ARTICLE AD BOX
Cerpen: Samudera Dwija
Di sebuah perspektif kota nan ramai, tinggal seorang wanita berjulukan Siti, seorang ibu dari seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun berjulukan Adam. Siti hidup dalam kesulitan, berjuang dari hari ke hari untuk memenuhi kebutuhan mereka. Kehidupan mereka sederhana, namun tak jarang Siti merasa terdesak oleh keadaan nan memaksanya untuk mengambil jalan pintas.
Suatu sore, setelah mengantar Adam pulang dari sekolah, Siti merasakan kelaparan nan begitu mencekam. Uangnya tinggal sedikit, cukup untuk membeli makan malam nan sederhana, namun tak cukup untuk membeli baju nan sangat dibutuhkan Adam. Baju sekolah Adam sudah usang, nyaris robek di beberapa bagian. Keadaan ini membikin hati Siti tertekan.
Dalam keputusasaannya, dia pergi ke pasar tradisional nan penuh dengan hiruk-pikuk pedagang. Tanpa disadari, matanya tertuju pada sebuah rak baju baru nan tampak bagus dan rapi. Tangan Siti gemetar, namun kemauan untuk memberikan nan terbaik bagi anaknya mengalahkan segalanya. Dalam sekejap, tanpa berpikir panjang, dia menyembunyikan sepotong baju di kembali bajunya sendiri dan bergegas keluar.
Siti merasa cemas, namun pikirannya hanya tertuju pada Adam nan menunggu di rumah. Di perjalanan pulang, dia terdiam, merasa terhimpit oleh beban dosa nan baru saja dia lakukan. "Untuk Adam, saya kudu bertahan," pikirnya.
Namun, saat tiba di rumah dan membuka pintu, Adam memandangnya dengan tatapan polos. Ketika Siti mengeluarkan baju itu dari tasnya, Adam tidak berbicara apa-apa, hanya menatapnya dengan mata nan penuh tanda tanya.
"Ibu... kenapa mencuri?" tanya Adam dengan bunyi nan lembut namun tajam.
Siti terdiam, dadanya sesak. Air mata mulai mengalir, dan lidahnya terasa kelu. Dia tidak tahu kudu berbicara apa. Adam hanya anak kecil, tetapi dalam satu kalimatnya, dia seperti menembus dasar hati Siti, mengingatkannya bakal apa nan sudah dia lakukan. Sesuatu nan selama ini dia abaikan, apalagi lantaran kebutuhan sehari-hari.
Siti jatuh terhuyung, terduduk di lantai. "Ibu... tidak bisa lagi begini, Nak," katanya terisak. "Ibu... ibu tidak tahu kudu bagaimana. Ibu sudah terlalu lama begini. Ibu takut, Nak..."
Adam berlari mendekat, memeluk ibunya dengan tangan kecilnya. "Ibu tidak perlu takut. Ibu hanya kudu kembalikan baju itu," ujar Adam dengan polos, tanpa tahu beban nan dirasakan ibunya.
Siti mengangguk. "Iya, Nak. Ibu bakal kembalikan baju ini. Jika ibu kudu dihukum, ibu terima. Tapi jika bisa dimaafkan, itu lebih baik. Karena jika ibu dipenjara, siapa lagi nan bakal merawatmu, Nak?"
Siti dengan langkah berat pergi kembali ke toko tempat dia mengambil baju itu. Dengan tangan gemetar, dia menyerahkan baju itu kepada pemilik toko dan meminta maaf.
"Ibu, ini baju nan tadi saya ambil," ujar Siti, suaranya serak lantaran menahan tangis. "Saya minta maaf. Saya tidak tahu kudu melakukan apa lagi. Saya tidak bermaksud mencuri, saya hanya terdesak."
Pemilik toko, seorang laki-laki paruh baya dengan wajah tegas, memandangnya dengan marah. "Tentu saja Anda mencuri. Ini adalah pencurian nan jelas! Tak peduli seberapa miskin kamu, itu bukan argumen untuk mencuri!" ucapnya dengan nada tinggi.
Siti menundukkan kepala, hatinya semakin teriris. "Saya tahu, saya salah. Saya bakal menerima segala balasan nan datang. Tapi saya mohon, pertimbangkanlah saya. Saya hanya seorang ibu nan mau memberikan nan terbaik untuk anak saya. Jika saya dipenjara, siapa nan bakal merawat anak saya?" Suaranya nyaris tak terdengar, penuh kesedihan.
"Tidak ada argumen nan membenarkan perbuatanmu. Aku sudah melaporkanmu ke polisi!" balas pemilik toko dengan tegas, tidak menunjukkan sedikit pun rasa empati.
Beberapa jam kemudian, Siti dibawa ke instansi polisi. Di sana, polisi memulai pemeriksaan. Siti merasakan ketakutan nan mendalam, tapi dia hanya bisa menunduk, menyesali semua nan telah terjadi.
Namun, beruntunglah, ada tim dari Lembaga Bantuan Hukum nan datang untuk membantu. Seorang pengacara dari LBH bernama Ustadz Ahmad, segera berupaya menengahi masalah ini.
"Saya minta maaf atas perbuatan ibu ini, Pak Polisi," kata Ustadz Ahmad dengan bunyi tenang, mendekati meja polisi. "Kami mengakui bahwa Bu Siti telah melakukan kesalahan, namun kami minta agar diberi pertimbangan nan lebih manusiawi. Ibu Siti jelas terdesak dan melakukannya untuk kebutuhan anaknya. Kami minta ada jalan keluar nan lebih bijaksana."
Polisi itu, Pak Arman, menatap Ustadz Ahmad dengan serius. "Saya mengerti keadaan ibu ini, tapi norma kudu ditegakkan. Mencuri tetaplah mencuri," jawabnya dengan tegas.
"Benar, Pak Arman. Tapi apakah balasan penjara adalah satu-satunya solusi? Apakah tidak ada langkah untuk memberikan kesempatan kedua kepada ibu Siti?" tanya Ustadz Ahmad, berupaya membujuk. "Mari kita pertimbangkan aspek kemanusiaan dalam kasus ini. Ibu Siti bukan penjahat. Dia hanya seorang ibu nan mencoba memperkuat hidup untuk anaknya."
Pak Arman terdiam sejenak, lampau berkata, "Baiklah, kita bakal pertimbangkan lagi. Tapi jika pemilik toko tetap bersikeras melaporkan ini, kami tak bisa melakukan banyak."
Ustadz Ahmad kemudian menghubungi pemilik toko dan mengusulkan permohonan untuk menyelesaikan masalah ini dengan damai. Setelah beberapa perdebatan, pemilik toko akhirnya menyetujui penyelesaian nan lebih lunak, dengan syarat ibu Siti bayar tukar rugi atas kerugian nan ditimbulkan.
Akhirnya, Siti dibebaskan dari penjara setelah menjalani beberapa proses hukum. Dia kembali ke rumah, berjumpa dengan Adam nan menunggunya dengan penuh harap.
Saat Siti membuka pintu rumah, Adam berlari menghampirinya dan memeluknya erat. "Ibu, Ibu pulang! Aku sudah kangen banget."
Siti memeluk Adam dengan penuh rasa syukur. "Maafkan ibu, Nak. Ibu sudah melakukan salah, tapi ibu berjanji tidak bakal lagi melakukan itu."
Adam hanya tersenyum, meski matanya tetap memerah lantaran tangisnya. "Ibu, saya tahu, Ibu hanya mau nan terbaik untuk aku. Aku bakal selalu mendukung ibu."
Hari itu, di rumah mereka nan sederhana, Siti dan Adam mulai kembali membangun kehidupan mereka. Tidak dengan mencuri, tetapi dengan kejujuran dan perjuangan nan lebih mulia. Siti sekarang sadar, bahwa hidup ini kudu dijalani dengan langkah nan benar, apapun kesulitan nan ada. Dengan cinta dan doa, mereka bakal bisa melewati semuanya, bersama-sama.
Samudera Dwija, nama pena dari Siswanto, Kepala Sekolah SDN 1 Bangsri Nganjuk, Jawa Timur. Ia juga Sekretaris MWCNU Kertosono 2022-2027. Ia tengah menyiapkan karyanya dalam corak kitab berjudul Samudera Guru Terjepit hingga Melejit dan Pitutur Luhur Intisari Ngaji para Kiai.
11 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·