Krisis Uang Kecil di Gaza Jadikan Roti Sulit Diakses, Rakyat Palestina Terancam Semakin Kelaparan

Sedang Trending 6 hari yang lalu
ARTICLE AD BOX

Gaza, NU Online

Mendapatkan seikat roti di Jalur Gaza sekarang menjadi perihal nan nyaris mustahil, bukan lantaran kekurangan tepung, melainkan akibat krisis duit pecahan mini nan telah berjalan sejak awal agresi Israel pada 7 Oktober 2023.


Penutupan perlintasan oleh otoritas Israel menyebabkan terbatasnya masuknya likuiditas duit tunai, termasuk penggantian duit kertas nan rusak, sehingga memicu kelangkaan uang, terutama dalam pecahan kecil.

Dilansir WAFA, krisis ini memperparah kondisi kehidupan penduduk Gaza nan sudah dilanda beragam kesulitan. Toko roti dan titik pengedaran sekarang mensyaratkan pembayaran menggunakan duit pecahan kecil, membikin banyak penduduk tidak dapat membeli roti.


Seorang warga, Walid Abu Jiab (40), mengatakan bahwa toko roti menolak melayani pembelian jika tidak menggunakan duit kecil. “Kami tidak mempunyai pecahan tersebut, sehingga kami tidak bisa membeli roti, apalagi melalui aplikasi,” ujarnya.


Ia mengaku kerap pulang dengan tangan kosong. “Apa salah anak-anak saya? Di mana saya kudu mencari duit kecil? Bukankah penderitaan akibat perang ini sudah cukup?” katanya.


Warga lain, Samia Halabi (66), menyebut dirinya terpaksa membeli roti dari titik pengedaran dengan nilai hingga 10 shekel, jauh lebih mahal dibanding nilai normal sekitar 3 shekel di toko roti.


“Kami butuh solusi nyata. Cucu-cucu saya kadang tidur tanpa roti, dan saya kudu meminta dari tetangga,” ujarnya. Halabi sekarang merawat lima cucu yatim setelah ayah mereka tewas dalam serangan di kamp Nuseirat pada awal agresi.


Metode Baru Kelaparan?

Seorang pedagang, Nahid Shahiber, menilai krisis ini sebagai corak baru dari kelaparan nan disengaja.


“Kami apalagi menyimpan duit mini di malam hari agar bisa membeli roti keesokan harinya. Ini krisis nan kudu segera mendapat perhatian,” katanya.


Ia menambahkan bahwa penduduk tidak mempunyai pengganti lain lantaran sulitnya mendapatkan gas memasak serta mahalnya nilai kayu bakar.

Ketua Asosiasi Pemilik Toko Roti Gaza, Abdel Nasser Al-Ajrami, menjelaskan bahwa toko roti tidak bertransaksi langsung dengan warga, melainkan melalui titik pengedaran nan bekerja sama dengan Program Pangan Dunia.


Menurutnya, kesepakatan pembayaran dilakukan separuh tunai dan separuh melalui aplikasi perbankan, sementara duit tunai digunakan untuk bayar penghasilan pekerja dan operasional.


Namun, dia menilai titik pengedaran menjadi sumber masalah lantaran mewajibkan pembayaran dalam pecahan kecil. Ia mendesak Program Pangan Dunia untuk mewajibkan penggunaan pembayaran digital guna meringankan beban warga.


Saat ini, hanya sekitar 20 toko roti nan tetap beraksi di seluruh Gaza.


Krisis Diperkirakan Berlanjut

Pakar ekonomi Mohammad Abu Jiab menilai krisis duit mini ini tidak bakal segera berakhir.

“Krisis ini hanya bisa diatasi jika sistem pembayaran elektronik diterapkan sepenuhnya, lantaran mini kemungkinan Israel mengizinkan masuknya duit tunai dalam jumlah cukup,” ujarnya.


Ia menambahkan bahwa kondisi ekonomi Gaza semakin memburuk, dengan lebih dari 80 persen sektor produktif, industri, pertanian, dan lainnya, terhenti, serta tingkat pengangguran nan melampaui 80 persen.

Selengkapnya
Sumber NU ONLINE
NU ONLINE