Ketika Tidak Bisa Mudik: Untuk Para Pekerja yang Menahan Rindu

Sedang Trending 2 minggu yang lalu
ARTICLE AD BOX

Setiap musim mudik tiba, Indonesia seperti bergerak bersama. Data dari Kementerian Perhubungan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa puluhan hingga ratusan juta orang melakukan perjalanan mudik setiap Idul Fitri. Jalan tol padat, pelabuhan penuh, airport sibuk, stasiun sesak. Mudik telah menjadi tradisi nasional nan sangat kuat.

Namun di kembali arus besar itu, ada jutaan orang nan tetap tinggal. Mereka tidak pulang. Bukan lantaran tidak rindu, tetapi lantaran tanggung jawab.

Ada tenaga kesehatan nan berjaga di rumah sakit. Ada petugas keamanan nan menjaga ketertiban. Ada sopir, pekerja pabrik, pegawai ritel, operator transportasi, pekerja tambang, awak media, hingga pekerja migran Indonesia di luar negeri nan hanya bisa memandang family lewat layar ponsel.

Hati mereka sama seperti nan lain. Mereka juga kangen ibu. Mereka juga mau mencium tangan ayah. Mereka juga mau duduk di ruang tamu sederhana nan penuh kenangan masa kecil. Namun, lantaran beragam hal, seperti tidak adanya izin kerja, jarak nan begitu jauh, alias apalagi ketiadaan biaya untuk mudik, kemauan itu kudu mereka pendam.

Rindu nan berbobot ibadah

Islam mengajarkan bahwa setiap kebaikan tergantung pada niatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ

“Sesungguhnya kebaikan itu tergantung niatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika seseorang bekerja dengan niat mencari nafkah halal, membantu keluarga, menjaga amanah, dan memberi faedah bagi orang lain, maka pekerjaannya berbobot ibadah.

Tidak mudik bukan berfaedah tidak berbakti. Bisa jadi justru dia sedang berkhidmat dengan langkah nan berbeda: mengirim nafkah, menanggung kebutuhan keluarga, alias menjaga pelayanan bagi masyarakat.

Fakta sosial di Indonesia menunjukkan bahwa tidak semua orang mempunyai keahlian finansial untuk mudik. Biaya tiket transportasi, kebutuhan keluarga, dan kondisi ekonomi sering menjadi penghalang. Islam memahami keterbatasan ini.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kemampuannya.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Jika seseorang tidak bisa pulang lantaran keterbatasan biaya, dia tidak berdosa. Bahkan kesabarannya dalam kondisi sempit menjadi pahala.

Amanah didahulukan daripada kemauan pribadi

Islam sangat menekankan pentingnya amanah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَن تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian untuk menunaikan amanah kepada nan berkuasa menerimanya.” (QS. An-Nisa’: 58)

Pekerjaan adalah amanah. Kontrak kerja adalah amanah. Tanggung jawab pekerjaan adalah amanah.

Sering kali nan tidak mudik adalah mereka nan justru dibutuhkan banyak orang, seperti petugas medis, abdi negara keamanan, pekerja transportasi, tenaga kerja jasa publik, dan banyak pekerjaan lain nan membikin orang lain bisa merayakan hari raya dengan kondusif dan nyaman.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah mencintai jika salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, dia melakukannya dengan baik.” (HR. Thabrani dan Baihaqi)

Menjaga profesionalitas di hari raya adalah corak ihsan (berbuat baik). Bisa jadi pahala lebih besar lantaran menahan kangen demi menjaga amanah.

Bekerja mencari nafkah adalah kemuliaan

Sebagian orang merasa rendah hati lantaran tidak bisa pulang. Padahal, bekerja mencari nafkah legal untuk family termasuk kebaikan nan besar. Dari Al-Miqdam bin Ma‘di Karib radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما أكل أحد طعاما قط خيرا من أن يأكل من عمل يده، وإن نبي الله داود صلى الله عليه وسلم كان يأكل من عمل يده

“Tidaklah seseorang menyantap makanan nan lebih baik sama sekali daripada makanan nan dia makan dari hasil kerja tangannya sendiri. Dan sungguh Nabi Allah Dawud ‘alaihis salam dulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di Indonesia, banyak pekerja di kota besar nan menjadi tulang punggung family di desa. Uang nan dikirim setiap bulan justru menjadi karena orang tua bisa hidup layak. Maka, pengorbanan tidak mudik bisa jadi bagian dari hormat nan nyata.

Baca juga: Memberi Nafkah kepada Anak-Istri adalah Ibadah nan Agung

Silaturahim tidak selalu dengan datang fisik

Memang, berjumpa langsung mempunyai kehangatan tersendiri. Namun, silaturahim tidak terbatas pada pertemuan fisik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنَّ الْوَاصِلَ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

“Orang nan menyambung silaturahim bukanlah nan membalas kunjungan, tetapi nan tetap menyambung ketika diputus.” (HR. Bukhari)

Sebagian orang merasa bersalah lantaran tidak bisa pulang menemui orang tua. Namun, berkhidmat tidak selalu kudu dengan datang secara fisik. Allah Azza wa Jalla berfirman,

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian.” (QS. At-Taghabun: 16)

Jika tidak bisa datang, teleponlah dengan bunyi lembut. Kirim pesan penuh doa. Transfer nafkah jika mampu. Ucapkan kata-kata nan menenangkan hati orang tua. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدِ

“Rida Allah tergantung pada rida orang tua.” (HR. Tirmidzi)

Rida itu bisa diraih dengan perhatian dan doa, meski terpisah jarak.

Kesabaran menahan rindu

Menahan kangen bukan perkara ringan. Namun, kesabaran adalah kemuliaan. Allah Azza wa Jalla berfirman,

وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

“Dan Allah mencintai orang-orang nan sabar.” (QS. Ali ‘Imran: 146)

Diriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu ’anhu, Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam bersabda,

عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya itu baik, dan perihal itu tidak dimiliki selain oleh seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan nikmat, dia berterima kasih dan itu baik baginya. Dan andaikan dia mendapatkan musibah, dia sabar dan itu baik baginya.” (HR. Muslim)

Kesabaran menahan kangen adalah ibadah nan mungkin tidak terlihat oleh manusia, tetapi dicatat oleh Allah.

Jangan bandingkan diri dengan orang lain

Di era media sosial, foto kebersamaan family dapat menambah rasa sunyi bagi nan tidak mudik. Namun Allah mengingatkan,

وَلَا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ

“Janganlah engkau memandang dengan kagum terhadap apa nan Kami berikan kepada sebagian dari mereka.” (QS. Thaha: 131)

Setiap orang mempunyai ujian nan berbeda. nan terpenting adalah gimana kita menyikapinya.

Menjadikan momen ini sebagai muhasabah

Tidak mudik bisa menjadi waktu nan sunyi. Dan kesunyian sering kali mengajarkan kedewasaan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ

“Dan Dia berbareng kalian di mana pun kalian berada.” (QS. Al-Hadid: 4)

Mungkin Anda jauh dari keluarga, tetapi tidak pernah jauh dari Allah.

Gunakan momen ini untuk:

  • Memperbanyak doa.
  • Mengirimkan angan untuk kedua orang tua.
  • Merenungi perjalanan hidup.
  • Menyusun rencana agar suatu hari bisa pulang dengan lebih baik.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“Sesungguhnya berbareng kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)

Solusi praktis mengobati rindu

Beberapa langkah sederhana nan bisa dilakukan:

  • Niatkan pekerjaan sebagai ibadah dan bakti.
  • Jadwalkan video call unik berbareng keluarga.
  • Kirim bingkisan mini sebagai tanda cinta.
  • Datangi masjid untuk merasakan kebersamaan umat.
  • Perbanyak zikir dan doa.

Allah Azza wa Jalla berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

“Ingatlah Aku, niscaya Aku ingat kalian.” (QS. Al-Baqarah: 152)

Wahai Anda nan tetap bekerja saat orang lain pulang…

Allah mengetahui kangen nan Anda simpan dalam diam.
Allah memandang pengorbanan nan mungkin tidak disorot manusia.
Allah mencatat setiap langkah nan Anda tempuh demi nafkah legal dan amanah nan dijaga.

Tidak mudik bukan tanda kurang cinta.
Tidak pulang bukan berfaedah kurang bakti.
Bisa jadi justru Anda sedang menjalani corak pengabdian nan lebih sunyi, namun lebih berat timbangannya di sisi Allah.

Jika tahun ini belum Allah izinkan untuk berkumpul, percayalah bahwa setiap kesabaran ada pemisah akhirnya. Setiap kangen nan ditahan bakal diganti dengan pertemuan nan lebih hangat, pada waktu nan terbaik menurut-Nya.

Dan jika jarak tetap memisahkan, angan tidak pernah terhalang ruang dan waktu. Doa seorang anak tetap sampai. Nafkah nan dikirim tetap menjadi bukti cinta. Kesungguhan hati tetap berbobot ibadah.

Semoga Allah menjaga family nan jauh di sana.
Semoga Allah melapangkan rezeki dan langkah kita.
Semoga Allah mempertemukan kembali dalam keadaan terbaik, di bumi dan kelak di surga-Nya.

Wallahu Ta‘ala A‘lam.

Baca juga: Mudik: Lebih dari Sekadar Pulang Kampung

***

Penulis: Gazzeta Raka Putra Setyawan

Artikel Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info