ARTICLE AD BOX
Malam potensial berasas waktu
Potensi lailatul qadar lebih besar lagi terjadi pada 10 malam terakhir Ramadan, utamanya pada malam ganjilnya, dan bertepatan dengan malam Jumat. Konteks ini didapatkan dari pendapat para ustadz terdahulu.
Berkaitan dengan malam ganjil diutamakan, berasas riwayat Bukhari berikut,
في الوتر من العشر الأواخر من رمضان
“Lailatul qadar terjadi pada malam ganjil dari sepuluh malam terakhir Ramadan.” (HR. Bukhari no. 2017)
Dalam riwayat Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhum,
التمسوا ليلة القدر في العشر الأواخر من رمضان في تاسعة تبقى في سابعة تبقى في خامسة تبقى
“Carilah malam lailatul qadar di sepuluh malam terakhir Ramadan, pada malam kesembilan nan tersisa, pada malam ketujuh nan tersisa, pada malam kelima nan tersisa.” (HR. Bukhari no. 2021)
Dari sabda tersebut, terdapat isyarat di mana malam-malam unik tersebut dan gimana langkah menentukannya. Hadis ini mengisyaratkan perhitungannya dari hari nan tersisa. Ulama berbeda pendapat tentang nan mana menjadi patokan antara menghitung malam ganjil, apakah dari depan alias dari ujung Ramadan.
وعلى قياس من حسب الليالي الباقية من الشهر على تقدير نقصان الشهر فينبغي أن يكون عنده أول العشر الأواخر ليلة العشرين لاحتمال أن يكون الشهر ناقصا فلا يتحقق كونها عشر ليال بدون إدخال ليلة العشرين فيها
“Berdasarkan kalkulasi sisa malam dalam bulan tersebut, dengan dugaan bulan tersebut tidak lengkap, maka malam pertama dari sepuluh malam terakhir semestinya adalah malam kedua puluh, lantaran kemungkinan bulan tersebut tidak lengkap. Oleh lantaran itu, sepuluh malam tersebut tidak dapat dipastikan tanpa memasukkan malam kedua puluh.” (Lathaiful Maarif, hal. 357)
Syekh As-Sa’di rahimahullah menerangkan dalam tafsirnya,
وقد تواترت الأحاديث في فضلها، وأنها في رمضان، وفي العشر الأواخر منه، خصوصًا في أوتاره، وهي باقية في كل سنة إلى قيام الساعة.
“Inilah nan dikuatkan dalam hukum bahwasanya malam lailatul qadar terjadi dengan potensi besar di sepuluh malam terakhir. Sebabnya adalah adanya sabda Nabi ﷺ nan unik memerintahkan kaum muslimin untuk menghidupkannya. Selain itu, adanya perbuatan Nabi ﷺ nan lebih antusias lagi beramal setelah masuk fase ketiga ini. Tidak hanya antusias sendiri, tetapi membujuk keluarganya demikian juga.” (Tafsir As-Sa’di QS. Al-Qadr: 5)
Kemudian terdapat riwayat nan lebih menekankan malam ganjil dibandingkan malam genap. Namun, ingat dalam perihal ini terjadi perbedaan para ustadz dalam metode menghitungnya, apakah dari depan alias dari akhir? Semua ini menunjukkan ketidaktahuan kita secara pasti bakal adanya lailatul qadar di hari apa.
Adapula malam-malam nan lebih dikuatkan oleh sebagian para sahabat dan ustadz terdahulu, di antaranya:
1) Malam ke-21: Disebutkan riwayatnya dari Abu Sa’id Al-Khudri. Ini juga nan dikuatkan oleh Imam Syafii.
2) Malam ke-23: Pendapat Ahli Madinah, Sufyan Ats-Tsauri, dan Abdullah bin Unais. Dalam Shahih Bukhari dan juga Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, diriwayatkan bahwa Bilal menguatkan malam ke-23.
إنها أَوَّل السَّبْع من العشر الأواخر
“Sungguh dia terjadi pada tujuh hari tersisa di sepuluh malam terakhir.” (HR. Bukhari no. 4470)
Ini pendapat Malik juga nan menghitung tujuh malam terakhir jika jumlah malam Ramadan adalah 29 saja. Menurut Abdul Malik bin Habib, ini dengan dugaan Ramadan tak sempurna/genap.
وتأوَّله عبدُ الملك بنُ حَبيبٍ على أنَّه إنما يُحسَبُ كذلك إذا كان الشهر ناقصًا
“Pemaknaan dari Abdul Malik bin Habib dibangun di atas perkiraan kalkulasi hari nan kurang, ialah 29 hari/malam.” (Lathaiful Maarif, hal. 355)
Perhitungan dari belakang dengan dugaan 29 hari/malam ini dinilai tidak berdasar menurut Ibnu Rajab. Karena Nabi ﷺ memerintahkan perhitungannya dengan hitungan standar. Sedangkan penanggalan Ramadan tidak kita ketahui apakah 29 alias 30 di tahun tersebut.
وليس هذا بشيء؛ فإنَّه إنَّما أمر بالاجتهاد في هذه الليالي على هذا الحساب، وهذا لا يمكن أن يكونَ مراعىً بنقصان الشهرِ في آخره
“Adapun pendapat ini tidaklah berdasar, lantaran perintah Nabi ﷺ adalah mencarinya berasas kalkulasi standar. Tentu langkah seperti itu tidak bisa digunakan lantaran utuh alias tidaknya bulan tidak diketahui selain di akhir waktu.” (Lathaiful Maarif, hal. 355)
3) Malam ke-24: Berdasarkan perselisihan di atas, maka lahirlah pendapat nan menguatkan malam ke-24 sebagai malam lailatul qadar seperti Ayub As-Sikhtiyani, Ahli Bashrah, juga Anas dan Hasan, Abu Said Al-Khudri dan Abu Dzar. Bahkan Hasan Al-Bashri mengatakan,
رَقَبْتُ الشَّمسَ عشرين سنة، ليلَة أربع وعشرين، فكانت تطلعُ لا شُعاعَ لها
“Aku memperhatikan mentari selama dua puluh tahun. Pada malam ke-24 besok harinya, mentari terbit tidak bercahaya tajam.” (ibid)
Artinya, pendapat ini datang dari penelitian nan dilakukan oleh beliau selama 20 tahun. Pendapat ini dikuatkan Ibnu Abdul Barr dan Ibnu Rajab sendiri sebagai perwakilan Hanabilah.
4) Malam ke-25: Berdasarkan keumuman sabda berikut,
Nabi ﷺ bersabda,
اِلْتَمِسُوْهَا فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ, فِيْ تَاسِعَةٍ تَبْقَى, فِيْ سَابِعَةٍ تَبْقَى, فِيْ خَامِسَةٍ تَبْقَى
“Carilah lailatul qadar di bulan Ramadan, pada sembilan malam nan tersisa, tujuh malam nan tersisa, lima malam nan tersisa.” (HR. Bukhari no. 1917)
5) Malam ke-27: Ini adalah pendapat Ubay bin Kaab dengan kalimat nan sangat tegas, serta Zir bin Hubays dan Abdah bin Abi Lubabah. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Bulughul Maram sabda no. 705 menyebut sabda Mu’awiyah,
عَنْ اَلنَّبِيِّ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ: – لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ – رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ, وَالرَّاجِحُ وَقْفُهُ. وَقَدْ اِخْتُلِفَ فِي تَعْيِينِهَا عَلَى أَرْبَعِينَ قَوْلًا أَوْرَدْتُهَا فِي فَتْحِ اَلْبَارِي
“Dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau berbicara mengenai lailatul qadar itu terjadi pada malam ke-27.” (Nukilan dari Bulughul Maram)
Namun pendapat nan kuat, sabda ini mauquf, ialah hanya perkataan sahabat. Para ustadz berbeda mengenai tanggal pasti lailatul qadar. Ada 24 pendapat dalam masalah ini nan dibawakan oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari.
Umar, Hudzaifah, dan beberapa sahabat menguatkan malam ini.
6) Malam ke-29: sebagaimana sabda Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ berfirman tentang malam lailatul qadar,
إِنَّهَا لَيْلَةُ سَابِعَةٍ أَوْ تَاسِعَةٍ وَعِشْرِيْنَ, إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِيْ الأَرْضِ أَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى
“Sesungguhnya malam itu malam nan ke(dua puluh) tujuh alias kedua puluh sembilan. Sesungguhnya, malaikat pada malam itu, lebih banyak dari jumlah butiran kerikil (pasir).” (HR. Ahmad, disahihkan Al-Albani)
7) Malam ke-30 pun mungkin: Dalam riwayat Abu Bakrah,
عَنْ عُيَيْنَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: حَدَّثَنيِ أبِيْ قَالَ: ذَكَرْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ عِنْدَ أَبِيْ بَكْرَةَ فَقَالَ: مَا أناَ مُلْتَمِسُهَا لِشَيْءٍ سَمِعْتهُ مِنْ رَسُوْلِ الله صَلىَّ الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلاَّ فِيْ الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ فَإِنِّيْ سَمِعْتُهُ يَقُوْلُ: ((اِلْتَمِسُوْهَا فَيْ تِسْعٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ سَبْعٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ خَمْسٍ يَبْقَيْنَ, أَوْ فِيْ ثَلاَثٍ, أَوْ آخِرِ لَيْلَةٍ)), قَالَ: وَكَانَ أَبُوْ بَكْرَةَ يُصَلِّيْ فِيْ الْعِشْرِيْنَ مِنْ رَمَضَانَ كَصَلاَتِهِ فِيْ سَائِرِ السَّنَةِ, فَإذا دَخَلَ الْعَشْرَ اِجْتَهَدَ
“Dari Uyainah bin Abdurrahman, dia berkata, “Ayahku telah mengabarkan kepadaku, (ia) berkata, saya menyebut tentang lailatul qadar kepada Abu Bakrah, maka beliau berkata, tidaklah saya mencari malam lailatul qadqr dengan suatu apapun nan saya dengarkan dari Rasulullah, melainkan pada sepuluh malam terakhir; lantaran sesungguhnya saya mendengarkan beliau berkata, ‘Carilah malam itu pada sembilan malam nan tersisa (di bulan Ramadan), alias tujuh malam nan tersisa, alias lima malam nan tersisa, alias tiga malam nan tersisa, alias pada malam terakhir’.” Abdurrahman berkata, “Dan Abu Bakrah salat pada dua puluh hari pertama di bulan Ramadan seperti salat-salat beliau pada waktu-waktu lain dalam setahun; tapi andaikan masuk pada sepuluh malam terakhir, beliau bersungguh-sungguh.” (HR. Tirmidzi, disahihkan Al-Albani) [1]
Penutup
Tujuan dari tulisan ini ditulis adalah membujuk kita semua untuk memaksimalkan apapun nan tersisa, dan memulai perburuan lailatul qadar sesegera mungkin. Perdebatan tentang kapannya malam lailatul qadar nan sering menghiasi timeline Ramadan kita sejatinya tidaklah produktif. Mari kita salurkan daya Ramadan kita untuk memaksimalkan ibadah dan melakukan perburuan lailatul qadar dengan menyalakan mesin kebaikan kita. [2]
Baca juga:
- Tanda Lailatul Qadar dan Kapan Lailatul Qadar Terjadi?
Fatwa Ulama: Kapan Mulai waktu I’tikaf
***
Penulis: Glenshah Fauzi
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
[1] almanhaj.or.id
[2] Seluruh catatan ini merujuk kepada kitab Lathaiful Maarif karya Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali rahimahullah dengan muhaqqiq Asy-Syaikh Yasin Muhammad As-Sawas. Umumnya penilaian sabda ini berasas catatan muhaqqiq.
English (US) ·
Indonesian (ID) ·