ARTICLE AD BOX
Jakarta, NU Online
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Ulil Abshar Abdalla (Gus Ulil), menegaskan pentingnya pematangan materi organisasi dan keagamaan, serta langkah antisipatif menghadapi akibat bentrok dunia terhadap kondisi ekonomi nasional dalam persiapan Musyawarah Nasional (Munas), Konferensi Besar (Konbes), hingga Muktamar NU.
“Karena salah satu aspek krusial Muktamar, selain pemilihan kepengurusan alias ketua baru dan Rais Aam, juga nan paling utama adalah materinya sendiri, mencakup materi keagamaan maupun hal-hal nan mengenai dengan Tanfidziyah, seperti organisasi, program, dan rekomendasi,” ujarnya seusai Rapat Harian Tanfidziyah di lantai 8 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya No. 164, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (1/4/2026).
Gus Ulil menyampaikan, Munas dan Konbes kemungkinan bakal digelar pada Mei 2026. Adapun Muktamar, sebagaimana diusulkan Rais Aam, diperkirakan berjalan pada Juli alias Agustus 2026.
“Panitia sudah terbentuk pada struktur inti, ialah Ketua SC dan Sekretaris, sesuai keputusan rapat campuran terakhir pada bulan Ramadhan. Ketua SC adalah Kiai Said Asrori dengan wakil Pak Nuh. Kemudian Ketua OC adalah Gus Ipul dengan wakil Lora Amin Said Husni. Untuk struktur keseluruhan tetap dalam proses,” jelasnya.
Selain itu, rapat juga membahas persiapan Kongres Jam’iyyatul Qurra wal Huffazh (JQH) serta perkembangan geopolitik global.
Gus Ulil mengungkapkan bahwa Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), telah melakukan safari diplomasi dengan mengunjungi sejumlah kedutaan besar negara nan terlibat dalam bentrok Timur Tengah, seperti Iran, Arab Saudi, dan Amerika Serikat.
“Ketum telah melakukan beragam upaya untuk merespons situasi dunia terkini. Kami juga membahas gimana menyikapi akibat perang terhadap kondisi dalam negeri, terutama implikasinya terhadap perekonomian,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa Gus Yahya membujuk seluruh jejeran PBNU untuk memikirkan akibat bentrok terhadap kehidupan riil masyarakat Indonesia, khususnya jika berjalan dalam jangka panjang.
Lebih lanjut, Gus Ulil menjelaskan salah satu langkah strategis nan tengah dikembangkan adalah pemanfaatan aplikasi Digdaya sebagai platform digital untuk memperkuat pedoman info warga.
“Jika aplikasi ini bisa menjangkau hingga tingkat ranting dan mendata seluruh penduduk sesuai AD/ART, minimal 25 personil per ranting, maka ketika situasi memburuk, struktur organisasi dapat digerakkan untuk membantu penduduk nan mengalami kesulitan ekonomi,” jelasnya.
“Dengan info nan terkelola baik, kita dapat membantu masyarakat mini menghadapi tekanan ekonomi akibat situasi global. Ini langkah nan sangat strategis,” pungkasnya.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·