Penjelasan Hadis tentang Botak Sebagai Ciri Fisik Khawarij

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Pemikiran Khawarij adalah pemikiran nan sangat menyimpang dalam Islam. Bahkan, bisa dipastikan bahwa pemikiran Khawarij adalah pemikiran golongan nan keluar dari apa nan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan sebagai jemaah nan selamat setelah kepergian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

افترقتِ اليهودُ على إحدَى وسبعينَ فرقةً , وافترقتِ النصارَى على اثنتَينِ وسبعينَ فرقةً , وستفترقُ هذه الأمةُ على ثلاثٍ وسبعينَ فرقةً كلُّها في النارِ إلا واحدةً، قيل : من هي يا رسولَ اللهِ؟ فقال صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ : مَن كان على مِثلِ ما أنا عليه وأصحابِي

“Bani Israil dulu terpecah menjadi 72 golongan. Dan umatku bakal terpecah menjadi 73 golongan. Semuanya berada dalam kesesatan nan mengantarkan ke neraka, selain satu golongan saja.” Para sahabat bertanya, “Siapakah golongan nan satu itu, wahai Rasulullah?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Yaitu golongan nan mengikuti aliran nan saya jalani dan nan dipegang oleh para sahabatku.” [1]

Setelah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal, kaum muslim bakal terpecah menjadi golongan-golongan. Setiap golongan nan berbeda dengan apa nan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampaikan, mereka tidak lepas dari kesesatan. Adz-Dzahabi rahimahullah menyebutkan,

فعلامتهم كما أخبر النبي صلى الله عليه وسلم أنهم يكونون على ما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وأصحابه فتلك ميزة تميزت بها عقيدة أهل السنة والجماعة لا توجد

“Tanda golongan nan selamat, sebagaimana dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, adalah mereka berpegang pada aliran nan sama dengan aliran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Inilah karakter unik iktikad Ahlus Sunnah wal Jamaah, sebuah keistimewaan nan tidak dimiliki oleh kepercayaan kelompok-kelompok lainnya.” [2]

Sekilas tentang pemikiran Khawarij

Kelompok Khawarij adalah golongan nan keluar dari apa nan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ajarkan. Mereka menentang apa nan pemerintah sah perintahkan. Padahal, menaati perintah pemerintah nan sah merupakan aliran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَأُو۟لِى ٱلْأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang nan beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” (QS. an-Nisa: 59)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أوصيكم بتقوى الله، والسمع والطاعة، وإن تأمر عليكم عبد، فإنه من يعش منكم بعدي فسيرى اختلافا كثيرا، فعليكم بسنتي وسنة الخلفاء الراشدين

“Aku beramanat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, serta mendengar dan alim (kepada pemimpin), meskipun nan memimpin kalian adalah seorang hamba sahaya. Sesungguhnya siapa saja di antara kalian nan hidup sepeninggalku, bakal memandang banyak perbedaan dan perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunahku dan sunah para khalifah nan mendapat petunjuk (sepeninggalku).” [3]

Kelompok Khawarij juga adalah golongan pertama nan mengkafirkan orang-orang Islam nan tidak ada di golongan mereka. Bahkan, mereka juga mengkafirkan orang-orang nan melakukan dosa dengan selain dosa syirik. Mereka menganggap bahwa siapa saja nan menyelisihi pemikiran golongan mereka berpotensi sesat apalagi kafir, meskipun nan menyelisihi mereka adalah pemerintah nan sah sekalipun. Syekh al-Qahthani berbicara dalam kitabnya, menukil perkataan Syekh Shalih Fauzan rahimahumallah,

الخوارج هم أول من كفر المسلمين، يكفرون بالذنوب-يعني التي هي دون الشرك- ويكفرون من خالفهم في بدعتهم ويستحلون دمه وماله. وهذه حال أهل البدع، يبتدعون بدعة ويكفرون من خالفهم فيها

“Mereka adalah golongan pertama nan mengkafirkan kaum muslimin. Mereka menganggap seseorang kafir hanya lantaran melakukan dosa, ialah dosa-dosa nan tidak sampai pada syirik. Mereka juga mengkafirkan orang nan tidak sepaham dengan bidah (ajaran menyimpang) mereka, lampau menghalalkan darah dan kekayaan orang tersebut.” [4]

Awal mula bibit kemunculan mereka telah ada pada era Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ada seseorang nan tidak suka dengan kebijakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu dia memprotes kebijakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dari sana lah sikap nan serupa bermunculan, apalagi menjadi lebih parah.

Naasnya, pemikiran menyimpang ini justru dilakukan oleh sebagian orang nan secara lahiriah tampak mempunyai amaliah peribadatan nan baik. Kondisi tersebut menimbulkan kesan seolah-olah pemikiran mereka pun betul dan lurus. Padahal pada hakikatnya, pemikiran nan mereka anut termasuk pemikiran nan telah dicela oleh Nabi shallallāhu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini bisa terjadi lantaran sebagian dari mereka hanya berupaya menampakkan amalan-amalan baik secara lahiriah, sementara secara pemikiran mereka tidak betul-betul menginginkan kebaikan nan diajarkan oleh Islam. Selain itu, perihal tersebut juga dapat disebabkan oleh kegoblokan mereka terhadap manhaj dan iktikad nan benar.

Di dalam beberapa hadis, dijelaskan bahwa Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menggambarkan, selain mereka mempunyai kebiasaan-kebiasaan nan secara lahiriah tampak baik, mereka juga mempunyai karakter fisik, ialah botak (dalam beberapa riwayat gundul secara menyeluruh). Pada poin ini lah pembahasan dari tulisan ini berfokus.

Baca juga: Mengenal Pokok-Pokok Aqidah Kaum Khawarij

Hadis-hadis nan datang menjelaskan botak sebagai karakter bentuk Khawarij

Pertama, sabda Abu Sa’id al-Khudri dan Anas bin Malik radhiyallah ‘anhuma, dari beberapa jalur imam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

سيكونُ في أُمَّتِي اختلافٌ وفُرقةٌ، وقومٌ يُحسِنونَ القِيلَ ويُسيئونَ الفعلَ، ويَقرؤونَ القرآنَ لا يُجاوِزُ تَرَاقِيَهُم ، يَحقِرُ أحدُكم صلاتَه مع صلاتِهم، وصيامَه مع صيامِهم، يمرُقونَ مِن الإسلامِ كما يمرُقُ السهمُ مِن الرَّمِيَّةِ، ثمَّ لا يَرجِعونَ إليه حتى (يَرْتَدَّ) على فُوقِه، هم شَرُّ الخَلْقِ والخَليقةِ، طُوبَى لمَن قتَلَهم وقتَلُوه، يَدْعُونَ إلى كِتابِ اللهِ عزَّ وجلَّ وليسوا منه في شيءٍ، ومَن قاتَلَهم كان أَوْلى باللهِ عزَّ وجلَّ منهم، قالوا: يا رسولَ اللهِ، ما سِيماهُم؟ قال: سِيماهُم التَّحْلِيقُ

“Akan terjadi di tengah umatku banyak perbedaan dan perpecahan. Akan muncul suatu kaum nan lisannya tampak baik, tetapi perbuatannya buruk. Mereka membaca Al-Qur’an, namun bacaannya tidak melewati tenggorokan (tidak meresap ke hati). Salah seorang dari kalian bakal merasa salat dan puasanya mini dibanding salat dan puasa mereka. Namun, mereka keluar dari Islam sebagaimana anak panah melesat keluar dari tubuh hewan buruan, dan tidak bakal kembali lagi kepadanya, sebagaimana anak panah tidak kembali ke tempatnya. Mereka adalah seburuk-buruk makhluk. Beruntunglah orang nan memerangi mereka alias nan gugur terbunuh oleh mereka. Mereka menyeru kepada Kitab Allah, padahal mereka tidak berada di atas ajarannya sedikit pun. Orang nan memerangi mereka lebih dekat kepada Allah dibanding mereka.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa ciri-ciri (fisik) mereka?” Beliau ﷺ menjawab, “Tanda mereka adalah mencukur lenyap rambut kepala.”

Riwayat hadis:

Hadis ini diriwayatkan dari sahabat Abu Sa’id al-Khudri dan Anas bin Malik raḍiyallāhu ‘anhuma. Hadis tersebut diriwayatkan oleh at-Thahawi dalam Syarḥ Musykil al-Ātsār (no. 4073), Abū Dāwūd (no. 4765), dan Imām Aḥmad dalam Musnad-nya (no. 13338) dengan redaksi nan sama. Syekh Syu‘aib al-Arna’ūṭ menilai sabda ini dengan menyatakan, “إسناده صحيح على شرط البخاري” (Sanadnya sahih seperti syarat milik Imam Bukhari) [5]

Kedua, sabda Abu Sa’id al-Khudri melalui jalur muslim. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أنَّ نبيَّ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم ذكَر ناسًا يكونونَ في أمَّتِه يخرُجونَ في فِرقةٍ مِن النَّاسِ سِيماهُم التَّحليقُ هم مِن شِرارِ النَّاسِ أو هم مِن شرِّ الخَلْقِ تقتُلُهم أدنى الطَّائفتَيْنِ إلى الحقِّ

“Sesungguhnya Nabi Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebut bakal ada sekelompok orang di tengah umat beliau. Mereka keluar memisahkan diri dari kaum muslimin. Ciri mereka adalah mencukur lenyap rambut kepala. Mereka termasuk seburuk-buruk manusia alias seburuk-buruk makhluk. Kelompok ini bakal diperangi dan dibinasakan oleh golongan kaum muslimin nan paling dekat dengan kebenaran.”

Riwayat hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Said al Khudri radhiyallahu ‘anhu. Hadis tersebut dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim (no. 1065, 2: 745). Hadis ini juga di-takhrij oleh Syekh Syuaib al-Arnauth dalam Takhrij Shahih Ibn Hibban (no. 6740), dan beliau menegaskan bahwa sabda ini berstatus sahih. [6]

Ketiga, sabda Abu Sa’id al-Khudri, melalui jalur Bukhari. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَخْرُجُ نَاسٌ مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ، وَيَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، ثُمَّ لَا يَعُودُونَ فِيهِ حَتَّى يَعُودَ السَّهْمُ إِلَى فُوقِهِ قِيلَ: مَا سِيمَاهُمْ؟ قَالَ: سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ، أَوْ قَالَ: التَّسْبِيدُ

“Akan muncul sekelompok orang dari arah timur. Mereka membaca Al-Qur’an, tetapi bacaannya tidak melewati tenggorokan (tidak masuk ke hati dan tidak diamalkan). Mereka keluar dari kepercayaan seperti anak panah nan melesat keluar dari tubuh hewan buruan, lampau tidak bakal kembali lagi ke dalamnya, sebagaimana anak panah tidak kembali ke tempatnya semula.” Lalu ditanyakan, “Apa tanda-tanda mereka?” Beliau ﷺ menjawab, “Tanda mereka adalah mencukur lenyap rambut kepala,” alias beliau bersabda, “menggundul rambut sampai licin.”

Riwayat hadis:

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Sa‘id al-Khudri radhiyallahu ‘anhu. Hadis tersebut dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari dalam Shahih al-Bukhari (no. 7562, 9: 162). Hadis ini berstatus sahih lantaran diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya. [7]

Kosa kata hadis-hadis di atas

  1. يَخْرُجُ نَاسٌ : Sekelompok manusia (akan) keluar
  2. مِنْ قِبَلِ الْمَشْرِقِ : Dari arah timur
  3. يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ : Mereka membaca Al-Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka
  4. يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ : Keluar dari kepercayaan Islam
  5. كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ : Sebagaimana anak panah keluar dari busurnya
  6. سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ : Ciri mereka botak (mencukur lenyap rambut mereka)
  7. يُحْسِنُونَ الْقِيلَ وَيُسِيئُونَ الْفِعْلَ : Berkata-kata manis namun melakukan jelek
  8. لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ : Tidak Keluar dari mulut mereka
  9. التَّسْبِيدُ: Botak sampai licin

Faidah hadis-hadis di atas

Pertama, mereka mempunyai karakter bentuk membotaki kepala mereka. Mereka melakukan itu lantaran mencintai perbuatan tersebut dan menjadikan perihal tersebut sebagai karakter mereka. Syekh Bin Baz rahimahullah mengatakan menjelaskan maksud dari teks sabda سِيمَاهُمُ التَّحْلِيقُ “ciri mereka botak”,

وهَؤلَاءِ هم الخَوَارجِ؛ لأنهم يُوجِبُونَ التَّحلِيقَ، وهو مِنْ خِصَالِهِم

“Mereka adalah Khawarij, lantaran mereka mewajibkan menggundul kepala. Hal tersebut merupakan karakter unik mereka.” [8]

Kaum Khawarij menjadikan mencukur lenyap rambut kepala sebagai tanggungjawab agama. Sikap ini muncul lantaran mereka bersikap berlebihan dalam memahami dan menjalankan aliran Islam, hingga melewati pemisah nan dibolehkan dalam beragama,

جعلوا ذلك علامةً لهم على رفضهم زينة الدّنيا، وشعارًا ليعرفوا به، كما يفعل البعض من رهبان النصارى

“Mereka menjadikan perihal itu (mencukur lenyap rambut) sebagai penolakan mereka terhadap perhiasan dunia, agar mereka dikenal dengan perihal tersebut. Hal ini serupa dengan nan dilakukan oleh sebagian pemuka kepercayaan Nasrani.” [9]

Berlebihannya dalam berakidah menjadikan mereka mengada-adakan batas beragama, nan perihal tersebut bakal menyulitkan diri mereka sendiri.

Namun, perlu diingat bahwa membotaki rambut hukumnya boleh, sebagaimana memanjangkan rambut dengan urf berlaku. Terlebih ketika umrah dan haji, maka perihal ini menjadi perihal nan sangat dianjurkan. Adapun mencukur lenyap kepala nan tidak dibolehkan adalah mencukur lenyap rambut kepala dengan niat dan tujuan seperti nan dimiliki mereka alias menjadikan mereka sebagai panutan. Syekh Abdul Muhsin rahimahullah pernah ditanya tentang mencukur lenyap kepala, maka beliau menjawab,

الخوارج علامتهم التحليق، وهذه سمة وعلامة لهم، ولكن قد جاء في السنة ما يدل على أن التحليق في غير الحج والعمرة سائغ وأنه لا بأس به، وإنما المحذور أن يتخذ اقتداءً بالخوارج وتشبهاً بهم

“Ciri unik kaum Khawarij adalah mencukur lenyap rambut kepala. Ini menjadi tanda dan karakter mereka. Namun, dalam sunah Nabi ﷺ disebutkan bahwa mencukur rambut di luar ibadah haji dan umrah itu diperbolehkan dan tidak masalah. nan perlu dihindari adalah menjadikan perihal itu sebagai langkah meniru alias menyesuaikan diri dengan kaum Khawarij.” [10]

Maka, mencukur lenyap rambut kepala diperbolehkan, selama tidak dilakukan dengan argumen seperti nan dipakai oleh kaum Khawarij.

Kedua, kebaikan nan seseorang tampakkan tidak selalu linear dengan kebaikan hatinya. Hal ini sebagaimana nan dilakukan oleh orang-orang Khawarij. Mereka mempunyai amalan-amalan nan tampak baik, namun perilaku mereka keluar dari hukum sebagaimana anak panah nan keluar dari busurnya. Maksudnya, menyimpang dengan penyimpangan nan sangat jauh. Mereka disifati oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai orang-orang nan beramal, namun amalannya tidak masuk ke hati mereka dengan sabdanya,

وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ

“mereka membaca al-Quran, namun tidak melewati tenggorokan mereka”; maksudnya referensi mereka tidaklah menyerap ke hati. [11]

Ketiga, kemahiran berbincang alias retorika tanpa disertai pengetahuan dan kebaikan nan betul adalah sangat rawan dalam agama. Kaum Khawarij adalah contoh nyata dari perihal ini: ucapan mereka terdengar manis dan meyakinkan, seolah-olah bagus dan benar, tetapi perbuatan mereka sama sekali tidak mencerminkan aliran Islam nan lurus. Kesesatan mereka sering tampak lebih meyakinkan lantaran keahlian berbincang nan fasih, sehingga orang nan kurang pengetahuan bisa terpesona dan tersesat mengikuti mereka. Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

قومٌ يُحسِنونَ القِيلَ ويُسيئونَ الفعلَ

“(Mereka) adalah kaum nan baik ucapannya dan jelek perbuatannya.” [12]

Hal tersebut mempunyai 2 maksud, ialah tidak sesuainya perkataan dengan perbuatan dan perbuatan mereka adalah perbuatan nan buruk, tidak merepresentasikan kepercayaan Islam. Padahal, Allah berfirman mencela perbuatan nan tidak sesuai dengan perkataan,

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ

“Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa Anda mengatakan apa nan tidak Anda kerjakan.” (QS. ash-Shaf: 3)

Allah juga berfirman sebagai penegasan bahwa Islam adalah kepercayaan nan menyebarkan kebaikan. Allah berfirman,

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

“Sesungguhnya tidaklah Kami mengutusmu (wahai Muhammad) selain merupakan kebaikan untuk alam semesta.” (QS. al-Anbiya: 107)

Baca juga: Ibnu ‘Abbas Mendebat Kaum Khawarij

***

Penulis: Muhammad Insan Fathin

Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Imam at-Tirmizi, Sunan at-Tirmizi, no. 2641; dinilai hasan oleh Syekh Muhammad Nasir ad-Din al-Albani.

[2] Imam Syamsuddin Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz adz-Dzahabi, al-Arsy, tahqiq Muhammad bin Khalifah bin Ali at-Tamimi, 1: 8.

[3] Imam Ibn Rajab al-Hanbali, Jami al-Ulum wa al-Hikam, 2: 109.

[4] Syekh Muhammad bin Husain bin Said bin Hadi bin Abd ar-Rahman bin Muhammad bin Hasan bin Safran al-Qahtani, Fatawa al-Aimmah fi an-Nawazil al-Mudlihimmah wa Tabriat Dawah wa Atba Muhammad bin Abd al-Wahhab min Tuhmat at-Tatarruf wa al-Irhab, hal. 240.

[5] Imam at-Tahawi, Syarh Musykil al-Atsar, no. 4073; Abu Dawud, Sunan Abi Dawud, no. 4765; Imam Ahmad bin Hanbal, Musnad al-Imam Ahmad, no. 13338. Hadis dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu anhu. Takhrij: Syekh Syu’aib al-Arnaut, dengan penilaian sanad sahih ala syarṭ al-Bukhari.

[6] Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, tahqiq Muhammad Fuad Abd al-Baqi, 2: 745; no. 1065; di-takhrij oleh Syu’aib al-Arnaut dalam Takhrij Shahih Ibn Hibban, no. 6740, dan dinilai sahih.

[7] Imam Bukhari, Shahih al-Bukhari, 9: 162, no. 7562.

[8] Abd al-Aziz bin Abdullah bin Baz, Syarh Kitab at-Tauhid min Shahih al-Bukhari, hal. 433.

[9] Imam Abu al-Abbas Ahmad bin Umar bin Ibrahim al-Qurthubi, al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim, 3: 122.

[10] Syekh Abd al-Muhsin bin Hamad al-Abbad al-Badr, Syarh Sunan Abi Dawud, 20: 466.

[11] Syekh Said Hawwa, al-Asas fi as-Sunnah wa Fiqhha al-Aqaid al-Islamiyyah, 1: 461.

[12] Syekh Said Hawwa, al-Asas fi as-Sunnah wa Fiqhha al-Aqaid al-Islamiyyah, 1: 461-462.

Daftar Pustaka

Albani, Muhammad Nasir ad-Din. Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah. Beirut: al-Maktab al-Islami.

Al-Qurthubi, Abu al-Abbas Ahmad bin Umar bin Ibrahim. al-Mufhim lima Asykala min Talkhish Kitab Muslim. Beirut: Dar Ibn Katsir dan Dar al-Kalim ath-Thayyib, 1417 H / 1996 M.

Al-Qahtani, Muhammad bin Husain bin Said bin Hadi bin Abd ar-Rahman bin Muhammad bin Hasan bin Safran. Fatawa al-Aimmah fi an-Nawazil al-Mudlihimmah wa Tabri’at Da’wah wa Atba’ Muhammad bin Abd al-Wahhab min Tuhmat at-Tatarruf wa al-Irhab. Riyadh: Dar al-Awfiyā’

Al-Tahawi, Abu Jafar Ahmad bin Muhammad bin Salamah. Syarh Musykil al-Atsar. Takhrij: Syaikh Syu’aib al-Arna’ut. Diakses melalui Dorar.net

Al-Abbad al-Badr, Abd al-Muhsin bin Hamad. Sharh Sunan Abu Dawud. Jild 20. Diakses dari: http://www.islamweb.net

Adz-Dzahabi, Syamsuddin Abu Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Utsman bin Qaymaz. al-Arsy. Tahqiq Muhammad bin Khalifah bin Ali at-Tamimi. Cetakan kedua. Madinah al-Munawwarah: Imadah al-Bahth al-Ilmi bi al-Jami’ah al-Islamiyyah, 1424 H / 2003 M.

Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Tahqiq: Jama’ah min al-‘Ulama. Sultanīyah, Bulāq, Mesir, 1311 H. Disunting: Dr. Muhammad Zuhair al-Nasir, Dar Tawk al-Najat, Beirut, 1422 H.

Ibn Rajab al-Hanbali, Abd ar-Rahman bin Ahmad. Jami’ al-Ulum wa al-Hikam. Diakses melalui islamweb.net

Muslim bin al-Hajjaj al-Qusyairi an-Naisaburi. Shahih Muslim. Tahqiq Muhammad Fuad Abd al-Baqi. Kairo: Mathba’ah Isa al-Babi al-Halabi wa Syurakah, 1374 H / 1955 M. Terdiri dari 5 jilid.

Hawwa, Said. al-Asas fi as-Sunnah wa Fiqhha al-Aqa’id al-Islamiyyah. Dar al-Salam, cetakan kedua, 1412 H / 1992 M. Disiapkan untuk Al-Shamilah oleh Abu Yasir al-Jazairi.

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info