatunya telah ditakdirkan oleh Allah ﷻ
Hal pertama nan seseorang perlu renungkan ketika dizalimi adalah bahwa bagian dizalimi ini adalah bagian dari takdir Allah ﷻ. Ketika dia mengetahui bahwa ini adalah takdir Allah ﷻ, maka dia bakal merasa tenang dan tidak terlalu gundah. Karena dia mengetahui bahwa bagian ini telah Allah ﷻ ridai untuk menjadi takdir bagi dirinya. Terlebih dia mengetahui bahwasanya Allah ﷻ adalah Zat Al-Hakim (Maha Bijaksana) dan Al-Khabir (Maha Mengetahui secara detail). Allah ﷻ berfirman,
وَهُوَ الْقَاهِرُ فَوْقَ عِبَادِهِ ۚ وَهُوَ الْحَكِيمُ الْخَبِيرُ
“Dan Dialah nan berkuasa atas sekalian hamba-hamba-Nya. Dan Dialah nan Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 18)
أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ
“Bukankah Allah Hakim nan seadil-adilnya?” (QS. At-Tin: 8)
Allah ﷻ telah mengabarkan kepada kita semua bahwa adalah sebaik-baik penentu takdir dengan nama dan sifat-Nya nan menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Lantas, masihkah kita berani memprotes takdir Allah ﷻ?
Sekiranya Anda menghadapi seorang master berkapabilitas tinggi nan memutuskan amputasi atas kaki Anda lantaran sebuah jangkitan nan dapat mematikan anda, apakah Anda tetap berani memprotes? Sekarang bayangkan lagi master itu nan menjamin kehidupan Anda dari mini sampai besar, menanggung biaya amputasi, dan perawatan hidup Anda setelah operasi. Dokter itu melakukannya lantaran kecintaan dan kasih-sayangnya kepada anda, tidak hanya sekadar berasas pengetahuan pengetahuannya.
Maka, lebih-lebih lagi Allah ﷻ kepada hamba-Nya. Dalam sebuah hadis, Nabi ﷺ menjelaskan sifat Allah ﷻ,
ﻟﻠﻪ ﺃﺭﺣﻢ ﺑﻌﺒﺎﺩﻩ ﻣﻦ ﻫﺬﻩ ﺑﻮﻟﺪﻫﺎ
“Sungguh Allah lebih sayang kepada hamba-hamba-Nya daripada ibu ini kepada anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kita ketahui bahwa kasih sayang Ibu kepada anaknya adalah kasih sayang terbesar di muka bumi ini. Namun, Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Allah ﷻ jauh lebih sayang kepada hamba-Nya melampaui sayang seorang Ibu kepada buah hatinya.
Sebagaimana asal orang mencinta, dia pasti berupaya melakukan perihal semaksimal mungkin untuk kekasihnya. Ia selalu pilihkan perihal terbaik untuknya, serta menentukan momen terindah untuknya. Meskipun terkadang itu tidak disukai kekasihnya pada saat itu. Maka, lebih-lebih lagi Allah Ar-Rahman Ar-Rahim, Dia adalah Zat nan paling rahmat kepada hamba-Nya. Tidak mungkin Allah ﷻ menjadikan momen kepahitan hidup atas seseorang, termasuk kezaliman nan dirasakan hamba-Nya, selain berbobot faedah bagi hamba tersebut. Apalagi Allah ﷻ Maha Mengetahui mana jalan nan terbaik bagi hamba-Nya. Maka, argumen ini sudah cukup untuk menjadi perenungan berbobot tatkala terpuruk dizalimi.
Kesabaran bakal melahirkan pahala nan besar dan kelapangan bagi dirinya
Hal selanjutnya nan perlu direnungi adalah bahwa keadaan dizalimi itu justru adalah kesempatan untuk mendapatkan untung besar di penghujungnya. Allah ﷻ berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang nan bersabarlah nan dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10)
Perniagaan apa nan bisa memberikan untung unlimited?! Tidak ada upaya nan selalu menguntungkan selain bertransaksi pahala sabar dengan Allah ﷻ. Tanyalah kepada pebisnis besar nan telah menjadi triliuner hari ini, apakah mereka menggapainya dengan langkah nan mudah? Apakah mereka tidak pernah merasakan ditipu, dizalimi, dan dikhianati oleh orang lain? Tentu kebanyakan mereka apalagi semuanya bakal menjawab “iya” bahwa mereka menggapainya dengan mati-matian.
Ketika ditanya lagi apakah pengorbanan itu worth-to-do alias layak untuk dilakukan, tentu mereka bakal menjawab sangat pantas. Maka, tentu seorang muslim bakal dapat lebih bersabar dan rida atas takdirnya dizalimi, lantaran dalam pikirannya punya konsep bahwa orang nan bersabar bakal mendapatkan keuntungan tak terbatas!
Tentu sangat logis sekali motivasi nan Nabi ﷺ sebutkan dalam sebuah sabda bahwa segala sengsara di bumi bakal terhapus ketika sudah mendapatkan satu celupan surga. Dalam sebuah sabda dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ berkata nan artinya,
“Didatangkan masyarakat surga nan paling sengsara di dunia. Kemudian dia dicelupkan ke dalam surga dengan sekali celupan. Kemudian dikatakan kepadanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan keburukan sekali saja? Apakah engkau pernah merasakan kesulitan sekali saja?’ Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah, wahai Rabb-ku! Aku tidak pernah merasakan keburukan sama sekali dan saya tidak pernah melihatnya tidak pula mengalamminya.” (HR. Muslim no. 2807)
Inilah untung nan Allah ﷻ janjikan bagi orang nan bersabar menghadapi kesengsaraan hidup! Sebuah janji nan cukup membikin mata terbelalak sekaligus buta dari kesulitan kehidupan. Maukah Anda mengganti untung sebesar ini dengan pelampiasan dendam nan hanya melegakan hati sesaat? Tentu orang nan berakal sehat tidak bakal memilih perniagaan semisal. Oleh lantaran itu, merenungi pahala nan Allah ﷻ janjikan bagi orang nan bersabar ketika terzalimi adalah bagian berbobot dari perjalanan mengobati luka dizalimi.
Allah ﷻ menambahkan pembebasan bagi hamba nan mengampuni
Selain Allah ﷻ memberikan pahala tak terbatas kepada orang nan bersabar ketika dizalimi dan tidak mendendam, Allah ﷻ juga berikan tambahan pembebasan jika orang tersebut mengampuni orang nan menzaliminya. Allah ﷻ menyerukan untuk bersikap pemaaf dengan janji bakal dimaafkan oleh Allah ﷻ. Dalam sebuah firman Allah ﷻ berangkaian kasus Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu nan marah ketika difitnah,
وَلۡيَعۡفُواْ وَلۡيَصۡفَحُوٓاْۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغۡفِرَ ٱللَّهُ لَكُمۡۚ وَٱللَّهُ غَفُورٞ رَّحِيمٌ
“Dan hendaklah mereka mengampuni dan berlapang dada. Apakah Anda tidak mau bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)
Ambillah faidah dari adab para salaf nan mulia! Putri kesayangannya Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, ialah Aisyah radhiyallahu ‘anha, difitnah oleh kerabatnya sendiri nan hidupnya dia nafkahi. Pantas sekali Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu marah dan memboikot orang ini. Akan tetapi, ketika Allah ﷻ perintahkan untuk mengampuni dengan janji Allah ﷻ bakal mengampuni Abu Bakr radhiyallahu ‘anhu, Ash-Shiddiq ini pun langsung memaafkan. Abu Bakr pun berkata, “Tentu, demi Allah kami menyukai Engkau mengampuni kami Duhai Rabb kami.” Beliau pun kembali untuk menyantuni dan memenuhi kebutuhan kerabatnya tersebut.
Oleh para ulama, potongan kisah ini menjadi argumen kongkrit kenapa Abu Bakr digelari Ash-Shiddiq. Inilah kemuliaan dari mengampuni orang nan menzalimi. Ia dapat menjadi saksi kebenaran ketaatan seseorang. Inilah keteladanan dari orang terbaik setelah para Nabi dan Rasulnya dari umat ini.
Keutamaan lain dari mengampuni adalah sebagaimana nan disebutkan Nabi ﷺ dalam hadis,
مَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا
“Tidak ada orang nan memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah bakal menambah kemuliaannya.” (HR. Muslim no. 4689)
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
وَفِي الصَّفْحِ وَالْعَفْوِ وَالْحِلْمِ: مِنَ الْحَلَاوَةِ وَالطُّمَأْنِينَةِ وَالسَّكِينَةِ، وَشَرَفِ النَّفْسِ، وَعِزِّهَا وَرِفْعَتِهَا عَنْ تَشَفِّيهَا بِالِانْتِقَامِ: مَا لَيْسَ شَيْءٌ مِنْهُ فِي الْمُقَابَلَةِ وَالِانْتِقَامِ.
“Dalam sifat pemaaf, mengampuni dan kelembutan (menahan diri), terdapat manisnya ketenangan dan kedamaian. Jiwa pun menjadi mulia, agung, serta tinggi. Terhadap kemauan membalas dendam, maka tidak ada dorongan untuk membalasnya.” (Madarijus Salikin, 2: 303)
Berusaha rida sebagai corak kebaikan dengan level nan lebih tinggi dan kejujuran cinta
Setelah merenungi bahwa mengampuni adalah jalan nan lebih baik daripada membalas dendam, rupanya tetap ada level nan lebih tinggi lagi. Ibnul Qayyim rahimahullah mengingatkan bahwa jika seorang nan dizalimi mau mendapatkan pahala nan jauh lebih besar, maka dia perlu berupaya rida atas takdir nan ada.
Pecinta sejati selalu rida dengan apa nan diberikan oleh kekasihnya. Berbagai kesulitan pun terasa lapang oleh pecinta ketika berangkaian dengan kekasihnya. Kalau dalam budaya Indonesia, sering diungkapkan, “Gunung manapun kan kudaki. Samudera manapun kan kuseberangi.” Ungkapan ini menunjukkan bahwa kekuatan cinta membikin pemiliknya menjadi lapang dada dengan segala rintangan ujian dalam mendapatkan kekasihnya. Maka, rida atas takdir Allah ﷻ nan pahit ketika dizalimi adalah bagian dari kejujuran cinta seorang hamba.
Jalan rida ini adalah levelnya para Nabi dan Rasul. Orang nan paling berat ujiannya adalah para Nabi dan Rasul, khususnya para rasul ulul azmi. Salah seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ, “Wahai Rasulullah, manusia manakah nan paling berat ujiannya?” Beliau ﷺ menjawab, “Para Nabi, kemudian nan semisalnya dan semisalnya lagi.” [2]
Mereka tidak hanya sabar ketika dizalimi lantaran urusan dunia, melainkan mereka rida atas kezaliman orang lain tatkala mendakwahkan kalimat tauhid. Contohnya adalah Nabi Nuh ‘alaihissalam, beliau menghadapi ujian dakwah selama 950 tahun. Tidak hanya kaumnya nan menolaknya, apalagi penolakan itu datang dari kalangan family sendiri. Tentu ini adalah perihal berat, tetapi Nabi Nuh ‘alaihissalam bermain di level sangat tinggi. Tidak hanya sekadar bersabar, tetapi Nabi Nuh ‘alaihissalam justru berterima kasih dengan banyak berzikir, sehingga digelari sebagai ‘abdan syakura (hamba nan pandai bersyukur). [3]
Inilah teladan keridaan dalam menghadapi kezaliman sesama makhluk. Siapa di antara kita nan pernah berceramah selama 950 tahun dan kebanyakan hasilnya adalah penolakan? Tentu tidak ditemukan lagi di era ini. Jelas tidak ada manusia di milenium ini nan lebih berat ujiannya secara hitungan bumi dibandingkan Nabi Nuh ‘alaihissalam. Namun, Nabi Nuh‘alaihissalam sukses melewatinya tidak hanya dengan nilai KKM, melainkan nilai cumlaude berpredikat abdan syakura.
Renungan tambahan
Masih ada 7 poin lagi nan dapat kita renungkan ketika hendak membalaskan dendam sakitnya dizalimi. Ibnul Qayyim rahimahullah menghimpun obat hati ini dengan tingkatan level dosis nan berbeda sesuai dengan kapabilitas orangnya. Tidak hanya dosis nan meningkat, tetapi juga beragam pendekatan nan sekiranya dapat meredakan gejolak dendam ketika dizalimi.
Wahai orang nan dizalimi! Jika engkau mau membalaskan dendam itu, ingatlah wasiat Nabi ﷺ ini,
فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ
“Seseorang bakal diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka dia bakal diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa bakal mendapatkan ujian hingga dia melangkah di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, Ahmad, 1: 185)
Ketahuilah! Inilah berita ceria untuk siapapun nan terluka hatinya saat ditimpa musibah. Rantai musibah nan menimpa itu adalah parameter level kepercayaan anda. Semakin berat musibah nan dihadapi, maka semakin tinggi level agamanya. Bergembiralah! Dengan berita inilah Anda dapat membakar mesin hati untuk rida atas takdirnya.
[Bersambung]
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Muslim.or.id
Referensi:
Madarijus Salikin cet. Darul Kutub Al-Arabiyah Jilid 2. Diakses via maktabah syamilah https://shamela.ws/book/8370/797
Catatan kaki:
[1] Terdapat dalam Madarijus Salikin (2: 303) cet. Darul Kutub Al-Arabiyah Beirut via maktabah syamilah. Link: https://shamela.ws/book/8370/797
[2] HR. Tirmidzi no. 2398, Ibnu Majah no. 4024, Ad-Darimi no. 2783, dan Ahmad, 1: 185.
[3] Lentera Ilahi dalam Kisah Para Nabi dan Rasul, karya Dr. Firanda Andirja (1: 154).
English (US) ·
Indonesian (ID) ·