Peristiwa Fitnah Ibnul Asy’ats

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Ada tragedi kelam nan dikenal dengan tuduhan Ibnul Asy’ats. “Fitnah” di sini maknanya adalah perang dan kekacauan. Semoga peristiwa ini menjadi pelajaran bagi kita semua.

Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi pada tahun 81 H, saat dia menjabat menjadi gubernur Irak, dia mengirim sebuah pasukan besar nan dipimpin oleh ‘Abdurrahman bin Muhammad bin al-Asy‘ats, alias Ibnul Asy’ats, menuju raja Turki Ratbil. Dengan tujuan membalas dendam kaum Muslimin terhadap raja tersebut. Raja ini sebelumnya sukses mengepung pasukan Muslimin di antara pegunungan. Setelah dia mengalahkan mereka dan memasuki negerinya, terbunuhlah dari kaum Muslimin sekitar 30.000 orang.

Al-Hajjaj kemudian melimpahkan kekayaan nan sangat banyak kepada pasukan ini dan memberikan beragam pemberian kepada mereka. Pasukan itu pun dinamai “Jaisy ath-Thawawis” (Pasukan Burung Merak) lantaran banyaknya kekayaan nan dicurahkan kepada mereka. Jumlah pasukan tersebut mencapai 120.000 orang.

Al-Hajjaj memerintahkan mereka agar terus bergerak menuju raja Turki dan tidak meninggalkannya sampai mereka menumbangkan kerajaan dan kekuasaannya.

Ibnul-Asy‘ats pun berangkat berbareng pasukan itu. Di dalamnya terdapat banyak para ustadz dan mahir ibadah dari Irak, serta orang-orang berilmu dan orang-orang nan utama.

Ibnul-Asy‘ats mulai dengan pasukannya mengalahkan pasukan raja Turki dan masuk jauh ke negerinya, menaklukkan satu wilayah demi wilayah, hingga datang musim dingin. Setelah Ibnul Asy‘ats berkonsultasi dengan para ulamanya, dia memutuskan berakhir sementara dari peperangan. Agar dapat memperbaiki wilayah nan telah ditaklukkannya dan memperkuat pertahanan di sana, hingga musim dingin berlalu. Penduduk nan dimintai pendapat pun menyetujui sarannya. Lalu dia menulis surat kepada al-Hajjaj untuk memberitahukan niatnya tersebut.

Baca juga: Makna Fitnah Dalam Al-Qur’an

Sejak saat itu, terjadi permusuhan dan kebencian antara al-Hajjaj dan Ibnul Asy‘ats. Al-Hajjaj menjadi sangat marah ketika surat Ibnul Asy‘ats sampai kepadanya, lantaran Ibnul Asy‘ats menyelisihi perintahnya untuk tidak berakhir sampai raja Ratbil ditumbangkan. Maka al-Hajjaj mengirim surat jawaban kepada Ibnul Asy‘ats dengan kata-kata nan keras dan kasar, dia menuduhnya sebagai pengecut, lemah, dan tidak mempunyai keteguhan pendapat, serta memerintahkannya untuk terus bergerak menuju raja Turki. 

Ketika surat itu sampai kepada Ibnul Asy‘ats, dia mengumpulkan seluruh sahabatnya dan memberitahukan kepada mereka isi surat al-Hajjaj, serta menyampaikan apa nan diperintahkan dan gimana penilaian al-Hajjaj terhadap dirinya. Maka mereka semua berkata, “Kita tidak bakal mendengar dan tidak bakal alim kepada musuh Allah (yaitu al-Hajjaj).”

Kemudian salah seorang dari mereka berdiri dan berbincang menentang al-Hajjaj, menyebut kezalimannya dan keburukan-keburukannya. Lalu dia menyeru untuk mencabut baiat terhadap al-Hajjaj dan membaiat Ibnul Asy‘ats sebagai pemimpin. Orang-orang pun bangkit dari tempat duduk mereka dan membaiat Ibnul Asy‘ats dan mencabut baiat terhadap al-Hajjaj.

Ibnul Asy‘ats kemudian mengirim utusan kepada raja Turki Ratbil untuk mengusulkan perdamaian. Sehingga sisi perbatasannya aman, dan dia dapat memusatkan perhatian untuk memerangi al-Hajjaj. Maka kaum Turki Ratbil pun berangkat bertempur dengan Ibnul Asy‘ats berbareng pasukan ath-Thawawis menuju Irak untuk memerangi kaum Muslimin, setelah sebelumnya pasukan itu diarahkan untuk memerangi orang-orang musyrikin Turki.

Ketika mereka berada di tengah perjalanan, sebagian pasukan berkata, “Kita tidak mencabut baiat al-Hajjaj selain lantaran kita telah mencabut baiat kepada ‘Abdul Malik bin Marwan, lantaran dialah pemimpin dari al-Hajjaj.” Mereka pun mencabut baiat terhadap ‘Abdul Malik bin Marwan.

Ibnul Asy‘ats berupaya mengangkat al-Muhallab bin Abi Shufrah untuk memimpin wilayah Khurasan, lampau dia menulis surat kepadanya. Namun al-Muhallab enggan menerima. Ia justru menulis surat jawaban kepada Ibnul Asy‘ats, memperingatkannya dari ancaman mecabut tongkat ketaatan kaum Muslimin dan memecah-belah persatuan mereka.

Ketika Ibnul Asy‘ats sampai di Irak, banyak orang Irak terprovokasi hingga membaiatnya. Ibnul Asy‘ats pun sukses mengalahkan pasukan al-Hajjaj dalam beragam pertempuran, hingga dia memasuki Bashrah, dan mereka sepakat untuk mencabut baiat al-Hajjaj dan ‘Abdul Malik secara umum.

Penduduk Bashrah, baik dari kalangan fuqaha, para qari (penuntut ilmu), para ustadz senior, maupun para pemuda, sebagian dari mereka ikut serta. Al-Hasan al-Bashri berdiri memperingatkan manusia dari tuduhan ini dan mengingatkan mereka tentang tanggungjawab nan Allah tetapkan berupa berpegang teguh kepada jemaah, serta bersabar atas kezaliman al-Hajjaj.

Beliau rahimahullah berkata, “Sesungguhnya al-Hajjaj adalah balasan dari Allah, maka janganlah kalian menghadapi balasan Allah dengan maksiat! Wajib atas kalian bersikap tenang dan tunduk kepada Allah. Karena sesungguhnya Allah Ta‘ala berfirman (yang artinya), “Sungguh Kami telah menimpakan balasan kepada mereka, tetapi mereka tidak merendahkan diri kepada Rabb mereka dan tidak pula tunduk.” (QS. al-Mu’minūn: 76) [selesai perkataan al-Hasan].

Mujahid bin Jabr (ulama tabi’in) dan selainnya pun bangkit memperingatkan manusia dari tuduhan ini serta memerintahkan mereka untuk tetap berbareng jemaah. Namun kebanyakan masyarakat Irak tidak mendengarkan nasihat-nasihat ini, dan mereka terus larut dalam tuduhan tersebut.

Ibnul Asy‘ats sukses memasuki Kufah, lampau kebanyakan penduduknya membaiatnya. Para pengikutnya pun semakin banyak, ancaman pun membesar, dan tuduhan semakin dahsyat.

Ibnul Asy‘ats bisa mengalahkan pasukan-pasukan al-Hajjaj setiap kali mereka berjumpa dalam pertempuran, hingga jumlah pertempuran nan dia menangkan melampaui 80 pertempuran.

‘Abdul Malik bin Marwan berupaya meredakan tuduhan ini. Ia menawarkan kepada Ibnul Asy‘ats dan orang-orang nan bersamanya agar al-Hajjaj dicopot dari Irak, dan agar Ibnul Asy‘ats diangkat memimpin atas wilayah-wilayah nan telah dia kuasai. Namun, Ibnul Asy‘ats dan para sahabatnya menolak tawaran tersebut.

Setelah itu, al-Hajjaj berupaya memusatkan pertempuran pada pasukan para qari (penuntut ilmu) dan para ulama, lantaran merekalah pusat kekuatan dan semangat juang dalam pasukan Ibnul Asy‘ats. Hingga akhirnya, dia sukses mematahkan mereka. Kekalahan pun menimpa pasukan Ibnul Asy‘ats, para pengikutnya tercerai-berai, dan dia pun melarikan diri menuju negeri Turki hingga masuk ke dalam perlindungan Ratbil.

Al-Hajjaj menulis surat kepada raja Ratbil, mengancamnya, dan menuntut agar Ibnul Asy‘ats diserahkan. Maka Ratbil merasa takut, lampau mengirim Ibnul Asy‘ats kepada al-Hajjaj. Dalam perjalanan, Ibnul Asy‘ats bunuh diri menjatuhkan dirinya dari puncak sebuah tembok nan tinggi hingga mati. Kepalanya kemudian dibawa kepada al-Hajjaj. Lalu al-Hajjaj memerintahkan agar kepalanya diarak di Irak, kemudian dikirimkan kepada ‘Abdul Malik bin Marwan di Syam, dan disalib di sana.

Al-Hajjaj kemudian menangkap satu per satu orang nan terlibat dalam tuduhan ini, dan peperangan pun terus berkecamuk di kalangan masyarakat Irak, hingga jumlah orang nan dibunuh al-Hajjaj dalam tuduhan ini mencapai 130.000 orang. Di antaranya terdapat 4.000 orang dari kalangan ulama, mahir ibadah, dan orang-orang nan mempunyai keutamaan. 

Pelajaran besar dari kisah ini adalah tentang larangan memberontak kepada ulil amri walaupun zalim. Sebagaimana ditunjukkan oleh dalil-dalil Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijma’ ulama. Dan pemberontakan kepada ulil amri lebih besar kerusakannya daripada kerusakan nan ditimbulkan oleh ulil amri nan zalim.

Wallahu a’lam.

Baca Juga: Jalan Keselamatan di Zaman Fitnah

*** 

Penulis: Yulian Purnama

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

Disarikan dari kitab Hukmul Muzhaharat fil Islam, karya Syekh Ahmad bin Sulaiman bin Ayyub, hal. 198-200.

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info