Gus Faiz Sebut Halal Bihalal Simbol Perbaiki Hubungan Sosial

Sedang Trending 5 hari yang lalu
ARTICLE AD BOX

Jakarta, NU Online

Katib Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muhammad Faiz Syukron Makmun menyampaikan bahwa tradisi Halal Bihalal nan berkembang di Indonesia merupakan corak kearifan lokal nan sarat makna. Tradisi tersebut bukan hanya momentum seremonial, tetapi juga simbol untuk memperbaiki hubungan antarmanusia setelah menjalani ibadah Ramadhan.


“Halal bihalal adalah simbol nan mengingatkan kita untuk saling mengampuni dan memperbaiki hubungan sosial. Ini adalah kekayaan budaya Indonesia nan dibangun dari pemahaman kepercayaan nan mendalam,” kata ustad nan berkawan disapa Gus Faiz itu dalam tausiyahnya di hadapan Menteri Agama, Wakil Menteri Agama, dan jejeran ketua Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (31/3/2026).


Gus Faiz menjelaskan pentingnya memahami makna di kembali simbol-simbol keagamaan nan hidup dalam tradisi masyarakat Indonesia. Menurutnya, simbol-simbol tersebut menjadi langkah sederhana, tetapi kuat untuk menyampaikan pesan-pesan kepercayaan nan mendalam.


“Simbol itu mengingatkan kita pada banyak perihal nan tidak bisa diungkapkan dengan kalimat singkat. Ia menjadi langkah masyarakat menyampaikan nilai-nilai kepercayaan secara sederhana, tetapi penuh makna,” ujar Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta itu.


Dalam momen Halal Bihalal itu juga, Gus Faiz mengingatkan urgensi menjaga keseimbangan antara kesalehan ibadah dan kesalehan sosial. Menurutnya, ibadah nan dijalankan selama Ramadhan tidak bakal berarti utuh tanpa diiringi kepedulian terhadap sesama.


“Puasa dan salat nan kita lakukan tidak cukup jika tidak diiringi dengan kepedulian sosial. Apa artinya ibadah nan khusyuk, tetapi kita abai terhadap lingkungan sekitar,” ujar Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta itu.


Ibadah, terangnya, bukan hanya mempunyai dimensi ritual, tetapi kudu dibarengi dengan kepedulian sosial dan hubungan nan baik dengan sesama. “Jangan sampai kita giat beribadah, tetapi lupa menengok kanan dan kiri. Di sekitar kita tetap banyak nan memerlukan perhatian dan kepedulian,” katanya.


Oleh lantaran itu, dia berpesan agar seluruh jejeran Kementerian Agama untuk terus menjaga peran strategisnya sebagai simbol harmoni antara nilai keagamaan dan kehidupan berbangsa. “Kementerian Agama adalah simbol gimana nilai kepercayaan datang di tengah negara nan berasas Pancasila. Amanah ini kudu dijaga dengan baik,” tutupnya.

Selengkapnya
Sumber NU ONLINE
NU ONLINE