Konsep Rezeki dalam Al-Qur’an dan As-Sunah

Sedang Trending 2 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Banyak orang menyangka bahwa lapang alias sempitnya rezeki semata-mata ditentukan oleh besarnya gaji, jabatan, alias kesempatan duniawi. Jika penghasilan kecil, maka hidup pun dianggap pasti sempit. Jika penghasilan besar, maka dianggap pasti kondusif dan berkecukupan. Padahal, dugaan ini tidak sepenuhnya betul dan apalagi bertentangan dengan norma nan diajarkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunah.

Islam mengajarkan bahwa rezeki adalah ketetapan Allah, namun Allah menetapkannya melalui sebab-sebab (asbāb). Salah satu karena terpenting nan sering dilalaikan adalah kebiasaan dan disiplin hidup seorang hamba. Apa nan dia tanam secara konsisten dalam kehidupannya, baik berupa amal, akhlak, maupun usaha, itulah nan bakal dia tuai. Oleh lantaran itu, pembahasan tentang rezeki tidak bisa dilepaskan dari pembahasan tentang kebaikan nan berulang, kebiasaan nan istikamah, dan karakter nan dibangun dalam jangka panjang. Allah tidak menilai angan-angan, tetapi menilai apa nan betul-betul dilakukan oleh hamba-Nya.

Rezeki melangkah di atas sunnatullah

Allah Ta’ala menetapkan norma sebab-akibat di bumi ini. Tidak ada hasil tanpa proses, dan tidak ada panen tanpa menanam. Kaidah ini ditegaskan oleh Allah dalam firman-Nya,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ ۖ وَمَنْ كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا

“Barang siapa menghendaki untung akhirat, Kami tambahkan untung itu baginya. Dan peralatan siapa menghendaki untung dunia, Kami berikan sebagian darinya.” (QS. Asy-Syura: 20)

Perhatikan kata ḥarth (ladang). Allah tidak menyebut hasil secara instan, tetapi menyebut ladang nan kudu ditanami terlebih dahulu. Artinya, rezeki adalah hasil dari apa nan ditanam secara konsisten, bukan dari semata-mata niat tanpa amal.

Banyak orang mau hasil besar, tetapi tidak sabar menanam dengan benar. Ia mau perubahan drastis, namun enggan membangun kebiasaan mini nan berulang. Padahal, sunnatullah tidak pernah berubah. Apa nan ditanam dengan disiplin, itulah nan bakal tumbuh.

Konsistensi

Salah satu kesalahan dalam memandang rezeki adalah mengira bahwa satu langkah besar dapat menggantikan kebiasaan mini nan istikamah. Padahal, dalam syariat, Allah Ta’ala justru mencintai kebaikan nan terus-menerus meskipun kecil. Rasulullah ﷺ bersabda,

أَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ

“Amalan nan paling dicintai oleh Allah adalah nan paling kontinu, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari no. 6465 dan Muslim no. 783)

Hadis ini adalah norma besar dalam kehidupan, termasuk dalam urusan rezeki. Orang nan jujur setiap hari, disiplin sedikit demi sedikit, menghindari pemborosan secara konsisten, dan bersedekah meski mini namun rutin, dia sedang menanam bibit keberkahan. Sebaliknya, orang nan sesekali beramal besar tetapi hidupnya kacau, boros, tidak amanah, dan tidak disiplin, maka susah berambisi keberkahan dalam rezekinya. Sebab Allah menilai pola hidup, bukan momen sesaat.

Teladan Abdurrahman bin ‘Auf

Salah satu contoh paling nyata dalam sejarah Islam adalah Abdurrahman bin ‘Auf radhiyallahu ‘anhu. Ketika hijrah ke Madinah, beliau datang tanpa membawa kekayaan sedikit pun. Namun, dalam waktu nan tidak lama, Allah melapangkan rezekinya hingga dia menjadi salah satu sahabat terkaya.

Ketika dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’, dia ditawari separuh harta. Namun Abdurrahman bin ‘Auf menolak dan berkata,

دُلُّونِي عَلَى السُّوقِ

“Tunjukkan saya ke pasar.” (HR. Bukhari no. 2048)

Beliau memulai dari bawah, berbisnis dengan jujur, sabar, dan konsisten. Tidak ada jalan pintas, tidak ada tipu daya. Hasilnya bukan hanya kekayaan, tetapi juga keberkahan, hingga hartanya banyak digunakan untuk jihad dan sedekah. Hikmah dari kisah ini mengajarkan kita bahwa rezeki itu adalah kebiasaan nan dibangun di atas ketakwaan.

Penundaan rezeki

Tidak semua keterlambatan berfaedah penolakan. Terkadang Allah menunda rezeki lantaran seorang hamba belum siap secara mental, akhlak, alias tanggung jawab. Jika rezeki besar diberikan kepada jiwa nan belum siap, justru bisa menjadi karena kebinasaan. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَوْ بَسَطَ اللَّهُ الرِّزْقَ لِعِبَادِهِ لَبَغَوْا فِي الْأَرْضِ

“Jika Allah melapangkan rezeki kepada hamba-hamba-Nya, niscaya mereka bakal melampaui pemisah di muka bumi.” (QS. Asy-Syura: 27)

Ayat ini menunjukkan bahwa kelapangan rezeki kudu sejalan dengan kesiapan jiwa. Maka tugas seorang hamba bukan hanya meminta rezeki, tetapi juga membangun kebiasaan nan layak untuk menerima rezeki tersebut. Oleh karenanya, disiplin, amanah, qana’ah, dan kontrol diri adalah bagian dari persiapan itu. Tanpa ini, rezeki nan besar justru bisa menjadi fitnah.

Cermin kebiasaan dan karakter

Pada akhirnya, rezeki sering kali menjadi cermin dari kebiasaan seseorang. Cara dia mengatur waktu, mengelola uang, menjaga salat, bersikap jujur, dan menahan hawa nafsu, semua itu membentuk pola nan bakal kembali kepadanya. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak bakal mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan nan ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11)

Perubahan rezeki seringkali bukan dimulai dari luar, tetapi dari dalam: dari kebiasaan, disiplin, dan ketaatan nan dibangun setiap hari.

Perbaiki kebiasaan, Allah perbaiki rezeki

Rezeki adalah keberkahan dalam kehidupan. Bisa jadi seseorang bergaji mini namun hidupnya tenang, cukup, dan penuh keberkahan. Sebaliknya, ada nan bergaji besar namun selalu merasa sempit dan gelisah. Maka, fokuslah memperbaiki apa nan berada dalam kendali kita: salat nan tepat waktu, upaya nan jujur, pengeluaran nan terkontrol, infak nan rutin, dan kebiasaan baik nan dijaga. Sisanya, serahkan semuanya kepada Allah. Karena ketika kebiasaan dibangun di atas ketakwaan, maka rezeki bakal mengikuti—dengan langkah nan Allah kehendaki, pada waktu nan Allah tetapkan, dan dengan keberkahan nan jauh lebih besar daripada sekadar angka. Wallāhu a‘lam.

***

Penulis: Fauzan Hidayat

Artikel Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info