ARTICLE AD BOX
Salah satu aliran teologi logis dalam Islam, barangkali Muktazilah menjadi salah satu sekte paling tua dari nan lainnya. Ia muncul pada awal abad kedua Hijriah, bertepatan dengan era akhir para tabi'in, dan dikenal dengan karakter unik rasionalitasnya dalam memahami teks-teks aliran Islam.
Aliran ini seringkali dikaitkan dengan seorang ustadz berjulukan Washil bin Atha, salah satu siswa dari Imam Hasan Bashri, nan memilih memisahkan diri dari majelis gurunya lantaran perbedaan pandangan tentang status pelaku dosa besar. Dan dari peristiwa inilah, aliran Muktazilah mulai tumbuh sebagai sebuah arus pemikiran nan turut memberi warna dalam sejarah teologi Islam.
Namun tidak sempurna rasanya jika kita langsung membahas sejarah awal munculnya Muktazilah, tanpa mengenal lebih dekat perihal sosok Washil bin Atha nan mempunyai andil besar di kembali berkembangnya aliran ini. Karena itu, penulis hendak menjelaskan sekilas biografinya dengan singkat, baru kemudian membahas gimana aliran ini muncul.
Biografi Singkat Washil bin Atha
Sebagaimana dikisahkan oleh Syamsuddin ad-Dzahabi (wafat 748 H) dalam salah satu karyanya, Washil berjulukan komplit Abu Hudzaifah Washil bin Atha al-Makhzumi. Ia lahir pada tahun 80 Hijriah, bertepatan dengan tahun 700 Masehi di Madinah al-Munawwarah, dan wafat pada tahun 131 Hijriah bertepatan dengan tahun 746 Masehi di Bashrah. (Siyar A’lamin Nubala, [Kairo: Darul Hadits, 2006], jilid VI, laman 175).
Pada usia nan tetap muda, Washil bin Atha pindah ke kota Bashrah dan tumbuh besar di sana. Dan di kota inilah dia kemudian menimba pengetahuan dan mengembangkan kapabilitas intelektualnya hingga menjadi seorang ustadz besar. Namun nan menarik, meskipun pada akhirnya dia dikenal sebagai orator ulung dan mahir debat nan cemerlang, Washil rupanya mempunyai kekurangan bentuk ialah dia tidak bisa melafalkan huruf ra (ر) dengan sempurna.
Akan tetapi perihal ini tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap berceramah dan berdiskusi. Justru dia dikenal sangat pandai menghindari kata-kata nan mengandung huruf ra dalam setiap pembicaraannya.
Bahkan ketika menerima surat nan di dalamnya terdapat kata-kata berhuruf ra, dia bisa membaca dan menggantinya secara spontan dengan kata lain nan tidak mengandung huruf ra tanpa mengubah makna nan dimaksud. (Shalahuddin as-Shafadi, Nushratuts Tsair ‘alal Mitslis Sair, [Darul Majid, t.t], laman 57).
Lahirnya Sekte Muktazilah
Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, lahirnya aliran Muktazilah tidak dapat dilepaskan dari sosok Washil bin Atha nan mempunyai peran krusial dalam merintis arah pemikiran tersebut. Pergulatan intelektual nan dia alami, terutama dalam merespons beragam persoalan teologis nan berkembang pada masanya, menjadi titik awal munculnya corak pemikiran nan kemudian dikenal sebagai Muktazilah.
Dari sinilah, embrio aliran ini mulai terbentuk dan berkembang, sebelum akhirnya menjelma menjadi salah satu arus teologi nan cukup berpengaruh dalam sejarah Islam.
Syekh Abu Bakar bin Ahmad as-Syahrastani (wafat 548 H), mengatakan munculnya sekte Muktazilah ini bermulai ketika Washil bin Atha sedang duduk dalam suatu momen gurunya nan berjulukan Imam Hasan al-Bashri (wafat 110 H). Pada momen tersebut, datanglah seseorang untuk bertanya kepada Hasan al-Bashri tentang status pelaku dosa besar.
Orang itu berkata, “Wahai pembimbing kami, telah muncul di era ini suatu golongan nan mengkafirkan pelaku dosa besar. Menurut mereka, dosa besar adalah kekufuran nan dapat mengeluarkan seseorang dari agama. Mereka adalah kaum Waidiyah dari kalangan Khawarij.
Sementara itu, ada pula golongan lain nan menangguhkan norma bagi pelaku dosa besar. Menurut mereka, dosa besar tidak membahayakan seseorang selama dia tetap beriman. Karena dalam pandangannya, kebaikan bukanlah rukun ketaatan dan maksiat tidak bakal membahayakan ketaatan sebagaimana ketaatan tidak bakal berfaedah di tengah kekufuran. Mereka adalah Murjiah umat ini.
Maka gimana pendapat Anda tentang kepercayaan nan betul dalam masalah ini?” Mendengar pertanyaan tersebut, Hasan al-Bashri tidak langsung menjawabnya, tetapi berpikir sejenak untuk memberikan jawaban nan tepat dan bijak kepadanya. Namun sebelum dia sempat menjawab, Washil bin Atha lebih dulu angkat bicara dan menyampaikan pendapatnya tentang perihal ini dengan berkata,
“Aku tidak beranggapan bahwa pelaku dosa besar adalah mukmin sepenuhnya, juga tidak kafir sepenuhnya. Ia berada pada posisi di antara dua posisi (manzilah bainal manzilatain), tidak mukmin dan tidak kafir.”
Setelah menyampaikan pendapatnya, Washil bin Atha kemudian bangkit dan memisahkan diri menuju salah satu tiang masjid untuk menjelaskan pendapatnya kepada sebagian siswa Hasan al-Bashri nan mengikutinya. Melihat kejadian itu, Hasan al-Bashri berkata:
اِعْتَزَلَ عَنَّا وَاصِلٌ فَسُمِيَ هُوَ وَأَصْحَابُهُ مُعْتَزِلَةً
Artinya, “Washil telah memisahkan diri dari kita, maka dia dan para pengikutnya dinamakan Muktazilah.” (Al-Milal wan Nihal, [Kairo: Muassasah al-Halabi, t.t], jilid I, laman 48).
Namun, perlu dipahami lebih juah bahwa kepergian Washil bin Atha dari majelis Imam Hasan al-Bashri tidak semata lantaran dia mempunyai pandangan berbeda dari nan lain, tetapi lantaran setelah Washil menyampaikan argumennya mengenai “posisi di antara dua posisi” bagi pelaku dosa besar, Imam Hasan al-Bashri justru membantah dan menolak pendapat tersebut, apalagi mengusir Washil dari majelisnya.
Penolakan inilah nan kemudian mendorong Washil bin Atha untuk secara tegas memisahkan diri dari gurunya, serta membawa para pengikutnya nan setuju dengan pandangannya, dan akhirnya melahirkan aliran baru berjulukan Muktazilah.
Penjelasan lebih rinci ini sebagaimana dipaparkan oleh Abul Mudzaffar Thahir bin Muhammad al-Isfarayini (wafat 471 H), dalam salah satu karyanya mengatakan:
فَخَالَفَ فِي هَذَا الْقَوْلِ جَمِيعَ الْمُسْلِمِينَ وَاعْتَزَلَ بِهِ دِينَ الْمُسْلِمِينَ فَطَرَدَهُ الْحَسَنُ الْبَصْرِيُ مِنْ مَجْلِسِهِ فَاعْتَزَلَ جَانِبًا مَعَ أَتْبَاعِهِ فَسُمّوا مُعْتَزِلَةً لِاعْتِزَالِهِمْ مَجْلِسَهُ وَاعْتِزَالِهِمْ قَوْلَ الْمُسْلِمِينَ
Artinya, “Maka Washil bin Atha berbeda pendapat dalam masalah ini dengan seluruh kaum Muslimin, dan dengan pendapatnya itu dia memisahkan diri dari aliran kaum Muslimin. Lalu Hasan al-Bashri mengusirnya dari majelisnya. Maka dia memisahkan diri ke suatu sisi berbareng para pengikutnya, lampau mereka dinamakan Muktazilah lantaran mereka memisahkan diri dari majelisnya (Hasan al-Bashri) dan memisahkan diri dari pendapat kaum Muslimin.” (At-Tabshir fid Din wa Tamyizul Firqah an-Najiyyah ‘anil Firaqil Halikin, [Lebanon: Alamul Kutub, 1983 M], laman 67).
Dari beberapa rangkaian penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa dari sinilah awal mula lahirnya sekte Muktazilah nan diprakarsai oleh Washil bin Atha, nan kemudian berkembang dan mengambil peran krusial dalam perjalanan intelektual umat Islam pada masa-masa berikutnya.
Tetapi ada satu perihal nan juga perlu dipahami ketika membahas perihal ini, ialah maksud dari “Pelaku dosa besar berada di antara dua posisi (manzilah bainal manzilatain). Ia tidak mukmin sepenuhnya, juga tidak kafir sepenuhnya.”
Maksud dari “manzilah bainal manzilatain” alias “posisi di antara dua posisi” ini menurut kepercayaan Muktazilah adalah bahwa seorang Muslim nan melakukan dosa besar, seperti membunuh, berzina, alias mencuri, tidak dapat dikategorikan sebagai mukmin sejati sebagaimana layaknya orang nan taat, namun juga tidak bisa serta merta dicap sebagai kafir nan gugur status keimanannya.
Di dunia, statusnya tetap dianggap sebagai seorang Muslim, sehingga darah dan hartanya tetap dilindungi oleh norma Islam, namun di alambaka kelak dia bakal dihukumi sebagai kafir dan bakal kekal berada di dalam neraka, lantaran dosa besar nan dilakukannya dianggap telah menggugurkan keimanannya.
Demikianlah tulisan singkat tentang Washil bin Atha dan awal mula lahirnya sekte Muktazilah di masa akhir tabi'in. Semoga paparan ini dapat menjadi pengantar untuk memahami lebih jauh sejarah dan perkembangan beragam aliran dalam Islam secara lebih utuh dan proporsional. Wallahu a’lam bisshawab.
--------------
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·