ARTICLE AD BOX
Di tengah dinamika sosial dan politik nan kompleks, banyak orang dengan mudah melontarkan kritik dan caci maki terhadap pemerintah. Banyak nan menganggap bahwa perihal itu adalah suatu keberanian dan kebebasan berpendapat. Mereka lupa dan lalai bahwa langkah seperti itu bisa memperburuk keadaan nan ada.
Islam adalah kepercayaan nan menuntun pemeluknya untuk menegakkan keadilan, namun tetap menjaga persatuan dan ketertiban. Karena itu, nasihat kepada pemimpin dilakukan dengan langkah nan santun. Doa kebaikan untuk mereka menjadi salah satu tanda hati nan bersih dan cinta terhadap kemaslahatan umat.
Doa untuk pemimpin bukan sekadar formalitas nan dilantunkan dalam khotbah Jumat. Ia adalah bagian dari adab seorang mukmin, bentuk cinta terhadap negeri, dan tanda keagamaan kepada Allah nan Maha Mengatur. Sebab, jika pemimpin baik, maka rakyat bakal merasakan dampaknya. Namun jika pemimpin rusak, maka kerusakan itu bakal berakibat pada kehidupan masyarakat.
Doa untuk pemimpin adalah perintah syariat
Mendoakan pemerintah dan pemimpin bukanlah sekadar etika sosial, tetapi tuntunan kepercayaan nan berasal dari Al-Qur’an, hadis, dan ibadah para salafus shalih. Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ
“Wahai orang-orang nan beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kalian.” (QS. An-Nisa’: 59)
Ayat ini menjadi pondasi hubungan antara rakyat dan pemimpin. “Ulil amri” nan dimaksud mencakup para penguasa, pemerintah, dan penegak hukum, mereka nan Allah amanahkan untuk mengatur urusan manusia.
Ketaatan kepada pemimpin dalam perkara nan bukan maksiat adalah corak ketaatan kepada Allah. Maka, mendoakan kebaikan untuk mereka juga bagian dari ketaatan, lantaran dengan angan itu kita memohon kepada Allah agar mereka diberi petunjuk, keadilan, dan kebijaksanaan dalam memimpin.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan adab mulia dalam menyikapi pemimpin, apalagi sekalipun mereka tidak sempurna dan apalagi melakukan kezaliman. Dalam sebuah sabda disebutkan,
خِيارُ أئمَّتِكُمُ الَّذينَ تحبُّونَهُم ويحبُّونَكُم وتُصلُّونَ علَيهِم ويصلُّونَ علَيكُم وشرارُ أئمَّتِكُمُ الَّذينَ تبغَضونَهُم ويبغَضونَكُم وتَلعنونَهُم ويَلعنونَكُم قُلنا : يا رسولَ اللَّهِ أفلا نُنابذُهُم ؟ قالَ : لا ما أقاموا فيكُمُ الصَّلاةَ ألا مَن وليَ علَيهِ والٍ فرآهُ يأتي شَيئًا مِن معصيةِ اللَّهِ فليَكْرَهْ ما يَأتي مِن معصيةِ اللَّهِ ولا ينزِعَنَّ يدًا مِن طاعةٍ
“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka nan kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan kebaikan untuk mereka dan mereka pun mendoakan kebaikan untuk kalian. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah mereka nan kalian tidak suka dan mereka pun membenci kalian; kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.”
Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah boleh kami memerangi mereka?”
Beliau menjawab, “Tidak, selama mereka tetap menegakkan salat di tengah kalian. Ketahuilah, siapa saja nan dipimpin oleh seorang penguasa lampau dia memandang penguasa itu melakukan maksiat kepada Allah, maka hendaklah dia membenci perbuatan maksiat itu, tetapi janganlah dia mencabut ketaatan dari penguasa tersebut.” (HR. Muslim)
Mengapa kita kudu mendoakan pemerintah?
Kebaikan pemimpin adalah kebaikan rakyat
Pemimpin adalah cermin masyarakatnya. Jika pemimpin baik, maka kebijakan, keamanan, dan kesejahteraan bakal ikut baik. Jika pemimpin rusak, maka rakyat pun ikut menderita. Oleh lantaran itu, mendoakan pemimpin berfaedah mendoakan diri kita sendiri.
وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
“Demikianlah Kami jadikan sebagian orang kejam berkuasa atas sebagian nan lain, disebabkan perbuatan dosa nan mereka lakukan.” (QS. Al-An‘am: 129)
Ayat ini menjadi pengingat bahwa pemimpin nan Allah berikan adalah gambaran kondisi rakyat. Jika kita mau pemimpin nan lebih baik, maka mulailah dengan memperbaiki diri dan memperbanyak doa, bukan dengan mencaci.
Mendoakan lebih baik daripada mencaci
Banyak orang menghabiskan waktu di media sosial hanya untuk mencaci pemerintah, tanpa sadar bahwa kata-katanya bukan solusi, apalagi menjadi dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ
“Seorang mukmin bukanlah orang nan suka mencela, suka melaknat, berbicara keji, dan berbicara kotor.” (HR. Tirmidzi)
Mendoakan pemimpin agar menjadi lebih baik itu jauh lebih berfaedah daripada mencaci mereka. Karena angan adalah corak kontribusi nyata nan tidak hanya menjaga lisan, tapi juga menumbuhkan angan bakal perubahan.
Menjaga persatuan dan menghindari kekacauan
Islam sangat menekankan pentingnya persatuan umat dan larangan untuk memberontak kepada pemimpin Muslim selama mereka tetap menegakkan salat dan tidak menampakkan kekufuran nyata. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَن رَأَى من أمِيرِهِ شيئًا يَكْرَهُهُ فلْيَصْبِرْ عليه ، فإِنَّهُ ليس أحدٌ يُفارِقُ الجَماعةَ شِبْرًا فيَموتُ ، إِلَّا ماتَ مِيتةً جَاهِلِيَّةً
“Barang siapa nan membenci sesuatu dari pemimpinnya, maka hendaklah dia bersabar, lantaran siapa saja nan keluar dari ketaatan kepada pemimpin sejengkal saja, lampau dia mati, maka matinya seperti meninggal jahiliyah.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dengan mendoakan kebaikan bagi pemerintah, kita menjaga kestabilan, bukan menambah kekacauan. Doa dari rakyat nan tulus jauh lebih besar pengaruhnya daripada cercaan dari ribuan komentar di bumi maya ataupun dengan langkah demo nan bisa menyebabkan kekacauan dan kerusakan.
Adab dalam menasihati pemimpin
Islam memberi ruang bagi umat untuk menasihati pemimpin, tetapi dengan etika dan langkah nan santun. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَن أرادَ أن ينصحَ لذي سلطانٍ في أمرٍ فلا يُبدِهِ عَلانيةً ولَكِن ليأخذْ بيدِهِ فيَخلوَ بهِ فإن قبِلَ منهُ فذاكَ وإلَّا كانَ قد أدَّى الَّذي علَيهِ لَهُ
“Barang siapa nan mau menasihati penguasa dalam suatu urusan, maka janganlah dia menampakkannya secara terang-terangan. Tetapi hendaklah dia memegang tangan penguasa itu, lampau menyendiri dengannya (memberi nasihat secara sembunyi). Jika dia menerima nasihat tersebut, maka itulah nan diharapkan. Namun jika dia tidak menerimanya, maka orang itu telah menunaikan kewajibannya.” (HR. Ibnu Abi ‘Ashim, Ahmad, Hakim, dan Ath-Thabrani)
Nasihat nan dilakukan dengan lembut lebih mudah diterima daripada caci maki di depan umum. Inilah etika nan diajarkan oleh para ustadz salaf, menasihati tanpa mempermalukan, menegur tanpa menjatuhkan.
Meneladani contoh terbaik
Para ustadz salaf adalah contoh terbaik dalam menyikapi penguasa. Mereka dikenal tegas dalam prinsip, tapi lembut dalam ucapan. Mereka berani menasihati, tapi tidak suka mencaci.
Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,
لَوْ كَانَ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ لَجَعَلْتُهَا لِلسُّلْطَانِ
“Jika saya mempunyai satu angan nan pasti dikabulkan, maka saya bakal tujukan angan itu untuk penguasa.” [1]
Imam Al-Barbahari rahimahullah berkata,
إِذَا رَأَيْتَ الرَّجُلَ يَدْعُو لِلسُّلْطَانِ بِالصَّلَاحِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ سُنَّةٍ، وَإِذَا رَأَيْتَهُ يَدْعُو عَلَيْهِ فَاعْلَمْ أَنَّهُ صَاحِبُ هَوًى
“Jika engkau memandang seseorang mendoakan kebaikan bagi penguasa, ketahuilah bahwa dia pengikut sunah; namun jika engkau melihatnya mendoakan keburukan, ketahuilah bahwa dia pengikut hawa nafsu.” [2]
Imam Ahmad rahimahullah, meskipun hidup di masa penguasa kejam nan memaksakan mengerti sesat (fitnah “Al-Qur’an adalah makhluk”), tetap bersabar dan tidak pernah menghasut rakyat untuk memberontak.
Sikap para ustadz adalah pelajaran krusial bahwa doa, kesabaran, dan nasihat nan lembut lebih berfaedah daripada pemberontakan dan kebencian.
Manfaat Mendoakan Pemimpin
Pertama: Menumbuhkan cinta terhadap keadilan dan kebaikan. Dengan mendoakan, hati kita terlatih untuk berambisi kebaikan, bukan keburukan bagi sesama.
Kedua: Menjauhkan dari dosa gibah dan fitnah. Lisan nan sibuk bermohon tidak bakal sibuk mencela.
Ketiga: Mengundang keberkahan dan keamanan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
اثْنَتَانِ مَا ظَهَرَتَا فِي قَوْمٍ إِلَّا عُذِّبُوا: الْبَخْسُ فِي الْمِكْيَالِ وَالْمِيزَانِ، وَالْجَوْرُ مِنَ الْوُلَاةِ
“Dua hal, jika muncul di suatu kaum, maka mereka bakal diazab: curang dalam takaran dan timbangan, serta zalimnya para pemimpin.” (HR. Ahmad)
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,
والأئمة لا يقاتلون بمجرد الفسق، وإن كان الواحد المقدور قد يقتل لبعض أنواع الفسق كالزنا وغيره، فليس كل ما جاز فيه القتل جاز أن يقاتل الأئمة لفعلهم إياه، إذ فساد القتال أعظم من فساد كبير يرتكبه ولي الأمر.
“Para pemimpin (penguasa) tidak boleh diperangi hanya lantaran kemaksiatan (atau kefasikan) semata. Meskipun seseorang dari rakyat nan bisa ditindak, mungkin boleh dihukum meninggal lantaran sebagian jenis maksiat, seperti zina dan lainnya, namun tidak berfaedah setiap perkara nan mengandung balasan meninggal boleh dijadikan argumen untuk memerangi para pemimpin. Sebab, kerusakan (dampak buruk) dari memerangi pemimpin itu jauh lebih besar daripada kerusakan maksiat besar nan dilakukan oleh seorang penguasa.” [3]
Maka, ketika rakyat bermohon agar pemimpinnya adil, mereka sejatinya sedang memohon agar balasan dijauhkan dari negeri mereka.
Di era media sosial, banyak nan lebih mudah menekan tombol “komentar” daripada menengadahkan tangan untuk berdoa. Padahal, perubahan besar sering dimulai dari angan nan tulus.
Kritik bisa membangun, tetapi jika tanpa adab, dia hanya menambah kebencian.
Sebaliknya, angan nan tulus untuk pemimpin dapat mengetuk pintu langit dan mengubah keadaan nan tampaknya mustahil.
Mendoakan pemimpin bukan berfaedah membenarkan semua tindakannya. Namun, itu adalah corak kematangan iman. Karena orang nan mencintai kebaikan bagi pemimpin, sejatinya sedang mencintai kebaikan bagi umat.
Maka, mari kita renungkan dari banyaknya kata nan keluar dari lisan dan jari kita setiap hari, berapa kali kita mendoakan pemerintah agar diberi hidayah dan taufik?
Semoga Allah memperbaiki keadaan para pemimpin kita, menjadikan mereka adil, bijak, dan takut kepada-Nya; serta menjadikan rakyatnya sebagai penolong dalam kebaikan, bukan sumber tuduhan dan kebencian.
اللهم أصلح وُلاةَ أمورِنا، ووفّقهم لِما تُحبُّ وترضى، واجعلهم رحمةً على رعاياهم، وهيّئ لنا من أمرنا رشدًا
“Ya Allah, perbaikilah para pemimpin kami, bimbing mereka kepada apa nan Engkau cintai dan ridai, jadikan mereka rahmat bagi rakyatnya, dan anugerahkan kepada kami jalan nan lurus dalam urusan kami.”
Wallahu a‘lam bish shawab.
Baca juga: Mencela dan Menjelek-Jelekkan Penguasa (Pemerintah)
***
Diselesaikan di Kupang, 1 Jumadil akhir 1447
Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] Syarh Sunnah lil Barbahari, karya Syekh Abdul Aziz bin Abdillah Ar-Rajhi, 14: 6; melalui Maktabah Syamilah.
[2] Syarh as-Sunnah, hal. 113.
[3] Op, Cit.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·