Fenomena “Balas Dendam Makan” Ketika Berbuka, Apakah Termasuk Isrāf?

Sedang Trending 4 minggu yang lalu
ARTICLE AD BOX

“Balas dendam makan” adalah istilah terkenal nan menggambarkan perilaku makan berlebihan saat berbuka puasa, seolah-olah mau membalas penderitaan menahan lapar dan dahaga sepanjang hari. Fenomena ini ditandai dengan menyantap beragam jenis makanan dan minuman dalam jumlah banyak, tanpa mempertimbangkan kebutuhan tubuh alias akibat kesehatannya. Di kembali niat memuaskan nafsu, muncul pertanyaan: gimana Islam memandang perilaku ini? Apakah termasuk pemborosan nan dilarang?

Definisi isrāf

Isrāf secara bahasa berfaedah melampaui pemisah alias berlebih-lebihan. Dalam terminologi syariat, isrāf adalah membelanjakan alias menggunakan sesuatu pada perkara nan semestinya (boleh), namun melampaui pemisah nan sepatutnya. Berbeda dengan tabdzīr, yaitu membelanjakan alias menggunakan sesuatu pada perkara nan tidak semestinya (haram) (At Ta’rīfāt, hal. 24). Seseorang bisa saja membelanjakan hartanya untuk makanan halal, namun jika berlebihan hingga melampaui pemisah kewajaran, dia telah jatuh dalam perangkap isrāf.

Allah Ta’āla dengan tegas melarang perilaku isrāf dalam firman-Nya,

يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ خُذُوْا زِيْنَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّكُلُوْا وَاشْرَبُوْا وَلَا تُسْرِفُوْاۚ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِيْنَ

“Wahai anak Adam, pakailah pakaianmu nan bagus di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang nan berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Ayat ini menjadi landasan utama larangan isrāf dalam makan dan minum. Para ustadz salaf memberikan perhatian unik pada ayat ini. Ibnu Abbas radhiyallāhu ‘anhu menafsirkan, “Makanlah apa nan engkau kehendaki, dan pakailah apa nan engkau kehendaki, selama dua perihal tidak mengenaimu: berlebih-lebihan (isrāf) alias kesombongan (makhilah).” (Tafsīr Ibnu Kaṡīr, 4: 560)

Az-Zuhaili rahimahullāh memaknai isrāf sebagai tindakan melampaui pemisah alami manusia, seperti kenyang berlebihan karena memenuhi kebutuhan lapar dan haus di luar pemisah cukup. (Tafsīr al-Munīr, 8: 184)

Hadis tentang larangan berlebihan

Rasulullah ﷺ mengajarkan keseimbangan dalam makan melalui sabdanya nan sangat terkenal,

مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ

“Tidak ada wadah nan dipenuhi anak Adam nan lebih jelek dari perutnya. Cukuplah anak Adam mengkonsumsi beberapa suap makanan untuk menguatkan tulang rusuknya. Kalau memang tidak ada jalan lain (memakan lebih banyak), maka berikan sepertiga untuk (tempat) makanan, sepertiga untuk (tempat) minuman, dan sepertiga untuk (tempat) nafasnya.” (HR. Tirmidzi no. 2380, Ibnu Majah no. 3349)

Hadis ini memberikan pedoman proporsional nan sangat jelas: sepertiga perut untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara. Balas dendam makan jelas bertentangan dengan petunjuk mulia ini.

Pandangan ustadz tentang isrāf dalam makan

Para ustadz salaf sangat memahami ancaman isrāf. Sufyan Ats-Tsauri rahimahullāh berkata, “Kalau Anda mau badan sehat dan tidur sedikit, maka sedikitkan makanan anda.” (Al-Ju’ li Ibni Abi Dunya, no.97)

Perkataan ini menunjukkan bahwa ustadz salaf telah memahami hubungan antara pola makan dan kualitas ibadah.

Ahmad bin Hanbal rahimahullah ketika ditanya, “Apakah seseorang bakal mempunyai hati nan lembut (mudah tersentuh) sementara dia dalam kondisi kenyang?” Beliau menjawab, “Saya tidak memandang itu.” (Manaqib Al-Imam Ahmad, hal. 412)

Artinya, kekenyangan justru dapat mengeraskan hati dan melalaikan seseorang dari mengingat Allah.

Syekh Abdullah Sirajuddin Al-Husaini dalam kitab Al-Shiyam mengingatkan, “Selayaknya bagi orang nan berpuasa untuk tidak makan berlebihan dan mencampur (mengonsumsi) beragam makanan ketika berbuka dan ketika makan sahur. Sebaliknya, dia selayaknya sedang-sedang saja dalam segala urusannya.” (Al-Shiyam, hal. 25-26)

Dampak isrāf dan hikmah larangan

Balas dendam makan saat berbuka membawa akibat buruk, baik secara medis maupun spiritual:

Pertama, mengganggu kesehatan. Makan berlebihan dapat menyebabkan mual, muntah, gangguan pencernaan, kembung, begah, hingga nyeri perut. Tubuh nan semestinya beristirahat setelah seharian berpuasa, justru dipaksa bekerja ekstra.

Kedua, melemahkan semangat ibadah. Kekenyangan menyebabkan rasa kantuk dan malas, sehingga salat tarawih dan ibadah malam menjadi terbengkalai. Padahal, Ramadan adalah bulan memperbanyak amal.

Ketiga, mengurangi prinsip puasa. Hakikat puasa adalah menahan hawa nafsu, bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Balas dendam makan justru menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengendalikan nafsu.

Kesimpulan

Fenomena balas dendam makan saat berbuka adalah corak isrāf nan makruh dalam Islam, apalagi bisa berubah menjadi haram. Al-Qur’an dan sabda dengan tegas melarang berlebih-lebihan dalam makan dan minum. Para ustadz salaf dan kontemporer sepakat bahwa isrāf membawa akibat jelek bagi kesehatan, ibadah, dan pengelolaan harta.

Puasa mengajarkan kita hidup sederhana dan mengendalikan hawa nafsu. Maka, mari jadikan momen berbuka sebagai waktu untuk berterima kasih dengan makan secukupnya, bukan arena balas dendam. Rasulullah ﷺ telah memberikan pedoman sempurna: cukup beberapa suap saja untuk menegakkan tulang, alias jika kudu lebih, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga untuk udara.

Semoga Allah menjauhkan kita dari perilaku isrāf dan menjadikan puasa kita sebagai sarana meraih ketakwaan. Wallahu Ta’ala a’lam.

Semoga bermanfaat.

Baca juga:

  • Bagaimana Nabi Mengatur Makan di Bulan Ramadan?
  • Sunnah-Sunnah Ketika Berbuka Puasa

***

Penulis: Junaidi Abu Isa

Artikel Muslim.or.id

Selengkapnya
Sumber Muslim Info
Muslim Info