ARTICLE AD BOX
Fi‘il mudhari tidak menjadi manshub oleh huruf إِذَنْ andaikan memenuhi syarat-syarat tertentu. Di antara syarat tersebut adalah sebagai berikut.
Pertama, huruf إِذَن kudu terletak di awal kalimat. Apabila إِذَنْ berada di tengah kalimat, maka dia tidak berfaedah menashabkan fi‘il mudhari. Contohnya adalah ungkapan:
أَنَا إِذَنْ أُكْرِمُكَ
“Kalau begitu, saya bakal memuliakanmu.”
Pada contoh tersebut, fi‘il mudhari أُكْرِمُكَ tetap berstatus marfu, lantaran huruf إِذَنْ tidak berada di awal kalimat, sehingga tidak beramal menashabkan fi‘il mudhari tersebut.
Kedua, fi‘il mudhari nan mengikuti huruf إِذَنْ kudu menunjukkan makna waktu nan bakal datang. Apabila fi‘il mudhari tersebut menunjukkan waktu sekarang (hal), maka إِذَنْ tidak beramal. Sebagaimana dalam percakapan berikut: ketika seseorang menyampaikan suatu pernyataan kepada Anda, lampau Anda menanggapi dengan:
إِذَنْ أُصَدِّقُكَ
“Kalau begitu, saya percaya kepadamu.”
Pada contoh ini, fi‘il mudhari أُصَدِّقُكَ tetap marfu, lantaran maknanya menunjukkan keadaan sekarang, ialah “aku percaya kepadamu saat ini”, bukan menunjukkan makna kepercayaan di masa nan bakal datang.
Ketiga, huruf إِذَنْ kudu bersambung secara langsung dengan fi‘il mudhari nan mengikutinya. Tidak boleh terdapat kata alias unsur lain nan memisahkan antara إِذَنْ dan fi‘il mudhari. Apabila terdapat pemisah di antara keduanya, maka huruf إِذَنْ tidak berfaedah menashabkan fi‘il mudhari tersebut.
Sebagai contoh, seseorang berbicara kepada Anda,
أَزُورُكَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Aku bakal mengunjungimu besok, insyaAllah.”
Kemudian Anda menjawab,
إِذَنْ أَخِي يُكْرِمُكَ
“Kalau begitu, saudaraku bakal memuliakanmu.”
Pada contoh di atas, fi‘il mudhari يُكْرِمُكَ tetap berstatus marfu, meskipun di dalam kalimat terdapat huruf إِذَنْ. Hal ini disebabkan lantaran antara إِذَنْ dan fi‘il mudhari terdapat kata pemisah, ialah أَخِي (saudaraku). Dengan adanya pemisah tersebut, huruf إِذَنْ tidak beramal menashabkan fi‘il mudhari.
Adapun maksud pernyataan Ibnu Hisyam rahimahullah,
أَوْ مُنْفَصِلٌ بِقَسَمٍ
“atau terpisah oleh huruf qasam (sumpah)”
Pernyataan ini menunjukkan pengecualian dalam norma huruf إِذَنْ. Pada kondisi tertentu, إِذَنْ tetap boleh terpisah dari fi‘il mudhari dan tetap berfaedah menashabkannya. Pengecualian tersebut terjadi andaikan pemisah antara إِذَنْ dan fi‘il mudhari berupa huruf qasam (sumpah).
Dengan kata lain, keberadaan huruf qasam tidak menghalangi إِذَنْ untuk tetap beramal, sehingga fi‘il mudhari nan mengikutinya tetap berstatus manshub.
Sebagai contoh, seseorang berkata,
أَزُورُكَ غَدًا
“Aku bakal mengunjungimu besok.”
Kemudian Anda menjawab,
إِذَنْ وَاللَّهِ أُكْرِمَكَ
“Kalau demikian, demi Allah saya bakal memuliakanmu.”
Pada contoh tersebut, kata أُكْرِمَكَ merupakan fi‘il mudhari manshub lantaran didahului oleh huruf إِذَن. Meskipun terdapat huruf qasam وَاللَّهِ di antara إِذَنْ dan fi‘il mudhari, perihal tersebut tidak menghalangi ibadah إِذَنْ dalam menashabkan fi‘il mudhari.
Adapun maksud pernyataan Ibnu Hisyam rahimahullah,
نَحْوُ: إِذَنْ أُكْرِمَكَ
“Contohnya adalah: Kalau demikian, saya bakal memuliakanmu.”
Contoh tersebut menunjukkan terpenuhinya tiga syarat sehingga fi‘il mudhari setelah huruf إِذَنْ berstatus manshub. Pada kalimat tersebut, إِذَنْ berfaedah sebagai harf jawab, harf jaza’ (huruf balasan), sekaligus harf nashib (huruf nan menashabkan).
Adapun kata أُكْرِمَكَ merupakan fi‘il mudhari manshub lantaran didahului oleh huruf إِذَنْ. Tanda nashab pada fi‘il mudhari tersebut adalah fathah zhahirah nan tampak pada akhir kata.
Selanjutnya, maksud dari potongan perkataan Ibnu Hisyam rahimahullah berikut,
وَإِذَنْ وَاللَّهِ نَرْمِيَهُمْ بِحَرْبٍ
“Kalau demikian, demi Allah, kami bakal menyerang mereka dengan peperangan.”
Ungkapan tersebut merupakan bagian dari sebuah bait syair. Adapun bait syair tersebut secara komplit adalah:
إِذَنْ وَاللَّهِ نَرْمِيَهُمْ بِحَرْبٍ
تُشَيِّبُ الطِّفْلَ مِنْ قَبْلِ الْمَشِيبِ
“Kalau demikian, demi Allah, kami bakal menggencarkan peperangan terhadap mereka; peperangan nan dapat membikin rambut anak mini beruban sebelum datang masa tua.”
Ibnu Hisyam rahimahullah mengemukakan bait syair ini sebagai dalil bahwa fi‘il mudhari tetap berstatus manshub lantaran didahului oleh huruf إِذَنْ, meskipun terdapat pemisah antara إِذَنْ dan fi‘il mudhari berupa huruf qasam (sumpah), ialah kata وَاللَّهِ (demi Allah). Huruf qasam tersebut tidak menghalangi ibadah إِذَنْ dalam menashabkan fi‘il mudhari.
Ibnu Hisyam rahimahullah menjelaskan norma أنْ (an) al-mashdariyyah dalam beberapa kondisi sebagai berikut,
:وَبِأَنْ الْمَصْدَرِيَّةِ ظَاهِرَةً، نَحْوَ
أَنْ يَغْفِرَ لِي
(QS. Asy-Syu‘ara’: 82)
Yang dimaksud dengan pernyataan ini adalah penggunaan huruf أَنْ sebagai harf mashdari nan tampak secara jelas dan tidak didahului oleh kata nan menunjukkan makna keyakinan.
Contohnya dalam firman Allah Ta‘ala,
وَالَّذِي أَطْمَعُ أَنْ يَغْفِرَ لِي خَطِيئَتِي يَوْمَ الدِّينِ
“Dan nan banget kuharapkan bakal mengampuni kesalahanku pada hari kemudian.” (QS. Asy-Syu‘ara’: 82)
Pada ayat tersebut, kata أَنْ يَغْفِرَ menggunakan an al-mashdariyyah secara jelas, tanpa didahului kata nan menunjukkan makna yakin. Oleh lantaran itu, fi‘il mudhari setelah an berstatus manshub.
Selanjutnya Ibnu Hisyam rahimahullah mengatakan,
مَا لَمْ تُسْبَقْ بِعِلْمٍ، نَحْوَ:
عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَى
Maksudnya, an al-mashdariyyah tetap berfaedah selama tidak didahului oleh kata nan berarti yakin, seperti ‘ilm (pengetahuan).
Contohnya dalam firman Allah ta‘ala:
عَلِمَ أَنْ سَيَكُونُ مِنْكُمْ مَرْضَىٰ
“Dia mengetahui bahwa bakal ada di antara Anda orang-orang nan sakit.” (QS. Al-Muzzammil: 20)
Dalam ayat ini, huruf an didahului oleh kata عَلِمَ nan menunjukkan makna yakin (ilmu). Oleh lantaran itu, pembahasan an pada konteks ini dijelaskan secara unik oleh para ustadz nahwu.
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 29
***
Penulis: Rafi Nugraha
Artikel Muslim.or.id
English (US) ·
Indonesian (ID) ·