Mengapresiasi Ikhtiar Sesama: Akhlak yang Terlupa

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Dalam perjalanan hidup ini, kita melangkah berdampingan dengan manusia nan Allah ciptakan dengan takaran nan berbeda-beda. Ada nan diberi tenaga kuat, ada nan fisiknya lemah. Ada nan luas ilmunya, ada nan tetap merangkak dalam belajar. Ada nan lapang waktunya, ada pula nan terbatas oleh amanah family dan pekerjaan. Semua perbedaan itu adalah sunnatullah, tanda kebijaksanaan Allah dalam membagi keahlian hamba-hamba-Nya.

Namun, salah satu kesalahan nan sering muncul di lingkungan masyarakat, apalagi dalam lingkungan pendidikan dan dakwah, adalah kebiasaan menyalahkan alias meremehkan orang nan sudah berupaya sekuat tenaga, hanya lantaran hasil nan dicapai tidak sesuai angan dan ekspektasi.

Terkadang hanya lantaran hasilnya tak seindah angan tesebut, kita lupa bahwa di kembali upaya itu ada hati nan berjuang, ada niat nan tulus, dan ada pemisah keahlian nan hanya Allah Ta’ala yang mengetahuinya.

Padahal, Allah Ta’ala sendiri telah menegur sikap seperti itu melalui firman-Nya,

مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ

“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang nan melakukan baik.” (QS. At-Taubah: 91)

Ayat ini mengandung pesan mendalam bahwa selama seseorang telah beriktikad baik dan berupaya semampunya, maka tidak layak bagi siapa pun untuk mencela alias merendahkannya. Karena di sisi Allah, nan dinilai bukanlah besar kecilnya hasil, tetapi ikhlasnya niat dan jujurnya usaha.

Allah menilai niat dan usaha, bukan hanya hasil

Dalam pandangan manusia, terkadang hasil terlihat lebih krusial daripada proses. Kita terbiasa menilai dari apa nan terlihat, bukan dari apa nan diperjuangkan. Namun di sisi Allah, ukuran kemuliaan sebuah kebaikan tidak terletak pada besarnya hasil, melainkan pada ikhlasnya niat dan kegigihan dalam usaha.

Seseorang mungkin hanya bisa memberi sedikit, tetapi hatinya lebih tulus daripada orang nan memberi banyak.

Ada nan mau membantu lebih jauh, tetapi tubuhnya lemah, waktunya terbatas, alias keluarganya memerlukan perhatian.

Ada nan tampak tidak banyak berkontribusi, padahal dia tengah berjuang dengan kondisi nan hanya Allah nan mengetahuinya.

Surah At-Taubah ayat 91 turun tentang orang-orang nan mau berjihad, namun mempunyai keterbatasan fisik, kesehatan, alias kondisi lain nan menghalangi. Meski mereka tidak bisa datang di medan perang, Allah menyebut mereka melakukan baik lantaran niat mereka kuat, tekad mereka tulus, dan mereka telah melakukan nan mereka mampu.

Ada orang nan tidak datang dalam aktivitas bukan lantaran malas, tetapi lantaran sakit alias beban berat nan dia pikul diam-diam.

Ada nan tidak bisa memberi banyak, bukan lantaran tidak peduli, tetapi lantaran ekonomi nan sempit.

Ada nan tampak kurang bergerak, padahal dia sedang berjihad mengurus keluarga, menjaga amanah, alias menyusun waktu nan sangat terbatas.

Karena itu, mencela seseorang tanpa memahami kondisi adalah corak ketidakadilan. Sementara menghargai usahanya, meski kecil, adalah bagian dari adab mulia nan dicintai Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak memandang rupa dan kekayaan kalian, tetapi memandang hati dan kebaikan kalian.” (HR. Muslim)

Dalam riwayat nan lain,

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidaklah berterima kasih kepada Allah, orang nan tidak berterima kasih (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 2970 dan Ahmad no. 7926 dengan sanad sahih, lihat As-Shahih no. 417)

Baca juga: Akhlak nan Mulia, Tanda Kesempurnaan Islam Seorang Muslim

Mengapresiasi itu menumbuhkan empati dan melembutkan hati

Menghargai upaya orang lain adalah adab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau tidak pernah merendahkan keahlian sahabat, apalagi ketika mereka punya kekurangan. Sebaliknya, beliau memuji niat baik mereka dan memberikan semangat.

Dalam sebuah perjalanan perang Tabuk, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memandang para sahabat sudah melangkah jauh, sementara Abu Dzar tertinggal. Beliau tidak mencela ketertinggalan itu, justru berfirman dalam corak apresiasi,

رَحِمَ اللَّهُ أَبَا ذَرٍّ، يَمْشِي وَحْدَهُ، وَيَمُوتُ وَحْدَهُ، وَيُبْعَثُ وَحْدَهُ

“Semoga Allah merahmati Abu Dzar! Ia melangkah sendirian, dia meninggal sendirian, dan dia bakal dibangkitkan sendirian.” (HR. Al-Hakim dan Adz-Dzahabi dalam Takhrij Siyar A’lam al-Nubala’, 2: 56)

Sikap ini sangat krusial di bumi modern:

Dalam organisasi dakwah, apresiasi dapat memperkuat ukhuwah dan meningkatkan semangat.

Dalam keluarga, penghargaan membikin personil merasa dihargai dan dicintai.

Dalam pekerjaan, pengakuan terhadap upaya mini sekalipun bisa meningkatkan loyalitas dan kualitas kerja.

Sebaliknya, kritik nan tidak pada tempatnya, apalagi meremehkan, tentu dapat mematikan semangat, memicu perpecahan, dan membikin seseorang enggan berupaya kembali.

Membedakan antara pertimbangan dan menghakimi

Perlu dipahami bahwa menghargai upaya bukan berfaedah menutup pintu evaluasi. Dakwah, pekerjaan, dan aktivitas apa pun tetap memerlukan perbaikan. Namun perbedaannya adalah:

Evaluasi berfokus pada proses dan solusi, disampaikan dengan langkah nan lembut dan adil. Sedangkan menghakimi dan menyalahkan berfokus pada individu, disampaikan dengan emosi alias merendahkan.

Allah tidak menyukai orang nan mencari-cari kesalahan dalam diri orang nan sudah berupaya dengan baik. Justru Allah memerintahkan kita untuk memandang kebaikan nan telah dilakukan sebagai corak penghormatan terhadap jerih payah mereka, sebagaimana norma dalam Al-Quran,

مَا عَلَى ٱلْمُحْسِنِينَ مِن سَبِيلٍ

“Tidak ada jalan sedikit pun untuk menyalahkan orang-orang nan melakukan baik.” (QS. At-Taubah: 91)

Memberi teladan untuk perbaikan

Dalam Islam, memperbaiki suatu pekerjaan bukan hanya dengan memberi arahan, tetapi dengan memberikan contoh nyata tentang gimana pekerjaan itu semestinya dilakukan. Ketika seseorang memandang teladan langsung, langkah bekerja nan rapi, sikap nan amanah, alias pelayanan nan penuh adab, maka dia lebih mudah memahami dan meniru.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri mencontohkan perihal ini. Beliau bukan hanya memerintahkan para sahabat untuk melakukan ihsan, tetapi memperlihatkan ihsan itu dalam setiap amal.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah satu di antara kalian melakukan sebuah ibadah (pekerjaan), lampau menyempurnakannya.” (HR. Abu Ya’la dan At-Thabari)

Oleh lantaran itu, jika kita mau pekerjaan dalam keluarga, lembaga, alias organisasi menjadi lebih baik, mulailah dengan memperlihatkan contoh nyata. Tunjukkan gimana menyelesaikan tugas dengan teliti, gimana menjaga amanah waktu, gimana bekerja tanpa mengeluh, alias gimana melayani dengan hati.

Teladan seperti ini bukan hanya mengajarkan, tetapi juga menggerakkan.

Semoga Allah Ta’ala melembutkan hati kita untuk saling menghargai, saling meneladani, dan menjadikan setiap upaya sebagai jalan kebaikan nan diberkahi.

Baca juga: Hakikat Tawadu ialah Memandang Orang Lain Selalu Lebih Baik Dari Kita

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info