ARTICLE AD BOX
Islam adalah kepercayaan nan sangat sempurna. Kesempurnaannya mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Tidak ada satu pun persoalan nan luput dari perhatian Islam. Semua itu Allah tetapkan agar kemaslahatan dapat dirasakan oleh seluruh makhluk. Allah berfirman,
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا
“Pada hari ini, telah Kusempurnakan kepercayaan kalian, Kulengkapkan nikmatu-Ku bagi kalian, dan Kuridai Islam sebagai kepercayaan atas kalian.” (QS. al-Maidah: 3)
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan ayat tersebut,
فلما أكمل الدين لهم تمت النعمة عليهم
“Ketika Allah menyempurnakan (syariat) kepercayaan untuk mereka, maka sempurnalah kenikmatan atas mereka.” [1]
Berdasarkan ayat Al-Qur’an serta penjelasan Ibnu Katsir rahimahullah, dapat dipahami bahwa kesempurnaan Islam merupakan bentuk sempurnanya nikmat Allah bagi umat manusia. Syariat Islam tidaklah ditetapkan selain untuk menghadirkan kemaslahatan, menjaga kehidupan, serta menunjang kebaikan dan kesejahteraan manusia beserta seluruh makhluk.
Di antara corak kesempurnaan hukum nan Islam ajarkan untuk menunjang kehidupan sesama adalah bahwa manusia diberi tanggung jawab sesuai dengan peranannya. Setiap orang mempunyai amanah nan tidak bisa dilepaskan begitu saja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّكُمْ رَاعٍ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ، والإِمَامُ رَاعٍ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ، والرَّجُلُ رَاعٍ في أَهْلِهِ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ، والمَرْأَةُ في بَيْتِ زَوْجِهَا رَاعِيَةٌ ومَسْئُولَةٌ عن رَعِيَّتِهَا، والخَادِمُ في مَالِ سَيِّدِهِ رَاعٍ ومَسْئُولٌ عن رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bakal dimintai pertanggungjawaban atas nan dipimpinnya. Seorang pemimpin adalah pemimpin dan dia bakal dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan dia bakal dimintai pertanggungjawaban atas mereka. Seorang wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan dia bakal dimintai pertanggungjawaban atasnya. Seorang pembantu adalah pemimpin atas kekayaan tuannya dan dia bakal dimintai pertanggungjawaban atasnya.” (Muttafaq ‘alaihi) [2]
Hadis di atas menjelaskan bahwa setiap perseorangan bertanggung jawab atas apa nan dia diamanahi kepemimpinannya di hadapan Allah, baik sebagai pribadi, personil keluarga, pemimpin, maupun bagian dari masyarakat. Dengan adanya pembagian peran dan tanggung jawab ini, kehidupan menjadi tertata, hak-hak terjaga, serta keadilan dapat ditegakkan di tengah-tengah manusia.
Semakin besar sebuah kekuasaan nan dimiliki seseorang, semakin besar juga pertanggungjawabannya di hadapan Allah. Di antara nan paling besar pertanggungjawabannya adalah penegak hukum.
Posisi ulil amri dan penegak norma dalam Islam
Islam sangat memperhatikan kemaslahatan bersama. Di antara perihal nan Islam perintahkan untuk mempertahankan kemaslahatan berbareng adalah adanya ulil amri alias pemerintah di tengah masyarakat. Bahkan, Islam memerintahkan umatnya untuk menaatinya selama tidak dalam kemaksiatan. Allah berfirman,
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang nan beriman, taati Allah, taati Rasul, dan ulil amri (pemerintah sah) kalian.” (QS. an-Nisa: 59)
Ayat ini menjelaskan kedudukan ulil amri dalam kepercayaan Islam sangatlah spesial. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk menaati mereka selama bukan dalam kemaksiatan. Maka, pertanyaan selanjutnya adalah siapakah ulil amri nan dimaksud dalam ayat tersebut? Para ustadz memberikan banyak arti tentang ulil amri, di antaranya Syekh Utsaimin rahimahullah. Beliau berbicara dalam kitabnya, Liqa al-Bab al-Maftuh,
فمن هم أولو الأمر؟ أولو الأمر طائفتان من الناس: العلماء هم أولو الأمر في شريعة الله وتبيينها للخلق، والأمراء هم أولو الأمر في تنفيذ الشريعة وحفظ الأمن، أوجب الله طاعة هؤلاء؛ لأجل حفظ الشريعة وحفظ الأمن وانتظام الناس
“Maka siapakah ulil amri itu? Ulil amri ada dua golongan dari manusia: 1) para ulama, mereka adalah ulil amri dalam perihal hukum Allah dan dalam menjelaskannya kepada manusia; 2) dan para umara (pemimpin), mereka adalah ulil amri dalam perihal menegakkan hukum dan menjaga keamanan. Allah mewajibkan ketaatan kepada mereka demi menjaga syariat, menjaga keamanan, dan agar kehidupan manusia melangkah dengan tertib.” [3]
Kemudian Syekh Muhammad Ismail al-Muqaddim dalam al-Ilam bi Hurmat Ahl al-Ilm wal-Islam menukil perkataan Syekhul Islam Ibnu Taimiyah,
أمراء الحرب يسوسون الناس في أمر الدنيا والدين الظاهر، وشيوخ العلم يسوسون الناس بما يرجع إليهم من العلم والدين، وهؤلاء أولو الأمر
“Pemimpin dalam urusan peperangan dan pemerintahan mengatur manusia dalam perkara bumi serta urusan kepercayaan nan tampak. Adapun para syekh dan ustadz membimbing manusia dalam perihal pengetahuan dan urusan kepercayaan nan kembali kepada mereka. Kedua golongan inilah nan disebut sebagai ulil amri.” [4]
Dari penjelasan beliau di atas, dapat disimpulkan bahwa penegak norma nan bertanggung jawab dalam menetapkan dan menjalankan norma pidana di tengah masyarakat, serta dalam membikin dan menerapkan kebijakan, termasuk bagian dari ulil amri nan disebutkan dalam ayat tersebut. Sebab, merekalah nan mempunyai serta disepakati untuk memberi kebijakan dan keputusan hukum. Oleh lantaran itu, pada dasarnya, selama mereka tidak memerintahkan kepada keburukan, maka wajib bagi kaum muslimin untuk alim kepada mereka.
Selain mendapatkan kewenangan untuk ditaati oleh rakyatnya, para ulil amri, dalam perihal ini penegak hukum, mempunyai tanggungjawab besar dalam menjaga keberlangsungan maslahat di tengah masyarakat. Sebagaimana telah kita pahami sebelumnya, hukum ini Allah adakan dengan tujuan kemaslahatan bersama. Oleh lantaran itu, tujuan masyarakat untuk alim adalah agar kemaslahatan tersebut betul-betul terwujud di tengah mereka. Para penegak norma bakal dituntut dan dimintai pertanggungjawaban atas perihal tersebut.
Setelah kita mengetahui bahwa penegak norma termasuk bagian dari ulil amri nan diperintahkan untuk ditaati, serta memahami besarnya tanggung jawab nan mereka pikul, maka menjadi jelas bahwa kedudukan ini adalah pedang bermata dua: dapat mengangkat derajat seseorang setinggi-tingginya, alias justru menjatuhkannya ke dalam balasan nan pedih. Semua itu berjuntai pada satu perihal mendasar, apakah dia menegakkan keadilan alias justru terjerumus dalam kezaliman. Karena itu, hukum Islam tidak hanya memberikan peringatan keras, tetapi juga menjanjikan keistimewaan nan agung bagi para penegak norma nan bertindak adil.
Baca juga: Penegakan Hukum di Masa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
Keutamaan bagi penegak norma nan adil
Para penegak hukum, Allah mewajibkan atas mereka bertindak setara pada banyak ayat. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian melakukan setara dan kebaikan.” (QS. an-Nahl: 90)
Allah Ta`ala juga berfirman,
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّواْ الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُواْ بِالْعَدْلِ
“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada nan berkuasa atasnya dan juga ketika kalian memberi norma untuk berhukum dengan langkah nan adil.” (QS. an-Nisa: 48)
Kedua ayat di atas adalah perintah absolut untuk bertindak adil. Keadilan tersebut bakal lebih berakibat jika dilakukan oleh para pemimpin. Pemimpin dilarang keras melakukan tidak setara dengan apapun alasannya.
Kemudian, Allah Ta`ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا
“Hai orang-orang nan beriman, hendaklah Anda menjadi orang-orang nan selalu menegakkan (kebenaran) lantaran Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong Anda untuk bertindak tidak adil.” (QS. al-Maidah: 8)
Juga berfirman,
يا داود إنا جعلناك خليفة في الأرض فاحكم بين الناس بالحق ولا تتبع الهوى فيضلك عن سبيل الله
“Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan Anda khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil.” (QS. Shad: 26)
Kedua ayat ini juga menegaskan bahwa seorang penegak norma dilarang membawa emosi pribadi apalagi untung nan menguntungkan diri sendiri dalam memberi kebijakan lantaran perihal tersebut bakal mencederai keadilannya.
Allah tidak hanya memerintahkan dengan cuma-cuma kepada para penegak norma untuk bertindak adil, Allah juga menyiapkan keistimewaan nan sangat banyak bagi para penegak norma nan melakukan adil.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ يَومَ القِيَامَةِ في ظِلِّهِ، يَومَ لا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: إِمَامٌ عَادِلٌ، وَشَابٌّ نَشَأَ في عِبَادَةِ اللَّهِ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ في خَلَاءٍ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ في المَسْجِدِ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا في اللَّهِ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ إلى نَفْسِهَا، قالَ: إنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فأخْفَاهَا حتَّى لا تَعْلَمَ شِمَالُهُ ما صَنَعَتْ يَمِينُهُ.
“Tujuh golongan nan bakal Allah naungi pada hari hariakhir dalam naungan-Nya, pada hari nan tidak ada naungan selain naungan-Nya: pemimpin nan adil; pemuda nan tumbuh dalam ibadah kepada Allah; seseorang nan berzikir kepada Allah dalam keadaan sendiri lampau kedua matanya meneteskan air mata; seseorang nan hatinya terpaut dengan masjid; dua orang nan saling mencintai lantaran Allah, mereka berjumpa dan berpisah karena-Nya; seorang laki-laki nan diajak oleh seorang wanita nan mempunyai kedudukan dan kecantikan untuk melakukan maksiat, lampau dia berkata, ‘Sesungguhnya saya takut kepada Allah’; dan seseorang nan bersedekah, lampau dia menyembunyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa nan diinfakkan oleh tangan kanannya.” (Muttafaq ‘alaihi) [5]
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
إنَّ المُقْسِطِينَ عِنْدَ اللهِ علَى مَنابِرَ مِن نُورٍ، عن يَمِينِ الرَّحْمَنِ عزَّ وجلَّ -وكِلْتا يَدَيْهِ يَمِينٌ- الَّذِينَ يَعْدِلُونَ في حُكْمِهِمْ وأَهْلِيهِمْ وما وَلُوا.
“Sesungguhnya orang-orang nan bertindak setara berada di sisi Allah di atas mimbar-mimbar dari cahaya, di sebelah kanan Ar-Rahman ‘Azza wa Jalla (kedua tangan-Nya adalah kanan), ialah mereka nan bertindak setara dalam norma mereka, terhadap family mereka, dan dalam segala urusan nan dipimpin oleh mereka.” (HR. Muslim) [6]
Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa penegak norma itu terbagi dalam tiga keadaan, satu keadaan berada di surga dan dua keadaan berada di neraka. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
القُضاةُ ثلاثةٌ، اثنانِ في النَّارِ، وواحدٌ في الجنَّةِ، رجلٌ علِمَ الحقَّ فقضَى بهِ فَهوَ في الجنَّةِ
“Para pengadil itu ada tiga: dua di neraka dan satu di surga. Seseorang nan mengetahui kebenaran, lampau memutuskan perkara dengannya, maka dia berada di surga.” (HR. Ibnu Majah, Nasa’i, Abu Daud, dan Tirmidzi) [7]
Maka, para penegak norma dapat mendapatkan keutamaan-keutamaan tersebut dengan melakukan keadilan dalam memberikan keputusan.
Ancaman bagi penegak norma nan zalim
Selain memberikan keistimewaan bagi penegak norma nan bertindak adil, Allah juga memberikan ancaman nan sangat besar kepada para penegak norma nan tidak bertindak adil. Sebab, Allah membenci kezaliman. Allah berfirman,
إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
“Sesungguhnya Allah membenci orang-orang nan melakukan zalim.” (QS. Ali Imran: 57)
Allah tidak bakal membiarkan orang-orang nan melakukan kejam tanpa diberikan hukuman, lantaran Allah tidak bakal luput atas kezaliman mereka. Allah berfirman,
وَلَا تَحْسَبَنَّ اللَّهَ غَافِلًا عَمَّا يَعْمَلُ الظَّالِمُونَ إِنَّمَا يُؤَخِّرُهُمْ لِيَوْمٍ تَشْخَصُ فِيهِ الْأَبْصَارُ
“Janganlah sekali-kali engkau menyangka Allah lalai dari apa nan dilakukan oleh orang-orang nan melakukan zalim. Sesungguhnya Allah menangguhkan mereka sampai hari di mana pandangan-pandangan terbelalak.” (QS. Ibrahim: 42)
Kita juga meyakini bahwa setiap kezaliman di bumi bakal menjadi kegelapan di akhirat. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اتَّقُوا الظُّلمَ؛ فإنَّ الظُّلمَ ظُلُماتٌ يومَ القيامةِ، واتَّقُوا الشُّحَّ؛ فإنَّ الشُّحَّ أهلكَ مَن كانَ قبلَكُم، حملَهُم على أنْ سَفكُوا دِمائَهم، واستَحَلُّوا مَحارِمَهم
“Jauhilah kezaliman, lantaran sesungguhnya kezaliman adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat. Dan jauhilah sifat kikir, lantaran sifat kikir telah membinasakan orang-orang sebelum kalian; sifat itu mendorong mereka untuk menumpahkan darah sesama mereka dan menghalalkan apa nan diharamkan atas mereka.” (HR. Muslim) [8]
Allah menakut-nakuti neraka bagi penegak norma nan tidak melakukan setara dengan kepemimpinan dan kebijakannya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
من وَلِيَ من أمورِ المسلمين شيئًا، فغشَّهم؛ فهو في النَّارِ
“Barang siapa nan memegang suatu urusan kaum muslimin, lampau dia menipu alias berkhianat kepada mereka, maka dia berada di neraka.” (HR. Thabrani) [9]
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
ما مِنْ عبدٍ يسترْعيه اللهُ رعيَّةً، يموتُ يومَ يموتُ، وهوَ غاشٌّ لرعِيَّتِهِ، إلَّا حرّمَ اللهُ عليْهِ الجنَّةَ
“Tidaklah seorang hamba nan Allah beri amanah untuk memimpin rakyat, kemudian dia meninggal pada hari kematiannya dalam keadaan menipu alias mengingkari rakyatnya, selain Allah haramkan surga baginya.” (Muttafaq ‘alaih) [10]
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
صِنْفَانِ من أهلِ النارِ لمْ أَرَهُما بَعْدُ : قومٌ مَعَهُمْ سِياطٌ كَأَذْنابِ البَقَرِ يَضْرِبُونَ الناسَ بِها، ونِساءٌ كَاسِياتٌ عَارِياتٌ، مُمِيلاتٌ مائِلاتٌ، رُؤوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ البُخْتِ المائِلَةِ، لا يَدْخُلَنَّ الجنةَ، ولا يَجِدَنَّ رِيحَها، وإِنَّ رِيحَها لَيوجَدُ من مَسِيرَةِ كذا وكذا
“Dua golongan dari penunggu neraka nan belum pernah saya lihat sebelumnya: 1) suatu kaum nan berbareng mereka cambuk-cambuk seperti ekor sapi, mereka memukul manusia dengannya, dan 2) para wanita nan berpakaian tetapi telanjang, condong (kepada keburukan) dan membikin orang lain condong (kepada keburukan), kepala mereka seperti punuk unta nan miring. Mereka tidak bakal masuk surga dan tidak bakal mencium baunya, padahal aroma surga itu dapat tercium dari jarak perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim) [11]
Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,
القُضاةُ ثلاثةٌ، اثنانِ في النَّارِ، وواحدٌ في الجنَّةِ، رجلٌ علِمَ الحقَّ فقضَى بهِ فَهوَ في الجنَّةِ، ورجلٌ قضَى للنَّاسِ علَى جَهْلٍ فَهوَ في النَّارِ، ورجلٌ جارَ في الحُكْمِ فَهوَ في النَّارِ، لقُلنا: إنَّ القاضيَ إذا اجتَهَدَ فَهوَ في الجنَّةِ
“Para pengadil itu ada tiga: dua di neraka dan satu di surga. Seseorang nan mengetahui kebenaran lampau memutuskan perkara dengannya, maka dia di surga. Seseorang nan memutuskan perkara bagi manusia dalam keadaan jahil (tidak mengetahui kebenaran), maka dia di neraka. Dan seseorang nan melakukan kejam dalam hukum, maka dia di neraka.” (HR. Ibnu Majah, Nasa’i, Abu Daud, dan Tirmidzi) [12]
Hadis di atas menjelaskan bahwa seorang penegak norma dapat dengan mudah masuk neraka jika dia tidak melakukan adil. Peluang masuk neraka adalah dua berbanding tiga, dan perihal itu disebabkan oleh ketidakadilannya dalam memberikan keputusan.
Rasulullah juga sangat membenci para penegak norma nan menyulitkan urusan rakyatnya, terlebih lagi para penegak norma nan mempersulit urusan manusia lain untuk kepentingan dirinya. Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha dalam sabda nan sangat panjang menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa,
اللهُمَّ مَنْ ولِي من أمْرِ أُمَّتِي شيئًا فَشَقَّ عليهم فاشْقُقْ علَيهِ ، ومَنْ ولِيَ من أمرِ أُمَّتِي شيئًا فَرَفَقَ بِهمْ فارْفُقْ بِهِ
“Ya Allah, siapa saja nan memegang suatu urusan dari umatku, lampau dia menyusahkan mereka, maka persulitlah ia. Dan siapa saja nan memegang suatu urusan dari umatku lampau dia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah Engkau kepadanya.” [13]
Ancaman-ancaman itu Allah berikan agar para penegak norma betul-betul melangkah sesuai dengan fungsinya. Sehingga, jika penegak norma dirasa dapat bertindak adil, diharapkan lebih tersebarnya kemaslahatan kepada umat manusia.
Kesimpulan
Dapat dipahami bahwa kedudukan sebagai penegak norma bukanlah sekadar posisi duniawi, tetapi amanah besar nan menentukan keselamatan di akhirat. Ia betul-betul menjadi pedang bermata dua: keadilan nan ditegakkan bakal mengangkat derajat hingga mendapatkan naungan Allah, sementara kezaliman nan dilakukan bakal menyeret pelakunya kepada ancaman nan sangat keras. Oleh lantaran itu, setiap keputusan, sekecil apa pun, kudu dibangun di atas rasa takut kepada Allah dan kesadaran bakal hisab nan pasti. Allah Ta’ala mengingatkan dengan sangat tegas,
وَتِلْكَ الْقُرَىٰ أَهْلَكْنَاهُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِم مَّوْعِدًا
“Dan negeri-negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka melakukan zalim, dan Kami telah menetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka.” (QS. al-Kahfi: 59)
Ayat ini menjadi peringatan bahwa kezaliman bukan hanya menghancurkan individu, tetapi juga bisa menghancurkan suatu masyarakat. Hendaknya setiap penegak norma senantiasa menimbang setiap kebijakan dan keputusan dengan keadilan, lantaran di situlah letak keselamatan, baik bagi dirinya di alambaka maupun bagi masyarakat nan dia pimpin di dunia.
Baca juga: Pilih Kasih dalam Penegakan Hukum, Faktor Hancurnya Sebuah Negara
***
Penulis: Muhammad Insan Fathin
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] Imam Ibnu Katsir, Tafsir al-Qur’an al-Azhim, 5: 46.
[2] Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 2751. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1829, dengan perbedaan redaksi nan ringan.
[3] Syekh Ibnu Utsaimin, Liqa al-Bab al-Maftuh, 38: 4.
[4] Syekh Muhammad Ismail al-Muqaddim, al-Ilam bi Hurmat Ahl al-Ilm wal-Islam, hal. 171.
[5] Imam al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, no. 6806. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 1031.
[6] Imam Muslim, Shahih Muslim, no. 1827.
[7] Hadis riwayat Imam Abu Dawud no. 3573, Imam at-Tirmidzi no. 1322, Imam Ibnu Majah no. 2315 (lafaz Ibnu Majah), dan Imam an-Nasai dalam as-Sunan al-Kubra no. 5922; dinilai sahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1887.
[8] Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih Muslim, no. 2578.
[9] Imam at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Awsath no. 3481, disahihkan oleh Syekh al-Albani dalam Shahih at-Targhib wa at-Tarhib, no. 2206
[10] Hadis riwayat Imam al-Bukhari no. 7150 dan Imam Muslim no. 142 (lafaz Muslim).
[11] Hadis riwayat Imam Muslim, Shahih Muslim, no. 2128.
[12] Hadis riwayat Imam Abu Dawud no. 3573, Imam at-Tirmidzi no. 1322, Imam Ibnu Majah no. 2315 (lafaz Ibnu Majah), dan Imam an-Nasai dalam as-Sunan al-Kubra no. 5922; dinilai sahih oleh Syekh Muhammad Nashiruddin al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah, no. 1887.
[13] Hadis riwayat Imam Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim, no. 1828 (dengan redaksi lebih panjang).
Daftar Pustaka
al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih al-Adab al-Mufrad. Riyadh: Maktabah al-Maarif.
al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih al-Jami‘ Ash-Shaghir wa Ziyadatuhu. Beirut: Al-Maktabah al-Islami.
al-Albani, Muhammad Nashiruddin. Shahih Ibnu Majah. Riyadh: Maktabah al-Maarif.
Abu Dawud, Sulaiman bin al-Asyats. Sunan Abi Dawud. Beirut: Dar ar-Risalah.
al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Shahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Katsir.
Ibnu Katsir, Ismail bin Umar bin Katsir ad-Dimasyqi. Tafsir al-Qur’an al-Azhim. Giza: Muassasah Qurtubah, Maktabah Aulad asy-Syaikh, 1421 H / 2000 M.
Ibnu Majah, Muhammad bin Yazid. Sunan Ibni Majah. Beirut: Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyyah.
al-Muqaddim, Muhammad bin Ahmad bin Ismail. al-Ilam bi Hurmat Ahl al-Ilm wal-Islam. Riyadh: Dar Taibah, Maktabah al-Kautsar, 1419 H / 1998 M.
Muslim bin al-Hajjaj. Shahih Muslim. Beirut: Dar Ihya at-Turats al-Arabi.
an-Nasai, Ahmad bin Syuaib. as-Sunan al-Kubra. Beirut: Muassasah ar-Risalah.
at-Tabarani, Sulaiman bin Ahmad. al-Mu‘jam al-Awsath. Beirut: Dar al-Haramain.
at-Tirmidzi, Muhammad bin Isa. Sunan at-Tirmidzi. Beirut: Dar al-Gharb al-Islami.
al-Utsaimin, Muhammad bin Shalih bin Muhammad. Liqa al-Bab al-Maftuh. IslamWeb, 1421 H.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·