Ramadan dan Kesempatan Emas yang Sering Disia-Siakan

Sedang Trending 4 minggu yang lalu
ARTICLE AD BOX

Bulan Ramadan adalah musim kebaikan nan paling agung dalam kehidupan seorang muslim. Sebuah momentum besar untuk memperbaiki hubungan dengan Allah Ta’ala dan meningkatkan kualitas ibadah.

Kesempatan berupa nyawa nan tetap diberikan, kesehatan, ilmu, ekonomi, dan keahlian nan dianugerahkan kepada Allah kepada kita sehingga kita bisa menjalani ibadah nan agung ini adalah nikmat nan sangat besar. Nikmat nan sungguh sangat dirindukan oleh orang-orang nan telah mendahului kita, nan mungkin mereka menginginkan kembali ke bumi untuk beramal sesaat saja. Inilah gambaran sungguh bulan mulia ini ibadah seorang hamba dilipatgandakan.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala,

حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ ۚ كَلَّا

“Sehingga andaikan datang kematian kepada salah seorang dari mereka, dia berkata, ‘Ya Rabbku, kembalikanlah saya (ke dunia), agar saya dapat melakukan kebaikan saleh terhadap apa nan telah saya tinggalkan.’ Sekali-kali tidak…” (QS. Al-Mu’minun: 99–100)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan berita ceria kepada para sahabatnya ketika Ramadan datang, lantaran bulan ini adalah bulan keberkahan, ampunan, dan rahmat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila Ramadan datang, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no. 1899 dan Muslim no. 1079)

Ramadan adalah kesempatan emas untuk memperbanyak kebaikan saleh. Jalan menuju kebaikan dibuka lebar, sementara penghalang-penghalang ketaatan dipersempit. Oleh lantaran itu, seorang muslim hendaknya menyambut Ramadan dengan persiapan iman, ilmu, dan amal, sebagaimana seorang pedagang bersiap menghadapi musim untung besar.

Bahkan, kita bisa membayangkan bahwa bisa jadi ini merupakan kesempatan terakhir kita untuk beramal di bulan Ramadan. Tidak ada nan tahu, bisa jadi Ramadan tahun depan kita telah kembali ke asal (kubur) lantaran jatah hidup kita sampai disini.

Maka, sangat layak bagi kita untuk betul-betul menjadikan momentum ‘akhir’ ini sebagai persembahan terbaik kita kepada Allah Ta’ala dengan segala kebaikan saleh nan bisa kita kerjakan semaksimal nan kita bisa sesuai petunjuk sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang nan beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Keutamaan kebaikan di bulan Ramadan

Salah satu keistimewaan Ramadan adalah dilipatgandakannya pahala kebaikan saleh. Bacalah sejarah umat-umat Nabi terdahulu, Allah Ta’ala memberikan mereka umur nan panjang hingga ratusan tahun. Sementara kita, umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Allah batasi dalam rentang 60 – 70 tahun. Namun, Allah memberikan keistimewaan kepada kita berupa keberkahan dan pahala nan berlipat dobel atas kebaikan saleh nan kita kerjakan pada bulan nan mulia ini dengan syarat adanya keikhlasan dan mengikuti petunjuk nabawi.

Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa puasa mempunyai kedudukan spesial di sisi Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Allah Ta’ala berfirman: Semua kebaikan anak Adam adalah untuknya, selain puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku nan bakal membalasnya.” (HR. Bukhari no. 1904 dan Muslim no. 1151)

Berbicara tentang keikhlasan, maka dalam ibadah puasa ini, tuntutan terhadap keikhlasan seorang hamba untuk mempersembahkan ibadahnya hanya kepada Allah; sangat dituntut. Demikianlah jika kita coba merenungi makna sabda di atas. Betapa ibadah puasa menjadi spesial di hadapan Allah Ta’ala. Oleh karenanya, inilah waktu terbaik untuk memperbanyak ibadah.

Banyak kebaikan ibadah nan dapat kita lakukan di bulan mulia ini, nan kadang terlihat ringan dikerjakan, tapi jika tidak didorong oleh kemauan nan kuat untuk memperoleh ganjaran pahala dari Allah, maka bakal terasa berat. Jika kita tidak membekali pengetahuan tentang kemuliaan amalan-amalan saleh ini, khususnya di bulan Ramadan, maka semua terasa biasa saja. Oleh karena itu, mari bekali diri dengan ilmu, dan maksimalkan ibadah-ibadah mulia seperti: salat malam (tarawih), tilawah Al-Qur’an, sedekah, zikir, doa, i’tikaf, dan beragam ibadah ibadah lain sesuai petunjuk Nabi.

Keutamaan Lailatul Qadar

Di antara keistimewaan terbesar Ramadan adalah adanya Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. Persiapkanlah diri untuk momentum agung nan setara dengan seribu bulan ini. Sungguh, tidak ada orang nan lebih rugi dari mereka nan tidak memaksimalkan dan memanfaatkan kesempatan beragama pada malam Lailatul Qadar.

Allah Ta’ala berfirman,

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 3)

Saudaraku, bayangkan bahwa seribu bulan setara dengan lebih dari 83 tahun. Ini menunjukkan sungguh besar rahmat Allah kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Rasulullah bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa menghidupkan Lailatul Qadar dengan ketaatan dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya nan telah lalu.” (HR. Bukhari no. 1901 dan Muslim no. 760)

Berdasarkan sabda tersebut, kita memahami bahwa satu malam ibadah dapat mengubah kehidupan seorang hamba selamanya. Di sinilah kesempatan bagi kita untuk ikhtiar mengimbangi ibadah umat-umat Nabi terdahulu nan diberkahi dengan umur panjang. Sementara kita, meski tidak mempunyai umur sepanjang mereka, tapi kita berkahi dengan keberkahan momentum ibadah seperti Ramadan dan Lailatul Qadar.

Baca juga: Carilah Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Kedermawanan Rasulullah di bulan Ramadan

Di bulan ini, ketaatan nan betul tidak berakhir pada salat dan tilawah, namun melahirkan empati, kepedulian, dan kedermawanan. Dan teladan terbesar dalam perihal ini adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bukan hanya manusia paling dermawan, tetapi kedermawanan beliau mencapai puncaknya pada bulan Ramadan.

Dari Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhuma, beliau berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ

“Rasulullah adalah manusia nan paling dermawan, dan beliau lebih murah hati lagi pada bulan Ramadan ketika Jibril menemuinya. Jibril menemuinya setiap malam di bulan Ramadan, lampau mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an bersamanya. Sungguh, Rasulullah lebih murah hati dalam kebaikan daripada angin nan berhembus.” (HR. Bukhari no. 6 dan Muslim no. 2308)

Dalam riwayat tersebut dijelaskan bahwa ketika malaikat Jibril ‘alaihissalam datang menemui beliau setiap malam di bulan Ramadan untuk mengajarkan dan mengulang Al-Qur’an, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi lebih murah hati daripada angin nan berhembus. Angin berdesir cepat, menyentuh siapa saja tanpa pilih kasih, dan memberi faedah luas. Demikian pula infak Nabi: cepat, tepat, dan menjangkau banyak orang.

Kedermawanan beliau lahir dari hati nan penuh kepercayaan bahwa bumi hanyalah titipan, dan bahwa apa nan disedekahkan tidak pernah mengurangi harta, justru menambah keberkahan. Ramadan mempertemukan dua kekuatan besar dalam diri seorang mukmin: tilawah nan menghidupkan hati dan infak nan melembutkan jiwa. Maka, siapa nan betul-betul merasakan manisnya Ramadan, dia bakal ringan tangan membantu sesama, memberi makan orang nan berbuka, memperhatikan fakir miskin, dan memperluas faedah untuk orang lain. Inilah bukti bahwa Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar, tetapi tentang melapangkan hati.

Menghargai waktu di bulan Ramadan

Ramadan adalah bulan nan singkat, namun nilainya sangat besar. Hari-harinya terbatas, malam-malamnya terhitung, dan setiap detiknya berbobot pahala. Oleh lantaran itu, seorang muslim kudu betul-betul menjaga waktunya dari perkara sia-sia nan tidak mendekatkannya kepada Allah.

Allah Ta’ala berfirman,

أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ

“(Puasa itu) dalam beberapa hari nan terbilang.” (QS. Al-Baqarah: 184)

Ungkapan “ayyāman ma‘dūdāt” menunjukkan sungguh cepatnya hari-hari itu berlalu. Ramadan tidak lama. Ia datang sebentar, lampau pergi meninggalkan bekas. Bagi nan memanfaatkannya, dia meninggalkan pahala; bagi nan lalai, dia meninggalkan penyesalan. Betapa banyak orang nan tahun lampau tetap berbareng kita, namun sekarang telah berada di alam kubur dan tidak lagi mempunyai kesempatan untuk berpuasa satu hari pun.

Karena memahami perihal ini, para ustadz Salaf sangat menjaga waktu mereka di bulan Ramadan. Mereka memperbanyak tilawah Al-Qur’an, apalagi sebagian dari mereka mengkhatamkannya berkali-kali. Mereka mengurangi pembicaraan nan tidak bermanfaat, menjauhi majelis sia-sia, dan memfokuskan diri pada salat, zikir, doa, serta i’tikaf. Imam Malik rahimahullah ketika memasuki Ramadan meninggalkan majelis sabda dan konsentrasi membaca Al-Qur’an. Mereka sadar bahwa Ramadan adalah musim panen, bukan musim santai.

Mereka memahami bahwa Ramadan adalah kesempatan nan mungkin tidak bakal kembali. Seorang mukmin sejati tidak tertipu oleh panjangnya angan-angan. Ia menyadari bahwa bisa jadi ini adalah Ramadan terakhirnya. Oleh lantaran itu, dia berupaya agar tidak ada satu malam pun berlalu tanpa qiyamullail, tidak ada satu hari pun berlalu tanpa tilawah, dan tidak ada satu kesempatan pun terlewat tanpa amal.

Ramadan adalah karunia besar dari Allah Ta’ala. Tidak semua orang diberi kesempatan untuk berjumpa dengannya. Ada nan telah wafat sebelum dia datang, ada nan hidup tetapi tidak diberi kekuatan untuk beragama secara optimal.

Semata-mata berjumpa dengan Ramadan adalah nikmat nan sangat agung. Namun, berjumpa saja tidak cukup. nan lebih krusial adalah diberi taufik untuk mengisinya dengan ketaatan. Sebab banyak orang nan datang secara bentuk di bulan Ramadan, tetapi hatinya lalai dan waktunya lenyap dalam perkara nan tidak berbobot akhirat.

Oleh lantaran itu, seorang muslim hendaknya senantiasa memohon pertolongan kepada Allah agar dimudahkan dalam beribadah. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تَوْفِيقِي إِلَّا بِاللَّهِ

“Dan tidak ada taufik bagiku selain dengan pertolongan Allah.” (QS. Hud: 88)

Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita termasuk orang-orang nan sukses memanfaatkan Ramadan, mengampuni dosa-dosa kita, menerima kebaikan ibadah kita, dan mempertemukan kita dengan Lailatul Qadar.

Aamiin. Wallahu a’lam.

Baca juga: Apa Amalan Terbaik di Bulan Ramadan?

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info