ARTICLE AD BOX
Setelah sebelumnya kita membahas sedikit riwayat hidup Hasyim dan Abdul Muththalib, pada kesempatan ini kita bakal mengenal sosok ayahanda Nabi Muhammad ﷺ, ialah Abdullah bin Abdul Muththalib.
Ibu Abdullah berjulukan Fāthimah binti ‘Amr bin Ā’idz bin ‘Imrān bin Makhzūm bin Yaqazhah bin Murrah (فاطمة بنت عمرو بن عائذ بن عمران بن مخزوم بن يقظة بن مرة). Ia adalah anak laki-laki bungsu dari Abdul Muththalib. Abdullah adalah anak nan paling tampan, paling menjaga kehormatan, dan paling dicintai oleh Abdul Muththalib dari anak-anak laki-laki lainnya. Ia adalah adz-dzabīh (yang nyaris disembelih). Diriwayatkan bahwa ada seorang Arab Badui nan meminta suatu permintaan kepada Rasulullah ﷺ dan di akhir perkataannya, Arab Badui tersebut berkata,
يَا ابن الذَّبيحينِ
“Wahai anak dari dua orang nan nyaris disembelih.”
Rasulullah kemudian tersenyum mendengar perkataannya tersebut dan tidak mengingkarinya. Riwayat ini disebutkan oleh al-Hākim, namun adz-Dzahabi menyatakan bahwa sanad sabda tersebut sangat lemah.
Baca juga: Mengenal Keluarga Rasulullah: Hasyim dan Abdul Muththalib
Kisah penyembelihan Abdullah bin Abdul Muththalib
Abdul Muththalib sempat bernazar saat menggali sumur Zamzam, jika dia dikaruniai sepuluh orang anak laki-laki nan bisa melindunginya, maka dia bakal menyembelih salah satunya. Setelah sekian lama, tibalah masa tersebut. Kemudian Abdul Muththalib menyampaikan nazar tersebut kepada anak-anaknya dan mereka menaatinya. Abdul Muththalib menuliskan nama-nama anak lelakinya pada anak panah undian dan menyerahkannya kepada penjaga berhala Hubal.
Setelah diundi, keluarlah nama Abdullah. Abdul Muththalib kemudian bersiap hendak menyembelihnya dan membawanya menuju Ka’bah. Akan tetapi, orang-orang Quraisy merasa keberatan dan meminta Abdullah untuk tidak melakukan perihal tersebut, terutama om dari pihak ibunya dan saudaranya, Abu Thālib.
Kemudian Abdul Muththalib berkata, “Lantas gimana saya kudu menunaikan nazarku?” Kemudian kaum Quraisy menyarankan agar Abdul Muththalib mendatangi seorang peramal wanita (‘arrāfah) nan berada di Khaibar untuk meminta pendapatnya. Abdul Muththalib berbareng rombongan orang-orang Quraisy kemudian berkendara menuju Khaibar. Setelah sampai, Abdul Muththalib pun menceritakan kejadiannya dan meminta pengarahan kepadanya. Singkat cerita, peramal tersebut bertanya, “Berapa nilai diyat di masyarakat kalian?”
Diyat adalah kekayaan nan kudu diberikan kepada family korban pembunuhan sebagai tukar dari orang nan terbunuh. Abdul Muththalib menjawab bahwa diyatnya adalah 10 ekor unta. Peramal tersebut lampau memerintahkan agar dilakukan undian antara Abdullah dengan 10 ekor unta. Jika nama Abdullah tetap keluar, maka tambahkan 10 ekor unta lagi sampai Tuhannya rida, ialah sampai unta nan keluar. Jika undian jatuh pada unta, maka unta-unta itulah nan disembelih.
Abdul Muththalib lampau kembali ke Makkah dan menjalankan perintah peramal tersebut. Setelah dilakukan pengundian, nama Abdullah-lah nan keluar. Kemudian ditambahlah 10 ekor unta, lampau diundi. Pengundian dilakukan acapkali lantaran nama Abdullah tetap terus keluar. Setelah jumlah unta mencapai 100 ekor, barulah undian jatuh kepada unta. Akhirnya, Abdul Muththalib menyembelih 100 ekor unta tersebut sebagai tebusan bagi Abdullah. Sejak peristiwa tersebut, diyat di kalangan Quraisy dan bangsa Arab adalah seratus ekor unta dari nan sebelumnya adalah 10 ekor unta. Ketentuan ini kemudian ditetapkan dalam Islam.
Kisah pernikahan Abdullah bin Abdul Muththalib
Dikisahkan bahwa Abdul Muththalib membujuk Abdullah untuk menemui Wahb bin ‘Abdu Manāf (وهب بن عبد مناف). Di tengah jalan, Abdullah berjumpa dengan seorang wanita berjulukan Ummu Qitāl (أم قتال). Ia adalah saudari Waraqah bin Naufal (ورقة بن نوفل). Wanita tersebut memandang wajah Abdullah kemudian menanyainya, “Hendak pergi ke mana engkau, wahai Abdullah?” Kemudian wanita itu mengisyaratkan tawaran hubungan nan tidak dibenarkan dengan hadiah besar, tetapi Abdullah menolaknya dan tetap berbareng ayahnya.
Tibalah dia di kediaman Wahb bin ‘Abdu Manāf. Ia adalah pemimpin Bani Zuhrah saat itu. Wahb mempunyai anak wanita berjulukan Āminah binti Wahb bin ‘Abdu Manāf bin Zuhrah bin Kilāb (آمنة بنت وهب بن عبد مناف بن زهرة بن كلاب).
Āminah pada masa itu dinilai sebagai wanita nan terbaik dari sisi nasab dan kedudukan di kalangan Quraisy. Wahb kemudian menikahkan Āminah dengan Abdullah. Usia Abdullah saat itu adalah 18 tahun. Setelah pernikahan tersebut, Abdullah tinggal selama 3 hari di rumah family Āminah. Tak lama setelah itu, istrinya mengandung.
Kisah wafatnya Abdullah bin Abdul Muththalib
Abdullah dan Āminah kemudian menetap di Makkah. Saat Āminah telah hamil, Abdullah mendapat tugas dari Abdul Muththalib untuk membeli kurma ke Madinah. Di sanalah dia meninggal dunia. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Abdullah melakukan perdagangan ke negeri Syam. Setelah kembali dari Syam, dia singgah di Madinah dalam keadaan sakit. Tak lama setelah itu, dia meninggal bumi di sana. Ia dimakamkan di rumah an-Nābighah al-Ja’di (النابغة الجعدي). Dalam jenis lainnya disebutkan bahwa Abdullah dimakamkan di tempat Bani ‘Adī bin Najjār (بني عدي بن النجار). Disebutkan bahwa Abdullah meninggal bumi dua bulan setelah kehamilan Āminah.
Abdullah meninggal bumi saat berumur 25 tahun. Wafatnya Abdullah terjadi sebelum kelahiran Rasulullah ﷺ enam bulan di dalam kandungan. Ini adalah pendapat nan dipilih oleh kebanyakan sejarawan. Ketika berita wafatnya Abdullah sampai ke Makkah, Āminah meratapinya dengan syair ratapan nan indah. Seluruh kekayaan peninggalan Abdullah adalah lima ekor unta, beberapa ekor kambing, dan seorang budak wanita asal Habasyah berjulukan Barakah nan kunyah-nya adalah Ummu Aiman. Ummu Aiman inilah nan kelak menjadi pengasuh Rasulullah ﷺ.
Abdullah bin Abdul Muththalib wafat sebelum sempat menyaksikan kelahiran putranya, Muhammad ﷺ. Namun, justru dari ketidakhadirannya itulah tampak hikmah Allah dalam menyiapkan Rasul terakhir-Nya. Ketiadaan figur ayah membikin beliau ﷺ tumbuh dengan berjuntai sepenuhnya kepada Rabbnya. Sosok Abdullah tercatat dalam sejarah lantaran kemuliaan nasab, penjagaan kehormatan, dan perannya sebagai mata rantai suci nan mengantarkan lahirnya manusia paling mulia di muka bumi.
Baca juga: Mengenal Anak-Anak Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam
***
Penulis: Fajar Rianto
Artikel Muslim.or.id
Referensi:
- al-Bidāyah wa an-Nihāyah, karya Ismā’īl Ibnu Katsīr ad-Dimasyqi.
- ar-Rahīq al-Makhtūm, karya Shafiyurrahmān al-Mubārakfūri.
- Nūr al-Yaqīn fi Sīrah Sayyid al-Mursalīn, karya Muhammad al-Khudhari.
- Silsilah al-Ahādits adh-Dha’īfah wa al-Maudhū’ah wa Atsaruhā as-Sayyi’ fī al-Ummah, karya Nāshiruddīn al-Albāni.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·