Hingga Beduk Ashar

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
ARTICLE AD BOX

Matahari nyaris sampai di puncak cakrawala. Sinarnya nan garang menghujani apa pun nan terjangkau tanpa ampun. Sebuah tratag sederhana di tengah sebuah kompleks gedung tak bisa menangkal panas nan ditimbulkan, apalagi atapnya terbuat dari seng. Sekumpulan orang nan berlindung di bawahnya didera panas nan terus tereskalasi.

Mereka adalah panitia penerimaan santri baru Pondok Pesantren Mafatihul Ghayb nan sedang menunggu kehadiran santri baru di sebuah stan bersahaja.  Hari ini adalah hari terakhir pendaftaran, namun belum satu pun santri baru nan datang.


Keputusasaan jelas tampak dari wajah-wajah mereka. Sambil bersandar, mereka mengipasi diri sendiri dengan apa saja nan bisa menjadi kipas: kipas betulan, map kertas, songkok, sobekan kardus air mineral, hingga tutup keranjang plastik nan didapat entah dari mana.

Di belakang mereka, seorang laki-laki tua duduk tenang dengan mata separuh terpejam. Ia bergeming. Hanya mulutnya nan berkomat-kamit merapal zikir dan tangannya memutar tasbih. Ia tenggelam dalam zikir hingga seakan tak merasakan panasnya udara.

Ia adalah Kiai Amin, pengasuh generasi kedua Pondok Pesantren Mafatihul Ghayb. Ia menggantikan abahnya, Mbah Munif. Mbah Munif adalah pendiri dok Pesantren Mafatihul Ghayb. Meskipun mahir dalam tafsir dan qiraat, Mbah Munif lebih terkenal lantaran kisah-kisah karamahnya.


Konon, sebelum kedatangannya ke Karangendep, wilayah ini dikuasi para demit perkayangan. Hampir tak ada nan berani membangun rumah di sana kendati berstatus sebagai area nan strategis, hanya berjarak selemparan batu dari Jalur Selatan. 


Mbah Munif datang dan bermukim di sana. Dengan izin Allah, dia dapat mengusir seluruh makhluk astral nan jahat di sana. Dengan sigap buletin kebolehannya menyebar dari mulut ke mulut. Satu per satu santri datang untuk menimba pengetahuan kepadanya. 


Kisah lain mengatakan bahwa Mbah Munif sukses menutupi pesantrennya dengan gorden gaib sehingga tentara Republik nan berlindung di sana luput dari serbuan tentara Belanda nan tengah melancarkan agresi militer. 


Suara azan bergema dan secepatnya menepis kesunyian nan menguasai stan.


“Azan, Dul,” ucap si Kiai Amin tiba-tiba.


“Baik, Kiai,” jawab seseorang dari panitia nan dari tadi duduk di meja bagian pembayaran. Tanpa dikomando, semua personil panitia di situ bercempera setelah Kiai Amin beranjak pergi. 


Kiai Amin melangkah menuju padasan yang berada di belakang masjid. Ia melangkah menyusuri jalan ber-paving blok nan menjadi pemisah antara masjid dan pondok santri putra. Gedung panjang itu disekat-sekat menjadi beberapa kamar.  

Keadaan gedung ini begitu memperihatinkan. Pada tembok sebelah Timur, terdapat tulisan nan sudah buram. Bahkan, beberapa hurufnya sudah tak terlihat lagi. nan terbaca hanya “ASRAM  PUTR".

Langit-langit bilik paling barat berlubang di mana-mana. Bahkan dari salah satu lubangnya, birunya langit terlihat jelas. Lantai bilik tengah nan sejatinya dilapisi tegel juga sudah rusak. Banyak tegel nan telah pecah sehingga tanah di bawahnya menyembul. Bahkan pintunya sudah lapuk digerogoti rayap. Engselnya nan waras tinggal sebuah.


Gedung pondok putera sudah nyaris kosong sejak lama. Kini, penghuninya tersisa hanya tiga orang. Salah satunya adalah Dul Rohim nan tengah mengumandangkan azan. Dua santri nan lain adalah Qosim dan Munir. Keadaan pondok puteri agak mendingan. Gedung nan berada di belakang ndalem itu dihuni sepuluh orang. Kondisi bangunannya juga lebih terawat. 


Pada masa keemasan Mafatihul Ghayb, pondok putra dihuni seratus lebih santriwan, sementara pondok putri dihuni nyaris dua ratus santriwati. Mereka datang dari beragam penjuru daerah, mulai dari Lampung di barat, hingga Madura di timur. 


Namun, selepas wafatnya Mbah Munif, santri beramai-ramai boyong. Mereka percaya bahwa dengan wafatnya Mbah Munif nan jadug, keberkahan dan kesakralan Mafatihul Ghayb turut sirna.

***

Dul Rohim mengakhiri puji-pujian, dan kemudian mengumandangkan ikamah saat Kiai Amin selesai mendirikan salat qabliyah. Jumlah jamaah shalat lima waktu di masjid pondok tak pernah banyak kendati masjid dibuka untuk umum. Masjid bakal ramai hanya ketika shalat dua hari raya dan shalat Jumat. 


Warga di sekitar pondok memilih menunaikan shalat di masjid lain lantaran lama shalat di masjid pondok menurut mereka lebih lama daripada lama shalat di masjid-masjid lain. Kiai Amin memang selalu menjaga kefasihan dan pemenuhan makharijulhuruf kala membaca Surat Al-Fatihah dan bacaan-bacaan salat lainnya sehingga waktu nan dibutuhkan untuk membaca semua itu bakal lebih lama.

Kiai Amin memegang teguh piwulang yang diajarkan ayahnya itu. Mbah Munif adalah seorang nan sangat berhati-hati dalam masalah makharijul-huruf dan pengetahuan tajwid. Hingga kini, kebanyakan santri Mafatihul Ghayb baru bisa lulus dalam membaca Surat Al-Fatihah menurut standar pengasuh setelah melakukan talaki selama 2-3 bulan.


Standar nan tinggi ini juga nan membikin animo pendaftaran santri baru di pondok ini bertambah tiarap. Apalagi belakangan banyak pondok-pondok baru nan menjanjikan santrinya bisa hafal Al-Qur’an 30 juz hanya dalam waktu sekejap.  

***


Setelah tutup kurang lebih satu jam, stan penerimaan santri baru kembali buka. Kendati telah beristirahat dan makan siang, personil panitia tak lebih antusias daripada sebelumnya. Raut pesimistis tergambar jelas dari wajah-wajah mereka nan lesu. Bahkan, Qosim tertidur di kursinya sejenak setelan stan kembali dibuka. Sepertinya dia lempogen setelah makan terlampau banyak tadi.  


Sebenarnya kondisi mereka beralasan. Penerimaan santri baru Pondok Pesantren Mafatihul Ghayb memang selalu sunyi semenjak Mbah Munif wafat. Kiai Amin mencoba berupaya dengan membikin stan pendaftaran sejak tiga tahun nan lalu, namun hasilnya tetap nihil. Ia menolak usul putra sulungnya, Gus Haidar, untuk meniadakan stan pendaftaran pada tahun ini. 


Sebenarnya, stan pendaftaran tak betul-betul nol pengunjung. Beberapa peziarah makam Mbah Munif nan berada di belakang masjid mengunjungi stan. Mereka mau tahu apa program pondok nan didirikan tokoh legendaris itu. Kebanyakan visitor stan bakal mengurungkan niat memondokkan anaknya lantaran Mafatihul Ghayb tak mempunyai unit pendidikan formal.

Masyarakat dewasa ini memang banyak nan lebih cemas jika anak-cucunya tak mempunyai ijasah umum daripada jika anak-cucunya tak mengerti ihwal agama. Sebenarnya beberapa pejabat dan pengusaha di sekitar pondok menawarkan diri untuk membantu pendirian sekolah umum di dalam lingkup pondok nan saat ini diasuh Kiai Amin itu.


Namun, semua tawaran tersebut ditolak Kiai Amin. Sewaktu tetap sugeng, Mbah Munif bekerja sama dengan tokoh masyarakat lain mendirikan madrasah dari level ibtidaiyah hingga aliyah. 

Sekolah-sekolah umum tersebut diperuntukkan bagi semua penduduk desa, tak hanya untuk para santri mukim di pondoknya. Mbah Munif berpesan agar Kiai Amin tak mendirikan sekolah umum lain. Alasannya adalah agar madrasah-madrasah nan tersebut tak kekurangan siswa. Mbah Munif tak mau ada perebutan siswa di masa nan bakal datang.

***


"Bah, kita tutup saja stannya, ya? Hari ini hari terakhir penerimaan santri baru. Mas dan mbak santri nan berjaga juga sudah capek menunggui stan sejak pagi," ucap Gus Haidar dengan nada nan begitu sopan.


“Tunggu sejenak lagi. Tunggu hingga gendang ashar,” jawab Kiai Amin mantap.

"Tapi, Bah, sejak awal stan ini dibuka tak ada satupun santri baru nan mendaftar,” ujar Gus Haidar.


Sesungguhnya Gus Haidar mau mengatakan ini sejak hari ketiga stan dibuka. Namun, dia tak sampai hati mengatakannya. Ia cemas ucapannya bakal menyakiti hati abahnya itu.


"Apakah cah bagus sudah lupa pesan abah? Abah kan sudah berkali-bali bilang bahwa berprasangka baik kepada Gusti Allah adalah jalan terbaik nan bisa ditempuh setiap hamba-Nya. Sertai prasangka baik itu dengan istikamah dalam menjalankan ikhtiar. Sejak hari pertama penerimaan santri baru kita istikamah membuka stan jam delapan dan menutupnya saat bedug Asar. Masa di hari terakhir kita tinggalkan ibadah nan lebih baik dari seribu karamah itu?" jawab Kiai Munif.


Gus Haidar hanya mengangguk-angguk. Ia tak mau mendebat sosok nan begitu dia hormati itu. Dalam lirih dia merapal sayyidul istighfar. Ia begitu cemas telah menyinggung emosi abahnya.


Belum selesai Gus Haidar merapal sayyidul istighfar, tiba-tiba ada dua bocah laki-laki nan tak diketahui asalnya muncul di depan stan pendaftaran. Wajah keduanya kumal. Baju koko nan mereka kenakan basah oleh keringat. Keadaan mereka diperparah dengan langkah mereka memakai sarung nan begitu semrawut. 


"Hei, Pak tua. Apakah ini pondoknya Mbah Munif?” Sapa salah satu bocah nan lebih tinggi daripada bocah nan satu lagi. 


"Betul,” jawab Kiai Amin dengan nada nan ramah.

“Kami berdua mau mondok di sini agar bisa terbang seperti dia," lanjut si bocah nan lebih pendek dengan nada nan tak kalah tengil. 


"Boleh saja. Tapi sepertinya kalian kudu belajar langkah memakai sarung nan betul terlebih dulu," jawab Kiai Amin santai.

Kiai Amin tak tersinggung dengan sikap dua calon santri nan datang entah dari mana itu. Ia justru terkekeh menghadapi kelakuan tengil dua bocah itu.


Para petugas stan pendaftaran nan awalnya terkantuk-kantuk, terjaga lantaran bunyi lantang dua anak ini. Mereka sibuk merapikan diri, dan kemudian mencari di mana blangko pendaftaran. 
 

Rifqi Iman Salafi adalah alumnus Sastra Inggris UIN Jakarta. Ia pernah mondok di Pondok Pesantren Al-Hikmah 2 Brebes dan Pesantren Darus-Sunnah Ciputat. Selain sedang menahkodai Panduan Institute, dia juga aktif menulis tulisan seputar sastra, budaya pop, dan sejarah Islam di beberapa media daring. Ia bisa disapa di akun IG @rifqiimans alias akun X @rifqi_salafi

Selengkapnya
Sumber NU ONLINE
NU ONLINE