ARTICLE AD BOX
Setiap pagi, jutaan orang di bumi berangkat bekerja. Ada nan mengendarai mobil alias motor ke kantor, ada nan berdempet-dempetan di bus maupun KRL, ada nan memikul peralatan di pasar, dan ada pula nan duduk di depan layar komputer selama berjam-jam.
Namun di kembali semua itu, ada satu pertanyaan mendasar nan jarang kita renungkan: Apakah kita sudah betul-betul mensyukuri nikmat pekerjaan nan telah Allah berikan?
Bekerja bukan sekadar rutinitas, bukan sekadar sumber gaji, dan bukan pula sekadar perangkat memperkuat hidup. Dalam Islam, pekerjaan adalah corak rahmat, amanah, dan jalan menuju pahala andaikan dijalani dengan niat nan betul dan langkah nan halal.
Pekerjaan adalah nikmat dan amanah dari Allah ‘Azza wa Jalla
Banyak orang mengira pekerjaan datang lantaran kecerdasan, pendidikan tinggi, hubungan nan luas alias relasi nan banyak. Padahal, sejatinya semua itu hanyalah sebab, sementara nan memberi pekerjaan adalah Allah. Tidak sedikit orang nan mempunyai gelar akademik tinggi namun tetap menganggur, dan tidak sedikit pula nan tanpa pendidikan tinggi justru diberi rezeki nan cukup.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَمَا بِكُم مِّن نِّعْمَةٍ فَمِنَ اللَّهِ
“Dan apa saja nikmat nan ada pada kalian, maka itu datangnya dari Allah.” (QS. an-Naḥl: 53)
Pekerjaan, sekecil apa pun bentuknya, adalah bagian dari rezeki nan Allah jamin. Karena itu, orang nan tetap mempunyai pekerjaan meski sederhana, meski tidak sesuai keinginan, hendaknya banyak bersyukur. Sebab di luar sana, banyak orang berjuang keras mencari pekerjaan, melamar ke beragam tempat, tetapi belum juga mendapat kesempatan. Ada nan sudah lama menganggur, ada nan kehilangan pekerjaan lantaran pandemi, ada pula nan terpaksa menanggung family tanpa penghasilan tetap.
Bayangkan seseorang nan setiap hari keluar rumah membawa map lamaran kerja, berpakaian rapi, bermohon agar diterima, namun selalu pulang dengan penolakan. Lalu bandingkan dengan diri kita nan tetap mempunyai pekerjaan, tempat untuk berjuang, dan penghasilan untuk memperkuat hidup. Bukankah itu sudah merupakan nikmat besar nan wajib disyukuri?
Bersyukur adalah jalan untuk menambah keberkahan rezeki
Syukur bukan hanya sekadar ucapan “alhamdulillah” di bibir, melainkan rasa sadar bahwa setiap rezeki adalah pemberian Allah, disertai upaya untuk menjaganya dengan kebaikan nan baik.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku bakal menambah (nikmat) kalian. Tetapi jika kalian kufur, sesungguhnya azab-Ku banget pedih.” (QS. Ibrahim: 7)
Maka, corak syukur atas pekerjaan bukan hanya ucapan terima kasih kepada Allah, tapi juga dengan bekerja sungguh-sungguh, jujur, dan amanah. Orang nan bekerja dengan semangat ibadah bakal merasakan ketenangan batin, meski mungkin gajinya belum seberapa.
Bekerja sebagai corak ibadah
Islam tidak memisahkan antara urusan bumi dan akhirat. Bekerja, jika diniatkan untuk mencari rida Allah, menafkahi keluarga, dan menjaga diri dari meminta-minta, maka dia menjadi ibadah nan berpahala.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“Sesungguhnya setiap kebaikan tergantung pada niatnya.” (Muttafaqun ‘alaihi)
Dalam sabda lain, beliau bersabda,
إنَّكَ لن تُنْفِقَ نفقةً تبتَغي بها وجهَ اللهِ عزَّ وجلَّ إلَّا أُجِرْتَ بها حتَّى ما تجعلُ في فَمِ امرأتِكَ
“Tidaklah engkau menafkahkan sesuatu nan engkau niatkan untuk mencari wajah Allah, selain engkau bakal diberi pahala, apalagi pada suapan nan engkau berikan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari)
Artinya, setiap keringat nan menetes lantaran mencari nafkah halal, jika diniatkan lantaran Allah, maka bakal menjadi pahala. Seorang tukang becak, petani, guru, pedagang, pegawai, alias apalagi pekerja harian, semua bisa menjadi mahir ibadah di sisi Allah jika bekerja dengan niat nan tulus dan langkah nan halal.
Para Nabi pun bekerja
Salah satu bukti kemuliaan bekerja adalah realita bahwa semua Nabi nan diutus Allah juga bekerja. Mereka tidak hanya beragama dan berdakwah, tetapi juga menempuh jalan kehidupan melalui upaya tangan sendiri.
Ini menunjukkan bahwa bekerja adalah fitrah mulia para Nabi dan orang saleh.
Nabi Adam عليه السلام bekerja sebagai petani, menanam, dan mengolah bumi.
Nabi Nuh عليه السلام bekerja sebagai kreator kapal, sebagaimana firman Allah,
وَاصْنَعِ الْفُلْكَ بِأَعْيُنِنَا وَوَحْيِنَا
“Dan buatlah kapal itu dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami.” (QS. Hud: 37)
Nabi Ibrahim عليه السلام pernah menjadi pedagang dan peternak, menjalani kehidupan dengan penuh kejujuran.
Nabi Musa عليه السلام menjadi penggembala sebelum diangkat menjadi Rasul. Dalam Al-Qur’an disebutkan,
قَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أُنْكِحَكَ إِحْدَى ابْنَتَيَّ هَاتَيْنِ عَلَىٰ أَنْ تَأْجُرَنِي ثَمَانِيَ حِجَجٍ
“Sesungguhnya saya bermaksud menikahkan engkau dengan salah satu dari kedua anakku ini dengan syarat engkau bekerja denganku selama delapan tahun.” (QS. al-Qasas: 27)
Nabi Daud عليه السلام bekerja sebagai pandai besi, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah,
وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ
“Dan Kami telah melunakkan besi untuknya (Daud).” (QS. Saba’: 10)
Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ دَاوُودَ كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ
“Sesungguhnya Nabi Dawud makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari)
Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebelum menjadi Rasul, beliau bekerja sebagai penggembala dan pedagang. Dalam sebuah riwayat, beliau bersabda,
مَا بَعَثَ اللَّهُ نَبِيًّا إِلَّا رَعَى الْغَنَمَ
“Tidaklah Allah mengutus seorang Nabi selain dia pernah menggembala kambing.”
Ketika para sahabat bertanya, “Engkau juga, wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab,
نَعَمْ، كُنْتُ أَرْعَاهَا عَلَى قَرَارِيطَ لِأَهْلِ مَكَّةَ
“Ya, saya menggembalakannya untuk masyarakat Makkah dengan bayaran beberapa qirath.” (HR. Bukhari)
Semua ini menunjukkan bahwa bekerja adalah kemuliaan, bukan kerendahan. Siapa pun nan berupaya mencari rezeki dengan langkah halal, berfaedah mereka meneladani para Nabi.
Bahaya melupakan nikmat pekerjaan
Sayangnya, di era modern, banyak orang mengeluh atas pekerjaan nan mereka miliki. Ada nan merasa bosan, jenuh, dan tidak bersyukur. Ada pula nan menganggap pekerjaan sebagai beban, bukan amanah. Padahal, ketika seseorang berakhir mensyukuri pekerjaannya, Allah bisa saja mencabut nikmat itu. Rasa capek bisa berubah menjadi siksa, rekan kerja menjadi musuh, dan pekerjaan nan dulunya rezeki bisa berubah menjadi ujian.
Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan,
وَقَلِيلٌ مِّنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ
“Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku nan bersyukur.” (QS. Saba’: 13)
Renungkanlah wahai saudaraku! Berapa banyak orang nan hari ini memohon agar diterima bekerja, sementara kita justru mengeluh dengan pekerjaan nan sudah Allah berikan?!
Mensyukuri pekerjaan di era modern
Di era digital saat ini, pekerjaan sering kali diukur dari popularitas, penghasilan besar, alias prestise sosial. Namun, Islam mengajarkan standar berbeda: nan paling mulia adalah nan paling berfaedah dan halal.
Cara menjaga syukur atas pekerjaan di masa sekarang antara lain:
Pertama: Memperbarui niat bekerja sebagai ibadah, “Ya Allah, saya bekerja bukan untuk bumi semata, tapi untuk menafkahi family dan menunaikan amanah-Mu.”
Kedua: Menjaga kejujuran dan profesionalitas. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ
“Pedagang nan jujur dan amanah bakal berbareng para Nabi, orang-orang jujur, dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi, disahihkan oleh Syekh Albani dalam Silsilah Ash-Shahihah wa Shahih At-Targhib wa At-Tarhib)
Ketiga: Bersedekah dari hasil kerja. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ
“Sedekah tidak bakal mengurangi harta.” (HR. Muslim)
Keempat: Tawakal, meyakini bahwa hasil akhir dari kerja keras kita ditentukan oleh Allah, bukan semata kemampuan.
وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
“Dan hanya kepada Allah orang-orang mukmin bertawakal.” (QS. Ali ‘Imran: 122)
Kelima: Qana‘ah, yaitu merasa cukup dengan apa nan Allah beri.
Keenam: Amanah dan ihsan, ialah melakukan pekerjaan sebaik mungkin.
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang nan andaikan melakukan suatu pekerjaan, dia melakukannya dengan sebaik-baiknya.” (HR. Abu Ya’la, Ath-Thabrani, dan Al-Baihaqi)
Pekerjaan adalah anugrah nan besar
Saudaraku, tidak semua orang diberi keahlian untuk bekerja. Sebagian sedang sakit, sebagian kehilangan pekerjaan, sebagian lagi tetap mencari.
Jika hari ini kita tetap bisa bekerja, tetap bisa menjemput rezeki dengan tangan sendiri, itu adalah nikmat nan luar biasa besar.
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak bakal bisa menghitungnya.” (QS. an-Naḥl: 18)
Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba nan pandai bersyukur, memberkahi rezeki kita, dan mencukupkan kita dengan kekayaan nan legal serta menjauhkan diri kita dari kekayaan nan haram.
Baca juga: Bagaimanakah agar Bekerja Berbuah Pahala?
***
Jember, 22 Jumadil Ula 1447
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Muslimah.or.id
English (US) ·
Indonesian (ID) ·