ARTICLE AD BOX
Banda Aceh, NU Online
Hari Lahir (Harlah) ke-74 Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) menjadi momentum krusial untuk kembali menegaskan bahwa peningkatan mutu pendidikan kudu melangkah seiring dengan upaya memperjuangkan kesejahteraan guru.
Peringatan harlah tahun ini mengusung tema Guru Unggul, Pendidikan Bermutu, Indonesia Maju. Tema tersebut dinilai tidak hanya relevan dengan tantangan pendidikan nasional saat ini, tetapi juga menjadi pengingat bahwa pembimbing kudu ditempatkan sebagai pilar utama dalam pembangunan sumber daya manusia.
Ketua Pergunu Aceh, Tgk Muslem Hamdani, menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak bakal betul-betul maju tanpa keberpihakan nan nyata terhadap guru.
“Peringatan Harlah ke-74 Pergunu ini kudu menjadi momentum untuk memperkuat perjuangan terhadap kesejahteraan guru. Guru tidak boleh lagi diposisikan sebagai pelengkap, tetapi sebagai pusat dalam pembangunan pendidikan,” ujarnya.
Menurutnya, tema tersebut mengandung pesan nan jelas bahwa pembimbing unggul hanya dapat lahir dalam sistem pendidikan nan memberi perhatian serius pada penguatan kapasitas, perlindungan, dan kesejahteraan.
Ia menilai, hingga sekarang tetap banyak pembimbing nan menghadapi beragam keterbatasan, baik dari sisi kesejahteraan, fasilitas, maupun ruang pengembangan kompetensi. Padahal, di tangan pembimbing masa depan generasi bangsa dibentuk.
“Kalau kita mau pendidikan bermutu, maka pembimbing kudu dimuliakan. Kesejahteraan pembimbing bukan rumor pinggiran, tetapi bagian inti dari kemajuan pendidikan itu sendiri,” tambahnya.
Tgk Muslem juga menegaskan bahwa Pergunu sebagai badan otonom Nahdlatul Ulama bakal terus mengambil peran dalam memperjuangkan kepentingan pembimbing sekaligus memperkuat kualitas pendidikan di tengah masyarakat.
Menurutnya, organisasi pembimbing tidak boleh hanya datang dalam momentum seremonial, tetapi kudu menjadi ruang perjuangan nyata bagi para pendidik.
Sementara itu, Ketua Pergunu Pidie, Tgk Syarifuddin, menilai harlah ke-74 menjadi saat nan tepat untuk memperkuat konsolidasi pembimbing Nahdliyin dalam menjawab tantangan pendidikan nan semakin kompleks.
“Harlah ini bukan sekadar peringatan tahunan, tetapi momentum untuk memperkuat khidmah pembimbing dalam membangun peradaban. Guru kudu terus didorong menjadi sosok unggul, tetapi negara dan semua pihak juga kudu datang menjamin kesejahteraannya,” ujarnya.
Ia mengatakan, pembimbing saat ini dituntut bisa beradaptasi dengan perkembangan zaman, perubahan kurikulum, serta tantangan moral dan sosial generasi muda. Karena itu, pembimbing memerlukan support nan utuh, tidak hanya dalam tuntutan profesional, tetapi juga agunan hidup nan layak.
Menurutnya, kesejahteraan pembimbing merupakan bagian dari upaya menciptakan ekosistem pendidikan nan sehat. Ketika pembimbing hidup dalam keterbatasan, maka semangat dan kualitas pengajaran turut terpengaruh.
“Guru bukan hanya mengajar, tetapi mendidik karakter, menanamkan nilai, dan membangun masa depan bangsa. Karena itu, memperjuangkan kesejahteraan pembimbing sejatinya adalah memperjuangkan masa depan pendidikan,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa Pergunu kudu terus menjadi rumah perjuangan para guru, khususnya dalam memperkuat solidaritas, meningkatkan kompetensi, dan menjaga martabat pekerjaan di tengah perubahan zaman.
Bagi Pergunu, lanjutnya, pembimbing tidak boleh hanya dipandang sebagai pelaksana teknis pendidikan, tetapi sebagai tokoh krusial dalam membangun kualitas umat dan bangsa.
Momentum harlah ke-74 ini, menurutnya, juga kudu dimaknai sebagai rayuan moral bagi para pemangku kebijakan agar lebih serius menghadirkan kebijakan nan berpihak kepada guru.
“Kalau kita mau Indonesia maju, maka pembimbing kudu lebih dulu diperkuat. Jika pembimbing sejahtera, insyaallah pendidikan bakal lebih bermutu,” pungkasnya.
Peringatan Harlah ke-74 Pergunu menjadi pengingat bahwa perjuangan pembimbing tidak berakhir di ruang kelas, melainkan juga pada upaya menegakkan kesejahteraan, penghormatan, dan martabat sebagai pendidik bangsa.
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·