Memperbaiki Hidup dengan Memperbaiki Salat

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Salat seumpama nafas kehidupan bagi seorang Muslim. Ia bukan hanya sekadar tanggungjawab lima waktu, tetapi sumber sinar nan dapat menghidupkan iman, memperbaiki akhlak, dan menenteramkan jiwa. Tidaklah Allah mensyariatkan salat selain untuk memelihara hubungan manusia dengan-Nya, lantaran dalam salat ada zikir, doa, dan penghambaan nan menjadi sumber ketenangan sejati.

Namun sayangnya, di tengah hiruk-pikuk kehidupan saat ini, banyak manusia nan melalaikan salat. Ada nan salat hanya sekadar menggugurkan kewajiban, ada pula nan tergesa-gesa, apalagi ada pula nan dengan sengaja meninggalkannya lantaran kesibukan dunia. Padahal, sejatinya keberkahan hidup berjuntai pada sejauh mana kita menjaga hubungan dengan Allah melalui salat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رَأْسُ الأَمْرِ: الإِسْلامِ، وَعَمُودُهُ: الصَّلاةُ، وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ: الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ الله

“Pokok segala urusan adalah Islam, tiangnya adalah salat, dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Dalam sabda ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menggambarkan bahwa salat adalah tiang agama. Tanpa tiang, gedung Islam dalam diri seseorang bakal roboh.

Artinya, salat bukan sekadar rutinitas, tetapi tiang penyangga bagi seluruh amal. Apabila salatnya baik, kebaikan lainnya pun bakal baik. Sebaliknya, andaikan salat rusak, maka ibadah lain pun ikut rusak. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ أولَ ما يُحاسَبُ به العبدُ يومَ القيامةِ من عملِه صلاتُه ، فإن صَلُحَتْ فقد أَفْلَحَ وأَنْجَح ، وإن فَسَدَتْ فقد خاب وخَسِرَ ، فإن انْتَقَص من فريضتِه شيئًا ، قال الربُّ تبارك وتعالى : انْظُروا هل لعَبْدِي من تَطَوُّعٍ فيُكَمِّلُ بها ما انتَقَص من الفريضةِ ، ثم يكونُ سائرُ عملِه على ذلك

“Sesungguhnya ibadah pertama nan bakal dihisab dari seorang hamba pada hari hariakhir adalah salatnya. Jika salatnya baik, maka dia telah beruntung dan sukses. Namun jika salatnya rusak, maka dia telah kandas dan merugi.

Apabila pada salat wajibnya terdapat kekurangan, maka Allah Tabaraka wa Ta‘ala berfirman, ‘Lihatlah, apakah hamba-Ku mempunyai ibadah salat sunah? Maka dengan (salat sunah) itu bisa disempurnakan kekurangan dari salat wajibnya.’

Kemudian seluruh ibadah lainnya juga bakal dihisab dengan langkah seperti itu.” (HR. Tirmidzi)

Salat dan ketenangan jiwa

Hidup ini sering kali membikin kita capek dan gelisah. Banyak orang nan merasakan kegundahan tanpa karena nan jelas, hati sempit, pikiran kacau, dan rezeki tersendat. Sebagian orang berupaya mencari solusi dengan kesenangan duniawi, tetapi tidak juga menemukan ketenangan di dalam hatinya. Padahal, penyebab utamanya bisa jadi adalah kurang baiknya hubungan antara dirinya dengan Allah ‘Azza wa Jalla.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam QS. Taha ayat 14,

إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah salat untuk mengingat-Ku.”

Salat adalah sarana untuk mengingat Allah. Saat hati senantiasa ingat kepada-Nya, maka ketenangan bakal turun. Oleh lantaran itu, Allah berfirman,

أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjadikan salat sebagai tempat beristirahat dari keletihan dunia. Beliau berfirman kepada Bilal bin Rabah,

يَا بِلَالُ أَقِمِ الصَّلَاةَ أَرِحْنَا بِهَا

“Wahai Bilal, tegakkanlah salat, istirahatkanlah kami dengannya.” (HR. Abu Dawud)

Bagi orang beriman, salat bukanlah sebuah beban, melainkan sebuah ibadah krusial nan dapat mendamaikan dan menenangkan jiwa. Bagaimana tidak? Seorang hamba di saat sujudnya, dia melupakan bumi dan menumpahkan seluruh keluh kesah kepada Rabb nan Maha Mendengar.

Salat sebagai tembok dosa dan sumber keberkahan

Salat juga menjadi tembok dari maksiat dan sumber keberkahan hidup. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

“Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan biadab dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)

Salat nan betul bakal memperbaiki perilaku, menundukkan hawa nafsu, dan menanamkan rasa takut kepada Allah. Orang nan menjaga salatnya dengan baik bakal malu untuk bermaksiat, lantaran dia sadar bahwa setiap kali berdiri di hadapan Allah, dia membawa dosa nan kudu dihapus dengan tobat.

Selain mencegah maksiat, salat juga mendatangkan rezeki dan keberkahan. Allah berfirman,

وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلَاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا ۖ لَا نَسْـَٔلُكَ رِزْقًا ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكَ ۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَىٰ

“Perintahkanlah keluargamu melaksanakan salat dan bersabarlah dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah nan memberi rezeki kepadamu.” (QS. Taha: 132)

Siapa saja nan menjaga salatnya, Allah bakal mencukupkan kebutuhannya. Sebaliknya, siapa saja nan menyepelekannya, hidupnya bakal terasa penuh dengan kesempitan, meskipun secara zahir tampak kaya dari segi harta.

Lalai dari salat

Zaman modern telah membawa banyak kemudahan bagi manusia di segala aspek kehidupannya, tetapi sayangnya kemudahan nan ada bisa menjadi karena manusia jauh dari Tuhannya. Kesibukan bumi membikin banyak orang menunda salat, apalagi meninggalkannya. Sebagian besar berdasar “nanti saja”, padahal “nanti” itu bisa jadi tidak bakal pernah datang.

Allah menakut-nakuti orang nan lalai dari salat dalam firman-Nya,

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ، الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ

“Maka celakalah orang-orang nan salat, ialah orang-orang nan lalai dari salatnya.” (QS. Al-Ma‘un: 4–5)

Ayat di atas menjelaskan bahwa orang-orang nan melaksanakan salat saja tetap mungkin mendapatkan ancaman lantaran tetap lalai dalam salatnya. Maka tak heran, ketika seseorang meninggalkan salat, hidupnya menjadi sempit dan hatinya hampa. Ia mungkin mempunyai banyak harta, tetapi tidak merasa cukup; dia punya banyak teman, tapi merasa kesepian. Sebab, Allah mencabut keberkahan dari hidup orang nan lalai dari salat.

Salat sebagai cermin kedekatan dengan Allah

Salat adalah tanda bahwa seorang hamba tetap mempunyai hubungan dengan Rabb-nya. Semakin dia menjaga salat, dia semakin dekat kepada Allah. Salat adalah momen paling agung untuk “berbicara” dengan Allah. Di saat sujud, kita berada pada posisi paling rendah, namun justru saat itulah kita paling dekat dengan-Nya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ

“Posisi paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika dia bersujud. Maka perbanyaklah doa.” (HR. Muslim)

Hidup nan baik dimulai dari salat nan baik

Hidup nan baik bukanlah hidup nan tanpa masalah, tetapi hidup nan diberi kekuatan oleh Allah untuk menghadapinya. Dan kekuatan itu datang dari salat nan intens dan istikamah.

Allah Subahanahu wa Ta’ala berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ، الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“Sungguh beruntung orang-orang nan beriman, (yaitu) orang-orang nan intens dalam salatnya.” (QS. Al-Mu’minūn: 1–2)

Salat nan intens bakal memperbaiki hati. Hati nan baik bakal memperbaiki seluruh amal. Dan kebaikan nan baik bakal memperbaiki hidup. Maka betul ungkapan para ulama,

مَنْ أَصْلَحَ سَرِيرَتَهُ أَصْلَحَ اللَّهُ عَلَانِيَتَهُ، وَمَنْ أَصْلَحَ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ كَفَاهُ اللَّهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّاسِ، وَمَنِ اهْتَمَّ بِأَمْرِ آخِرَتِهِ كَفَاهُ اللَّهُ أَمْرَ دُنْيَاهُ

“Barangsiapa memperbaiki keadaan batinnya, maka Allah bakal memperbaiki keadaan lahiriahnya. Barangsiapa memperbaiki hubungan antara dirinya dengan Allah, maka Allah bakal mencukupinya dalam urusan hubungannya dengan manusia. Dan barangsiapa memberikan perhatian pada urusan akhiratnya, maka Allah bakal mencukupinya dalam urusan dunianya.” [1]

Maka, jika hidup terasa berat, jangan buru-buru menyalahkan keadaan. Bisa jadi, Allah sedang mengingatkan kita untuk memperbaiki salat. Karena dengan memperbaiki salat, Allah bakal memperbaiki hidup kita seluruhnya, ialah kehidupan bumi dan akhirat.

Wallahu Ta‘ala a‘lam bish-shawab.

Baca juga: Nasihat Untukmu nan Selalu Merasa Gagal dalam Kehidupan

***

Jember, 22 Jumadil Ula 1447

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id

Catatan kaki:

[1] Al-Ikhlas wa An Niyyah, karya Ibnu Abi Ad-Dun-ya, hal. 54 (melalui Maktabah Syamilah).

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info