Kemarau 2026 Datang Bertahap, BMKG Ingatkan Ancaman Kekeringan dan Penurunan Curah Hujan

Sedang Trending 5 hari yang lalu
ARTICLE AD BOX

Jakarta, NU Online

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi awal musim tandus 2026 di Indonesia bakal berjalan secara berjenjang mulai April hingga Juni.


BMKG juga mengingatkan tentang adanya potensi tekanan serius pada sektor pangan, sumber daya air, hingga lingkungan, seiring kekuasaan kondisi curah hujan di bawah normal.


Direktorat Perubahan Iklim Kedeputian Bidang Klimatologi, BMKG Fatchiyah menyampaikan bahwa wilayah Jawa Barat bagian utara, pesisir utara Jawa Tengah, serta sebagian Bali dan Nusa Tenggara mulai memasuki tandus pada April 2026.


“Sebagian wilayah Indonesia ini mulai memasuki musim tandus seperti di Pesisir Utara, Bali dan, Nusa Tenggara. Sementara itu, wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua bakal menyusul secara berjenjang pada Mei hingga Juni. Puncak musim tandus diprediksi pada Agustus,” ujarnya dalam Webinar Cengkrama Iklim pada Senin (30/3/2026).


Ia juga menjelaskan bahwa sifat hujan bulanan sepanjang April hingga September 2026 didominasi kondisi bawah normal hingga normal.


“Pada April dan Mei, sebagian besar wilayah Indonesia mengalami curah hujan lebih rendah dari biasanya. Kondisi ini bersambung hingga puncak tandus pada Juli sampai September, terutama di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, dan Sulawesi,” jelasnya.


Fatchiyah juga mengingatkan pentingnya langkah penyesuaian lintas sektor untuk meredam akibat kemarau.


“Di sektor pangan dapat menyesuaikan agenda tanam dan pemilihan varietas tanaman nan memerlukan lebih sedikit air menjadi krusial, lebih tahan kekeringan, serta mempunyai siklus tanam lebih pendek, seperti petani garam dan tembakau, dia memang lebih memerlukan kondisi nan curah hujannya rendah,” terangnya.


Pada sektor sumber daya air, dia mengatakan diperlukan revitalisasi waduk serta perbaikan sistem pengedaran air guna memastikan kesiapan bagi masyarakat.


“Sementara pada sektor energi, kapabilitas air waduk kudu dijaga untuk mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA),” katanya.


Di sisi lingkungan, dia menekankan adanya potensi penurunan kualitas udara selama musim kemarau. Fatchiyah menegaskan diperlukan sistem respons cepat, termasuk upaya pengurangan emisi melalui penghijauan dan pengelolaan sampah nan baik.


“Pengolahan sampah nan jelek tentu berakibat dengan bencana. Pada musim hujan bisa menyebabkan penyumbatan dan banjir, sementara pada musim kemarau, sampah nan tidak terkelola dengan baik bakal berakibat pada kualitas udara nan tidak baik,” tegasnya.


Fatchiyah menghimbau masyarakat dapat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi curah hujan nan condong menurun dan musim tandus nan datang bertahap.


“Untuk masyarakat nan bakal memasuki musim kemarau. Kita bisa memanfaatkan air nan sudah ditabung sejak musim hujan untuk kebutuhan ke depan,” katanya.

Selengkapnya
Sumber NU ONLINE
NU ONLINE