Mengenal Nama Allah “Al-‘Aziz”

Sedang Trending 1 tahun yang lalu
ARTICLE AD BOX

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam, nan mempunyai nama-nama terbaik dan sifat-sifat nan sempurna. Di antara nama-Nya nan mulia adalah “Al-‘Aziz”, nan menunjukkan keperkasaan, kemuliaan, dan kemenangan-Nya atas segala sesuatu. Memahami dan menghayati nama “Al-‘Aziz” sangat krusial bagi setiap muslim, lantaran perihal ini bakal menumbuhkan keyakinan, keteguhan hati, dan kepercayaan penuh kepada-Nya.

Melalui tulisan ini, kita bakal bersama-sama menggali dalil-dalil nan menunjukkan nama Allah Al-‘Aziz, memahami kandungan maknanya, serta mengetahui konsekuensinya bagi kehidupan seorang hamba. Semoga pembahasan ini dapat menjadikan kita mengenal sifat keperkasaan Allah, sehingga kita bakal semakin percaya bahwa hanya kepada-Nya tempat bergantung, dan hanya melalui ketaatan kepada-Nya kita bakal memperoleh kemuliaan sejati.

Dalil nama Allah “Al-‘Aziz”

Nama “Al-‘Aziz” disebutkan dalam Al-Qur’an sebanyak 92 kali, di antaranya:

Firman Allah Ta’ala,

وَاعْلَمْ أَنَّ اللّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

“Dan ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al-Baqarah: 260)

Firman Allah Ta’ala,

وَاللّهُ عَزِيزٌ ذُو انتِقَامٍ

“Dan Allah Maha Perkasa, mempunyai pembalasan.” (QS. Ali Imran: 4)

Firman Allah Ta’ala,

وَإِنَّ رَبَّكَ لَهُوَ الْعَزِيزُ الرَّحِيمُ

“Dan sesungguhnya Tuhanmu, Dialah nan Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. Asy-Syu’ara), disebutkan berulang kali dalam surat tersebut.

Firman Allah nan Maha Suci,

رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ

“Tuhan langit dan bumi serta apa nan ada di antara keduanya, nan Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Shad: 66) [1]

Kandungan makna nama Allah “Al-‘Aziz”

Untuk mengetahui kandungan makna dari nama Allah tersebut dengan menyeluruh, maka perlu kita ketahui terlebih dulu makna kata “Al-‘Aziz” secara bahasa, kemudian dalam konteksnya sebagai nama Allah Ta’ala.

Makna bahasa dari “Al-‘Aziz”

Kata “Al-‘Aziz” merupakan corak sifat musyabbah nan berasal dari kata ( عَزَّ يَعِزُّ عِزًّا ), nan berfaedah ( الشدة والامتناع ) “kekuatan” dan “ketidakterjangkauan”. [2]

Az-Zajjaji rahimahullah (w. 337 H) mengatakan,

العزيز في كلام العرب على أربعة أوجه:

العزيز: الغالب القاهر

والعزيز: الجليل الشريف

والعزيز: القوي

والعزيز بمعنى الشيء القليل الوجود المنقطع النظير

“Kata “Al-‘Aziz” dalam bahasa arab mempunyai empat makna utama: (1) nan mengalahkan dan menundukkan; (2) nan mulia dan agung; (3) nan kuat; dan (4) nan langka dan tiada bandingan.” [3]

Ibn Faris rahimahullah (w. 395 H) mengatakan,

(عزّ) الْعَيْنُ وَالزَّاءُ أَصْلٌ صَحِيحٌ وَاحِدٌ، يَدُلُّ عَلَى شِدَّةٍ وَقُوَّةٍ وَمَا ضَاهَاهُمَا، مِنْ غَلَبَةٍ وَقَهْرٍ.

“(Huruf ‘ain’, ‘za’) merupakan akar kata nan satu, nan sahih; nan menunjukkan kekuatan, keteguhan, dan hal-hal nan serupa dengannya, seperti kemenangan dan penundukan.” [4]

Makna “Al-‘Aziz” dalam konteks Allah

Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya di surah Ar-Ruum,

{وَهُوَ الْعَزِيزُ}. يقولُ: واللهُ ‌الشديدُ ‌فى ‌انتقامِه ‌من ‌أعدائِه، لا يمنعُه من ذلك مانعٌ، ولا يَحولُ بينَه وبينَه حائلٌ

“{Dan Dialah Al-‘Aziz}; artinya, Allah adalah Dzat nan Maha Kuat dalam pembalasan terhadap musuh-musuh-Nya, tidak ada nan dapat menghalangi-Nya dari melakukan perihal tersebut, dan tidak ada satu pun nan bisa menghambat-Nya.” [5]

Al-Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya di surah Al-Hajj ayat 75,

وَقَوْلُهُ: {عَزِيزٌ} أَيْ: ‌قَدْ ‌عَزَّ كُلَّ ‌شَيْءٍ فَقَهَرَهُ وَغَلَبَهُ، فَلَا يُمَانَعُ وَلَا يُغَالَبُ، لِعَظْمَتِهِ وَسُلْطَانِهِ، وَهُوَ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ.

“Dan firman-Nya, {Al-‘Aziz}, ialah Dzat nan telah mengalahkan segala sesuatu, menundukkannya, dan menguasainya. Maka tidak ada nan bisa melawan alias mengalahkan-Nya, lantaran keagungan dan kekuasaan-Nya. Dialah nan Maha Esa dan Maha Menundukkan.” [6]

Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Si’diy rahimahullah menjelaskan,

{‌الْعَزِيزُ} الذي له العزة كلها، عزة القوة والقدرة، فهو القوي المتين، وعزة القهر والغلبة لكل مخلوق، فكلهم نواصيهم بيده، وليس لهم من الأمر شيء، وعزة الامتناع الذي تمنع بعزته عن كل مخلوق، فلا يعارض ولا يمانع، وليس له نديد ولا ضديد

“{Al-‘Aziz} adalah Dzat nan mempunyai seluruh keperkasaan: keperkasaan dalam kekuatan dan keahlian – lantaran Dia adalah nan Maha Kuat dan Maha Kokoh; keperkasaan dalam kemenangan dan kekuasaan – terhadap seluruh makhluk-Nya, lantaran segala sesuatu berada dalam genggaman-Nya; dan keperkasaan dalam ketidakterjangkauan – lantaran dengan keperkasaan-Nya, Dia tidak bisa dilawan, ditentang, alias disandingkan dengan makhluk mana pun.” [7]

Maka berasas perihal ini, makna nama Allah “Al-‘Aziz” dapat dipahami dalam empat aspek utama:

Pertama, Al-Manii’ ( المَنِيعُ )

Allah adalah Dzat nan Maha Perkasa, nan mempunyai kekuasaan absolut dan keagungan nan tidak dapat dijangkau alias diganggu gugat.

Kedua, Al-Qahir ( القَاهرُ )

Allah adalah Dzat nan mengalahkan segala sesuatu dan tidak dapat dikalahkan alias ditundukkan.

Ketiga, Al-Qawiyy Asy-Syadid ( القَويُّ الشّديد )

Allah mempunyai kekuatan nan absolut, sempurna, dan tiada tandingan.

Keempat, Nafasatul Al-Qadr ( نَفَاسة القَدْر )

Allah adalah Dzat nan tidak ada sesuatu pun nan bisa menyamai-Nya. Dia tidak mempunyai tandingan alias kesetaraan dalam keagungan dan kemuliaan-Nya.

Wallaahu a’lam. [8]

Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Ilah”

Konsekuensi dari nama Allah “Al-’Aziz” bagi hamba

Penetapan nama “Al-’Aziz” bagi Allah Ta’ala mempunyai banyak konsekunsi, baik dari sisi sifat dan pengkhabaran terhadap Allah, maupun dari sisi hamba. Berikut ini beberapa konsekunsinya dari sisi hamba:

Beriman bahwa Allah adalah Al-‘Aziz

Meyakini bahwa salah satu nama Allah adalah Al-‘Aziz, nan tidak dapat dikalahkan dan tidak bisa ditundukkan, bakal memberikan keberanian dan kepercayaan diri (kepada Allah) nan besar dari seorang muslim. Sebab, makna nama ini menunjukkan bahwa ketetapan-Nya tidak bisa ditentang, dan apa nan Dia kehendaki pasti terjadi, meskipun manusia tidak menginginkannya. Sebaliknya, apa nan tidak Dia kehendaki tidak bakal pernah terjadi, meskipun manusia mengusahakannya.

Hal ini sangat jelas dalam kisah para rasul dan nabi. Misalnya, dalam kisah Nabi Yusuf ‘alaihis salaam, saudara-saudaranya berupaya membunuhnya; dan ketika orang-orang Yahudi berupaya membunuh Nabi Isa ‘alaihis salaam; dan pada kisah Nabi Muhammad ﷺ, ketika kaum Quraisy berupaya membunuhnya, menahannya, alias mengusirnya dari tanah kelahirannya. [9]

Mencari kemuliaan dengan menaati Allah

Kemuliaan di bumi dan alambaka hanya diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya nan Dia kehendaki. Allah berfirman,

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاء وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاء وَتُعِزُّ مَن تَشَاء وَتُذِلُّ مَن تَشَاء بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَىَ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Katakanlah, ‘Wahai Allah, pemilik kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada siapa nan Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari siapa nan Engkau kehendaki. Engkau memuliakan siapa nan Engkau kehendaki dan Engkau menghinakan siapa nan Engkau kehendaki. Di tangan-Mu segala kebaikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.'” (QS. Ali Imran: 26)

Maka, siapa pun nan mencari kemuliaan, hendaknya dia mencarinya hanya dari Allah. Allah berfirman,

مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعاً

“Barangsiapa nan menginginkan kemuliaan, maka kemuliaan itu seluruhnya milik Allah.” (QS. Fathir: 10)

Artinya, siapa pun nan mau menjadi mulia di bumi dan akhirat, hendaknya dia alim kepada Allah, lantaran hanya dengan itulah dia bakal mendapatkan kemuliaan nan hakiki. [10]

Memiliki sifat pemaaf dan rendah hati

Di antara sebab-sebab nan membawa kemuliaan adalah pemaafan dan ketawaduan (rendah hati). Rasulullah ﷺ bersabda,

ما نقصتْ صَدَقةٌ منْ مالٍ؛ وما زادَ اللهُ عبداً بعفوٍ إلا عِزّاً، وما تواضعَ أحدٌ لله؛ إلا رَفَعه الله

“Harta seseorang tidak bakal berkurang lantaran sedekah. Dan tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf, selain Allah bakal meninggikan derajatnya. Dan tidaklah seseorang bersikap rendah hati lantaran Allah, selain Allah bakal mengangkatnya tinggi.” (HR. Muslim no. 2588)

Siapa pun nan mengampuni kesalahan orang lain, padahal dia bisa membalasnya, maka dia bakal menjadi mulia di bumi dan di akhirat. Sedangkan siapa pun nan bersikap rendah hati lantaran mengharapkan rida Allah, maka Allah bakal meninggikan derajatnya di hadapan manusia dan memberinya kedudukan nan terhormat. [11]

Hanya tunduk kepada Allah semata

Hamba nan betul-betul beragama kepada Al-‘Aziz bakal merendahkan dirinya hanya kepada Allah, tidak berjuntai selain kepada-Nya, tidak berlindung selain kepada-Nya, dan tidak mencari kemuliaan selain dari-Nya.

Allah berfirman,

مَن كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

“Barang siapa nan menginginkan kemuliaan, maka kemuliaan itu seluruhnya milik Allah.” (QS. Fathir: 10)

Semakin tinggi realisasi penghambaan seseorang kepada Allah, maka semakin besar pula kemuliaan nan bakal dia peroleh. Sebagaimana firman Allah,

وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

“Dan kemuliaan itu milik Allah, milik Rasul-Nya, dan milik orang-orang nan beriman.” (QS. Al-Munafiqun: 8) [12]

Sebagai penutup, nama Allah “Al-‘Aziz” mencerminkan kekuatan, kemenangan, dan keagungan-Nya nan tidak tertandingi. Nama ini mengajarkan kita untuk bertawakal kepada Allah, mencari kemuliaan hanya dari-Nya, serta menjalani kehidupan dengan penuh ketundukan kepada-Nya. Dengan memahami dan menghayati nama “Al-‘Aziz”, seorang muslim bakal semakin percaya kepada Allah dalam menghadapi kehidupan dan lebih teguh dalam menjalankan aliran Islam. Wallaahu a’lam.

Baca juga: Mengenal Nama Allah “Al-Bashir”

***

Rumdin PPIA Sragen, 6 Ramadan 1446

Penulis: Prasetyo Abu Ka’ab

Artikel Muslim.or.id

Referensi utama:

Ibn Faris, Abu al-Husain Ahmad bin Zakariya. Maqayis al-Lughah. Tahqiq dan Revisi oleh Anas Muhammad al-Syami. Cetakan Pertama. Kairo: Dar al-Hadith, 1439 H.

Al-Badr, Abdur Razzaq. 2015. Fiqhul Asma’il Husna. Cet. ke-1. Mesir: Dar ‘Alamiyah.

An-Najdi, Muhammad Al-Hamud. 2020. An-Nahjul Asma fi Syarhil Asma’il Husna. Cet. ke-8. Kuwait: Maktabah Imam Dzahabi.

Catatan kaki:

[1] An-Nahju Al-Asma, hal. 98.

[2] Al-Bayān, hal. 44; Al-Mishbāḥ, hal. 410; Isytiqāq Asmā’illāh, hal. 239.

[3] Diringkas dari Isytiqāq Asmā’illāh, hal. 237-239.

[4] Maqayis Al-Lughah, hal. 570. Lihat juga Al-Mishbah Al-Munir, hal. 410; dan An-Nahjul Asmaa, hal. 96.

[5] Tafsir Ath-Thabari, 18: 447.

[6] Tafsir Ibnu Katsir, 5: 454.

[7] Taisir Al-Lathif Al-Mannan, hal. 25.

[8] An-Nahjul Asmaa, hal. 98. Makna-makna ini juga disebutkan oleh Ibnu Qayyim dalam Nadhom Nūniyah (bait 3262-3265). Lihat juga Isytiqāq Asmā’illāh, hal. 239.

[9] Diringkas dari An-Nahjul Asmaa, hal. 98.

[10] An-Nahjul Asmaa, hal. 99.

[11] ibid, hal. 99-100.

[12] Fiqhul Asmaail Husnaa, hal. 279.

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info