Jangan Berharap Pujian Manusia, Balasan Allah Lebih Sempurna

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
ARTICLE AD BOX

Dalam perjalanan hidup ini, sering kali kita melakukan baik tanpa ada nan tahu, membantu tanpa diminta, alias berkorban tanpa dihargai. Di saat-saat seperti itu, hati mudah lelah. Namun, ada satu pengingat nan bisa menenangkan segalanya, bahwa tidak ada satu pun kebaikan nan luput dari pandangan Allah Ta’ala.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تَفْعَلُوا۟ مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ ٱللَّهُ

“Dan amal apapun nan Anda kerjakan, niscaya Allah (pasti) mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 197)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa setiap kebaikan, baik besar alias kecil, terlihat alias tersembunyi, tidak ada satu pun nan luput dari pengetahuan Allah Ta’ala.

Dari ayat ini, setidaknya ada dua pelajaran krusial nan dapat kita ambil.

Pertama, melatih keikhlasan

Ketika seseorang terbiasa mengingat dan meyakini bahwa setiap kebaikan nan dilakukan itu pasti dilihat dan bakal dibalas oleh Allah Ta’ala, maka seseorang tidak bakal terlalu peduli apakah orang lain memandang kebaikannya alias tidak.

Ibnul Qayyim rahimahullah menyatakan,

وَلَا يَجْتَمِعُ فِي قَلْبِ الْعَبْدِ هَمَّانِ مُتَضَادَّانِ: هَمُّ الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ، وَهَمُّ طَلَبِ الْمَحْمَدَةِ وَالثَّنَاءِ مِنَ الْخَلْقِ

“Tidak bakal berkumpul dalam satu hati dua tujuan nan saling bertentangan: tujuan tulus lantaran Allah dan tujuan mencari pujian manusia.” (Al-Fawa’id, hal. 171–173)

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah juga pernah berkata, “Seseorang itu tidak bakal mencapai keikhlasan sampai dia tidak suka jika amalnya diketahui oleh manusia.” (Shifat ash-Shafwah, 2: 164)

Keikhlasan bakal tumbuh saat seseorang hanya berambisi Allah Ta’ala nan menilai dan membalas amalnya, bukan manusia. Pujian manusia menjadi tidak penting, lantaran jawaban Allah jauh lebih sempurna.

Baca juga: Kiat-Kiat Ikhlaskan Niat, Gandakan Pahala

Kedua, menjadikan seseorang tidak baperan

Terkadang seseorang sudah melakukan baik, tetapi orang nan dibantu justru lupa, tidak menghargai, alias malah membalas dengan keburukan. Inilah nan sering membikin hati menjadi baper, kecewa, dan patah semangat. Namun, ketika dia percaya bahwa Allah memandang dan mengetahui setiap niat dan kebaikannya, serta menjanjikan jawaban nan sempurna, maka hatinya menjadi lebih lapang, lebih tenang, dan tidak mudah tersinggung oleh sikap manusia.

Allah Ta’ala telah mengabarkan tentang salah karakter masyarakat surga dalam firman-Nya,

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ ٱللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَآءً وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridaan Allah, kami tidak menghendaki jawaban dari Anda dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan: 9)

Salah satu karakter dan sifat masyarakat surga ialah mereka melakukan baik lantaran Allah Ta’ala, bukan lantaran berambisi manusia bakal membalas alias apalagi sekedar berterima kasih.

Jangan minta jawaban manusia, kebaikan itu tak bakal pernah sirna

Dalam kehidupan sehari-hari, kita memandang begitu banyak kebaikan nan mengalir dari hati manusia. Guru nan sabar menuntun muridnya, suami dan istri nan saling melayani, orang tua nan bekerja keras demi anak-anaknya, hingga kebaikan mini nan kita berikan kepada kawan dan tetangga.

Namun, sering kali kebaikan itu tidak kembali kepada kita sebagaimana nan kita harapkan. Tidak selalu ada ucapan terima kasih. Tidak selalu ada penghargaan. Tidak selalu ada jawaban nan setimpal. Tetapi ketahuilah bahwa tidak ada satu pun kebaikan nan lenyap di sisi Allah Ta’ala.

Walaupun manusia tidak membalas, selama kebaikan itu dilakukan lantaran Allah Ta’ala, niscaya jawaban dari-Nya pasti datang dengan lebih indah, lebih adil, dan lebih sempurna daripada apa pun nan dapat diberikan manusia.

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang nan melakukan kebaikan.” (QS. At-Taubah: 120)

Rasulullah shallallahu ‘aliahi wa sallam juga memberikan berita gembira,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مُؤْمِنًا حَسَنَةً

“Sesungguhnya Allah tidak bakal menzalimi seorang mukmin atas kebaikan apa pun.” (HR. Muslim)

Artinya, setiap kebaikan pasti diganti oleh Allah, meskipun manusia tidak membalasnya. Hal ini tentu berbeda ketika kita menjadi objek penerima faedah alias kebaikan dari orang lain.

Ketika kebaikan itu ditujukan kepada kita

Syariat Islam memerintahkan kepada kita untuk senantiasa berterima kasih kepada sesama manusia atas beragam kebaikan, keutamaan, dan peran mereka dalam kehidupan kita.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam bersabda,

لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ

“Tidaklah berterima kasih kepada Allah, orang nan tidak berterima kasih (berterima kasih) kepada manusia.” (HR. Abu Dawud no. 2970, Ahmad no. 7926 dengan isnad sahih. Lihat Al-Shahih no. 417)

Ini adalah etika mulia nan kudu dijaga. Maka, jangan berambisi jawaban jika memberi, tetapi jadilah orang nan tahu berterima kasih ketika menerima kebaikan.

Baca juga: Bersyukur kepada Manusia

***

Penulis: Arif Muhammad Nurwijaya

Artikel Muslim.or.id

Referensi:

Qawaa’id Qur’aaniyyah, karya Syekh Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil.

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info