ARTICLE AD BOX
Para Nabi merupakan manusia nan diberikan banyak ujian oleh Allah Ta’ala, terutama ketika berdakwah. Tidak terkecuali Rasulullah Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam, beliau juga mendapatkan banyak ujian nan berat. Akan tetapi, Allah tidak membiarkan Rasulullah berjuang sendirian di tengah ujian tersebut. Terkadang Allah hibur Rasulullah melalui ayat-ayat Al-Quran nan turun ketika ujian itu berlangsung.
Pada tulisan ini, bakal kita telaah beberapa intermezo Allah kepada Rasulullah dalam ayat-ayat Al-Quran. Di antara ayat-ayat tersebut adalah:
Surah Ad-Dhuha ayat 1-3
Surah Ad-Dhuha turun ketika seorang wanita, ialah istrinya Abu Lahab, mengejek Rasulullah lantaran tidak ada wahyu nan datang ketika Rasulullah sedang sakit sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis,
اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يَقُمْ لَيْلَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا فَجَاءَتْ امْرَأَةٌ فَقَالَتْ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي لَأَرْجُو أَنْ يَكُونَ شَيْطَانُكَ قَدْ تَرَكَكَ لَمْ أَرَهُ قَرِبَكَ مُنْذُ لَيْلَتَيْنِ أَوْ ثَلَاثَةٍ فَأَنْزَلَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ { وَالضُّحَى وَاللَّيْلِ إِذَا سَجَى مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى } قَوْلُهُ
{ مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى }
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menderita sakit hingga beliau tidak bisa bangun selama dua alias tiga malam. Lalu datanglah seorang wanita dan berkata, “Wahai Muhammad, saya betul-betul mengharap bahwa setanmu telah meninggalkanmu. Karena saya tidak melihatnya di dekatmu semenjak dua alias tiga hari ini.” Maka Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan surat, {WADHDHUHAA WALLAILI IDZAA SAJAA MAA WADDA’AKA RABBUKA WAMAA QALAA} (HR. Bukhari)
Kaum musyrikin ketika itu selalu berupaya untuk menyakiti Rasulullah pada tiap kesempatan nan memungkinkan, salah satunya adalah kisah ini. Akan tetapi, Rasulullah tetap tegar dan Allah pun memihak Rasulullah dengan turunnya surah Ad-Dhuha. Allah berfirman nan diawali dengan sumpah terhadap waktu dhuha, lampau menjawab,
مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلَى
“Rabbmu tidak meninggalkan engkau dan tidak juga membencimu.” (QS. Ad-Dhuha: 3)
Surah Al-An’am ayat 33
Ayat lain nan turun untuk menghibur Rasulullah adalah ayat ke-33 dari surah Al-An’am. Surah ini turun ketika Abu Jahal berbicara kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan sebuah perkataan nan menyakiti hati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagaimana dalam sebuah hadis,
قالَ أبو جَهْلٍ للنَّبيِّ صلَّى اللَّهُ عليهِ وسلَّمَ : إنَّا لا نُكَذِّبُكَ، ولَكِن نُكَذِّبُ ما جئتَ بِهِ
“Abu Jahal berbicara kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, ‘Sebenarnya kami tidak menganggapmu pembohong, tapi kami hanya tidak mempercayai aliran nan Anda bawa ini.'” (HR. Tirmidzi)
Perkataan Abu Jahal tersebut menyakiti hati Rasulullah, sehingga Allah pun menghibur Rasulullah dengan turunnya surah Al-Anam ayat 33,
قَدْ نَعْلَمُ اِنَّهٗ لَيَحْزُنُكَ الَّذِيْ يَقُوْلُوْنَ فَاِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُوْنَكَ وَلٰكِنَّ الظّٰلِمِيْنَ بِاٰيٰتِ اللّٰهِ يَجْحَدُوْنَ
“Kami sungguh tahu bahwa apa nan mereka ucapkan itu betul-betul membuatmu sedih. Namun (ketahuilah), sebenarnya mereka bukan sedang mendustakanmu, melainkan orang-orang kejam itu mengingkari ayat-ayat Allah.” (QS. Al-An’am: 33)
Allah menghibur Rasulullah pada surat ini diawali dengan mengafirmasi rasa sedih Rasulullah dengan firman-Nya قَدْ نَعْلَمُ اِنَّهٗ لَيَحْزُنُكَ untuk menguatkan hati Rasulullah. Setelah itu, Allah mengatakan bahwa mereka (orang-orang Quraisy) tidak mengatakan bahwa Rasulullah adalah pembohong dan memang demikianlah realitanya. Rasulullah merupakan orang nan paling dipercaya oleh kaum Quraisy pada waktu itu.
Rasulullah merupakan orang nan paling dipercayai ketika itu. Akan tetapi, ketika berangkaian dengan dakwah Islam, banyak dari mereka tidak mau tunduk dan menentang. Pada surah Al-An’am ayat ke-33, Allah menghibur Rasulullah dengan menegaskan keburukan itu ada pada orang Quraisy nan mendustakan dan menolak wahyu dari Allah.
Baca juga: Memperbaiki Hati dan Mengokohkan Iman dengan Al-Quran
Surah Al-Hijr ayat 97-99
Ayat lain nan turun sebagai intermezo Allah kepada Rasulullah adalah surah Al-Hijr ayat 97-99,
وَلَقَدْ نَعْلَمُ اَنَّكَ يَضِيْقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُوْلُوْنَۙ فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِّنَ السّٰجِدِيْنَۙ وَاعْبُدْ رَبَّكَ حَتّٰى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنࣖ
“Kami sungguh sangat tahu bahwa dadamu terasa sesak lantaran apa nan mereka ucapkan. Maka, bertasbihlah sembari memuji Tuhanmu dan jadilah bagian dari orang-orang nan bersujud. Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kepercayaan (kematian).”
Ketika Rasulullah diutus menjadi Nabi, beliau menerima banyak cobaan, salah satunya adalah olok-olok dan tuduhan bohong nan biadab dari kaum Quraisy. Al-Baghawi rahimahullah dalam tafsirnya menyebut di antara pemimpin dari pencaci Rasulullah adalah:
- Al-Walid bin al-Mughirah;
- Al-Ash bin Wa’il as-Sahmi;
- Al-Aswad bin Abdul Muthalib bin Al-Harits.
Mereka ini senantiasa mencaci Rasulullah sehingga membikin sempit dada Rasulullah dikarenakan celaan mereka dan juga pengingkaran mereka terhadap dakwah Nabi. Lalu Allah memvalidasi rasa sedih Rasulullah pada surah Al-Hijr ayat 97 untuk menghibur beliau shallallahu ’alaihi wa sallam dan juga memberikan solusi untuk mengobati hati beliau nan sakit. Solusi tersebut adalah:
- Bertasbih;
- Bertahmid;
- Bersujud (salat).
Ayat-ayat berupa kisah Nabi terdahulu
Di antara intermezo Allah kepada Rasulullah nan ada dalam Al-Quran adalah ayat-ayat nan mengisahkan perjuangan Nabi dan Rasul terdahulu. Kita semua tahu bahwa orang nan paling besar ujiannya adalah Nabi dan Rasul sebagaimana dalam hadis,
سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلَاءً قَالَ الْأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الْأَمْثَلُ فَالْأَمْثَلُ
Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ditanya, “Siapa manusia nan paling berat ujiannya?” Beliau berkata, “Para Nabi, kemudian nan semisal mereka, kemudian nan semisal mereka.” (HR. Ad-Darimi)
Oleh lantaran itu, Allah terkadang menurunkan ayat nan menceritakan kisah para Nabi terdahulu untuk meneguhkan hati Rasulullah. Hal tersebut sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,
وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ
“Dan semua kisah Rasul-Rasul Kami ceritakan kepadamu (Muhammad), agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah datang kepadamu kebenaran, pengajaran, dan peringatan bagi orang-orang nan beriman.” (QS. Hud: 120)
Di antara ayat nan menceritakan kisah Nabi terdahulu nan turun untuk mengokohkan hati Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam adalah kisah Nabi Musa di surah An-Naziat. Allah Ta’ala berfirman,
هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ مُوسَىٰ إِذْ نَادَىٰهُ رَبُّهُۥ بِٱلْوَادِ ٱلْمُقَدَّسِ طُوًى ٱذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُۥ طَغَىٰ فَقُلْ هَل لَّكَ إِلَىٰٓ أَن تَزَكَّىٰ وَأَهْدِيَكَ إِلَىٰ رَبِّكَ فَتَخْشَى فَأَرَىٰهُ ٱلْءَايَةَ ٱلْكُبْرَىٰ فَكَذَّبَ وَعَصَىٰ ثُمَّ أَدْبَرَ يَسْعَىٰ فَحَشَرَ فَنَادَىٰ فَقَالَ أَنَا۠ رَبُّكُمُ ٱلْأَعْلَىٰ
“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) kisah Musa? Ketika Tuhan memanggilnya di lembah suci, ialah Lembah Tuwa. “Pergilah engkau kepada Fir‘aun! Sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka katakanlah (kepada Fir‘aun), ‘Adakah keinginanmu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)?’ Engkau bakal kupimpin ke jalan Tuhanmu agar engkau takut kepada-Nya?'” Lalu dia (Musa) memperlihatkan kepadanya mukjizat nan besar. Namun dia (Fir‘aun) mendustakan dan mendurhakai. Kemudian dia beralih sembari berupaya sungguh-sungguh (menentang Musa). Lalu dia mengumpulkan (pembesar-pembesarnya), kemudian berseru memanggil kaumnya, seraya berkata, “Akulah tuhanmu nan paling tinggi!” (QS. An-Naaziyat: 15-24)
Pada ayat tersebut, Allah ceritakan kisah Nabi Musa nan mendakwahi Fir’aun. Akan tetapi, Fir’aun tidak mau beragama dan malah membangkang dengan berkata, “Akulah tuhanmu nan paling tinggi!” Pada ayat ini, Allah memberikan contoh kepada Rasulullah agar tidak berduka ketika dakwah beliau tidak diterima dan banyak nan menolak lantaran Nabi Musa pun demikian.
Penutup
Allah menakdirkan utusan-Nya untuk mendapatkan ujian nan berat di dunia. Akan tetapi, di kembali ujian berat tersebut, Allah memberikan support moral berupa intermezo dan juga petunjuk. Semoga dari contoh-contoh sebelumnya kita bisa mengambil pelajaran tentang gimana Allah menghibur Rasulullah di tengah beratnya ujian dakwah nan beliau alami.
Baca juga: Teguran Allah kepada Rasulullah dalam Al-Qur’an
***
Penulis: Firdian Ikhwansyah
Artikel Muslim.or.id
English (US) ·
Indonesian (ID) ·