ARTICLE AD BOX
Bulan Ramadan mengandung banyak keberkahan dan juga tuntutan pendidikan. Salah satu hasil dari madrasah Ramadan adalah tumbuhnya jiwa sosial dan semangat kedermawanan bagi para mahir Ramadan. Menumbuhkan empati dan jiwa sosial adalah salah satu tujuan dari diistimewakannya bulan Ramadan. Salah seorang salaf pernah ditanya, “Mengapa puasa disyariatkan?” la lantas menjawab,
ليذوق الغني طعم الجوع فلا ينسى الجائع
“Agar orang nan kaya dapat merasakan lapar, sehingga dia tidak lupa kepada orang nan lapar.” (Lathaiful Maarif, hal. 168)
Ini termasuk salah satu hikmah dan faidah puasa. Sebagaimana dalam sabda dari Salman nan dinilai lemah, tetapi diambil sebagian ustadz untuk menjelaskan Ramadan, nan mana disebutkan,
وهو شهر المواساة
“Ramadan adalah bulan empati.”
Hadis Salman ini adalah sabda nan banyak disebutkan dalam motivasi meningkatkan kedermawanan dan jiwa sosial di bulan Ramadan. Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya, dari Salman secara marfu’, perihal keistimewaan bulan Ramadan,
وهو شهر المواساة وشهر يزاد فيه في رزق المؤمن من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه وعتق رقبته من النار وكان له مثل أجره من غير أن ينقص من أجره شيء
“Ia adalah bulan empati (terhadap fakir miskin). Bulan di mana rezeki orang mukmin ditambah. Siapa saja nan memberi makan (untuk buka puasa) bagi orang berpuasa di bulan tersebut, itu bakal menjadi pemaafan bagi dosa-dosanya dan pembebas dari api neraka. la mendapatkan pahala orang nan berpuasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang nan puasa itu sedikit pun.”
Hadis ini secara sanadnya lemah, sehingga tidak bisa disandarkan kepada Nabi ﷺ. Namun, masing-masing isi sabda di atas didukung oleh riwayat nan lainnya. Termasuk Syekh Bin Baz rahimahullah, ketika beliau menjelaskan sabda ini, beliau menggunakan ungkapan berikut dalam keterangannya,
فقد ثبت عن رسول الله ﷺ في هذا الشهر الكريم -شهر رمضان- من الأحاديث الكثيرة ما يدل على عظم شأنه، وأنه شهر المواساة، وشهر الإحسان، وشهر الصدقات، وشهر المسارعة إلى الطاعات والمنافسة في أنواع الخير
“Telah diriwayatkan secara sahih dari Rasulullah ﷺ mengenai bulan nan diberkahi, ialah Ramadan, bahwa terdapat banyak sabda nan menunjukkan sungguh pentingnya bulan ini, dan bahwa bulan ini adalah bulan kasih sayang, bulan kebajikan, bulan sedekah, dan bulan untuk bersegera melaksanakan kebaikan ketaatan dan berlomba-lomba dalam segala macam perbuatan baik.” (Syarah Wazhaif Ramadan 01) [1]
Sebelumnya, Syekh Bin Baz rahimahullah memberikan keterangan,
وهكذا ما جاء في حديث سلمان أن الرسول الكريم كان يبشر أصحابه له شواهد، وإن كان في حديث سلمان انقطاع وضعف لكن له شواهد تقدم بعضها
“Oleh lantaran itu, apa nan disebutkan dalam sabda Salman (dalam riwayat Ibnu Khuzaimah), bahwa Rasulullah ﷺ biasa menyampaikan berita ceria kepada para sahabatnya, mempunyai bukti pendukung. Meskipun sabda Salman tersebut terputus dan lemah, tetapi tetap mempunyai bukti pendukung, sebagian di antaranya telah disebutkan sebelumnya.”
Keteladanan jiwa sosial Nabi ﷺ di bulan Ramadan
Suri tauladan kita, Rasulullah ﷺ juga meningkatkan kedermawanan beliau di bulan Ramadan, disebabkan beliau banyak berjumpa dengan Jibril alaihissalam untuk belajar Al-Qur’an. Sedangkan Al-Qur’an adalah kitab nan menghimbau kepada akhlak-akhlak mulia dan sifat dermawan.
كان رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّم أجودَ الناسِ بالخيرِ ، وكان أجودَ ما يكون في شهرِ رمضانَ حتى ينسلِخَ ، فيأتيه جبريلُ فيعرضُ عليه القرآنَ ، فإذا لقِيَه جبريلُ كان رسولُ اللهِ أجودَ بالخيرِ من الرِّيحِ الْمُرسَلَةِ
“Baginda Rasulullah ﷺ adalah orang nan paling dermawan–bersemangat dalam menebar kebaikan. Dan kedermawanan beliau ﷺ memuncak pada bulan Ramadan hingga berhujung ketika Jibril datang kepadanya dan membacakan Al-Quran kepadanya. Ketika Jibril berjumpa dengannya, Rasulullah ﷺ menjadi begitu murah hati melampaui hembusan angin kencang.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Bahkan levelnya Nabi ﷺ itu tidak sekadar semangat berbagi, tetapi juga berbahagia ketika berbagi. Ibnul Qayyim rahimahullah menjelaskan sifat Nabi ﷺ,
وَكَانَ الْعَطَاءُ وَالصَّدَقَةُ أَحَبَّ شَيْءٍ إِلَيْهِ، وَكَانَ سُرُورُهُ وَفَرَحُهُ بِمَا يُعْطِيهِ أَعْظَمَ مِنْ سُرُورِ الْآخِذِ بِمَا يَأْخُذُهُ
“Memberi dan bersedekah adalah perkara nan paling Nabi ﷺ sukai. Dan kegembiraan serta kebahagiaan Nabi ﷺ ketika memberi lebih besar daripada kegembiraan si penerima atas apa nan dia terima.” (Zaadul Ma’ad, 2: 22) [2]
Inilah satu level nan perlu kita capai: menjadi orang nan berbahagia ketika berbagi. Bagi kita, ada banyak letak kebahagiaan nan diraih di sana. Salah satunya juga adalah kebahagiaan mencocoki sunah Nabi ﷺ dalam antusias berkontribusi sosial dan berbahagia dengan perihal tersebut.
Ramadan mendidik kita untuk semangat berbagi
Ada banyak motivasi nan tersebar dalam bulan Ramadan agar manusia meningkatkan jiwa sosialnya. Ibnu Rajab rahimahullah mengumpulkan beberapa di antaranya nan bakal disebutkan setelah ini. Salah satunya adalah mengenai momentum bulan Ramadan nan istimewa. Bulan Ramadan adalah bulan mulia, ketika semua kebaikan dilipatgandakan pahalanya. Dalam sebuah sabda nan diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Anas secara marfu’ disebutkan,
أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ صَدَقَةٌ فِي رَمَضَانَ
“Sebaik-baik infak adalah infak di bulan Ramadan.”
Hadis ini dinilai lemah oleh para ulama, di antaranya oleh Al-Albani dalam Dha’if Al-Jami’ Ash-Shagir (no. 1117), kami tidak temukan satupun riwayat nan berderajat lebih tinggi. Namun, riwayat ini berselarasan dengan sabda nan sahih dalam Ash-Shahihain, berkaitan dengan sifat kedermawanan Nabi ﷺ nan memuncak di bulan Ramadan. Menurut Syekh Shalih Al-Ushaimy hafizhahullah, kandungan sabda riwayat Tirmidzi ini berselarasan dengan praktik Nabi ﷺ di bulan Ramadan; dan lantaran itu, seorang muslim dianjurkan untuk memperbanyak ibadah infak di bulan Ramadan. [3]
Membantu orang-orang nan sedang berpuasa, salat, dan berzikir agar ibadah mereka semakin lancar
Sebagaimana orang nan membantu menyiapkan bekal orang nan berangkat berperang, sama saja dia telah ikut berperang. Begitu juga, siapa saja nan menjaga family orang nan bertempur dengan baik, sama saja dia telah ikut berperang. Perbuatan inilah nan kita harapkan pahalanya selama bulan Ramadan. Dalam sebuah sabda dari Zaid bin Khalid, Nabi ﷺ bersabda,
مَنْ فَطَرَ صَائِمًا فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْءٌ
“Barangsiapa memberi makanan buka untuk orang nan berpuasa, dia juga mendapatkan pahala seperti pahala orang puasa tersebut tanpa mengurangi pahala orang nan puasa itu sedikit pun.” (HR. Ahmad no. 116 dan Tirmidzi, dinilai hasan shahih)
Bulan Ramadan adalah bulan di mana Allah melimpahkan pemberian-Nya kepada para hamba-Nya
Pemberian itu berupa rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Terlebih pada saat Lailatul Qadar tiba. Allah juga mengasihi para hamba-Nya nan mau memberi kasih sayang kepada orang lain. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ,
إنما يرحم الله من عباده الرحماء
“Sesungguhnya nan Allah kasihi hanyalah para hamba-Nya nan pengasih.”
Barangsiapa doyan memberi kepada sesama hamba Allah, Allah pun bakal banyak memberikan rahmat dan karunia kepadanya. Dan ganjaran itu sesuai dengan jenis amal.
Menggabungkan puasa dengan infak merupakan aspek masuknya seseorang ke surga
Sebagaimana disebutkan dalam hadis, Nabi ﷺ bersabda,
إن في الجنة غرفا الجنة غرفا يرى ظهورها من بطونها من ظهورها قالوا: لمن هي يا رسول الله؟ قال: لمن طيب الكلام وأطعم الطعام وأدام الصيام وصلى بالليل والناس نيام
“Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar nan bagian luarnya terlihat dari dalam dan bagian dalamnya terlihat dari luar.” Para sahabat lantas bertanya, “Wahai Rasulullah, untuk siapakah bilik-bilik bilik itu?” Beliau bersabda, “Bagi siapa saja nan baik tutur katanya, suka memberi makan orang lain, giat berpuasa, dan salat malam di saat manusia tidur.” (HR. Tirmidzi no. 1985, Adz-Dzahabi menilainya sahih)
Menolong sesama muslim agar bisa konsentrasi beragama dengan memenuhi kebutuhan duniawinya
Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata,
أحب للرجل الزيادة في الجود في شهر رمضان اقتداء برسول الله صلى الله عليه وسلم ولحاجة الناس فيه إلى مصالحهم ولتشاغل كثير منهم بالصوم والصلاة عن مكاسبهم
“Aku menyukai seseorang meningkatkan kedermawanannya di bulan Ramadan dalam rangka meneladani Rasulullah ﷺ, dikarenakan manusia pada bulan tersebut mempunyai banyak kebutuhan. Sementara manusia tersibukkan dengan berpuasa dan salat, sehingga tidak konsentrasi terhadap pekerjaan mereka.” (Lathaiful Maarif, hal. 169)
Ini juga merupakan pendapat nan disetujui oleh Al-Qadhi Abu Ya’la dari kalangan Hanabilah.
Pendidikan empati dengan berbuka puasa bersama
Ibnu Rajab rahimahullah dalam keterangan nan panjang menjelaskan bahwa dianjurkan untuk memberi menu berbuka kepada orang nan berpuasa dan dianjurkan untuk ikut berbuka bersamanya. Hal itu bakal menumbuhkan empati nan lebih besar ditinjau dari akibat perbuatan tersebut kepada hati. Berbuka berbareng dengan makanan nan disedekahkan menunjukkan bahwa makanan nan dia sedekahkan tersebut adalah makanan nan dia sukai, sehingga menghibur hati orang nan diberi. Dengan demikian, dia termasuk golongan orang-orang nan bersedekah dengan kekayaan nan dia sukai.
Hal itu juga sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah atas nikmat dibolehkannya kembali menikmati makanan dan minuman setelah sebelumnya terlarang, karena nikmat makan dan minum itu betul-betul dapat dirasakan nilainya ketika kita dilarang menikmatinya. Contoh ini datang dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma; andaikan beliau berpuasa, beliau tidak berbuka selain berbareng orang-orang miskin. Jika keluarganya menghalanginya, dia pun tidak makan pada malam itu. Inilah derajat ibadah berempati kepada orang lain.
Jiwa sosial para salaf di bulan Ramadan
Ada derajat nan lebih tinggi lagi dari sebuah empati, ialah mengutamakan kepentingan orang lain daripada kepentingan pribadinya (itsar). Banyak sekali kaum salaf nan mengutamakan orang lain berbuka, meskipun mereka sendiri lapar. [4]
Salah satu contohnya adalah kisah Imam Ahmad rahimahullah nan didatangi seorang peminta-minta ketika beliau berpuasa. Pengemis itu meminta makanan kepada Imam Ahmad. Imam Ahmad lantas memberikan kepadanya dua pangkas roti nan telah dia persiapkan untuk berbuka. Kemudian dia menahan lapar dan pagi harinya dia melanjutkan berpuasa.
Pada riwayat lain dikisahkan, ketika Ibnu Umar radhiyallahu anhuma dimintai makanan nan sedang dia makan, dia lantas berdiri dan memberikan makanannya nan tetap tersisa kepada peminta-minta tersebut. Kemudian dia pulang di saat keluarganya telah makan makanan nan tersisa dalam wadah. Lantas pagi harinya dia berpuasa, padahal malamnya dia tidak makan apa-apa.
Dalam riwayat lain, Hasan biasa memberi makan saudara-saudaranya secara sukarela ketika dia berpuasa. la juga ikut duduk menyenangkan hati mereka di saat mereka makan. Ibnul Mubarak memberi makan saudara-saudaranya dalam perjalanan, seperti manisan dan lainnya; sementara dia sendiri berpuasa.
Ada seorang saleh sedang menginginkan suatu makanan saat berpuasa. Tatkala berbuka, makanan nan dia inginkan itu dihidangkan di hadapannya. Tiba-tiba, dia mendengar seorang peminta-minta berkata, “Siapa nan mau meminjamkan hartanya kepada nan Mahacepat Menepati, nan Maha Melunasi, dan Mahakaya?”
Orang saleh tersebut menjawab, “Hamba-Nya nan tidak mempunyai kebaikan kebaikan.” Kemudian dia berdiri mengambil piring makanan itu dan memberikannya kepada si peminta-minta. Sementara dia sendiri menjalani malam harinya dalam keadaan lapar.
Semua ini didasarkan oleh semangat berbagi nan tumbuh atas dasar ketaatan nan kuat dari para salaf terdahulu. Kita semua pasti merasakan beratnya melakukan apa nan diteladankan para salaf ini. Siapa di antara kita nan ketika ada makanan nan sudah kita nantikan sejak lama, terlebih di hari itu kita berpuasa, tetapi ketika kita hendak menikmatinya, ada orang nan menginginkannya, lantas kita memberikan makanan tersebut? Penulis rasa, jarang sekali nan berada di level demikian di hari ini. Namun, itulah prinsip Ramadan nan diteladankan oleh baginda Nabi ﷺ, diikuti oleh para salaf, dan harusnya tertanam pada diri kita hari ini.
Di masa kini, mudah bagi kita untuk melakukan kedermawanan. Upaya kebaikan itu dapat kita lakukan apalagi dari genggaman kita, berupa infak maupun semangat menebar kebaikan nan lain. Ini adalah era di mana kebaikan perbuatan dipermudah, tetapi bujukan untuk melalaikan kita pun besar pula. Maka, ini adalah corak jihad tersendiri bagi kita hari ini. Sebuah jihad melawan nafsu kita untuk menyepelekan amalan-amalan nan bisa kita kerjakan. Spirit menebar kebermanfaatan itu menuntut perwujudan kebaikan dari kita semua.
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] https://binbaz.org.sa
[2] https://www.islamweb.net/ar
[3] Diambil dari status twitter resmi beliau https://x.com/Osaimi0543/status/1382474171691728897
[4] Semua riwayat dalam subpembahasan ini dinukil dari Lathaiful Maarif, karya Ibnu Rajab rahimahullah.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·