ARTICLE AD BOX
Dalam praktik keberagamaan, tidak sedikit orang nan mengira bahwa semakin banyak meninggalkan perkara nan meragukan —bahkan nan asalnya mubah—, maka semakin tinggi pula derajat ketakwaannya. Di titik ini, istilah wara‘ sering diklaim, padahal nan terjadi justru waswas. Fikih tidak memandang perkara ini dari kesan lahiriah semata, tetapi dari landasan dalil, kaidah, dan metodologi penetapan hukum. Sebab, antara wara‘ dan waswas terdapat perbedaan mendasar, baik secara konsep maupun implikasi hukumnya.
Definisi wara‘ menurut ulama
Secara bahasa, wara‘ berfaedah menahan diri. Adapun secara istilah, para ustadz mendefinisikannya sebagai sikap menjauh dari perkara nan jelas alias kuat dugaan dikhawatirkan membawa kepada nan haram, berasas dalil alias indikasi nan sah.
An-Nawawī rahimahullāh berkata,
الْوَرَعُ هُوَ تَرْكُ الشُّبُهَاتِ وَالْحَذَرُ مِنَ الْمُحَرَّمَاتِ
“Wara‘ adalah meninggalkan perkara syubhat dan berhati-hati dari hal-hal nan haram.” (al-Majmū‘, 1: 28)
Rasulullah ﷺ bersabda,
فَمَنِ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ فَقَدِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ
“Barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, maka dia telah membersihkan kepercayaan dan kehormatannya.” (HR. al-Bukhārī no. 52; Muslim no. 1599)
Hadis ini menjadi landasan utama wara‘, namun tidak berdiri sendiri, lantaran syubhat dalam fikih bukan sekadar “terasa ragu”, melainkan mempunyai dasar ijtihadi nan diakui.
Hakikat waswas dan status hukumnya
Waswas berbeda secara substansial. Ia bukan kehati-hatian nan berdasarkan ilmu, melainkan keraguan nan muncul tanpa dalil, berulang, dan susah dikendalikan.
Ibnu Qudāmah rahimahullāh menegaskan,
الْوَسْوَاسُ مَرَضٌ يُفْسِدُ الدِّينَ وَيُتْعِبُ الْمُتَدَيِّنَ
“Waswas adalah penyakit nan merusak kepercayaan dan melelahkan orang nan beribadah.” (al-Mughnī, 1: 164)
Dalam banyak bab fikih —thaharah, salat, dan muamalah— para ustadz sepakat bahwa waswas tidak boleh dijadikan dasar hukum.
Asy-Syāṭibī rahimahullāh menyatakan,
الْوَسْوَاسُ خَارِجٌ عَنِ التَّكْلِيفِ
“Waswas berada di luar ranah pembebanan norma syariat.” (al-Muwāfaqāt, 2: 127)
Timbangan ushul fikih: Yakin tidak lenyap oleh ragu
Ushul fikih memberikan norma tegas,
اليقين لا يزول بالشك
“Keyakinan tidak lenyap lantaran keraguan.”
Kaidah ini menjadi pembatas antara wara‘ dan waswas. Wara‘ bekerja pada wilayah syubhat mu‘tabarah (yang diakui), sedangkan waswas hidup dari keraguan nan tidak punya injakan ilmiah.
As-Suyūṭī rahimahullāh berkata,
هَذِهِ الْقَاعِدَةُ أَصْلٌ عَظِيمٌ فِي رَدِّ الْوَسَاوِسِ
“Kaidah ini adalah prinsip besar dalam menolak waswas.” (al-Asybāh wa an-Naẓā’ir, hal. 60)
Ketika wara‘ berubah menjadi tasyaddud
Wara‘ nan tidak dikendalikan oleh pengetahuan berpotensi berubah menjadi tasyaddud (bersikap keras berlebihan). Rasulullah ﷺ bersabda,
هَلَكَ الْمُتَنَطِّعُونَ
“Celakalah orang-orang nan berlebih-lebihan.” (HR. Muslim no. 2670)
An-Nawawī rahimahullāh menafsirkan,
هُمُ الْمُتَعَمِّقُونَ فِي الْأُمُورِ بِغَيْرِ عِلْمٍ
“Mereka adalah orang-orang nan mendalami urusan kepercayaan tanpa ilmu.” (Syarḥ Ṣaḥīḥ Muslim, 16: 221)
Syekh ‘Abdullah bin Bayyah hafizhahullāh menulis,
الْوَرَعُ مَقِيدٌ بِالْعِلْمِ، وَإِذَا انْفَصَلَ عَنْهُ صَارَ وَسْوَاسًا
“Wara‘ kudu terikat dengan ilmu; jika terlepas darinya, dia berubah menjadi waswas.” (Ṣinā‘at al-Fatwā, hal. 145)
Wara‘ adalah sinar bagi hati nan berilmu, sedangkan waswas adalah beban bagi jiwa nan ragu tanpa dasar. nan satu mendekatkan kepada Allah dengan ketenangan, nan lain menjauhkan dengan kelelahan. Fikih datang bukan untuk menambah kerumitan hidup, tetapi untuk menata kehati-hatian agar tetap berada di jalur dalil. Karena itu, tidak setiap sikap “lebih hati-hati” layak disebut wara‘. Sebab wara‘ sejati selalu lahir dari ilmu, bukan dari ketakutan nan tak terukur.
***
Penulis: Junaidi Abu Isa
Artikel Muslim.or.id
English (US) ·
Indonesian (ID) ·