ARTICLE AD BOX
Keimanan adalah pondasi utama dalam kehidupan seorang muslim. Tanpa iman, seluruh kebaikan kebaikan tidak ada harganya di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Namun, ketaatan bukanlah sesuatu nan tetap dan kekal dalam satu kondisi saja. Ia bisa naik dengan ketaatan dan bisa turun dengan kemaksiatan. Oleh karenanya, setiap muslim wajib berupaya memperbarui dan memperkuat keimanannya agar tetap hidup dan kokoh di dalam hatinya.
Salah satu langkah paling agung untuk memperbarui keagamaan adalah dengan mengenal Allah Jalla Jalaluh melalui nama-nama-Nya nan terindah (al-asma’ al-husna) dan sifat-sifat-Nya nan sempurna (ash-shifat al-‘ulya’). Semakin dalam seorang hamba mengenal Rabbnya, semakin besar pula rasa cinta, takut, harap, dan pengagungannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Semua itu merupakan inti dan pokok dari keagamaan itu sendiri.
Makna al-asma’ al-husna dan ash-shifat al-‘ulya’
Secara bahasa, al-asma’ al-husna berfaedah “nama-nama nan paling indah”. Sedangkan secara istilah, dia mencakup seluruh nama nan digunakan Allah ‘Azza wa Jalla untuk menyebut diri-Nya di dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, nan menunjukkan kesempurnaan, kemuliaan, dan keagungan-Nya.
Ketahuilah, setiap nama Allah nan terindah mengandung makna nan menunjukkan sifat kesempurnaan. Misalnya, nama Ar-Rahman menunjukkan rahmat Allah nan sangat luas, nama Al-‘Alim menunjukkan keluasan dan kesempurnaan ilmu-Nya, dan nama Al-Qadir menunjukkan kekuasaan-Nya nan sangat luas dan tak terbatas.
Adapun ash-shifat al-‘ulya’ adalah sifat-sifat Allah nan Maha Tinggi dan Maha Sempurna, seperti sifat rahmat, ilmu, istiwa, cinta, keadilan, dan sebagainya. Dan tentunya, sifat-sifat tersebut tidak sama alias menyerupai sifat makhluk, lantaran Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
“Tidak ada sesuatu pun nan serupa dengan Dia, dan Dia-lah nan Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Asy-Syura: 11)
Dengan mengenal dan memahami nama dan sifat-sifat ini, seorang muslim bakal semakin memahami kebesaran Allah dan kedekatan-Nya dengan hamba-Nya, sehingga hatinya dipenuhi dengan keagamaan nan tulus dan penghambaan nan sejati.
Keutamaan mengenal nama dan sifat Allah
Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
قُلِ ادْعُوا اللَّهَ أَوِ ادْعُوا الرَّحْمَٰنَ أَيًّا مَّا تَدْعُوا فَلَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ
“Katakanlah, ‘Serulah Allah alias serulah Ar-Raḥman. Dengan nama nan mana saja Anda menyeru, Dia mempunyai nama-nama nan paling indah’.” (QS. Al-Isra’: 110)
Dalam ayat ini, Allah ‘Azza wa Jalla memerintahkan hamba-Nya untuk bermohon dan beragama kepada-Nya dengan menyebut nama-nama-Nya nan paling indah. Hal ini menunjukkan bahwa mengenal dan mengamalkan nama-nama Allah dalam ibadah merupakan corak pengagungan terhadap-Nya.
Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman,
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا
“Dan Allah mempunyai nama-nama nan paling indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama itu.” (QS. Al-A‘raf: 180)
Ayat ini mengandung perintah nan jelas untuk mengenal nama-nama Allah, merenungi maknanya, dan menjadikannya sebagai wasilah alias perantara dalam berdoa. Ketika seorang hamba bermohon dengan memahami makna nama-nama tersebut, misalnya bermohon dengan menyebut Ar-Razzaq ketika meminta rezeki, alias Al-Ghafur ketika memohon ampunan, maka hatinya bakal semakin percaya bakal kebesaran dan kasih sayang Allah. Inilah prinsip keagamaan nan sejati.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَة وَتِسْعِينَ اِسْمًا مِائَة إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّة
“Sesungguhnya Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, ialah seratus kurang satu. Barangsiapa nan menghitungnya (mengetahuinya, memahami maknanya, dan mengamalkannya), niscaya dia bakal masuk surga.” (HR. Bukhari no. 6410 dan Muslim no. 2677)
Yang dimaksud dengan “menghitung” dalam sabda tersebut bukan sekadar menghafal nama-nama Allah semata, namun juga mencakup memahami setiap nama-Nya, baik dari sisi lafaz maupun makna, serta beragama kepada Allah sesuai dengan kandungan dan tuntutan (konsekuensi) dari nama-nama tersebut. Pemahaman nan betul seperti ini hanya dapat diraih melalui upaya mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. (Lihat Syarh Al-Qawa’idul-Mutsla, hal. 105)
Jadi, mengenal nama-nama Allah bukanlah sebatas menyebutnya di lisan, tetapi menghayatinya di hati dan menerapkannya dalam kebaikan perbuatan. Misalnya, seseorang nan mengenal Allah sebagai Ar-Raqib, dia bakal lebih berhati-hati dari perbuatan dosa. Orang nan mengenal Allah sebagai Al-Karim, dia akan percaya bahwa Allah tidak bakal menyia-nyiakan kebaikan kebaikannya.
Mengenal nama-nama dan sifat-sifat Allah adalah kunci untuk memperbarui dan meningkatkan keimanan. Hal ini lantaran pengetahuan tentang Allah merupakan inti dari iktikad nan lurus. Seseorang tidak bakal mencintai Allah dengan betul tanpa mengenal-Nya, dan tidak bakal merasa takut kepada-Nya tanpa memahami keagungan dan keadilan-Nya.
Dengan memahami nama-nama Allah, seorang hamba bakal mengenal Rabb-nya dengan lebih dekat. Hati nan mengenal Allah bakal senantiasa hidup, bergetar ketika mendengar nama-Nya, dan tenang dalam berzikir kepada-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang nan beragama dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra‘d: 28)
Ketahuilah bahwa zikir nan paling agung adalah zikir nan disertai dengan mengenal dan mengagungkan nama-nama Allah. Karena dengan memahami al-asma’ al-husna, seorang hamba tidak hanya menyebut nama-nama Allah dengan lisannya, tetapi juga menghadirkan makna dan keagungan-Nya dalam hati, sehingga zikirnya bakal menumbuhkan rasa cinta, takut, dan minta kepada-Nya. Inilah zikir nan betul-betul menghidupkan hati dan menguatkan hubungan seorang hamba dengan Rabb-nya.
Penutup
Memperbarui keagamaan bukanlah tugas nan mudah dan cepat, tetapi dia merupakan tugas nan berat dan sangat panjang hingga akhir hayat. Di antara langkah paling utama dan paling agung untuk memperbarui keagamaan adalah dengan mengenal Allah melalui nama-nama-Nya nan terindah dan sifat-sifat-Nya nan termulia. Allah memerintahkan hamba-Nya untuk bermohon dan beragama dengan menyebut nama-nama-Nya, serta menjanjikan masuk ke dalam surga bagi siapa saja nan berupaya menghafal dan mengamalkannya.
Maka, seorang muslim hendaknya menjadikan pengetahuannya terhadap al-asma’ al-husna sebagai bagian dari sarana beragama kepada Allah ‘Azza wa Jalla setiap harinya. Dengan memahami maknanya, mengamalkannya dalam kehidupan, dan merenungkannya dalam angan serta zikir, ketaatan bakal senantiasa ter-upgrade, hati menjadi lebih tenang, dan hubungan dia dengan Allah semakin dekat.
Semoga Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan kita termasuk orang-orang nan mengenal-Nya dengan sebenar-benarnya, mencintai-Nya dengan seutuh hati, dan memperoleh kemuliaan untuk memandang wajah-Nya di surga-Nya nan kekal dan abadi.
Semoga bermanfaat, wallahu a’lam bisshawab.
Baca juga: Hierarki dan Dimensi Keimanan
***
Penulis: Chrisna Tri Hartadi
Artikel Muslim.or.id
Referensi:
Disarikan dari kitab Tajdidu Al-Iman, karya Syekh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr hafizhahullah, hal. 15.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·