Penjelasan Kitab Ta’jilun Nada (Bag. 28): I‘rab Taqdiri

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Ibnu Hisyam rahimahullah mengatakan,

فَصْلٌ: يُرْفَعُ الْمُضَارِعُ خَالِيًا مِنْ نَاصِبٍ وَجَازِمٍ، نَحْوُ: يَقُومُ زَيْدٌ

“Fi‘il mudhari’ berstatus marfu‘ andaikan tidak didahului oleh amil nashab dan amil jazm, sebagaimana contoh:

يَقُومُ زَيْد

 “Zaid berdiri.”

Dalam pembahasan i‘rab, tanda-tanda i‘rab pada asalnya berupa harakat nan tampak. Akan tetapi, pada sebagian lafaz tertentu, tanda i‘rab tersebut tidak dapat ditampakkan, sehingga harakatnya disembunyikan alias diperkirakan (muqaddarah), seperti pada kata:

غُلَامِي

“Anak laki-lakiku.”

 الْفَتَى

“Pemuda.”

Kata kedua dinamakan isim maqsur.

Pembagian tanda i‘rab

Telah berlalu pembahasan bahwa tanda-tanda i‘rab terbagi menjadi dua macam:

Pertama: Tanda zahir, ialah tanda i‘rab utama nan tampak pada akhir kata.

Kedua: Tanda muqaddarah, ialah tanda i‘rab nan disembunyikan alias dilesapkan.

Perkataan Ibnu Hisyam di atas disampaikan untuk menjelaskan tanda muqaddarah ini.

Definisi i‘rab taqdiri

Yang dimaksud dengan i‘rab taqdiri adalah tanda-tanda i‘rab berupa dhammah, fathah, alias kasrah nan tidak tampak pada huruf terakhir lafaz nan mu‘rab, lantaran adanya penghalang tertentu.

Ibnu Hisyam rahimahullah menjelaskan bahwa lafaz-lafaz nan tanda i‘rab-nya disembunyikan terbagi menjadi lima jenis.

Macam-macam i‘rab taqdiri

Pertama, isim nan di-mudhaf-kan kepada yaa’ mutakallim

Apabila sebuah isim di-mudhaf-kan kepada yaa’ mutakallim, maka seluruh tanda i‘rab pada isim tersebut menjadi muqaddarah. Disembunyikannya tanda i‘rab bukan lantaran huruf terakhir tidak bisa menerima harakat, tetapi lantaran bersambung dengan yaa’ mutakallim.

Contoh marfu‘:

كِتَابِي جَدِيدٌ

“Bukuku baru.”

Kata كِتَابِي adalah mubtada’ marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah, lantaran dia mudhaf kepada Yaa’ Mutakallim.

Contoh manshub:

حَفِظْتُ كِتَابِي مِنَ الضِّيَاعِ

“Aku menjaga bukuku agar tidak rusak.”

Kata كِتَابِي adalah maf‘ūl bih manshub dengan tanda fathah muqaddarah.

Contoh majrur:

نَقَلْتُ مِنْ كِتَابِي

“Aku menukil dari bukuku.”

Kata كِتَابِي  adalah isim majrur dengan tanda kasrah muqaddarah.

Sebagian ustadz menyatakan kasrah tersebut zahir, namun ustadz lain beranggapan bahwa kasrah itu muqaddarah, lantaran kasrah tersebut bukan tanda asli, melainkan penyesuaian dengan huruf mad setelahnya. Pendapat ini dimaksudkan agar seluruh isim nan mudhaf kepada Yaa’ Mutakallim mempunyai tanda i‘rab muqaddarah secara konsisten.

Kedua, isim maqsur

Isim maqsur adalah isim mu‘rab nan berhujung dengan alif lazimah. Seluruh tanda i‘rab pada isim ini berkarakter muqaddarah, lantaran alif merupakan huruf mad dan tidak dapat menerima harakat (at-ta‘adzdzur).

Contoh marfu‘ adalah: 

رِضَا الْوَالِدَيْنِ سَعَادَةٌ لِلْوَلَد

“Keridaan kedua orang tua merupakan kebahagiaan bagi seorang anak.”

Kata رِضَا adalah mubtada’ marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah.

Contoh manshub:

لَا تَتَّبِعِ الْهَوَى 

“Janganlah Anda mengikuti hawa nafsu.”

Kata الْهَوَى adalah maf‘ūl bih manshub dengan tanda fathah muqaddarah.

Contoh majrur: 

الْحِمْيَةُ نَافِعَةٌ لِلْمَرْضَى

“Diet berfaedah bagi orang sakit.”

Kata مَرْضَى adalah isim majrur dengan tanda kasrah muqaddarah.

Semua isim maqsur, baik marfu‘, manshub, maupun majrur, selalu bercap muqaddarah.

Ketiga, isim manqush

Isim manqush adalah isim mu‘rab nan diakhiri huruf yaa’ original tanpa tasydid, dengan huruf sebelumnya berharakat kasrah, seperti:

 القاضي

“Hakim” 

 الساعي

“Orang nan berjalan”

  الداني

“Yang dekat”

Pada isim manqush, dhammah dan kasrah dilesapkan lantaran ats-tsiql (beratnya pengucapan).

Contoh marfu‘:

السَّاعِي لِلْخَيْرِ كَفَاعِلِهِ

“Orang nan berupaya melakukan kebaikan seperti orang nan telah melakukannya.”

Kata السَّاعِي adalah mubtada’ marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah.

Contoh majrur: 

عَلَى الْبَاغِي تَدُورُ الدَّوَائِرُ

Kata الْبَاغِي adalah isim majrur dengan tanda kasrah muqaddarah, lantaran ats-tsiql.

Keempat, fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan alif

Fi‘il mudhari’ nan berhujung dengan alif mempunyai tanda dhammah dan fathah muqaddarah, lantaran alif tidak dapat menerima harakat.

Contoh marfu’-nya adalah:

الْمُتَّقِي يَخْشَى رَبَّهُ

Kata يَخْشَى adalah fi‘il mudhari’ yang marfu‘ dengan tanda dhammah muqaddarah, lantaran at-ta‘adzdzur.

Contoh manshub: 

لَنْ يَرْضَى الْعَاقِلُ الْأَذَى

Kata يَرْضَى adalah fi‘il mudhari’ nan manshub dengan tanda fathah muqaddarah.

Kelima, fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan waw alias yaa’

Fi‘il mudhari’ nan berhujung dengan waw alias yaa’ mempunyai tanda dhammah muqaddarah, lantaran ats-tsiql.

Contohnya adalah:

الْمُوَحِّدُ لَا يَدْعُو إِلَّا اللّٰهَ

Kata يَدْعُو marfu‘ dengan dhammah muqaddarah.

أَنْتَ تُرَبِّي أَوْلَادَكَ عَلَى الْفَضِيلَةِ

Kata تُرَبِّي marfu‘ dengan dhammah muqaddarah.

Namun, fathah ditampakkan, lantaran ringan diucapkan. Ibnu Hisyam rahimahullah mengatakan, 

 إِنَّ الْقَاضِيَ لَنْ يَقْضِيَ وَلَنْ يَدْعُوَ

“Sesungguhnya pengadil itu tidak bakal memutuskan dan tidak bakal berdoa.”

Contoh: 

لَعَنَ رَسُولُ اللّٰهِ الرَّاشِيَ وَالْمُرْتَشِيَ

Kata الرَّاشِيَ dan الْمُرْتَشِي manshub dengan fathah zahirah.

لَنْ تُعْطِيَ الْفَقِيرَ شَيْئًا إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهِ

Kata تُعْطِيَ manshub dengan fathah zahirah.

Kesimpulan

I‘rab taqdiri adalah i‘rab nan tanda-tandanya tidak tampak pada akhir kata lantaran adanya penghalang, baik berupa at-ta‘adzdzur maupun ats-tsiql.

Lafaz nan bercap i‘rab taqdiri terbagi menjadi lima jenis:

1) Isim mudhaf kepada yaa’ mutakallim;

2) Isim maqsur;

3) Isim manqush;

4) Fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan alif;

5) Fi‘il mudhari’ mu‘tal akhir dengan waw alias yaa’.

Pembahasan ini menunjukkan ketelitian sistem i‘rab bahasa Arab, di mana perubahan tanda sangat dipengaruhi oleh corak huruf terakhir dan kedudukan gramatikalnya.

[Bersambung]

KEMBALI KE BAGIAN 27

***

Penulis: Rafi Nugraha

Artikel Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info