ARTICLE AD BOX
Pertama, fi‘il mudhari’ marfu’
Ibnu Hisyam rahimahullah mengatakan,
فَصْلٌ: يُرْفَعُ الْمُضَارِعُ خَالِيًا مِنْ نَاصِبٍ وَجَازِمٍ، نَحْوُ: يَقُومُ زَيْدٌ
“Fi‘il mudhari’ berstatus marfu’ andaikan tidak didahului oleh amil nashab dan amil jazm, sebagaimana contoh:
يَقُومُ زَيْد
“Zaid berdiri.”
Pada pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan bahwa fi‘il mudhari‘ mempunyai dua keadaan, ialah mu‘rab dan mabni. Pembahasan mengenai fi‘il mudhari‘ nan mabni juga telah disampaikan. Selanjutnya, pada bab ini bakal dibahas fi‘il mudhari‘ nan mu‘rab, meliputi keadaan rofa‘, nashab, dan jazm.
Yang dimaksud dengan perkataan Ibnu Hisyam خَالِيًا مِنْ نَاصِبٍ وَجَازِمٍ adalah bahwa karena fi‘il mudhari’ menjadi marfu’ adalah lantaran dia terbebas dari perangkat pe-nashab dan pen-jazm.
Contohnya adalah:
يَقُومُ خَالِدٌ بِوَاجِبِهِ
“Khalid melaksanakan kewajibannya.”
Kata يَقُومُ merupakan fi‘il mudhari‘ dalam keadaan marfu’‘, lantaran terlepas dari faktor-faktor nan menyebabkan fi‘il mudhari‘ menjadi manshub alias majzum. Keadaan marfu‘ tersebut ditandai dengan dhammah zhahirah. Dengan demikian, aspek nan menyebabkan fi‘il mudhari‘ berstatus marfu‘ adalah at-tajarrud, ialah ketiadaan amil nashab dan amil jazm.
Amil yang menjadikan fi‘il mudhari‘ marfu‘ termasuk amil ma‘nawi, ialah ‘amil yang tidak mempunyai bentuk lafaz dalam kalimat. Hal ini berbeda dengan amil lafzhi nan berkarakter tampak, seperti masuknya perangkat nashab nan menyebabkan fi‘il mudhari‘ menjadi manshub, alias didahului oleh amil jazm nan menyebabkan fi‘il mudhari‘ menjadi majzum. Pembahasan mengenai perihal tersebut bakal diuraikan pada bagian selanjutnya, insyaAllah.
Perlu diketahui bahwa penulis tidak mensyaratkan fi‘il mudhari kudu terlepas dari nun taukid dan nun inats. Penjelasan mengenai perihal ini telah disampaikan pada pembahasan sebelumnya.
Kedua, nashab fi‘il mudhari’
Ibnu Hisyam rahimahullah mengatakan,
وَيُنْصَبُ بِـلَنْ نَحْوُ: لَنْ نَبْرَحَ
“Fi‘il mudhari’ menjadi manshub andaikan didahului oleh huruf lan (لَنْ). Contohnya adalah:
لَنْ نَبْرَح
“Kami tidak bakal berhenti.”
Ini adalah keadaan kedua dari fi‘il mudhari’ mu‘rab, ialah manshub. Fi‘il mudhari’ menjadi manshub andaikan didahului oleh perangkat pe-nashab, nan jumlahnya ada empat. Pada pembahasan ini bakal dijelaskan tiga di antaranya, yaitu: lan, kai, dan izan.
Pertama, lan (لَنْ)
Lan adalah huruf nafyi nan menunjukkan makna istiqbal (masa bakal datang), ialah meniadakan suatu peristiwa di masa depan (nafyul hadatsi fi az-zamani al-mustaqbal). Apabila huruf tersebut masuk alias mendahului fiil mudhari’, maka menjadi unik menunjukkan waktu masa depan.
Contohnya adalah firman Allah Ta‘ala dalam surah Thaha ayat 91:
لَنْ نَبْرَحَ عَلَيْهِ عَاكِفِينَ
Kata لَنْ adalah huruf nafyi dan istiqbal nan me-nashab-kan fi‘il mudhari’ setelahnya. Kata نَبْرَحَ adalah fi‘il mudhari’ naqish termasuk akhawatu kana, nan beramal me-rafa‘-kan isim dan me-nashab-kan khabar. Kata نَبْرَحَ adalah fi‘il mudhari’ manshub dengan tanda fathah zhahirah dan isim-nya adalah dhamir mustatir wujuban, taqdir-nya نَحْنُ adapun khabar-nya adalah عَاكِفِينَ.
Kedua, kai al-masdariyyah (كَيْ الْمَصْدَرِيَّة)
Ibnu Hisyam rahimahullah mengatakan,
وَبِكَيْ الْمَصْدَرِيَّة
Kai al-mashdariyyah adalah perangkat pe-nashab fi‘il mudhari’ nan biasanya didahului oleh lam ta‘lil.
Contoh:
جِئْتُ لِكَيْ أَسْتَفِيدَ
“Aku datang untuk mengambil manfaat.”
Pada kata likai, terdapat huruf lam sebagai harf jarr, sedangkan kai (كَيْ) berfaedah sebagai harf masdariyy sekaligus harf nashab. Adapun kata أَسْتَفِيد merupakan fi‘il mudhari‘ manshub lantaran didahului oleh huruf kai. Tanda nashab pada fi‘il mudhari‘ tersebut adalah fathah zhahirah. Subjek (fa‘il) dari kata tersebut berupa dhamir mustatir wujuban dengan takdir ana.
Kata nan terletak setelah kai membentuk mashdar mu’awwal nan berdomisili majrur lantaran didahului oleh harf jarr. Takdir kalimat tersebut adalah:
جِئْتُ لِلِاسْتِفَادَةِ
“Aku datang untuk mengambil manfaat.”
Contoh lain terdapat dalam firman Allah Ta‘ala,
لِكَيْلَا تَأْسَوْا
“Agar kalian tidak bersedih.”
Pada contoh ini, kata تَأْسَوْا merupakan fi‘il mudhari‘ manshub lantaran didahului oleh huruf kai. Tanda nashab-nya adalah hazfu an-nun (dihapusnya huruf nun), lantaran kata tersebut termasuk dalam al-amṡilah al-khamsah. Huruf waw pada kata tersebut berfaedah sebagai fa‘il.
Adapun kata nan terletak setelah kai membentuk mashdar mu’awwal nan berdomisili majrur lantaran didahului oleh huruf lam. Takdirnya adalah:
لِعَدَمِ أَسَاكُمْ
“Supaya kalian tidak bersedih.”
Selanjutnya, nan dimaksud oleh Ibnu Hisyam mengenai kai al-mashdariyyah adalah sebagai corak ihtirazan (penegasan alias penyangkalan) agar tidak disangka bahwa kai tersebut berarti ta‘liliyyah. Kai ta‘liliyyah adalah kai nan datang setelah an mashdariyyah. Contohnya sebagai berikut:
جِئْتُ كَيْمَا أَنْ تَزُورَنِي غَدًا
“Aku datang agar engkau mengunjungiku besok.”
Pada contoh tersebut, kai berfaedah sebagai harf jarr li at-ta‘lil (untuk menjelaskan karena alias tujuan). Adapun huruf an berfaedah sebagai harf nashab nan menashabkan fi‘il mudhari‘ setelahnya.
Ketiga, izan (إِذًا)
Ibnu Hisyam rahimahullah mengatakan,
وَبِإِذًا مُصَدَّرَةً، وَهُوَ مُسْتَقْبَلٌ، مُتَّصِلٌ أَوْ مُنْفَصِلٌ بِقَسَمٍ
Huruf izan (إِذًا) merupakan perangkat nashab nan ketiga bagi fi‘il mudhari‘. Huruf ini terletak di awal kalimat dan berfaedah sebagai harf jawab wa jaza’ (huruf jawaban dan balasan). Fi‘il mudhari‘ nan terletak setelah izan menunjukkan makna waktu bakal datang (istiqbal).
Fi‘il mudhari‘ tersebut dapat langsung mengikuti izan alias terpisah darinya oleh harf qasam. Contoh penggunaannya sebagai berikut:
إِذًا أُكْرِمُكَ
“Kalau begitu, saya bakal menjamumu.”
Contoh fi‘il mudhari‘ nan terpisah dari izan oleh harf qasam adalah:
إِذًا وَاللَّهِ لَنُشَدِّدَنَّ الْحَرْبَ
“Jika demikian, demi Allah, kami bakal menggencarkan peperangan.”
Sebagai harf jawab wa jaza’, izan digunakan sebagai respons terhadap pernyataan sebelumnya. Contohnya dalam percakapan berikut:
أَزُورُكَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ
“Aku bakal mengunjungimu besok, insyaAllah.”
Kemudian dijawab dengan:
إِذًا أُكْرِمَكَ
“Kalau begitu, saya bakal menjamumu.”
Pada contoh di atas, ungkapan jawaban إِذًا أُكْرِمَك berfaedah sebagai jaza’ (balasan) terhadap pernyataan nan terdapat pada kalimat sebelumnya.
[Bersambung]
KEMBALI KE BAGIAN 28
***
Penulis: Rafi Nugraha
Artikel Muslim.or.id
English (US) ·
Indonesian (ID) ·