ARTICLE AD BOX
Bireuen, NU Online
Libur panjang Idul Fitri 1447 Hijriah telah usai. Ribuan santri sekarang kembali ke dayah-dayah di Aceh, menghidupkan kembali aktivitas pendidikan Islam tradisional nan sempat lengang selama masa Lebaran.
Arus kehadiran santri terlihat di beragam dayah besar di Aceh, seperti Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, Dayah Ummul Ayman Samalanga, dan Pondok Pesantren Darul Munawwarah.
Para santri datang secara berjenjang dari beragam daerah, dengan puncak kehadiran terjadi pada Jumat, 27 Maret 2026, nan telah ditetapkan sebagai agenda resmi masuk kembali ke pondok.
Suasana nan sebelumnya sunyi sekarang berubah menjadi ramai. Di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga, para santri tampak berdatangan membawa perlengkapan belajar, diantar oleh orang tua, lampau kembali menempati bilik-bilik sederhana nan menjadi tempat mereka menuntut ilmu.
Wakil Kepala Bagian Pendidikan Dayah MUDI Samalanga, Tgk Hendri, mengatakan bahwa pihak dayah telah melakukan beragam persiapan untuk menyambut kembalinya para santri.
“Alhamdulillah, santri sudah mulai kembali. Jadwal resmi masuk pada hari Jumat, 27 Maret 2026, dan insyaallah aktivitas belajar mengajar bakal kembali melangkah normal,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa masa pasca-Lebaran menjadi fase krusial untuk mengembalikan ritme pendidikan di lingkungan dayah.
“Biasanya di awal-awal ini ada masa penyesuaian. Tapi kami percaya santri sudah siap kembali konsentrasi belajar,” tambahnya.
Hal senada disampaikan pembimbing senior Dayah MUDI Samalanga, Tgk Muhammad Ali. Ia menegaskan bahwa kembalinya santri ke dayah bukan sekadar melanjutkan pembelajaran, tetapi juga momentum untuk menata kembali niat dan memperkuat adab.
“Dayah ini bukan hanya tempat belajar kitab kuning, tapi tempat membentuk akhlak, kesabaran, dan kedisiplinan. Kembalinya santri adalah awal dari perjalanan itu kembali,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya etika dalam menuntut ilmu.
“Ilmu tanpa etika tidak bakal berkah. Maka nan utama bukan hanya pintar, tetapi juga berakhlak,” katanya.
Fenomena serupa juga terjadi di Dayah Ummul Ayman Samalanga dan Pondok Pesantren Darul Munawwarah. Aktivitas dayah kembali berjalan, ditandai dengan dimulainya pengajian, halaqah, serta beragam aktivitas rutin lainnya.
Rais Syuriah PWNU Aceh, Waled Nuruzzahri (Waled Nu) nan juga ketua Dayah Ummul Ayman Samalanga, menyampaikan harapannya agar seluruh santri dan majelis pembimbing kembali sesuai agenda nan telah ditentukan.
“Kami sangat berambisi santri dan majelis pembimbing kembali tepat waktu agar roda pendidikan di dayah dapat melangkah dengan baik dan maksimal,” ujarnya.
Menurutnya, kedisiplinan waktu merupakan bagian krusial dari proses pendidikan di dayah.
“Dayah mengajarkan keteraturan. Jika semua kembali sesuai jadwal, maka proses pendidikan bakal melangkah lebih baik,” tambahnya.
Di sisi lain, para wali santri juga merasakan haru saat mengantar anak-anak mereka kembali ke dayah. Momen perpisahan setelah kebersamaan selama Lebaran menjadi pengalaman emosional nan sarat makna.
Tgk Muhajir, salah seorang wali santri Dayah MUDI Samalanga, mengaku bahwa emosi tersebut selalu menjadi campuran antara berat dan bangga.
“Sebagai orang tua tentu berat melepas anak kembali ke dayah, apalagi setelah lama berbareng saat Lebaran. Tapi ini demi masa depan mereka,” ujarnya.
Ia berambisi anak-anak nan menuntut pengetahuan di dayah dapat tumbuh menjadi generasi nan berilmu dan beradab mulia.
“Kami titipkan anak-anak kami kepada guru-guru di dayah. Semoga mereka menjadi anak nan berfaedah bagi agama, bangsa, dan keluarga,” tambahnya.
Kembalinya para santri juga membawa akibat positif bagi masyarakat sekitar. Aktivitas ekonomi mulai kembali bergerak, terlihat dari ramainya warung kopi, gerai kebutuhan santri, hingga jasa transportasi nan sebelumnya sempat sunyi selama masa libur.
Seorang pedagang di sekitar Dayah MUDI mengaku mulai merasakan peningkatan pembeli sejak para santri kembali berdatangan.
“Kalau santri sudah masuk, suasana langsung ramai. Alhamdulillah, dagangan juga ikut laku,” ujarnya.
Bagi masyarakat Aceh, dayah bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan juga pusat kehidupan sosial dan spiritual. Tradisi mengirim anak ke dayah telah berjalan secara turun-temurun dan menjadi bagian dari identitas masyarakat nan religius.
Momentum kembalinya santri pasca-Lebaran pun mempunyai makna tersendiri. Setelah merayakan hari kemenangan berbareng keluarga, para santri kembali dengan semangat baru untuk menuntut pengetahuan dan memperbaiki diri.
Dengan dimulainya kembali aktivitas belajar mengajar, dayah-dayah di Aceh kembali menjadi pusat degub keilmuan dan pembinaan generasi muda. Dari tempat-tempat sederhana inilah lahir para ulama, tokoh masyarakat, serta generasi nan menjaga nilai-nilai Islam dan budaya Aceh.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·