Menjadi Muslim yang Kuat

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Segala puji bagi Allah Ta’ala nan dengan karunia dan rahmat-Nya memuliakan hamba-hamba beragama dengan petunjuk Al-Qur’an dan sunah Nabi Muhammad ﷺ. Salah satu keistimewaan besar nan Allah anugerahkan adalah keahlian seorang hamba untuk bertumbuh, menguat, dan menjadi pribadi nan matang secara ruhani, akhlak, dan tanggung jawab. Setiap Muslim diperintahkan untuk melakukan ihsan, memaksimalkan diri, dan menempuh jalan nan betul menuju kedewasaan iman.

Di tengah era nan penuh kemudahan namun juga melemahkan mental, banyak pemuda Muslim mencari langkah agar dapat menjadi pribadi nan kuat, tegar, dan matang dalam waktu relatif cepat. Bukan kuat secara bentuk semata, tetapi kuat akidahnya, ibadahnya, karakternya, dan langkah berpikirnya.

Ada beberapa prinsip krusial nan dapat mempercepat proses penguatan jiwa dan adab seorang muslim. Prinsip-prinsip ini berakar pada tuntunan hukum dan teladan Nabi ﷺ dalam membangun karakter generasi terbaik. Di antara prinsip tersebut adalah berani mengambil akibat dengan bertawakal kepada Allah, belajar kepada pembimbing nan lurus dan berpengalaman, serta menempuh perjalanan (safar) sebagai sarana penggemblengan mental.

Mengambil akibat dengan tawakal kepada Allah

Pertama, seorang Muslim kudu berani mengambil akibat dalam hidup selama berada dalam ketaatan kepada Allah. Risiko di sini merupakan keberanian untuk melangkah meski hasil tetap gaib dan tidak pasti. Allah Ta’ala berfirman,

وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُۥٓ

“Dan peralatan siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah bakal mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)

Saudaraku, ketidakpastian bukan argumen untuk berakhir bergerak. Seorang Muslim justru diuji pada saat dia tidak mengetahui hasil akhir. Dalam kehidupan Nabi ﷺ, terdapat banyak momen ketika beliau ﷺ bertindak sebelum mengetahui hasil, seperti saat berhijrah, berceramah secara terang-terangan, dan menghadapi beragam ancaman. Semua dilakukan dengan tawakal, bukan menunggu kepastian hasil.

Ketakutan terhadap perihal nan belum diketahui sering membikin sebagian orang terjebak dalam analysis paralysis. Mereka menunda, menimbang terlalu lama, dan akhirnya tidak bergerak sama sekali. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda,

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ باِللهِ

“Jika engkau meminta sesuatu, mintalah kepada Allah. Jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah.” (HR. At-Tirmidzi no. 2561, hasan shahih)

Hadis ini menunjukkan bahwa keberanian seorang hamba lahir dari kepercayaan kepada Allah, bukan dari kepastian duniawi. Melangkah sembari bermohon dan berupaya adalah corak ibadah.

Selain itu, akibat sering kali mengantarkan seseorang kepada kegagalan. Namun, kegagalan adalah bagian dari takdir nan membawa hikmah. Allah berfirman,

وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi Anda membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi Anda menyukai sesuatu, padahal itu jelek bagimu. Allah mengetahui, sedangkan Anda tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Oleh karenanya, perihal nan krusial untuk kita camkan pada diri sendiri bahwa kegagalan tidak boleh menghancurkan iman, tetapi justru memperkuat tawakal dan kerendahan hati seorang Muslim.

Baca juga: Hadis: Mukmin nan Kuat

Pentingnya mempunyai pembimbing

Kedua, setiap Muslim nan mau tumbuh dengan sigap memerlukan seorang pembimbing alias mentor. Belajar kepada orang berilmu adalah prinsip dasar nan tidak pernah berubah. Allah Ta’ala berfirman,

فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada mahir pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.” (QS. An-Nahl: 43)

Seorang mentor bukanlah orang nan sekadar fasih berbicara, tetapi seseorang nan mempunyai pengalaman, hikmah, dan istikamah. Di antara keistimewaan belajar kepada guru/ulama adalah bahwa mereka menunjukkan aplikasinya sesuai pemahaman para salaf. Inilah nan dimaksud oleh sebagian ulama: pengetahuan itu diwariskan, bukan hanya dipelajari dari buku.

Para ustadz klasik maupun kontemporer menekankan pentingnya duduk berbareng pembimbing lantaran keberkahan pengetahuan datang melalui talaqqi (belajar langsung).

Cahaya itu tidak dapat diperoleh hanya dengan membaca, tetapi dengan pengarahan seorang pembimbing nan mengarahkan. Pengalaman para da’i nan pernah belajar di kota-kota pengetahuan seperti Madinah dan Mekkah menunjukkan sungguh seorang Syekh dengan mahfuz kuat dan adab mulia dapat membantu muridnya memahami kepercayaan lebih tepat dan lebih cepat.

Selain itu, krusial pula mempunyai mentor nan memahami konteks lokal. Ilmu kepercayaan itu satu, tetapi penerapannya mempunyai rincian sesuai tempat dan kondisi. Seorang pembimbing nan memahami realitas sosial dan budaya muridnya, dia bakal bisa memberikan nasihat nan relevan, bukan sekadar teoritis. Dari sinilah seorang Muslim tumbuh lebih matang dalam memahami urusan hidupnya.

Madrasah kehidupan nan membentuk kedewasaan

Ketiga, safar (perjalanan) adalah salah satu sarana terbaik untuk mempercepat kematangan jiwa. Nabi ﷺ bersabda,

السَّفَرُ قِطْعَةٌ مِنَ الْعَذَابِ ، يَمْنَعُ أَحَدَكُمْ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَنَوْمَهُ ، فَإِذَا قَضَى نَهْمَتَهُ فَلْيُعَجِّلْ إِلَى أَهْلِهِ

“Safar adalah bagian dari balasan (siksa). Ketika safar, salah seorang dari kalian bakal susah makan, minum, dan tidur. Jika urusannya telah selesai, bersegeralah kembali kepada keluarganya.” (HR. Bukhari no. 1804 dan Muslim no. 1927)

Kesulitan itulah nan mendewasakan. Safar mengajarkan seseorang untuk bersabar, bertawakal, mengelola stres, berinteraksi dengan budaya baru, dan menghadapi keadaan nan tidak terduga. Setiap perjalanan membuka wawasan bahwa bumi ini luas dan manusia beragam.

Setiap momen dalam safar — kehilangan barang, tersesat, menghadapi cuaca ekstrem, alias berjumpa orang nan berbeda karakter — adalah pelajaran hidup. Kesulitan-kesulitan itu membikin seseorang lebih rendah hati, lebih tegar, dan lebih berterima kasih kepada Allah Ta’ala.

Salah satu corak safar paling besar manfaatnya adalah haji dan umrah. Selain sebagai ibadah wajib/utama, perjalanan ini melatih keikhlasan, kesabaran, kepemimpinan, serta keahlian melindungi family alias rombongan. Seorang laki-laki Muslim bakal diuji dalam menjaga adab, mengelola kelelahan, dan menyelesaikan masalah tanpa banyak fasilitas.

Safar juga membikin seseorang memahami bahwa bumi tidak berputar di sekelilingnya. Ketika memandang orang nan hidup tanpa listrik alias air bersih namun tetap bahagia, seorang Muslim bakal menyadari sungguh banyak nikmat nan selama ini dia tidak syukuri.

Menggabungkan ketiganya untuk menjadi Muslim nan kuat

Mengambil risiko, belajar kepada mentor, dan melakukan safar adalah tiga komponen pembentuk jiwa nan saling melengkapi. Risiko melatih keberanian dan tawakal. Mentor memberikan arah agar tidak tersesat. Safar memperkuat mental dan memperluas wawasan.

Nabi ﷺ bersabda,

اَلْـمُؤْمِنُ الْقَـوِيُّ خَـيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَـى اللهِ مِنَ الْـمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ، وَفِـيْ كُـلٍّ خَـيْـرٌ

“Mukmin nan kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin nan lemah, namun pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim no. 2664)

Kekuatan nan dimaksud ustadz adalah kekuatan iman, ketegasan karakter, ketangguhan menghadapi cobaan, dan kemauan untuk menapaki jalan kebaikan. Dengan tiga langkah ini, seorang Muslim dapat mencapai kedewasaan spiritual lebih sigap daripada sekadar menunggu pengalaman hidup datang dengan sendirinya.

Pada akhirnya, semua proses ini kudu dibingkai dengan niat nan ikhlas. Tidak ada gunanya menjadi kuat secara mental alias bentuk jika tidak diarahkan untuk ibadah kepada Allah. Langkah-langkah ini juga kudu ditempuh dengan doa, muhasabah, dan komitmen menjaga amal-amal dasar: salat, tilawah, zikir pagi–petang, dan menjauhi maksiat.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba nan kuat, tawakal, dan berfaedah bagi umat. Aamiin.

Baca juga: Hati Kuat, Andapun Selamat!

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info