Saat Akal Harus Tunduk kepada Wahyu

Sedang Trending 4 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Salah satu karakter utama orang bertakwa nan disebut dalam Al-Qur’an adalah mereka nan “beriman kepada nan gaib.”  Allah Ta’ala berfirman,

ٱلَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِٱلْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ ٱلصَّلَوٰةَ وَمِمَّا رَزَقْنَٰهُمْ يُنفِقُونَ

“(Yaitu) mereka nan beragama kepada nan gaib, nan mendirikan salat, dan menafkahkan sebagian rezeki nan Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 3)

Ayat ini merupakan fondasi iktikad seorang Muslim. Sebab, kehidupan manusia tidak hanya terbatas pada bumi nan terlihat, tetapi juga mencakup alam nan tak bisa dijangkau oleh pancaindra, seperti malaikat, surga, neraka, balasan kubur, dan sifat-sifat Allah Ta’ala.

Beriman kepada hal-hal gaib adalah tanda kerendahan hati di hadapan kebesaran Allah Ta’ala. Seorang mukmin menyadari bahwa ilmunya terbatas, sedangkan pengetahuan Allah Ta’ala meliputi segala sesuatu. Maka ketika wahyu datang membawa berita tentang sesuatu nan tak bisa dijangkau akal, dia tidak menolaknya. Ia menerimanya dengan penuh keyakinan, lantaran percaya bahwa nan berbincang adalah Allah nan Maha Mengetahui, dan nan menyampaikan adalah Rasul nan jujur lagi terpercaya.

Akal untuk memahami, bukan untuk menentang

Akal adalah karunia agung dari Allah Ta’ala. Dengannya manusia bisa membedakan nan betul dari nan batil, memahami perintah dan larangan, serta mengenal Tuhannya. Namun, logika bukan sumber kebenaran mutlak. Akal hanya bisa menembus hal-hal nan bisa diindra, sementara perkara gaib berada di luar jangkauannya.

Oleh lantaran itu, para ustadz Ahlus Sunnah menjelaskan bahwa logika digunakan untuk memahami dan membenarkan wahyu, bukan untuk menolak dan menyelewengkannya. Imam Ahmad rahimahullah berkata,

لا يُوصَفُ اللهُ إلا بما وصف به نفسَهُ أو وصفه به رسولُه… لا يتجاوز القرآن والحديث

“Allah tidak boleh disifati selain dengan apa nan Dia sifati bagi diri-Nya alias nan Rasul-Nya sifati; tidak boleh melampaui al-Qur’an dan hadis.” (Majmû‘ al-Fatâwâ, 5: 26)

Perkataan ini menjadi norma agung dalam masalah akidah. Imam Ahmad rahimahullah menegaskan bahwa hal-hal gaib dan sifat-sifat Allah hanya boleh dibicarakan berasas nash nan sahih, dan tidak boleh diukur dengan logika manusia. Sebab, wilayah gaib adalah milik wahyu, bukan ruang untuk spekulasi logika. Barang siapa memaksakan akalnya untuk menembus apa nan Allah Ta’ala sembunyikan, dia bakal tersesat dalam keraguan.

Sikap ahlus sunnah terhadap sifat Allah dan hal-hal gaib

Dalam perkara-perkara gaib seperti sifat-sifat Allah (misalnya tangan, wajah, turun ke langit dunia, dan beristiwa di atas ‘Arsy), Ahlus Sunnah wal Jama‘ah bersikap setara dan beradab. Mereka menetapkan sebagaimana datangnya dalam nash, tanpa menyerupakan (tasybîh), tanpa menolak (ta‘thîl), tanpa menyelewengkan makna (tahrîf), dan tanpa menanyakan “bagaimana” (takyîf).

Salah satu contoh penerapan prinsip sebagaimana ucapan Imam Ahmad sebelumnya di atas tampak pada ucapan Imam Malik bin Anas rahimahullah. Diriwayatkan secara masyhur bahwa ketika beliau ditanya tentang firman Allah,

ٱلرَّحْمَٰنُ عَلَى ٱلْعَرْشِ ٱسْتَوَىٰ

“Yang Maha Pengasih beristiwa di atas ‘Arsy” (QS. Thaha: 5),

beliau menjawab,

الاستواء معلوم، والكيف مجهول، والإيمان به واجب، والسؤال عنه بدعة

“Al-istiwa’ itu ma‘lum (maknanya diketahui), kaifiyyah-nya majhûl (tatacaranya tidak diketahui), beragama kepadanya wajib, dan bertanya tentang bagaimana-nya adalah bid‘ah.” (Diriwayatkan dalam Al-Atsar al-Masyhûr ‘an al-Imâm Mâlik fî Sifati al-Istiwa’, hal. 15; lihat juga Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam Fath al-Bârî, 13: 406)

Ucapan Imam Malik ini menjadi norma besar dalam manhaj Ahlus Sunnah wal Jama‘ah. Mereka meyakini bahwa Allah Ta’ala mempunyai sifat-sifat sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, namun tidak menyerupai makhluk dalam sifat apa pun, sebagaimana firman-Nya,

لَيْسَ كَمِثْلِهِۦ شَىْءٌ ۖ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun nan serupa dengan Dia, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syûrâ: 11)

Karena itu, ketika disebut bahwa Allah beristiwa di atas ‘Arsy, seorang mukmin tidak membayangkan gimana caranya. Ia cukup beragama sebagaimana datang dalam nash, lantaran prinsip “bagaimana” itu hanya diketahui oleh Allah.

Demikian pula halnya dengan turunnya Allah ke langit bumi pada sepertiga malam terakhir, keberadaan balasan kubur, nikmat surga, dan kedahsyatan neraka, semuanya benar, walaupun logika manusia tidak bisa membayangkannya. Seorang mukmin nan jujur cukup berkata,

سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا

“Kami dengar dan kami taati.” (QS. Al-Baqarah: 285)

Akal tidak bisa menimbang kadar dosa

Salah satu bukti paling nyata bahwa logika manusia tidak bisa dijadikan tolok ukur kebenaran adalah ketika menilai besar kecilnya dosa. Secara logika, banyak orang bakal mengira bahwa membunuh manusia, mencuri, alias bercabul jauh lebih berat dosanya daripada sekadar menyembelih hewan dengan niat selain untuk Allah. Namun, wahyu membalik pandangan itu sepenuhnya.

Dalam pandangan syariat, menyembelih hewan bukan lantaran Allah termasuk dosa syirik akbar, dosa nan paling besar dan tidak bakal diampuni jika pelakunya meninggal tanpa tobat. Adapun pembunuhan, zina, mencuri, dan dosa besar lainnya, meskipun sangat berat, tetap mungkin diampuni oleh Allah andaikan pelakunya bertobat dengan tulus.

Akal mungkin susah menerima bahwa perbuatan nan tampak ringan, seperti mempersembahkan sembelihan untuk selain Allah, bisa lebih berat daripada membunuh manusia. Namun, di sinilah ujian ketaatan sesungguhnya. Orang beragama menimbang dosa bukan dengan logika, tetapi dengan timbangan wahyu. Ia tunduk kepada keputusan Allah, lantaran Allah sendiri telah menegaskan,

يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ ۖ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Wahai anakku, janganlah engkau mempersekutukan Allah, sesungguhnya syirik itu betul-betul kezaliman nan besar.” (QS. Luqmân: 13)

Syirik adalah corak kezaliman terbesar, lantaran menempatkan makhluk sejajar dengan Sang Pencipta. Ia bukan sekadar pelanggaran terhadap aturan, tetapi pengkhianatan terhadap kewenangan Allah untuk disembah semata.

Akal manusia tidak bisa menilai kedalaman makna ini, karena logika hanya memandang dari sisi lahir: penderitaan, kerugian, alias akibat sosial. Sedangkan wahyu memandang dari sisi hakikat: siapa nan dilanggar dan siapa nan dilawan. Dosa terhadap makhluk memang berat, tetapi dosa terhadap Allah, khususnya kesyirikan, jauh lebih dahsyat.

Maka, siapa nan memahami perihal ini bakal sadar bahwa ukuran betul dan salah bukan ditentukan oleh logika, tetapi oleh petunjuk Allah. Seorang mukmin sejati menyerahkan penilaiannya kepada wahyu, lantaran dia tahu: logika bisa keliru menimbang dosa, tetapi wahyu tidak pernah salah menunjukkan jalan kebenaran.

Bahaya menjadikan logika sebagai pengadil atas wahyu

Sejarah menunjukkan banyaknya golongan sesat nan tersesat lantaran menjadikan logika sebagai pengadil di atas nash. Kaum Mu‘tazilah dan Jahmiyyah, misalnya, mereka menolak ayat-ayat tentang sifat Allah lantaran dianggap tidak logis. Mereka menakwil maknanya agar sesuai dengan makulat manusia. Padahal, logika manusia tidak layak menilai wahyu Rabbul ‘alamin.

Menolak wahyu lantaran logika tidak bisa membayangkan hakikatnya adalah corak kesombongan terhadap Allah. Bukankah manusia tidak memandang ruhnya sendiri, namun percaya bahwa dia hidup? Bukankah manusia tidak memandang malaikat, namun percaya mereka ada? Maka gimana mungkin dia menolak buletin dari Allah hanya lantaran tak sesuai dengan bayangannya?

Orang nan mendahulukan ketaatan di atas logika bakal merasakan ketenangan nan luar biasa. Ia tidak terseret oleh keraguan, tidak terguncang oleh perihal nan tidak bisa dijelaskan secara logika. Ia percaya bahwa berita dari Allah pasti benar, janji-Nya pasti nyata, dan ancaman-Nya pasti terjadi.

Ia beragama bahwa Allah melihatnya meski dia tidak memandang Allah. Ia takut kepada balasan kubur meski belum pernah memandang kubur nan terbuka. Ia merindukan surga meski belum mencium harumnya. Inilah ketenangan nan hanya dimiliki orang beriman: kepercayaan nan tidak berjuntai pada penglihatan, tapi pada kepercayaan penuh kepada Rabbnya.

Tundukkan akal, tegakkan iman

Saudaraku, logika adalah cahaya, tapi dia hanya bercahaya ketika mendapat petunjuk dari wahyu. Jika dijadikan sumber kebenaran, dia bakal menyesatkan. Karena itu, dalam urusan nan gaib dan dalam hal-hal nan tak terjangkau logika, seperti sifat-sifat Allah, kehidupan akhirat, dan kadar dosa, maka kedepankan iman, bukan debat akal.

Percayalah, bahwa apa nan datang dari Allah pasti benar, meski tak bisa dijangkau oleh logika manusia. Orang nan menundukkan akalnya di hadapan wahyu bakal ditinggikan derajatnya, lantaran dia menempatkan diri sebagai hamba nan tunduk, bukan pengadil atas agama.

Dan kelak di akhirat, ketika mata telah memandang kebenaran nan dulu hanya diimani, mereka bakal menyesal nan dulu berkata, “Kami tidak percaya sebelum melihat.” Sedangkan orang beragama bakal tersenyum, lantaran dia sudah percaya sejak di dunia.

Wallahu a‘lam bish-shawâb.

Baca juga: Tuntunan Syariat dalam Menyikapi Perbedaan Akal Manusia

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info